HYBRID CHILDREN KARINDING

  • By: Kimun666
  • Jumat, 28 August 2015
  • 4652 Views
  • 1 Likes
  • 0 Shares

Hybrid children watch the sea, pray for father, roaming free

Fearless wretch, insanity, he watches, lurking beneath the sea

Great old one, forbidden site

He searches, hunter of the shadows is rising

Immortal

In madness you dwell

 

“The Things That Should Not Be”

 Metallica, 1984

 

Kebangkitan kembali karinding tahun 2008 telah menginspirasi gerakan baru yang dilakukan oleh generasi muda musisi tradisional. Dengan latar belakang mayoritas ranah musik metal bawahtanah dengan sistem independennya, banyak inovasi dan pola pergerakan baru yang sangat berbeda dengan pola pergerakan musik tradisional sebelumnya tercipta. Perlahan namun pasti mereka membentuk sosok-sosok baru yang menjadi patron dalam ranah musik karinding sekaligus membangun jejaring antar musisi karinding di seluruh Indonesia dan dunia. Mereka juga membangun pemahmaan baru dan filosofi sendiri, ruang-ruang pertemuan, saluran produksi dan distribusi karya musik, membangun komunitas dan ranah musik sendiri, pernak-pernik merchandising dengan ragam desain bercorak buhun hingga modern, pergelaran-pergelaran musik karinding sendiri, memproduski ilmu pengetahuan dan teknologi perekaman dan pergelaran musik karinding, melakukan berbagai pencatatan dan dokumentasi mengenai karinding buhun dan karinding kiwari, menjalin hubungan yang baik dengan media, serta melakukan hal-hal lain yang lazim dilakukan dalam sebuah ranah musik secara umum. Berbagai pola dan teknik permainan karinding dimainkan dan dikembangkan oleh para musisi, tak hanya secara individual, namun juga dalam bentuk band yang memproduksi aransemen baru atas lagu-lagu buhun dan penciptaan lagu-lagu sendiri karinding.

Di Bandung, tahun 2008 Karinding Attack merilis singel musik karinding “Hampura Ma” yang bisa dikatakan sebagai rekaman karinding pertama yang dirilis dan bisa dilacak di Indonesia setelah rekaman lagu “Ciung Kumahkar” yang direkam oleh Ernst Heins di Banjaran, Bandung, dan dirilis di Prancis tahun 1968 dalam album kompilasi Musiques Populaires d'Indonesie, Folk Music from West Java. Tahun 2008 di Bandung juga ditandai dengan banyak sekali produksi pengetahuan awal mengenai karinding yang dirilis di internet baik dalam bentuk literatur, foto, musik, mau pun video.  Di sini pula tahun 2011, diterbitkan buku pertama tentang karinding berjudul Jurnal Karat, Karinding Attacks Ujungberung Rebels karya Kimung yang memotret masa-masa awal penggalian karinding oleh para penggiat musik Ujungberung Rebels dan Bandung Death Metal Syndicate. Satu tahun kemudian, Karinding Attack merilis album perdananya, Gerbang Kerajaan Serigala, di Bandung, dan bisa dikatakan sebagai album karinding pertama di dunia yang pernah dirilis.

Di luar Karinding Attack, hampir dua ratusan band sudah lahir antara tahun 2007 hingga 2012 dan mewarnai sisi eksplorasi musikalitas karinding. Produksi musik karinding juga dirilis oleh beberapa band karinding dalam bentuk singel, seperti yang dilakukan oleh Sasaka, Karinding Militan, Karinding Resistance, Karinding Wiwitan, Karinding Opat, Shalawat Karinding, Karinding Sisi Wahangan, Karinding Motekar, Komunitas Karinding Sukapura, Kartwel Noesantara, The Devil And The Deep Blue Sea, dan lain-lain dalam rentang waktu antara 2009 hingga 2014. Sementara itu album ke dua karinding, judulnya The Paperback, dirlis oleh band Paperback di Bandung tahun 2014, menghadirkan permainan karinding yang dipadukan dengan jenis-jenis karinding serta waditra-waditra seperti ukulele, gitar, bas, kibor, synthesizer, dan drum. Grup-grup yang lain mengeksplorasi titi laras pelog, salendro, madenda, celempungan, kendang penca, kacapi suling, toleat, tarawangsaan, angklung, degung, gembyung, shalawatan, nasyid, marawis, musik karinding juga dimainkan dalam beragam hasrat musik dari metal, hardcore, punk, industrial, blues, jazz, rock n’ roll, folk, balada, dangdut, pop, musik eksperimental, world music, dan musik kontemporer. Dalam taraf tertentu, ekspresi ini sangat menjaga kualitas, signifiansi, dan karakter produk yang dihasilkan. Sebagai produk musik, ia juga lalu membuka jaringan distribusi produk yang lalu memetakan persebaran musik karinding. Di ranah musik karinding, pola konsumsi yang terbangun diwarnai dengan program pembangunan komunitas oleh para penggiatnya, berdasarkan pemahaman yang terbangun di masing-masing ranah musik karinding.

Pergerakan lainnya maju berdasarkan pada pemahaman mengenai waditra ini. Beragam mitologi, folklor, tafsir, hakikat, nilai-nilai kearifan lokal, falsafah, hingga sejarah karinding terus dieksplorasi, dituliskan, dan akhirnya dijalankan oleh para penggiat karinding dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan pemahaman masing-masing. Ada yang memaknainya sebagai waditra yang sakral mengembangkannya dalam praktek-praktek ritual dan upacara-upacara adat, ada yang memandangnya sebagai simbol hakikat manusia dan “naga-ra”, bergerak dalam pelestarian alam dan lingkungan hidup dengan menjaga gunung dan mata airnya. Yang menafsirkannya sebagai warangka elmu bergerak di bidang pendidikan, produksi ilmu pengetahuan, dan aktivitas-aktivitas pelestarian situs-situs bersejarah. Karinding juga bergerak di ranah ekonomi kreatif distro, kloting, kerajinan tangan, aksesoris, serta pernak-pernik lain yang berkaitan dengan karinding, budaya Sunda, dan perbambuan. Walau memiliki penafsiran sendiri, setiap pemain karinding hari ini memahami ragam-ragam pergerakan tersebut dan memandangnya sebagai sebuah kesatuan karinding, keterbukaan sekaligus keterpaduan waditra dan manusianya dalam merespon wacana dan kondisi yang membumi di sekitarnya.

Dalam pemahamannya sebagai waditra yang sakral, karinding hadir mewarnai upacara-upacara adat Mitembeyan, Seren Taun, Muludan, Tumpekan, Ngabangbung, Nawang Bulan, Hajat Lembur, Hajat Buruan, Rarajahan, atau dalam pertemuan-pertemuan lainnya yang menggelar sawala, guaran, atau diskusi mengenai pergerakan yang sedang dilakukan oleh komunitas dan ranah pergerakan terkait. Dalam pemahamannya sebagai simbol hakikat manusia dan “naga-ra” karinding menjelma dalam pergerakan Patanjala yang bergerak menetapkan pangauban (hutan larangan, hutan tutupan, dan hutan baladahan) serta menjaga sumber-sumber mata air yang ada di kawasan tersebut. Sementara itu, aktivitas menjaga gunung juga dilakukan komunitas karinding disertai dengan aktivitas penanaman pohon dan pelestarian alam lingkungan hidup lainnya.

Dalam manifestasinya sebagai warangka elmu, karinding menjelma tak hanya sebagai waditra, namun juga sebagai gerbang yang membukakan pemahaman para penggiat karinding akan ajaran, filosofi, serta nilai-nilai kearifan Sunda yang lebih mendalam di segenap kompleksitasnya. Ilmu pengetahuan dan pemahaman baru mengenai kasundaan terus dikembangkan beriringan dengan penggalian dan dokumentasi nilai-nilai lama. Seiring dengan penyebaran karinding pula, perlahan namun pasti pengetahuan masyarakat mengenai iket, pangsi, aksara Sunda, kala Sunda, pusaka, dan bahkan agama Sunda, serta akulturasi Sunda dengan agama-agama lain di Indonesia semakin giat digali dan dirumuskan ulang. Karinding juga memicu bangkitnya kembali waditra Sunda yang lain seperti celempung, toleat, tarawangsa, gembyung, terbang, dan lainnya yang sempat tenggelam. Tak hanya bangkit, pendalaman dan pendokumentasian dan perilisan seni-seni tersebut juga terus dilakukan. Di ranah internal karinding, kini kelompok Kelas Karinding yang digelar di Common Room Network Foundation bahkan sudah merumuskan kurikulum kelas karinding yang disusun untuk mendukung cita-cita membuat karinding sebagai alat musik pendidikan nasional. Di ranah sumber literatur, setidaknya sudah ada tiga buku ditulis berkaitan denga karinding, yaitu Memoar Melawan Lupa (Minor Books, 2011), Jurnal Karat, Karinding Attacks Ujungberung Rebels (Minor Books, 2012) dan Ujungberung Rebels Panceg Dina Galur (Minor Books, 2012). Sumber-sumber literatur ini juga merangsang kajian-kajian ilmiah yang dilakukan oleh para akademisi universitas-universitas di Indonesia, mencakup eksplorasi  kajian sejarah, ilmu komunikasi, politik, sosiologi, antropologi, komposisi musik, sajian pertunjukan, ekonomi kreatif, pendidikan, fisika akustik, desain grafis, perfilman, dan masih banyak lagi.

Pergerakan karinding juga menampilkan partisipasi aktif kaum perempuannya. Hari ini banyak sekali musisi-musisi dan juga sosok-sosok perempuan yang muncul dan menjadi pengaping pergerakan ranah musik karinding. Tokoh-tokoh perempuan ini, berusia antara 9 hingga 80 tahun, semuanya mengatakan bahwa mereka tidak mau kalah dengan laki-laki dalam melestarikan kesenian Sunda. Dalam budaya panjang lamellafon di Indonesia, di beberapa tempat di Indonesia, perempuanlah yang kerap memainkan lamellafon. Namun dalam kisah kebangkitan karinding di Jawa Barat, perempuan kedudukannya setara dengan laki-laki, dengan komitmen yang juga tak kalah besar dalam memajukan ranah musik karinding.

Akhirnya, hari ini karinding mewarnai banyak sekali hal di Indonesia. Yang unik, karinding tetap dalam kesederhanaannya, berbaur dengan rakyat dan di main dala sisi-sisi kehidupan paling ramai hingga paling sunyi. Ia hadir di acara-acara seremonial besar tingkat kenegaraan, hingga hadir di pinggir-pinggir jalanan dimainkan oleh anak-anak jalanan atau para pengamen. Ia dimainkan oleh siapa saja dan bertransfomasi sesuai dengan kecintaan dan pemahaman individu yang memainkannya akan kehidupan. Masih banyak sekali sisi-sisi garakan perkarindingan yang tidak dapat disebutkan di dalam paper ini. Semoga kajian mengenainya terus dilakukan. Banyak sekali yang harus diolah untuk mempersiapkan karinding dan posisinya dalam percaturan pergaulan seni, budaya, serta ilmu pengetahuan dan teknologi di masa yang akan datang.

 

Penulis adalah musisi dan rekreasioner

 

Foto : theinstrumentbuildersproject.com

0 COMMENTS

Info Terkait

supernoize
814 views
supernoize
814 views
supernoize
814 views
supernoize
814 views
supernoize
814 views
supernoize
3061 views

Saat Venue Musik Gugur Perlahan