Honor Manggung Murah, Ada Yang Rela Dibayar Nol Rupiah, Siapa Yang Salah ?

  • By: Che Cupumanik
  • Senin, 31 August 2015
  • 30176 Views
  • 1 Likes
  • 0 Shares

Disebuah portal berita, ada aktor pemain sinetron yang juga bintang iklan, ternyata mulai terjun membentuk band, dalam kesempatan wawancara dengan media, dia berkata: "Kalau mau nabung ratusan juta rupiah, gue cari duit dari syuting aja dan kebetulan gue punya usaha lain. Kalau cuma dibayar seratus ribu untuk ngeband, gue sih happy aja, karena jiwa gue sebenarnya di musik, dari dulu gue mau banget punya band”. Jika dicermati, tidak ada yang salah dari pernyataannya, karena siapapun berhak mengambil jalan mencari rezeki melalui bidang apapun, dan juga berhak memilih mana mesin pendapatan yang primer dan mana bidang usaha yang diperlakukan sebagai yang sekunder. Tapi coba cermati dalam konteks menghargai profesi, dia bilang musik adalah jiwanya, tapi dia tidak menaruh harapan pada musik untuk dijadikan profesi ekonomi, dan saat bandnya diupah murah, itu sesuatu yang layak dia terima, sedari awal ia rela kegiatannya di musik dihargai dengan nominal yang kecil.

Seorang teman, yang pernah satu kali merilis album pop rock yang pernah dikontrak dengan salah satu major label dan bandnya sudah bubar, saat ini menapaki kerja musiknya sebagai band cafe, melamar menjadi home band diberbagai cafe, belakangan mengeluh: “Gila Che, parah banget bayaran manggung di cafe-cafe sekarang, jangan lo kira banyak cafe baru muncul dimana-mana, trus honor ngamen jadi gede, bayaran manggung kecil banget”. Saya berhasil menghubungi Bonde, seorang manager dari band seperti Ipang, Daddy and The Hot Tea, Dewiq juga BIP, dia berpendapat mengenai hal ini, dia katakan: “Kalo musisi mau dibayar murah main di cafe, tergantung sikap yang diambil band secara internal, dan harusnya manager band tau jenis cafe yang mau dituju, karena tiap cafe beda-beda kelasnya, contoh ada cafe yang emang udah di support / dibranding sama satu produk selama 1 tahun misalnya, dan si manager harus tau, produk yang mensponsorinya apa?, dengan pengetahuan itu kita jadi tau hitungan negosiasinya, dan budget operasional tiap cafe juga beda, kalo ga ada sponsor, pihak internal cafe punya pengeluaran sendiri. Kalo band cafe-nya punya kualitas manggung yang bagus, harus berani pasang harga dong”.

Kondisi yang terjadi memang seperti over produksi, pasokan anak band itu bejubel di kota-kota besar, band yang punya album juga banyak, apalagi membentuk band cafe tanpa karya sendiri, cukup dengan punya kemampuan ngulik lagu dan langsung jadi band cover song, dan barisan home band ini jumlahnya fantastis. Semua jadi makin pelik, pihak cafe atau event organizer yang nakal bisa merasa ada di atas angin, mereka tau anak band butuh medan laga panggung, mereka punya daftar antrian band yang rela main meski dibayar tak layak. Ini kondisi nyata yang terjadi. Joshua dari booking agent Rock Management yang menaungi band Edane, Cupumanik, Koil dan PMR, berpendapat: “Masalah seperti ini gak bisa diliat sepotong-potong, gak bisa diliat satu sektor, karena kita gak punya satu sistem yang proper. Begini deh, bahkan kalo band mau ngerekrut manager, jarang sumber daya manusia yang tersedia dengan background pendidikan yang tepat, padahal kalo mau ngeband serius, anak band mempertaruhkan kariernya di sini, dan akhirnya ngerekrut temen sendiri, yang belum tentu punya kemampuan managerial yang layak. Lebih jauh lagi di luar negeri udah ada MMF (Music Manager Forum), mereka mengatur regulasi pertunjukkan, mengatur sistem kerjasama antar pihak secara transparan, dan di kita industri musik terbentuk secara sporadis, tidak ada lembaga dari pemerintah yang mengatur regulasi, kebayang Che kalo ada aturan dan diperkuat pasal-pasal, ada undang-undang, mereka yang nakal dalam industri pertunjukkan misalnya akan kena sanksi hukum”.

Lutfi manager dari band G-Pluck, Ronal, Tike dan Bimbo, sumbang opini mengenai hal ini, dia berpendapat: “Masalah kaya gini, kesalahannya bisa ada di semua pihak, si band butuh space display dan si penyelenggara butuh content, tapi mereka gak mau keluar biaya besar, jadi semua ada salahnya. Harus ada win-win solution, penyelenggara acara tidak dibebani dan si band tidak dirugikan. Dan dalam relasi ini sering keluar istilah harga teman, justru kalo harga teman harus mahal, kalo teman ngasih harga murah gak menghargai profesi teman, dan memang kondisinya kadang penyelenggara acara memanfaatkan orang yang butuh”. Saya setuju dengan berbagai masukan opini dari para manager di atas, itu bukan sekedar teori, tapi yang bicara adalah orang-orang dilapangan, mereka adalah para praktisi. Bonde menambahkan: “Gue kadang sering fleksibel juga kok, kalo artis gue yang butuh promo karena baru ngeluarin single atau album, kan kita dalam posisi butuh Che, biasanya gue bikin program promo, dan kalo main di TV kan honor manggung gak seperti show off air, gue ngejar keuntungan imateri, biar lagu makin dikenal luas, publik makin aware sama karya baru artis gue, dan si manager harus pinter-pinter milih media yang efektif, pilih TV yang ratting-nya bagus, punya edukasi dan ada suguhan live performance-nya, itu tepat. Gue dulu ngerilis secara eksklusif single baru Ipang di Net TV acara TalkShow Sarah Sechan misalnya”.

Tapi memang, sebelum lebih banyak mengeluarkan keluhan, menggerutu pada nasib band yang diupah rendah, apakah kita sudah melakukan evaluasi?, sudah punya manager yang cakapkah kita?, atau setiap personil band juga apakah sudah menjalankan fungsinya masing-masing menopang citra band agar semakin baik dimata publik?. Joshua berbicara mengenai hal ini, dia berpendapat: “Anggota band harus memikirkan untuk menciptakan nilai jual dirinya sendiri, diselaraskan dengan target pasar. Mereka harus sanggup menciptakan keunikan band, setelah itu baru susun strategi, biar bisa bertahan dan maju dalam medan industri musik yang kompetitif. Semua anggota band dan manager bisa memanfaatkan sosial media untuk mengkomunikasikan citra band dengan baik ke publik”. Bonde juga kurang lebih melontarkan saran yang sama: “Gimana mau dibayar mahal Che, si musisi harus bisa ngejaga keberlangsungan penciptaan karyanya dong, karya yang kualitas. Band bisa mengasah terus kualitas manggung, setelah itu ditopang strategi management, itu semua cara untuk bisa dihargai banyak pihak, itu mata rantai yang gak bisa dipisahkan”.

Lutfi memberikan opini dalam membangun band, dia bilang: “Gue yakin ketenaran dan duit bakal datang otomatis Che, makanya jadi anak band tuh harus cerdas, kesalahan artis tuh kadang mereka gak tau kekuatan dirinya apa, musisi harus tau jenis karakter identitas dirinya dan tau cara mengemas citranya, punya kemampuan komunikasi yang tepat dengan penggemar, mikirin fashion-nya, mikirin konsep pertunjukkan. Kalo ada anak band gak cerdas tapi tetep sukses, mungkin itu garis takdir dia bagus, tapi kan bikin band dan jadi musisi harus bisa menentukan nasibnya dong. Si manager lalu bisa ngejaga bandnya biar tetap menghibur, mencuri perhatian, dan bisa mengakomodir keinginan penyelenggara acara, si artis bisa menyesuaikan segmen penonton yang mereka sasar. Kebayang kalo itu semua bisa dijalankan, penggemar makin banyak. Kalo band lo punya penggemar dan sesuai dengan segmen penonton yang di inginkan penyelenggara acara, selesai Che, si band akan punya daya tawar yang tinggi. Dan tugas manager band tuh memasarkan, mempromosikan, mempropagandakan kualitas band, agar dikenal luas, ketika sudah dikenal dengan baik, maka akan ada permintaan. Si manager harus bisa terus meningkatkan permintaan, kalo band/artis lo semakin dibutuhkan, itu pencapaian yang bagus. Jadi banyak job itu cuma dampak dari itu semua”.

Saya menulis artikel ini bukan sebagai pernyataan bahwa aku dan bandku telah sempurna, karena buat saya menulis artikel adalah narasi untuk menggali ilmu. Menulis dalam memperdalam isi artikel dengan mewawancarai nara sumber yang mumpuni juga merupakan proses seru untuk memperkaya pengetahuan bagi saya sendiri. Jadi apakah kalian masih mau menggerutu dan menuding siapa yang salah?, masih mau mencari objek yang bisa disalahkan kenapa bandmu belum sanggup dihargai dengan pantas oleh pihak lain?. Akan kamu bawa ke level apa bandmu?. Artikel ini akan saya tutup dengan kisah inspiratif tentang Steve Jobs, yang dituliskan oleh George Beahm, dia bilang: “Steve Jobs meroket sepanjang hidupnya karena dia tahu waktu selalu pendek, dia sering berkata bahwa dia ingin membuat jejak di alam semesta, dan dia pun merancang hidupnya sesuai dengan niat itu. Dan dengan keinginan besarnya itu, dia telah berhasil mengubah dunia kita”. Buat saya itu kalimat besar, yang wajib tinggal selamanya terkunci di kepala.

 

Foto : priceonomics.com

1 COMMENTS
  • gioatap

    kerennn artikelnya che, thx for sharing ...

Info Terkait