HERUWA 'SHAGGYDOG': Independent is Good: Sepenggal Kisah Tentang Doggyhouse Records

Berawal dari sebuah percakapan di suatu senja, tahun 2000-an. Di sebuah rumah kost di wilayah Suryodiningratan, Jogja antara aku, Bandiz, dan Memet (eks manajer Shaggydog).

"Oke, lagunya yang buat kompilasi majalah X sudah siap."

"Oke mantap. Ini majalahnya tanya, buat credit title, nama label rekaman yang menaungi Shaggydog apa?” (kebetulan waktu itu kami tidak terikat oleh label apapun)

"Hmm... bilang aja Doggyhouse Records gitu.”

Semenjak kata "Doggyhouse Records" itu terucap, mimpi untuk memiliki sebuah perusahaan rekaman pun dimulai, dan "Doggyhouse Records" terus terucap dan tertulis setiap kami merilis lagu, baik album, single maupun ikut kompilasi.

Tawaran dari beberapa perusahaan rekaman raksasa kala itu (yang kerap disebut Big Five atau Big Three), dengan segala janji dan bonus yang menggiurkan, ternyata tidak cocok secara visi dan misi dengan Shaggydog, dan kami tolak baik-baik. Pro-kontra pun terjadi seperti biasa. Ada yang bilang kami itu sombong, enggak doyan duit, sok idealis, dan sebagainya. Sementara di satu sisi ada juga yang mengamini keputusan yang kami ambil.

Sebenarnya ini masalah hati dan pilihan saja. Ibarat mau pacaran, kalau tidak sreg, mau bagaimana lagi. Walau pada akhirnya, kami bergabung dengan label EMI di album Hot Dogz, itu pun karena EMI memberi kebebasan kepada kami dalam hal musikal, dan tidak mencampuri urusan manajemen serta image band.

Aku dan beberapa kawan di skena sebenarnya sudah cukup akrab dengan industri label independen dari awal kami berkarier, kebanyakan label luar negeri, seperti Moonska, Victory, atau Nuclear Blast Records. Selain berbelanja CD atau merchandise (yang saat itu belum mengenal online), kami mempelajari sedikit banyak bagaimana cara kerja dan 'jualan' mereka; mulai dari kurasi band, kampanye, sampai pendistribusiannya. Oiya, salah satu kisah menarik dari berbelanja di label-label mancanegara ini dulu adalah bagaimana kami 'menyelundupkan' uang dollar dalam amplop. Haha.

Satu hal yang jelas mendasari adanya label-label independen ini adalah passion.

Ya, gairah. Gairah akan musik yang mereka cintai dan band yang mereka sukai.

Sebagai catatan, kebanyakan CEO dari label-label ini sendiri adalah personel band. Epitaph Records milik Brett Gurewitz, personel Bad Religion. Lalu Moonska Records milik Robert Hingley, gitaris/vokalis band ska New York, The Toasters, dan masih ada beberapa lagi. Tentu, label yang dimiliki personel band, meski bukan jaminan mutlak, akan lebih memiliki 'taste'.

[bacajuga]

Serangkaian hal di ataslah yang semakin memicu kami di Shaggydog, untuk mewujudkan impian memiliki label rekaman sendiri.

Akhirnya, dengan berdoa dan sedikit nekat, lahirlah Doggyhouse Records pada tanggal 4 September 2014, dan diresmikan di tengah perhelatan seni dan budaya Kota Jogja, Festival Kesenian Yogyakarta yang ke-26. Sekaligus meluncurkan rilisan perdana kami yang berjudul Doggy Barks! Vol.1, sebuah kompilasi yang berisikan band-band Jogja yang menurut kami mempunyai musik dan karakter yang kuat. Kompilasi ini dicetak sebanyak 500 keping dengan format CD dan digital, dibagikan gratis.

Sebagai label yang berbasis komunitas, Doggyhouse Records menggandeng beberapa pelaku dari skena musik independen Jogja, seperti Indra Menus (LKTDOV, Kongsi Jahat Syndicate, Jogja Noise Bombing), yang sekarang menjadi General Manager di Doggyhouse Records. Sedangkan aku dan beberapa kawan di Shaggydog bertindak sebagai CEO sekaligus A&R (artist and repertoire, orang yang menemukan bakat baru dan lalu mendampingi proses rekaman sampai promosinya). Lalu kami juga merekrut beberapa kawan untuk mengisi departemen artwork, admin, social networking, accounting, dan produksi.

Kadang, kami juga berkolaborasi dengan seniman-seniman Jogja untuk artwork rilisan-rilisan kami. Kami berusaha untuk ber-simbiosis mutualisme dengan lingkungan kami di Jogja, yang notabene dikelilingi oleh atmosfer berkesenian.

Total sudah hampir 10 rilisan yang kami rilis dari Doggyhouse Records sampai saat ini. Di antaranya Sangkakala (DVD dokumenter), Summer In Vienna (kaset), single (digital) "Ora Minggir Tabrak" dari Kill The DJ x Libertaria (Soundtrack AADC 2), dan tentu saja album ke-6 Shaggydog, Putra Nusantara, yang dirilis dalam format CD, vinyl dan boxset. Selain bekerja sama dengan produsen lokal, seperti untuk rilisan kaset, kami juga menjalin kerjasama dengan perusahaan produsen vinyl di Amerika Serikat untuk rilisan-rilisan tertentu.

Doggyhouse Records saat ini sudah berdiri sendiri di luar manajemen Shaggydog, menjadi sebuah 'corong' bagi rilisan-rilisan kami, dan tentunya terbuka bagi kawan-kawan yang lain, dengan segala genre-nya.

Waktu demi waktu, kami terus berusaha mengembangkan dan menyempurnakan Doggyhouse Records, dan berharap bukan saja berguna bagi kami, tapi bagi Jogja dan Indonesia ke depannya. Semua ini butuh waktu dan energi yang tidak sedikit.

Yang penting adalah tetap optimis, dan tentu saja menikmati segala prosesnya.

Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada melakukan pekerjaan yang kamu sukai.

Salam Musikalitas!

Foto Heruwa oleh Yanuar Surya.

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
56 views
supertapes
132 views

Supertapes: Tashoora

superbuzz
115 views
superbuzz
155 views
superbuzz
322 views
superbuzz
769 views