Achmad Rinov: INI DIA, 10 WARISAN KEKAL MUSIK ROCK/METAL LOKAL

  • By: Achmad Rinov
  • Selasa, 23 August 2016
  • 2187 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Lagu-lagu rock/metal di era ’80 dan ‘90-an sangat berwarna dan everlasting. Hingga kini, jika didengarkan secara berulang pun nggak membosankan. Rockhead/metalhead mana sih yang nggak suka lagu-lagu rock balada macam “High Enough” dari Damn Yankees dan “Miles Away” milik Winger? Atau nomor-nomor gahar seperti “Seek and Destroy”-nya Metallica dan “Future World” karya Helloween? Saya yakin, mereka pasti kecanduan.

Tapi, mengingat tahun ’80 dan ’90-an  merupakan singgasana musik abadi. Rasanya kurang adil jika kita hanya menilai band-band tadi dari lagu-lagu yang well-known saja. Apalagi di ranah metal. Jadi, nilailah Metallica dengan album “Kill ‘Em All”-nya dan Helloween dengan “Keeper of the Seven Keys: Pt. I”-nya. Bukan hanya dari lagu-lagu yang disebutkan di awal paragraf tadi. Karena album-album tersebut telah memberikan dampak besar terhadap dunia rock/metal secara keseluruhan sampai sekarang.

Berbicara tentang album berkategori ‘kekal’. Indonesia juga memiliki artefak-artefak rock/metal everlasting berkualitas yang bisa dijadikan 'kitab suci' oleh para anak band era sekarang. Bahkan sangat banyak. Meski demikian, di sini saya hanya akan mengulas 10 album dimana untuk rilisan era ’80-an (dengan berat hati) hanya akan saya pilih satu album saja. Tapi, bukan  berarti album-album yang tidak masuk dalam list pilihan saya tidak bagus loh. Oke, inilah rilisan rock/metal lokal lawas esensial versi saya.

1. “Cermin” (1980) - God Bless

Tahun 1980, jauh sebelum band ‘anak sekolahan’ Dream Theater lahir, God Bless – melalui album ini - telah lebih dulu mengajarkan khalayak musik Indonesia bagaimana memainkan musik rock progresif yang baik dan benar. Ya, Achmad Albar (vokal), Ian Antono (gitar), Donny Fattah (bass), Abadi Soesman (kibord), dan Teddy Sudjaya (dram) telah berjalan melampaui ruang dan waktu melalui lagu-lagu progresif rock berkualitas bintang lima semisal "Musisi", "Anak Adam" dan tentu saja trek titel "Cermin".

“Cermin” dibalut dalam rumusan rock yang njelimet, namun terstruktur dengan mengutamakan unsur estetika apik dan penuh dinamika di sekujur tekstur lagu. Jelas sekali, album ini diukir dengan visi totalitas berkarya atas nama idealisme para musisinya yang nggak bisa tergoda begitu saja oleh pundi-pundi uang milik cukong rekaman agar mereka ikut-ikutan menjual diri untuk menodai kebebasan berkaryanya.

Master rekaman album ini - menurut Donny Fattah kepada saya – rusak, sehingga nggak bakal bisa dirilis ulang. Namun atas permintaan banyak fans, God Bless akhirnya me-remake seluruh lagu dalam album ini dengan tambahan tiga lagu baru dan akan merilisnya di tahun 2016 ini. Akhirnya, cawan suci rock and roll ini selamat juga.

2. “Kampungan” (1991) - Slank

Kebanyakan orang, khususnya Slankers angkatan lama mungkin berpendapat bahwa lima album pertama Slank nggak tertandingi abum-album setelahnya. Sedikit banyak ada benarnya, tapi semua tergantung selera dan dari sudut pandang mana kita menilainya. Album “Kampungan” sendiri bisa dikategorikan album yang merepresentasikan mahakarya dahsyat rock n’ roll di awal 90-an dimana saat itu nyaris nggak ada album lokal yang bisa menggilas kemahsyuran dan keajaiban album ini.

Selain karakter vokal melengking Kaka masih kental, ornamen kibord Indra Qadarsih yang unik dan penuh intrik plus gaya gitaran Pay yang rock n’ roll banget juga makin memperkaya talenta-talenta cerdas yang sudah tertancap di dalam jiwa Bongky (bass) dan Bimbim (dram). Dengan latar belakang musik jazz yang dimiliki seorang Indra, ciri khas album ini seakan bermuara pada jemarinya. Ya, dia mampu mengolah alur lagu sesuai yang Slank mau.

Setelah dibumbui Pay, Bongky, dan Bimbim, giliran Kaka yang mengeksekusinya menjadi karya klimaks yang mencapai puncak orgasme pendengarnya. “Kampungan”, secara khusus juga diakui gitaris era modern, Eross Candra sebagai album yang mengubah hidupnya. Pay sendiri diklaim sebagai pemberi inspirasi bagi gitaris SO7 itu saat pertama kali ia belajar gitar. Artinya, “Kampungan” merupakan bahan peledak pembawa virus yang mampu mempengaruhi siapa pun yang beruntung menjadi bagian sejarah saat dirilisnya album ini.  Khusus kelima personel Slank, rasanya nggak  berlebihan jika saya memberi julukan mereka natural born killers.

3. “Self-titled” (1992) – Roxx

Album debut yang menghadirkan dramer dahsyat Arry Yanuar dengan barisan lagu berdistorsi plus  jual beli riff dan interlude gitar Jaya dan Iwan. Nomor pembuka “Gontai”, diawali dengan riff gitar gagah yang ditimpali bass dan dram sebagai rhythm section yang sangat konstan. Sedangkan trek kedua, “Penguasa” dibuka dengan entakan dram yang ditimpali cabikan rhythm gitar kembar sebelum vokal lantang Trison  menerobos di sela-sela gagahnya kadar distorsi yang mendominasi. Teriakan vokal latar yang menghiasi sejak part verse, makin memberi kesan jantan pada lagu ini.

“Gelap” dan “Ada Tiada”, memang menjadi dua lagu paling ‘kalem’ di album ini. Apalagi dengan tetesan suara gitar clean di bagian awal, benar-benar menjadi pembeda dibandingkan nomor-nomor lainnya. Tapi jangan terlena, distorsi gitar  bakal segera menerjang di bagian reff dan interlude-nya meski dengan kadar yang lebih ‘lembut’. Khusus part interlude “Ada Tiada” yang melodius, akan menerbangkan ingatan kita pada nomor-nomor balada Metallica semisal “Fade To Black”, “One” atau “Nothing Else Matter”. Meski jaya pernah berujar kepada saya bahwa lagu-lagu di album ini nggak ada yang mirip Metallica.

Ada nuansa Anthrax dalam “5 Cm”. Dimana dentuman bass dan entakan dram yang berpadu sejak intro, ditimpali riff gitar maha dahsyat dan gaya bernyanyi Trison yang ala-ala Joey Belladona.  Namun yang menjadi primadona tentu saja “Rock Bergema”. Berisi lirik bernada optimisme, lagu ini terbungkus dalam balutan irama antemik sejak awal hingga akhir. Part reff-nya bahkan sering mengundang koor massal para rockhead dan metalhead di setiap konser Roxx. Pokoknya, nggak ada alasan untuk nggak menganggap album ini sebagai artefak penting dalam sejarah musik rock Indonesia.

4. “Behind The 8th  Ball”  (1992) -  Rotor

Awal tahun ’90-an saya mengalami adiksi terhadap Sepultura. Saat itu, saya menganggap nggak ada lagi band thrash metal yang paling beringas namun berkualitas di jagad raya ini selain band Max Cavalera dkk. Namun setelah saya mendengar album “Behind The 8th Ball” dari Rotor ini, saya menyadari bahwa di Indonesia juga ada band  garang yang bermutu. Nggak heran jika Irvan Sembiring cs lantas didaulat sebagai pembuka konser Metallica di Lebak Bulus pada 1993, atau beberapa bulan setelah album ini dirilis.

Dibuka dengan titel trek “Behind The 8th Ball”, sebuah progresi chord yang unik tersuguh dalam nomor andalan ini. “Pluit Phobia” tampil dengan nuansa etnik dalam balutan lirik yang sentimental. Sedangkan “Gatholoco” adalah bentuk lain dari “Pluit Phobia” namun dengan lirik yang berbeda. Trek ini menjadi bukti kualitas vokal Irvan Sembiring yang berangasan sekaligus alami. Pun dengan Jo-Die, eks vokalis Getah dan sosok yang cukup disegani di komunitas musik underground Jakarta yang  turut mengisi vokal pada lagu “The Last Moment” dan “Spontanuous Live”.

Nomor-nomor lain seperti “Beyond The Eyes of Pain”, “Curse of Leak”, “Nuclear is Solution”, “Hate Monger”, dan “A Dismall Picture of Mankind” dimainkan dengan tempo super cepat dan variasi chord yang kaya. Di sini, gebukan drum Bakkar Bufthaim sangat mengentak tapi tetap menampilkan akurasi tempo dan ritme yang terjaga rapi. “Behind The 8th Ball” nggak hanya membuka babak baru perjalanan hijrahnya Irvan, Jodie dan Judha ke Los Angeles, Amerika Serikat tetapi sekaligus melibas pola konvensional yang membuat adiksi saya terhadap musik-musik thrash metal makin akut.

5. "Katrina" (1993) – Kidnap

Seakan nggak ingin terjebak dalam stigma hard rock standar kebanyakan band lokal kala itu, Kidnap dengan berani menyusupkan unsur rap di nomor pembuka "Muak". Ada juga elemen musik elektronika yang bisa bikin bergoyang di lagu "Raverage" dan kadar distorsi yang heavy di lagu "Jadi Apa?" serta tampil kalem dengan hits "Biru".

Barisan lirik nakal juga menjejali album ini. Nggak heran jika nggak semua liriknya dicantumkan di dalam album. Sekalinya ada, ditulis sangat berantakan dan sulit untuk dibaca. Seperti dalam lagu "Telanjang" yang mengisahkan tarian striptease dan “Katrina" yang memunculkan kata-kata “…Konak jadinya..." di bagian penutup lagu.

Lagu “Katrina” sendiri menggambarkan keseksian model Karina Suwandhi yang menjadi inspirasi awal identitas band ini sekaligus judul albumnya. Nama Kidnap Katrina muncul setelah mereka membaca sebuah majalah dan melihat sang model sedang berpose. Niat menculik Karina lantas keluar dari mulut salah satu anggota band sehingga jadilah nama Kidnap (menculik) dan Katrina (modifikasi nama Karina) sebagai nama band.

Meski berada dalam lingkaran yang sama dengan Slank, dan dramer band ini, Masto adalah adik dari Bimbim, dramer Slank, namun Kidnap memiliki elemen musik yang lebih bervariasi dibandingkan dengan dedengkot Potlot itu. Okelah, kadar slenge-annya memang sebanding dan benang merah musiknya juga sama-sama hard rock. Tapi, Kidnap lebih berani dengan mencoba menyentuh ranah musik yang lebih luas.

[pagebreak]

6. “The Head Sucker”  (1995) - Suckerhead

Setelah “Behind the 8th Ball” milik Rotor, inilah album kedua komunitas underground yang dirilis label besar. Meski diakui sebagai album thrash metal, namun sesungguhnya aroma death metal begitu nyata membungkus sekujur album ini. Berondongan double kick drum yang dikombinasikan dengan karakter vokal growl dari Krisna J. Sadrach menjadi alasan utamanya.

Nomor bertempo sedang berjudul “Mario (Budak Industri)” menjadi jagoan album ini. Dengan lirik sederhana namun ‘ngena’ plus komposisi yang berisi, lagu ini lebih mudah diterima masyarakat. Sementara "Hati-Hati", merupakan nomor berlirik lugas dan penuh pesan akan kehati-hatian dalam melakukan sesuatu.

Dengan tampang sangar para personelnya dan kegarangan dalam setiap aksi panggungnya, Suckerhead juga mampu menampilkan nomor balada yang diletakkan di akhir track list. Lagu tersebut berjudul "Catatan Terakhir", yang dibalut dalam bebunyian gitar akustik yang kental plus lengkingan vokalis tamu Doddy Katamsi (Elpamas) yang berpadu penuh harmoni dengan vokal berat Krisna.

Masih banyak nomor yang bisa dijadikan referensi sekaligus koleksi wajib buat kamu yang sama sekali belum pernah menyimak dan memiliki album ini. Lagu-lagu tersebut adalah “Blinded by the Light”, “Butcer's Soul”, “Night Racer”. “The Head Sucker”, “Fear Come Freedom Lost”, “Don't Lock Me Up”, dan “Brutal Hope”. 

7. “W.O.B” (1995) - Voodoo

Saat Mr. Big menciptakan lagu “Addicted To That Rush”, dunia musik pun tercengang. Nggak terkecuali para pecinta musik di Tanah Air. Orang-orang bertanya, bagaimana caranya membuat adonan ’jual beli gitar dan bass’ dalam sebuah lagu? Beberapa tahun kemudian, Oppie Danzo (vokal), Edo Widiz (gitar), Atenk (bas), dan Ossa Sungkar (dram) menjawab pertanyaan tersebut melalui album “W.O.B”, yang  mendemonstrasikan kemampuan kualitas ‘KW super’ para personelnya.

Edo, yang dikenal mengagumi Eddie Van Halen ‘berbulan madu’ lewat teknik two-handed tapping yang dipamerkan nyaris di sekujur solo “Salam Untuk Dia”. Dan di saat Opphie, pengagum Freddie Mercury, bersenandung layaknya sang idola dalam nomor  “Only Love”,  Atenk pun menjadi pemeran utama dalam nomor bertajuk “Abal-Abal”. Sedangkan Ossa, membayar kontan semuanya lewat pukulan progresif di nomor ”Tuan Tanah”, “Bad Girl”, dan “Tsunami”.

Bagai kesurupan, semua skill yang mereka miliki akhirnya tumpah ruah dalam nomor “W.O.B (Wis Ojo Bingung)”. Layaknya Mr. Big, mereka pun melakukan ‘jual beli’ di nomor instrumental ini. Bukan hanya gitar dan bass, dram pun ikut melakukan ‘transaksi’.  Namun seakan kelelahan, setelah “Talaseta” yang lagi-lagi menguras skill, Voodoo menutup album ini dengan nomor up beat berjudul “Indriyana”. Yup, “W.O.B” merupakan kebanggaan industri musik Indonesia sekaligus referensi bagi siapa saja yang punya niatan menciptakan komposisi duet sekaligus duel skill antar personel.

8. “Jabrik” (1995) - Edane

Terlalu bombastiskah jika saya menganggap album ini sebagai masterpiece rock dari Edane? Saya rasa tidak! Karena nyaris semua trek di album ini patut dibanggakan. Bukan hanya oleh keempat personel Edane, tetapi juga oleh dunia rock Tanah Air secara keseluruhan. Dan kali pertama saya mendengarkan album ini, hanya satu kalimat yang keluar dari mulut saya, 'It's such an interesting piece of art'. Bagaimana tidak? Kekuatan utama album ini bukan cuma terletak pada kualitas teknik gitar seorang Eet Syahranie, tetapi juga suguhan powerful dari vokalis bernama Heri Batara. Dengan kata lain, ketakutan akan melempemnya Edane sepeninggal Eki Lamoh nggak terbukti. Heri bahkan lebih dahsyat dibanding Eki. Setidaknya menurut saya.

Album dibuka dengan “Wake of The Storm”. Sebuah lagu yang mendemonstrasikan idealisme Eet dalam bermain gitar, dimana  keragaman riff di setiap bait lagu serta solo gitar yang masih bernuansa Van Halen plus suara 'wah foot pedal'-nya Jimi Hendrix membuat lagu ini begitu sempurna. Melangkah pada trek selanjutnya, “Jungle Beat”. Sebuah lagu  bernuansa mencekam di bagian riff awalnya yang ditimpali teknik palm mute dari sang maestro Eet yang penuh penjiwaan. Lalu ada “Jabrik (Big Town)”, lagu dengan teknik two-handed tapping menawan yang selalu saya jadikan menu sarapan pagi sebelum berangkat sekolah di masa SMA dulu.

Melangkah ke trek berikutnya, “Victim of The Strife” satu-satunya lagu balada yang dihiasi petikan gitar  crunchy dengan kombinasi distorsi chorus khas Eet. Lagu penuh emosi yang membuat bulu kuduk berdiri. “Call Me Wild” adalah sebuah trek yang menggambarkan kegarangan Heri kala melibas riff-riff gitar Eet. Ditambah dentuman bass Iwan Xaverius yang menendang-nendang jantung pendengarnya dan gebukan dram garang dari Fajar Satritama, lagu ini benar-benar super berisik dan penuh amarah.

“Pancaroba”, “Kharisma”, dan “Alam Manusia” merupakan tiga lagu yang menempatkan harga diri musik rock Tanah Air berada di puncaknya. Saya rasa, saat itu nggak ada lagu rock berlirik Indonesia yang se-amazing tiga trek ini. Khusus di lagu “Way Down” dan “Burn It Down” pikiran saya seketika menerawang ke satu titik. Ya, teknik gitar George Lynch di lagu “It's Not Love” milik Dokken. Sangat nyata.

Dua buah komposisi intrumental juga menghiasi album ini,” I.X.S” dan “Kurusetra”. Pada “I.X.S”, Iwan sepertinya nggak mau kalah dari Eet. Meski komposisinya sederhana tapi lagu ini membuktikan kalau Edane bukan hanya Eet Syahranie dan Heri Batara. Sedangkan pada “Kurusetra”, Eet, Iwan dan Fajar bersekongkol membangun sebuah komposisi musik yang kuat dan kokoh sehingga menjadikan album ini semakin layak untuk dinikmati para pemuja musik rock Tanah Air.

9. "In (No) Sensation" (1995) – PAS Band

Ini dia, album pertama Pas Band yang dirilis via label rekaman besar, Aquarius Musikindo. Album dengan cover bergambar sebuah boneka ini berisi persilangan alternatif, punk, funk, dan hip-hop yang ditetesi lirik-lirik sumpah serapah terhadap ketidakadilan yang tengah terjadi di sekitar kita pada saat itu. Sebuah album yang memberi dampak besar bagi perjalanan karir musik Pas Band di Tanah Air.

"Impresi", menjadi singel pertama yang menerbangkan nama Pas Band sekaligus memiliki andil besar dalam menggaungkan musik alternatif yang pada saat itu belum banyak dimainkan di Indonesia. Lagu yang menceritakan rasa muak terhadap segala bentuk kebohongan ini berisi persekutuan enerjik antara 'tendangan' double pedal yang catchy dengan garukan power chord yang mengundang rasa ingin berteriak sekaligus melompat.

Ada juga "For The Truth" yang diawali cabikan bass funky, lalu disambut distorsi gitar menampar dan pukulan dram mengentak. Atau "War", yang begitu menyentuh dengan lirik-lirik kelam dan nuansa depresif ala Seattle Sound. Singkatnya, segala keragaman dan kemahsyuran era 90-an diramu menjadi satu di album ini.  

10. “Untukmu Galang” (1997) - Bunga

Dalam beberapa hal, Bunga memang identik dengan nama Nial (bassis). Namun khusus di album ini, sesuai judulnya - “Untukmu Galang” - justru identik dengan Galang Rambu Anarki, gitaris yang juga putera musisi kawakan Iwan Fals. Kontribusi Galang di album ini, seperti diungkapkan juga oleh Nial, sangat besar dimana petikan gitarnya yang khas di lagu “Hadapi” selalu bikin Nial ingat akan dirinya.

Sepeninggal Galang, Bunga memang nggak pernah punya gitaris tetap dan sering menggunakan jasa additional guitarist di setiap album dan aksi panggungnya. Namun itu bukan tanpa alasan. Kata Nial kepada saya beberapa waktu lalu, selain nggak pernah mendapatkan orang yang cocok mereka pun ingin menghargai almarhum Galang. Anda, putera Koes Hendratmo, yang sempat menjadi gitaris Bunga di album kedua, “Ojo Ngono”, dan kemudian merangkap  sebagai vokalis, akhirnya cabut juga.

Komposisi  musik di album ini sendiri memiliki benang merah hard rock yang menyebar ke ranah hardcore. Nomor ugal-ugalan seperti “ Gila”, “Palkon”, atau “Bobby Wants to Destroy” menjadi bukti sahih akan hal itu. Meski demikian, singel jagoan di album ini tentu saja sebuah nomor pop berjudul “Kasih, Jangan Pergi”, lagu wajib para ABG era ‘90-an.

 

 

 

0 COMMENTS

Info Terkait

supernoize
389 views

Reney 'Scaller': Those Early Days (Part 1)

Usia saya 14 tahun ketika ibu saya menanyakan, “Reney, kalau sudah lulus sekolah nanti mau...

Baca Selengkapnya
supernoize
442 views

Japs Shadiq 'Indische Party': Rekam Jejak Analog Tour

Bulan Oktober 2017 lalu, Indische Party baru saja selesai menjalankan Analog Tour ke Malaysia,...

Baca Selengkapnya
supernoize
522 views

Jeff 'Kasino Brothers': 'Triol Aspect' dalam Bermusik

Tulisan ini merupakan kajian argumentasi tentang tiga aspek rahasia dalam proses kreatif Kasino...

Baca Selengkapnya
supernoize
482 views

Arief 'Blingsatan': Zaman Menghasilkan Generasi

Ketika para musisi era pergerakan indie label yang berawal pada sekitar awal tahun 90-an merasa...

Baca Selengkapnya
supernoize
4020 views

Stephanus Adjie: Mesin Perang Bernama Down For Life

24 November 2017 pukul 10.00 WIB malam lebih, saat terbayang wajah Marsha Timothy yang cantik dan...

Baca Selengkapnya
supernoize
2380 views

Novan ‘Captain Jack’: Menolak Mati dan Dimatikan

Membangun kembali sebuah rumah yang tinggal puing bukanlah perkara gampang. Sama halnya dengan...

Baca Selengkapnya