Idhar Resmadi Jurnalisme Musik Indonesia (Part 2)

  • By: Idhar Resmadi
  • Selasa, 10 May 2016
  • 4971 Views
  • 2 Likes
  • 0 Shares

Era 1990-2000an: Kehadiran Media Franchise dan Media Alternatif 

Memasuki tahun 1990-an industri musik Indonesia sedang berkembang menuju “internasionalisasi” melalui masuknya major label internasional dan MTV. Kedua hal tersebut memiliki dampak luar biasa besar bagi perkembangan budaya populer di Indonesia, terutama anak muda. MTV banyak menyajikan informasi-informasi musik hampir selama 24 jam penuh. Tayangan informasi musisi, berita album terbaru, dan video klip-video klip memanjakan anak muda yang disebutnya “generasi nongkrong”.

Pada era ini, majalah musik memang beririsan dengan industri hiburan. Hal ini berbeda dari periode sebelumnya yang menyajikan musik sebagai propaganda budaya Barat. Seperti munculnya tabloid-tabloid semisal Citra Musik. Salah satu media yang masih konsisten dan “cukup besar” dalam menyajikan musik adalah HAI. Namun, HAI juga tak bisa dikatakan sebagai majalah musik. Hanya saja musik masih memiliki ruang paling banyak dibanding lainnya. Konten musik yang ditampilkan pun lebih banyak beririsan untuk remaja. HAI pada masa itu memiliki akses untuk meliput pemberitaan internasional. Salah satu hal yang paling menarik tentu saja meliput pemberitaan mengenai konser Woodstock 1994 dan 1999. HAI juga memiliki pengaruh besar akan munculnya musik underground/independen seperti Pas Band, Puppen, dan Pure Saturday.

[bacajuga]

Perubahan paling terasa pada era kebebasan pers yaitu munculnya beragam jenis media. Atau istilahnya media-media kini sudah ter-spesialisasi. Kita dapat menemukan beragam bentuk media dari mulai media otomotif, olahraga, kuliner, gaya hidup, hingga hiburan. Rasanya, media musik pada masa ini lebih banyak beririsan dengan konten-konten mengenai hiburan dan gaya hidup. Beberapa majalah maupun surat kabar juga biasanya masih menyediakan rubrik khusus musik. Tulisannya memang bukan tulisan mendalam mengenai musik namun sebatas akan resensi album, liputan konser, atau profil musikus. Boleh dikatakan konten musik sebatas rubrik tambahan, dan bukan yang utama.   

Pada masa ini ditandai pula dengan munculnya media-media franchise. Era kebebasan pers membuat para konglomerat media lebih memilih berinvestasi dengan membeli hak media franchise. Hal ini dipandang sebagai cara cepat untuk membuat sebuah media dibandingkan dengan meniti perusahaan media sejak embrionya. Kehadiran majalah franchise seperti Trax dan Rolling Stone memberikan pengaruh sangat penting bagi perkembangan jurnalisme musik di Indonesia. Sebelum kehadiran media-media franchise memang sempat hadir beberapa majalah musik lokal semisal Tabloid MUMU, majalah NewsMusik, tabloid Rock, majalah Popcity, dan majalah Poster. Sayang, majalah-majalah tersebut tidak bisa bertahan lama. Konsistensi Trax dan Rolling Stone yang masih eksis hingga saat ini tak bisa dipungkiri lagi karena menjadi bagian dari konglomerasi media.  

Corak karakteristik pemberitaan musik yang muncul pada masa ini lebih cenderung mengikuti arus pasar. Media musik pun seolah menjadi corong bagian dari industri musik itu sendiri. Rubrik-rubrik lebih banyak didominasi oleh band/musikus pop (baca: mainstream) Indonesia. Pemberitaan yang biasa muncul lebih banyak didominasi oleh hal-hal yang bersifat “informatif “dan “menghibur”. Media pers kita lebih banyak memuat peristiwa musik niaga atau musik industri yang galibnya adalah musik-musik hiburan: pop, rock, dan dangdut (Munsyi, 2005).

Namun, dibalik tatanan industri media mainstream, munculnya media-media musik alternatif di beberapa kota besar Indonesia. Di Bandung ada Ripple Magazine dan Trolley Magazine, di Yogyakarta ada Dab Magazine dan Outmagz, di Semarang ada Mosh Magazine, dan di Malang ada Common Ground Magazine. Kehadiran media-media alternatif seperti ini lebih cenderung “ideologis” karena konten-kontennya lebih banyak mengangkat musik independen/underground dan menolak musik pasar (baca: mainstream). Kehadiran media-media alternatif ini seiring dengan perkembangan komunitas independen terutama budaya fanzines yang lebih banyak mengangkat isu-isu identitas dan komunitas (Duncombe, 1997). Namun keberadaan media-media alternatif ini juga tidak bertahan lama. Beberapa media terpaksa gulung tikar dengan berbagai alasan. Trolley terpaksa bubar di edisi ke-11. Paling lama mungkin hanya Ripple Magazine yang bertahan selama sepuluh tahun. Kondisinya saat ini vakum untuk waktu yang tidak dapat ditentukan.

[pagebreak]

Kehadiran Internet: Suatu Ancaman atau Peluang?

Kehadiran internet dan terutama media sosial memiliki pengaruh cukup besar dalam praktik jurnalisme musik di Indonesia. Kini media-media musik tak hanya ditemukan melalui media cetak (majalah). Media musik kini juga banyak ditemui melalui format web magazines (webzines), radio streaming, dan video streaming. Kehadiran internet membuat semua orang dapat menjadi “jurnalis musik”. Kemudahan akses itu  membuat semua orang tidak perlu berada di suatu institusi pers untuk menulis dan meliput pemberitaan musik. Kehadiran berbagai media online dan blogger-blogger musik menjadi gairah baru untuk menulis musik. Para penulis musik di webzines biasanya “non-jurnalis” dan seolah mengembalikan keotentikannya bahwa menulis musik oleh orang-orang yang antusias dan memiliki passion terhadap musik.

Kehadiran-kehadiran webzines ini memang menjadi oase di tengah kekeringan informasi mengenai musik. Terutama musik-musik di luar mainstream. Media-media seperti Deathrockstar, Jakartabeat, Wastedrockers, Gigsplay, dan masih banyak lagi mampu menghadirkan konten musik di luar mainstream. Kekurangan dari media-media seperti ini hanyalah masih digerakkan oleh manajemen yang belum profesional. Padahal pencapaian webzines semisal Stereogum atau Pitchfork di Amerika sana merupakan contoh sukses webzines yang digemari dan dibaca oleh pecinta musik.

Tantangan cukup berat bagi media-media musik online ini memang persaingan untuk memperoleh iklan. Jangankan untuk memperoleh laba, bisa survive saja masih syukur. Poin penting dari keberadaan media-media musik online ini memang dari sudut demokratisasi media. Kini media-media musik tumbuh beragam jenis, termasuk tak hanya dari kota pusat industri musik saja seperti Bandung atau Jakarta tapi tumbuh di luar dua kota tersebut.

[bacajuga]

Prinsip Ko-eksistensi dan Ko-evolusi

Media massa saat ini memasuki masa konvergensi media. Arus perkembangan jurnalisme musik itu sendiri kini lebih bervariasi. Beberapa media mainstream masih mengedepankan musik-musik pasar, akan tetapi ada beberapa media online alternatif yang juga masih konsisten untuk menawarkan musik-musik di luar pasar industri musik. Hanya saja saat ini kalau boleh dikatakan media yang murni disebut sebagai majalah musik, yang memang hampir kontennya dipenuhi hal ihwal tentang musik, boleh dikatakan tidak ada. Media-media yang konten utamanya mengenai musik biasanya beririsan dengan media-media “lifestyle” atau “entertainment”. Hal ini boleh menjadi sebagai prinsip ko-evolusi agar media-media tersebut mampu bertahan.

Seperti yang sudah diuraikan di atas, jikalau dikatakan jurnalisme musik di Indonesia itu mati, sebenarnya tidak juga. Jurnalisme musik dalam pengertian menulis dan memberikan informasi mengenai musik dan peristiwanya masih hadir menemani keseharian kita. Beberapa media musik masih mampu bertahan dengan prinsip dan strateginya masing-masing. Beberapa media mainstream juga membuat divisi online. Prinsip konvergensi rasanya yang dapat membuat media musik ini bertahan. Kini bahkan beberapa media musik mampu mengawinkan antara jurnalisme musik dengan teknologi media. Informasi-informasi musik tak hanya ditemui melalui media cetak, akan tetapi melalui media sosial, youtube, dan berita online

Kunci suatu media, termasuk media musik, untuk bertahan di tengah derasnya kompetisi antar media memang inovasi. Kemampuan inovasi yang dikawinkan antara produk-produk jurnalisme musik yang mampu intim dengan teknologi media. Jadi saya pikir selama musik dan peristiwanya masih hadir dan dinikmati masyarakat Indonesia, jurnalisme musik tak akan hilang. Boleh jadi, ia hanya akan berubah format dan cara untuk hadir di hadapan kita.

***

Duncombe, Stephen. 1997. Notes From Underground: Zines and Politics of Altenative Culture.

Verso: London Gudmondsson, G, Lindberg, U., Michelsen, M., and Weisthaunet, H. 2002. Brit crit: turning points in British rock critism, 1960-1990, in Pop Music and the Press, ed. S. Jones Temple University Press: Philadelphia  

Mulyadi, Muhammad. 2009. Industri Musik Indonesia Suatu Sejarah. Koperasi Ilmu Pengetahuan Sosial

Munsyi, Alif Danya. 2005. Bahasa Menunjukkan Bangsa. Gramedia: Jakarta

Solihun, Soleh. 2004. Perjalanan Majalah Musik di Indonesia. Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. Skripsi. 

0 COMMENTS

Info Terkait

supernoize
854 views
supernoize
854 views
supernoize
854 views
supernoize
854 views
supernoize
854 views
supernoize
3089 views

Saat Venue Musik Gugur Perlahan