Isu illegal music sharing, Apakah Masih Relevan?

Masih segar dalam ingatan saya, bahwa pada awal tahun 2000-an penyebaran musik ilegal adalah isu yang sedang hangat-hangat nya diperdebatkan oleh hampir semua kalangan yang bergerak di industri musik. Kala itu teknologi digital sedang mengalami perkembangan yang sangat pesat. Menyebabkan perubahan dalam budaya konsumsi musik yang sangat signifikan. Teknologi baru bernama digital dan internet dikambing-hitamkan sebagai sumber baru pembajakan musik.

Tetapi apakah isu ini masih relevan dewasa ini? Pertanyaan ini muncul mengingat perdebatan mengenai isu pembajakan musik terkesan memudar memasuki tahun 2015. Mungkin ada baiknya kita kembalikan ingatan kita kepada 15 tahun yang lalu, masa di mana bermunculan teknologi-teknologi yang menyebabkan lahirnya isu pembajakan.

Salah satu buah hasil teknologi digital yang sangat signifikan kala itu adalah format lagu dalam file digital bernama MP3. Format lagu MP3 menjadi salah satu media segar dan sangat memudahkan bagi para penggiat musik. Bagaimana tidak, dahulu jika ingin mengkoleksi musik dibutuhkan tempat khusus untuk menyimpan kaset, CD, dan piringan hitam supaya bisa tertata rapi. Bagi sebagian atau kebanyakan dari mereka, koleksi musik ini malah menjadi salah satu penyebab rumah atau kamar mereka menjadi berantakan dan kehabisan ruang untuk berkegiatan. Belum lagi perangkat audio yang dibutuhkan untuk mendengarkan lagu-lagu yang terdapat di dalam media-media rekaman tersebut. Sedangkan dengan MP3 kita hanya perlu sebuah komputer dan speaker komputer, tidak perlu yang mahal yang penting bisa keluar suara.

Jika punya modal lebih, kita bisa membeli perangkat kecil yang bisa menyimpan lagu sekaligus mendengarkan lagu, apalagi kalau punya modal lebih kita bisa membeli iPod yang mampu menyimpan puluhan ribu lagu. Jadi tidak perlu lagi Walkman atau Discman yang masih merepotkan karena kita harus membawa puluhan kaset dan CD yang sangat rentan dan sering kali rusak atau hilang dalam perjalanan. Hanya colok ke komputer, save lagu ke dalam perangkat, dan siap untuk pergi ke kampus, atau pergi liburan. Percaya atau tidak, masih berfungsi normal dan sehat wal-afiat sampai sekarang setelah 10 tahun. Saya sama sekali tidak menyesal telah menghabiskan hampir semua tabungan saya kala itu untuk membeli perangkat ini. Saya lebih menyesal membeli Walkman dan Discman murahan yang umurnya tidak bertahan lebih dari satu tahun.

Buah hasil teknologi digital lain yang sangat signifikan adalah internet. Teknologi inilah yang menyebabkan penyebaran file MP3 menjadi begitu mudah. Hanya perlu beberapa kali klik lewat mouse computer, kita sudah bisa mendapatkan lagu yang kita inginkan, bahkan bisa mengirimkan lagu kepada teman dan kerabat, atau orang lain yang tidak kita kenal sekalipun. Tidak perlu lagi bertatap muka dan bersalaman. Alhasil kebiasaan menyimpan lagu kedalam CD atau kaset, bergeser menjadi kebiasaan menyimpan lagu kedalam komputer pribadi, komputer teman maupun komputer server dengan cara mengunggah file-file lagu tersebut.

Lahir dan berkembangnya kedua teknologi tadi, menyebabkan pergeseran budaya mengkonsumsi musik berupa TIDAK LAGI PERGI KE TOKO KASET DAN CD UNTUK BERBELANJA, melainkan mengunduh lagu di  kampus, kantor dan rumah. Bagi mereka yang tidak memiliki koneksi internet yang memadai, masih bisa pergi ke pasar loak untuk membeli CD MP3 bajakan, walaupun kebiasaan ini semakin berkurang seiring berkembangnya kekuatan dan kecepatan koneksi di Indonesia.

Pergeseran budaya ini lah yang memancing timbulnya perdebatan mengenai illegal downloading dan illegal uploading atau secara umum disebut sebagai fenomena illegal music sharing. Pergeseran budaya konsumsi musik ini ditanggapi dengan sikap yang beragam oleh pelaku industri musik, dengan mayoritas tanggapan yang menentang karena merasa sangat terganggu.  

Pihak pertama yang merasa terganggu oleh fenomena ini adalah perusahaan-perusahaan rekaman. Bagaimana tidak, penjualan CD dan kaset yang merupakan sumber penghasilan utama menjadi berkurang dalam kurun waktu yang begitu singkat. Maka para perusahaan rekaman ini lah yang paling pertama dalam mengambil sikap dengan aksi dan upaya yang serius. Upaya pengendalian mereka dalam memberantas kegiatan unggah dan unduh lagu terkesan begitu membabi-buta. Mereka menyebut kegiatan ini sebagai kegiatan yang mereka sebut ilegal, dan berhasil melobi pihak yang berwenang untuk melegalkan istilah ilegal bagi mereka yang melakukan kegiatan ini.

Berusaha mengurangi download gratis dengan membuat rilisan digital download resmi, RBT bahkan lebih menggelikan lagi CD MP3 Original! Salah satu yang paling melekat dalam ingatan saya adalah bagaimana mereka memajang logo Anti Pembajakan yang merusak estetika rilisan mereka sendiri. Logo anti pembajakan yang memampang nama Biro Agen Federal di Amerika sekalipun masih terasa mengganggu. Reaksi menentang tidak datang dari perusahaan rekaman saja, melainkan dari beberapa band dan musisi. Beberapa band besar bahkan begitu vokal dan mengambil aksinyata seperti tidak mau tampil di Download Festival. Sikap anti terhadap platform digital music seperti iTunes, spotify, Youtube juga sempat disuarakan dengan lantang. Memang tidak bisa disalahkan karena penjualan album dan lagu merupakan sumber penghasilan yang besar bagi band dan label raksasa.

Namun tidak semua label rekaman dan band bersikap oposisi terhadap fenomena ini. Beberapa menganggap free file sharing sebagai sarana penyebaran musik yang cukup efektif. Bisa dianggap semacam sarana promosi gratis, semakin banyak yang menyebarkan musik mereka maka semakin banyak yang mendengarkan. Bagi beberapa label dan band, terutama yang kecil, internet adalah sarana terbaik untuk menggapai penggemar dan mendapatkan penggemar baru.

Kekuatan penyebaran musik mereka juga didukung oleh para blogger dan penulis amatir yang secara suka rela meresensi karya musisi favorit mereka dan membagikan lagu secara gratis kepada para pembaca. Tidak sedikit dari mereka yang berhasil meraih kesuksesan dengan memanfaatkan internet dan teknologi digital, dan masih berhasil mempertahankan penjualan fisik dan tampil secara live.

Upaya pengendalian terhadap illegal file sharing memang masih berlangsung sampai hari ini. Namun terkesan sudah mulai melunak. Para label rekaman tidak lagi begitu vokal menyuarakan anti free digital music sharing. Logo anti pembajakan juga sudah jarang terlihat lagi dalam cd rilisan manapun. Malahan saat ini mereka memanfaatkan internet sebagai sarana "Digital Marketing". Berupaya mencari cara memanfaatkan free content melalui internet untuk menggapai penggemar sebanyak mungkin. Hampir seluruh pendekatan yang dilakukan oleh band/ label kecil menggunakan internet 10-15 tahun yang lalu, kini juga diterapkan oleh band/ label besar.

Lucu rasanya opini mereka-mereka yang awalnya menyuarakan suara oposisi ini berubah dalam waktu yang cukup singkat. Membuat saya bertanya-tanya apakah motif dibalik sikap spontan terhadap fenomena digital file sharing kala itu. Pudar nya relevansi mengenai isu ini juga disebabkan oleh sikap penggemar musik yang mulai kembali membeli rilisan resmi seperti CD, Vinyl dan menyaksikan band secara live. Mereka mulai menyadari bahwa sensasi mendengarkan musik dari sumber asli adalah pilihan terbaik untuk menikmati musik. Mereka mulai menyadari bahwa; sensasi melihat penampilan live, mendengarkan CD dan Vinyl original; jauh lebih baik dari pada mendengarkan file lagu MP3.

Dewasa ini, sumber file lagu gratis lewat internet menjadi semacam katalog bagi para penggemar musik untuk menyelami band/ artist favorit mereka lebih dalam. Memudarnya sikap anti terhadap illegal file sharing secara tidak langsung mengindikasikan bahwa perdebatan tentang internet sebagai sumber utama pembajakan musik sudah tidak begitu relevan lagi. Karena pada awalnya relevansi nya hanya berlaku pada mereka yang belum memahami teknologi baru bernama internet, merasa terancam oleh keberadaan teknologi baru ini, dan langsung mengambil sikap difensif tanpa mempelajari fenomena tersebut lebih dalam.

Foto: businessinsider.com, connectingcordova.com, theguardian.com

 

1 COMMENTS
  • hilmanfinger

    yaah menurt ane, bukannya hanya di Sector Music saja yg mencekal adanya Ilegal File sharing di masa itu gan, bahkan sector perfilman pun begitu sampe sampe SOFA Amrik mengeluarkan undang undangnya.. berbalik pada ERA jaman 2006/2007 internet itu masih awam bagi orang-orang dan pemanfaatnya pun belum maksimal, dan lihat lah ERA DIGITAL sekarang gan, internet dan digital lah yg membantu semuanya d jaman ini, dari mulai PROMO, POS, SHARING FILE CONTENT, NEWS MEDIA inilah hasil dari pemanfaatan teknologi yg sebenarnya, itu opini ane yg selaku penggila MUSIC dan ERA DIGITAL.. CMIIW

Info Terkait