Cholil Mahmud: INDEPENDEN ATAU INTERDEPENDEN? Salah Kaprah Penggunaan Kata “Independen” Pada Band

  • By: Cholil Mahmud
  • Kamis, 19 November 2015
  • 13442 Views
  • 1 Likes
  • 0 Shares

Saya tidak ingat berapa kali saya ditanya tentang band saya, Efek Rumah Kaca (ERK), yang dikategorikan sebagai band independen, atau banyak disingkat dengan indie, tentang bagaimana rasanya menjadi band indie. Apalagi jika berkunjung ke daerah dan melakukan wawancara, biasanya pewawancara akan menyelipkan pesan agar kami memberikan kiat-kiat untuk band indie lokal, seolah kami adalah orang yang tahu betul formula atau resep sukses untuk menjadi band indie. Kami yang merasa bukan penggerak kancah musik indie tentu saja agak rikuh menghadapi permintaan seperti ini. Jika tidak diberi trik, takut dibilang sombong dan pelit ilmu, tapi jika diberi trik, takut terkesan klise, menggurui dan berujung terdengar seperti motivator.

Akibat seringnya menghadapi pertanyaan tersebut, memicu saya untuk berpikir ulang apakah benar ERK adalah band independen?

Saya dan ERK, sejak tahun 1995 hingga 2005 menjadi penikmat kehangatan kancah musik indie sebagai penonton. Kami mulai berganti status menjadi salah satu band di kancah tersebut sejak mulai “manggung” di tahun 2005 dan sangat terbantu dengan prasarana kancah musik independen yang relatif sudah “jadi” pada saat itu.

Pada saat yang sama, medio 2005, perusahaan rekaman independen sudah banyak dan bahkan lumayan besar seperti Fast Forward dan Aksara record. Jalur distribusi rekaman pun bisa melalui titip edar pada distributor seperti Tropic records yang sempat populer di kalangan band indie. Informasi tentang tempat penggandaan kaset dan CD pun bisa diperoleh dari para penggiat kancah Indie. Media, baik yang distribusinya nasional seperti majalah Hai, Trax magazine dan Rollingstone maupun yang distribusinya lebih kecil seperti Ripple dan Outmagz serta zine yang lebih militan dan terbatas sangat membantu mewartakan apa yang sedang digodok di dalam kancah indie tersebut.

Belum lagi kehadiran forum dan blog di internet yang menjadi ajang bertukar informasi, komentar dan ulasan tentang berbagai band, baik dalam dan luar negeri. Tak kalah penting adalah teman-teman event organizer  (EO) yang bersusah payah mengadakan acara komunitas agar teman-temannya yang memiliki band baru dan sulit manggung itu mempunyai tempat untuk “ngegigs”.  Studio rekaman, penyewaan sound system dan studio latihan yang murah meriah juga turut membantu menjamurnya band indie. Tak lupa, penggerak roda ekonomi band yaitu divisi merchandise, tukang sablon atau pihak ketiga yang membayar royalti kepada band untuk mencetak kaos band indie favorit anda. Dan terkahir, pembeli rilisan, merchandise dan penonton pertunjukkan band indie. Merujuk pada berbagai peran di atas, kami hanya pernah menjadi penonton dan pembeli rilisan. Penting, namun hanya mencakup satu dari beberapa lini penting yang menopang berjalannya skena musik indie.

Sebagai orang yang kurang lincah bergaul, kami sangat terbantu dengan kehadiran manajer kami yang jauh lebih banyak mempunyai jaringan di kancah musik indie jika dibandingkan dengan kami. Dan upaya manajer kami tersebut pun menjadi jauh lebih mudah dengan sudah tumbuhnya prasarana tersebut di atas. Sehingga, kerja-kerja manajerial bisa beralih kepada hal-hal lain yang cukup penting semisal mengonsep konser, memikirkan metode pemasaran yang tepat dan sesuai dengan karakter band dan sebagainya.

Independen, menurut Webster, dua dari banyak artinya adalah “not subject to control by others” atau “not requiring or relying on something else”. Jika diterjemahkan bebas berarti tidak dikendalikan oleh orang lain atau tidak bergantung pada yang lain. Dalam konteks musik Indonesia, tentu saja yang dimaksud pengendali adalah Industri rekaman dimana di dalamnya terdapat semua prasarana yang sudah disebutkan di atas, dengan perbedaan pada kemampuan kapitalnya. Perusahaan rekamannya bermodal  besar, jalur distribusinya luas, kualitas rekamannya rapi dan bagus (yang semua itu bisa terwujud karena keahlian bermusik yang mumpuni dan dana rekaman yang besar), EO-nya mempunyai standar kegiatan yang besar, dan banyak hal-hal besar lainnya.

Selain itu, relasi kekuatan antara perusahaan rekaman yang bermodal besar dengan musisi atau band seringkali tidak setara. Ada kalanya ketidaksetaraaan itu dimanfaatkan perusahaan rekaman untuk mengintervensi proses kreatif musisi atau band sehingga independensi musisi atau band tersebut perlahan tergerus. Intervensi tersebut adalah salah satu bentuk kendali yang dilakukan oleh perusahaan rekaman terhadap musisi atau band.  Pengetahuan yang minim mengenai kontrak, keinginan untuk menjadi musisi yang bisa hidup dari musik adalah beberapa alasan mengapa perjanjian antara musisi/band dengan perusahaan rekaman tetap terjadi walaupun relasi kekuatan tidak seimbang. [pagebreak]

Sebagian besar band yang memainkan musik yang tidak ramah arus utama namun tidak terlalu ingin diintervensi oleh perusahaan rekaman akhirnya, membuat prasarananya sendiri. Di Jakarta, cikal bakalnya terjadi pada komunitas musik yang sering berkumpul di Apotik Retna Fatmawati dan Pid Pub Pondok Indah yang kemudian melahirkan Roxx dan Sucker Head di akhir 80-an atau awal 90-an. Sedangkan di Bandung, studio Reverse milik Richard Mutter, personil awal PAS Band, menjadi titik temu berbagai aliran musik yang sulit mendapat tempat di arus utama.

Selama 25 tahun lebih, jalur  dan prasarana itu tumbuh dan berkembang ke berbagai kota di Indonesia, hingga mampu menyaingi kekuatan arus utama. Kehadiran internet beserta pembajakan sebagai momoknya, menyebabkan baik arus utama maupun jalur independen sama-sama memulai dari bawah bagaimana berbisnis musik di era digital. Singkat kata, jalur independen sudah menjadi industri. Industri musik independen.

Dari sejarah tumbuhnya musik non arus utama di awal 90-an, kata independen yang sering disematkan kepada band, merujuk pada “tidak bergantung pada orang lain” alias membuat jalur sendiri. Dalam perjalanannya, makna independen ini tereduksi ke sana ke mari, dan melebar dari konteks awalnya. Saat ini, setiap band, yang dirilis oleh label independen atau merilis sendiri, biasanya akan langsung disebut band independen tanpa melihat apakah prosesnya independen atau tidak.

Kesalah kaprahan ini terjadi karena perubahan karakter bisnis jalur independen tidak disertai dengan penamaan ulang terhadap band tersebut sehingga band yang sudah tidak lagi berkarakter independen tetap disebut band independen.

Kembali ke pertanyaan awal, apakah band kami (ERK) adalah band Independen?

Menurut saya tidak. Kami sangat bergantung pada banyak pihak yang telah bahu membahu memperkuat prasarana musik Independen. Kami banyak terbantu oleh liputan berbagai media, yang bukan kami terbitkan sendiri. Kami banyak terbantu dengan banyaknya panggung yang diadakan oleh teman-teman EO atau pentas seni sekolah/kampus, yang tidak kami adakan sendiri. Album kami dirilis oleh perusahaan rekaman yang bukan milik kami. Kami tidak mendistribusikan rilisan fisik album kami sendiri, melainkan melalui distributor.

Kami tidak independen. Kami interdependen atau saling tergantung.

Sekarang, yang masih melakukan praktek Do It Yourself atau melakukan semuanya sendiri hanyalah band punk dan metal yang memang berkarakter gerilya dan tidak ingin memanfaatkan jalur musik independen yang sudah mapan. Selebihnya, berada di jalur independen atau arus utama yang keduanya mencoba untuk memperkuat jalurnya masing-masing.

[bacajuga]

Oleh karenanya, masih tepatkah menggunakan frasa band independen disaat band kita banyak bergantung pada pihak lain?

Foto: dok. Blues 4 Fredoom, efekrumahkaca.net, dok. Ripple Magazine, dok. Kenny Koeswoyo, indie-music.com

0 COMMENTS

Info Terkait