Hip Hop: Diterima Sebagai Seni atau Sekedar Atraksi?

Laze: Hip-Hop, Diterima Sebagai Seni atau Sekadar Atraksi?

  • By: Laze
  • Kamis, 27 February 2020
  • 590 Views
  • 1 Likes
  • 2 Shares

Budaya lokal yang rupanya paling mirip dengan adu rap sejauh ini adalah pantun. Memuat tata rima pada ujung ujung kalimat serta punchline menohok, jenaka, menghibur untuk dilontarkan pada lawan bicara di depan kerumunan. Saat kita perhatikan, ini mungkin tidak jauh berbeda dengan adegan rap battle di film 8 Mile (2002) yang diperankan Eminem/Marshall Mathers III.

Selain pantun ada pula puisi yang disebut gurindam. Ciri cirinya adalah pola rima di ujung dan di tengah kalimat, yang lebih beragam dari pantun dan berisi nasihat, kata kata mutiara, filosofi hidup dalam bait-baitnya.

Jika kedua bentuk puisi tradisional tersebut digabungkan, saya rasa cukup mirip dengan formula sebuah lirik rap karena mengandung unsur rima, metafora, juga punchline menonjok di akhir kalimat atau bait. Namun, rap tetap belum menjadi sosok seni musik familiar di telinga masyarakat Indonesia.

Bila kita diamati, ombak baru musisi hip-hop tanah air sudah mulai bermunculan lewat dunia maya atau berbagai panggung skena. Begitu juga para pelaku yang lebih dulu berkarier, mereka kembali hadir menyajikan keberagaman gaya bermusik dan penulisan lirik.

Bait bait gurindam atau verse yang menjadi nyawa sebuah lagu rap kini begitu indah, penuh intrik, penuh permainan kata pula referensi relevan dan kontemporer. Pertanyaan yang timbul di pikiran saya adalah: sudah bisakah masyarakat menikmati keindahan itu? Apakah kompleksitas yang menarik serta pesan mendalam gurindam atau kejenakaan spontan ala pantunkah yang menghibur mereka?

Sebagian besar pelaku dan penggemar hip-hop mungkin tidak akan peduli dengan dua pertanyaan di atas. Namun, wajah penonton yang melipat tangan sambil bingung kiri kanan melihat rapper beraksi di panggung justru menimbulkan tanda tanya di pikiran saya.

Sebagian festival musik tanah air mencoba membuka horizon dengan mengundang musisi hip-hop lokal sebagai pengisi acara. Namun beberapa kali penampilan mereka dijadikan segmen terpisah dan ditampilkan di panggung yang berbeda dari penampil genre lain.

Entah karena perbedaan sound, jumlah penikmat atau tingkat popularitas dan belum terbiasanya masyarakat dengan aksi rap. Tetapi, hip-hop tetap dipandang sebagai komoditas oleh penyelenggara acara atau brand yang melihatnya sebagai tren.

Seharusnya melalui festival, iklan, atau apapun aktivasi brand, jalur-jalur ini dapat digunakan sebagai pintu bagi musisi rap untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Tentu, apabila diletakkan pada di tempat yang tepat dan disajikan pada penggemar musik lain, atau diselipkan di antara nama yang sedang harum.

Akan lebih baik seperti itu, ketimbang rapper dan musisi hip-hop dibuat tampil di sebuah kotak terpisah yang diharapkan ditonton oleh komunitas rap, di sebelah panggung utama saat nama besar atau artis internasional sedang tampil.

“Kita memang benar benar Melayu, suka mendayu-dayu”, adalah penggalan lirik “Cinta Melulu”, lagu Efek Rumah Kaca ini cukup menjelaskan mengapa banyak orang masih sulit menikmati dan menerima rapalan sebagai suatu karya yang relatable.

Hip-hop bisa menemani aktivitas dan membangun mood pendengarnya, tapi di sisi lain justru menjadi hiburan sampingan. Misalnya lewat beberapa kompetisi atau kontes adu rap yang diselenggarakan oleh merk dagang komersial sambil melancarkan kampanye mereka.

Ternyata melihat dua orang saling serang secara verbal semi pantun di atas alunan musik 80-90 bpm cukup menarik kerumunan orang. Kadang, terdengar tawa atau terlihat gestur menaruh kepalan tangan di depan mulut seperti mau bersin sambil berteriak “Oooooo~”.

Sumber foto

Beberapa kali menjadi juri dalam kontes adu rap, saya lihat ada dua faktor yang membuat penonton awam melonjak kegirangan. Pertama, adalah kata kata ejekan yang menohok. Tidak salah bila diolah dengan baik oleh kontestan. Sementara yang kedua adalah ada yang bisa ngerap dengan cepat, walaupun tidak jelas apa yang mereka katakan atau lafalkan.

Seringkali, penonton tidak peduli dengan isi liriknya sedikitpun tapi malah terpukau dengan atraksi bicara cepat. Walau bisa merapal dengan flow cepat memiliki kesulitan tertentu, tapi yang terpenting dalam adu rap adalah tersampaikannya konten, serangan dan pesan yang dimaksud kepada lawan serta pendengar.

Lirik rap mempunyai nilai seni tersendiri: lewat rima, permainan kata, majas perbandingan serta pola bahasa lainnya. Tentunya aksi ini memiliki nilai atraksi, tapi saat orang hanya menganggap rap sebagai akrobat dan mengabaikan seninya, bisa jadi itulah mengapa alasan hip-hop di Indonesia masih dipandang sebelah mata.

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
189 views
supergears
258 views
supernoize
428 views
superbuzz
437 views
superbuzz
285 views