Che Cupumanik: JADILAH TUKANG NYONTEK YANG KEREN

  • By: Che Cupumanik
  • Selasa, 24 November 2015
  • 35796 Views
  • 1 Likes
  • 0 Shares

Di rumah sekitar tahun 1997, di pagi hari gue pernah muter lagu “Black” milik Pearl Jam, lalu nyetel lagu “Something In The Way” milik Nirvana, diputer agak kenceng, lalu bokap nanya: ‘Lagu siapa nih? Kamu sering banget muter lagu ini, idola kamu tuh banyak, masa enggak bisa bikin lagu kaya mereka?’. Pertanyaan itu nyentil, bikin resah karena ada benarnya, kok gue ngoleksi karya band-band keren, sering denger lagu-lagu keren-nya mereka, tapi enggak ketularan bisa bikin lagu bagus?. Padahal sering mendengarkan karya mereka harusnya gue terpengaruh, harusnya sanggup menyerap ilmu kompisisi lagu, harusnya gue terinspirasi, harusnya ada banyak ide yang terkumpul, harusnya itu semua memancing imajinasi untuk berkarya. Boleh jadi waktu itu gue cuma sekedar mabuk saja menikmati karya mereka, terpukau, terpana, tertegun, terkagum-kagum, itu saja. Lupa dan enggak sadar, sesungguhnya idola-idola gue itu meninggalkan bahan contekan buat gue, melalui karya mereka.

Dalam cerita yang lain, dulu gue ngedengerin dan nyimak sebuah syair lagu yang berbunyi begini: ‘Jangan hanya diam, aku tak tahu, batu juga diam, kamu kan bukan batu, aku tak cinta pada batu, yang aku cinta hanya kamu, jawab nona dengan bibirmu, iya atau tidak itu saja’. lagu itu milik Iwan Fals, yang berjudul ‘Iya atau Tidak’ dari album ‘Belum Ada Judul’, dengan jumawa dan menyepelekan, dalam hati gue bilang: ‘ah, bikin lirik dan lagu kaya gini gue juga bisa’.

Terkadang kita sering anggap enteng karya bagus yang sederhana, dan gue pernah ngedumel: ‘kok enggak kepikiran sama gue bikin lirik kaya gini, kan gampang’. Padahal kita tidak tahu, bagaimana perjuangan dan upaya si seniman bertahun-tahun untuk bisa sampai ke level itu, kita enggak tahu kerja keras Iwan Fals untuk sampai pada menulis lirik cinta asmara yang lugas, menggelitik, cerdas, jahil, tetap jantan, sederhana dan terbukti disukai jutaan orang. Itu perjuangan mengasah kemampuan bertahun-tahun. Pengalaman yang berbicara, gue yakin Iwan mengalami ratusan kegagalan, kebosanan dan kebuntuan. Sekali lagi mengidolai Iwan Fals toh sampai saat ini gue belum sanggup bikin lagu balada sederhana sekuat itu. Meski secara tak langsung gue udah berguru jadi murid dia, harusnya gue bisa menyerap gagasan dari belasan album keren Iwan Fals. Udah punya arsip contekan dari album-albumnya, gue masih belum bisa seperti dia, akhirnya gue merasa harus mengasah kemampuan nyontek, kemampuan meniru, mencontoh dan mencuri ide dari nya.

Ternyata kemampuan nyontek dari idola, dari tokoh dan dari panutan itu harus diasah, kalo enggak itu hanya akan jadi koleksi yang pasif tanpa lahir karya baru. Jangan sekedar mencuri ide, arsip contekan yang kita punya harus diolah, dipoles, diutak-atik, diubah, digubah, dipadu dengan ciri khas kita, dengan kepribadian kita, dengan selera kita, dengan karakter kita. Kalo cuma nyontek hanya akan menjadi plagiarisme yang memalukan, lebih parah lagi kita akan dicap plagiat yang mengklaim karya orang lain sebagai karya kita. Gue masih inget pernyataan Kurt Cobain yang mengaku nyontek The Melvins, The Beatles dan Sex Pistols, dia enggak mampu 100% menjadi seperti idolanya, tapi ketidakmampuan meniru secara persis, itu justru melahirkan band penting dan unik era 1990 bernama Nirvana. Dan berapa banyak di dunia ini band yang menjadi sukses dan mengakui nyontek Nirvana, tapi tetap jadi dirinya sendiri, seperti Weezer, Muse dan Limp Bizkit.

Begitu juga The Beatles, meski Dave Grohl (Foo Fighters/ex-drummer Nirvana) dalam wawancara dengan CNN mengatakan bahwa The Beatles adalah blueprint musik dunia, tapi dalam sebuah wawancara, Paul McCartney bilang: ‘Kami gabungkan Buddy Holly, Little Richard, Jerry Lee Lewis dan Elvis, kami semua menggabungkannya’. Meski John Lennon dan Paul menjadi tim penulis lagu terhebat dalam sejarah, mereka mengaku nyontek ide dari idola mereka. Ternyata semua dari para musisi hebat mengalami proses yang sama, mereka pernah jadi penggemar, lalu menjadi pengekor, lalu memutuskan untuk nyontek, tak ragu meniru dan akhirnya meleburkan hasil contekan dengan kepribadiannya, jadilah karya baru yang unik, lalu bersuka citalah, jika suatu saat karya kita digemari dan masuk daftar bahan contekan bagi orang lain.[pagebreak]

Dengan terus terang, gue juga ngaku semua album Cupumanik, atau Konspirasi, lirik lagunya yang gue tulis berasal dari semua arsip contekan dari idola. Pergi ke toko buku, lalu milih berbagai judul buku dari para penulis yang gue suka untuk gue contek. Pergi ke toko CD, lalu milih band yang gue suka untuk gue contek. Langganan streaming dan download musik melalui aplikasi HP, itu juga demi bisa nyontek inspirasi. Nguntit para penulis di Twitter, berteman dengan banyak musisi di Facebook, menjalin pertemanan dengan wartawan dan para manager band di Path, itu semua juga bahan contekan gue untuk gue contoh.

Pergi ke bioskop untuk nonton, milih film yang bisa gue contek sebagai bahan penulisan lirik. Buka Youtube, yang jadi kegemaran gue adalah ngintip video clip untuk bisa gue contek, atau nonton 100 Greatest Rock N’ Roll Riffs, 200 Greatest Rock Guitar Riffs, 100 Famous Rock Guitar Riffs, gue bisa nyontek riff-riff gitar yang chord-nya bahaya dan beracun. Kebayang kan, banyak sekali bahan contekan, berantakan arsip inspirasi yang bisa kita tiru di mana-mana. Kalo kita percaya bahwa tak ada yang 100% original, kalo kita sepakat bahwa jati diri seseorang dibentuk dari hal yang kita senangi, kalo kita sepaham bahwa semua kreasi berasal dari sesuatu yang pernah ada, Kalo kita yakin bahwa ide baru hanyalah campuran/leburan dari beberapa ide yang pernah ada, tunggu apalagi?, mulai kumpulkan arsip temuan dan inspirasi sebanyak-banyaknya, semakin banyak ide keren yang terkumpul, semakin banyak sumber curian yang bisa dipilih, semakin besar gairah untuk berkarya.

Setelah dipikir-pikir, rasanya gue masih akan terus nyontek. Malah bersyukur merasa belum sukses punya band, merasa belum gemilang ngebangun band, merasa belum puas bikin karya, merasa ingin terus naik tangga berikutnya. Bersyukur masih ingin punya album berikutnya, ingin menggelembungkan penggemar, ingin lebih banyak manggung, mengasah kemampuan managerial, ingin menjadi penulis lirik yang bagus. Sementara ada banyak idola, ada banyak contoh panutan yang telah mengukir prestasi, ada banyak inspirasi karya dan bahan contekan di toko buku, di jalan, di internet, di mana-mana. Bahkan hari ini semua musisi punya arsip penyimpanan inspirasi contekan di handphone mereka, di laptop, di rak buku.

Tapi pada kenyataannya memang selalu menyisakan pertanyaan, kenapa ketika orang sudah punya fasilitas contekan, punya arsip untuk ditiru dari idola mereka, belum tentu bisa menghasilkan karya yang bagus?. Ternyata di dunia seni, ada sebuah sindrom yang lumrah terjadi, yaitu ‘Impostor Syndrome’, itu adalah fenomena psikologis, ketika seseorang meragukan kemampuan sendiri’.

Emang berat menjalani proses berkarya dengan baik, tapi mau gimana lagi, jangan percaya jalan pintas, semua orang yang gemilang itu kerja keras untuk berkarya, mereka yakin bahwa hasilnya enggak langsung bagus, tapi kalo terus dicoba, kualitas akan meningkat. Memang aneh, di era ketika semua inspirasi dan fasilitas tersedia, tidak banyak karya hebat lahir, ironisnya enggak banyak band bagus lahir. Jangan-jangan apa yang dikatakan Jack White itu terjadi, dia bilang: ‘Meyakini bahwa kamu punya banyak waktu, punya banyak uang, apapun yang kamu mau tersedia, itu semua pasti membunuh kreativitas’. Unik memang, seniman atau musisi jaman dulu malah melahirkan karya hebat, dan punya etos melawan keterbatasan.

Ternyata semua ada ilmunya, ada caranya, ada rumusnya. Nyontek, niru, mengadopsi, juga ada metodenya. Seperti yang dikatakan T.S Eliot: ‘Seniman buruk merusak yang mereka tiru, seniman bagus menjadikan lebih baik dari yang mereka tiru, seniman hebat bisa memoles, menambahkan hasil tiruannya dengan keunikan’. Hari gini lo masih mau berdebat masalah karya seni originalitas?, kalo mau bikin karya 100% asli dari nol, jangan-jangan lo masih akan menghayal dan merenung doang, dan enggak akan nyebur bikin karya. Tulisan artikel ini juga tulisan nyontek dari berbagai sumber.

Yang nulis tukang nyontek, penulis artikel ini menyukai penulis lain yang juga tukang nyontek. Yang nulis artikel ini musisi, mimpi ingin jadi musisi juga nyontek dari idolanya, nulis lirik nyontek dari panutannya, idolanya tukang nyontek, isi pesan tulisan artikel ini nyuruh orang untuk jadi tukang nyontek. Selamat nyontek yah, dan kalo kita belum bisa jadi tukang nyontek yang keren, sepertinya pertanyaan bokap gue dulu enggak akan pernah bisa terjawab: ‘Idola kamu tuh banyak, kamu dengerin lagu bagu-bagus, masa enggak bisa bikin lagu kaya mereka?’.

Foto: dok. Cupumanik, warningmagz.com, wmeentertainment.com, digilive.co.id

0 COMMENTS

Info Terkait

supernoize
2887 views
supernoize
6829 views
superbuzz
3443 views