JANGAN MENUNGGU MUSISI TUTUP USIA, BUDAYAKAN NARASI, DEMI KARYA YANG TAK MATI-MATI

  • By: Che Cupumanik
  • Jumat, 28 August 2015
  • 6266 Views
  • 1 Likes
  • 0 Shares

Tulisan ini bicara tentang pentingnya sebuah narasi yang diwujudkan dalam bentuk buku, tentang pentingnya mendokumentasikan musisi dalam sebuah produk literatur. Lalu apa gunanya narasi?, apa manfaatnya buku, dalam menciptakan karya musik dan regenerasi musisi?, sebelum menjawab pertanyaan itu, kita perlu sepakat dulu, mahluk apa narasi itu?. Menurut Keraf, Narasi adalah cerita yang mengisahkan peristiwa, sehingga pembaca seperti melihat atau mengalami sendiri peristiwa itu dan menceritakannya secara detail. Dalam penulisan naratif, penulis bisa juga mendeskripsikan kehidupan individu, mengumpulkan kepingan kisah, menceritakan kehidupan seseorang, dan menuliskan riwayat pengalaman individu tertentu. Bahkan dalam teori lain yang nyaris sama, Narasi menurut Labov dan Waletzky adalah wacana yang digunakan untuk menceritakan kembali serangkaian episode seseorang atau kelompok di masa lalu, baik yang diingat maupun yang dibayangkan. Sebuah narasi dapat mentransfer pengalaman seseorang kepada pembaca.

Dengan membaca dua teori itu, kita bisa menyimpulkan secara sederhana, bahwa narasi adalah menuliskan kisah, narasi adalah menuliskan sejarah, yang diceritakan secara lengkap dan detail. Pertanyaannya, di wilayah musik Indonesia, sudahkah kesadaran narasi ini tumbuh?. Gito Rollies tutup usia, dan jejak-jejak hidupnya, pikirannya, ide-idenya, ikut pergi tanpa meninggalkan kisah hidup yang diabadikan dalam buku biografi yang lengkap. God Bless band lama yang masih tetap eksis, tapi nihil biografi panjang yang komprehensif tentang mereka, betapa miskinnya narasi musik kita, betapa miskinnya kesadaran kita akan pentingnya sebuah teks, padahal sebuah kisah yang didokumentasikan, bisa jadi warisan berharga bagi lahirnya regenerasi.

Rasanya cukup jengkel jika kita membandingkan dengan kultur gairah narasi yang peradaban barat lakukan, suatu ketika saya pernah masuk ke toko buku Kinokuniya di Takashimaya Singapore, di lorong rak buku Biografi, betapa banyak kisah musisi yang masih muda, atau yang masih eksis berkarya, tapi kisah hidupnya sudah dibukukan, seperti Katy Perry, Justin Bieber, Anthony Kiedis, Dave Grohl dan masih banyak lagi. Kimung, seorang penulis muda yang produktif, yang pernah menuliskan buku biografi Almarhum Ivan Scumbag vokalis Burgerkill berjudul My Self: Scumbag, Beyond Life and Death yang terbit tahun 2007, menjelaskan penyebab nihilnya kesadaran narasi kita, dia katakan: “Tradisi lisan kita kuat, tapi tradisi nulis kita lemah, pelajaran sejarah di era orba bahkan tidak mampu memicu murid untuk mendokumentasikan hidupnya, saya sekarang jadi guru pengajar, saya tahu murid-murid itu mengalami krisis identitas, mereka gak tau posisi hidupnya, gak tau peran sosialnya, dan saat ngasih tugas menulis ke mereka, itu lebih sulit, karena dalam menulis butuh kemampuan interpretasi, imajinasi, butuh energi besar, dan kita sudah harus mulai mengajarkan menulis sejak kecil, yang paling penting ajarkan mereka untuk berani menulis, karena dibutuh keberanian”.

Di kesempatan lain, saya sempat menghubungi Rudolf Dethu, mantan manager Superman Is Dead (SID), yang juga baru merayakan lahirnya mini biografi SID, buku itu merangkum 3 kontroversi yang melanda SID, juga sekaligus sebagai medium klarifikasi/bantahan. Buku itu dibagi pertopik, yaitu 3 tuduhan yang menyerang tapi sekaligus membentuk SID seperti sekarang, tuduhan sebagai band rasis, band pengkhianat dan band miskin moral. Dethu mengutarakan pendapatnya mengenai minimnya kesadaran narasi kita di ranah literatur musik, dia menjelaskan: “Kita kurang punya kebiasaan mendokumentasikan sesuatu, kebiasaan merawat, memelihara sesuatu cerita, kita kurang diajarkan mengenai itu, atau boleh jadi banyak band besar yang belum bikin biografi, karena mereka minder menganggap diri mereka tidak unggul, karena budaya ketimuran kita mungkin yah, jadi takut dibilang arogan atau sombong, faktor lain bisa jadi karena belum menemukan penulis yang cocok atau yang mumpuni, lebih sedih lagi jangan-jangan band tidak menyadari pentingnya narasi”.  Dalam menggali artikel ini, saya juga mengorek pendapat dari Adib Hidayat, Editor in Chief dari majalah Rolling Stone Indonesia, juga sebagai penulis biografi yang produktif di wilayah musik arus utama, Adib sudah membuahkan beberapa buku biografi, dari musisi seperti Gigi, Piyu, Noah sampai Nidji. Adib mengatakan: “Banyak orang yang belum mengkhususkan diri untuk jadi penulis buku musik, karena nulis buku sesuatu yang gak gampang, seperti saya yang punya pekerjaan lain, membagi waktunya susah, itu yang akhirnya menjadi lama, dan akan jadi masalah lagi kalo penulis gak nemu editor yang sesuai selera, masalah lain yang saya rasakan adalah royalti yang kecil dan biasanya jarang buku akan dicetak ulang, jadi saya memilih untuk minta bayar putus, nah mengenai royalti buku, ini harus dapet perhatian dari pemerintah, kalau royalti sudah jelas, orang bisa jadikan penulis sebagai profesi yang diandalkan, saya sudah mengajukan masalah ini ke Triawan Munaf, Kepala Badan Ekonomi Kreatif”.

Idhar Resmadi, penulis buku yang pernah membuat biografi Based On a True Story Pure Saturday, juga mengungkapkan pendapatnya pada saya, dia bilang: “Jadi penulis biografi tuh butuh komitmen besar, harus intens, harus punya wawasan luas, karena sudah ada buku-buku yang mengulas sosok Iwan Fals atau Slank, tapi yang mereka ungkap datanya tidak dalam, harusnya jangan bikin biografi sekedar seperti band profile, karena biografi idealnya bukan cuma bicara musik, di sana ada aspek sosial budaya”.  Saya setuju pendapat Idhar, karena musik memang bukan sekedar nada, musik adalah narasi, dan narasi sendiri adalah inti dari pengetahuan, inti dari eksistensi dan identitas kita. Dalam lirik lagu misalnya, ada narasi yang tercipta di sana, maka jangan heran jika seseorang lebih percaya membaca lirik lagu ketimbang nonton tv, baca koran atau majalah, karena media-media itu dirasa tidak sesuai dengan hidup seseorang, yang tertulis dalam pesan syair lagu, boleh jadi yang paling relevan dengan kisah hidup seseorang. Boleh jadi lirik yang ditulis oleh musisi menawarkan cara baru melihat persoalan, menjadi pengetahuan baru, cara yang efektif melihat kenyataan, memecahkan kebuntuan, mengobati kegalauan bahkan musik yang memiliki kekuatan naratif sanggup merekontruksi/membangun identitas.

Beberapa bulan ini, saya mendapatkan tawaran dari penulis buku Eko Prabowo, seorang peneliti dari harian Kompas, yang pernah menulis buku “Menyaksikan Grunge dengan Mata, Telinga dan Jiwa. Saya Ada Di Sana, Catatan Pinggir Grunge Lokal”, Eko Prabowo yang akrab disapa Wustuk, mengatakan pada saya: “Che, buku gue berikutnya akan menangkap, mengorek dan mengungkap bagaimana cara Che Cupumanik dan Robi Navicula menulis lagu, tujuan gue menuliskan kalian berdua adalah untuk merekam cerita, mengungkap rahasia secara runut dan lengkap bagaimana sebuah syair lagu tercipta dari pikiran kalian”. Saya langsung menerima tawaran itu, bukunya bertajuk “Rock Memberontak”. Bisa dikatakan ini bentuk mini biografi saya dan Robi Navicula yang akan dibukukan, saya terkejut mendengar niat baik edukasi yang ingin Wustuk berikan pada publik, dia menjelaskan: “Dengan buku ini orang yang ingin menapaki menjadi vokalis seperti lo dan Robi, akan membantu mereka mencapai mimpinya, ini seperti membagi-bagikan rahasian blueprint, menyebarkan cetak biru kerangka kerja terperinci bagaimana seharusnya membuat lirik, dengan itu orang jadi belajar dan gak perlu memulai perjuangan dari nol seperti kalian, karena orang punya panduan, mungkin beberapa orang akan bilang ini hal yang gak penting buat mereka, tapi gue yakin bagi penggemar kalian, ini sesuatu yang berharga’.

Kimung, juga sepaham dengan apa yang diutarakan Wustuk, dia bilang: “Setelah saya nulis buku Biografi Almarhum Ivan Scumbag vokalis Burgerkill berjudul My Self: Scumbag, Beyond Life and Death, mereka yang tadinya samar-samar menebak sosok Ivan, jadi semakin jelas mengenal karena narasi dalam buku itu, mereka jadi terinspirasi, mereka yang membaca jadi tau siapa dirinya, semakin paham indentitas diri. Juga saat buku saya yang diproduksi 100% oleh korporasi Djarum, yaitu Ujung Berung Rebels : Panceg Dina Galur. Pergerakan yang di dilakukan oleh skena musik tertentu, akan semakin sadar dilakukan, pembangunan skena di ranah musik jadi bergairah, karena orang jadi punya pegangan strategi yang utuh, bayangkan Che, orang akan semakin pinter dan kalau ada banyak buku import dari luar datang, orang-orang jadi punya pegangan, karena ada buku pembanding, karena kita udah punya karya ilmiah sendiri, kita punya kajian ilmiah versi kita sendiri, saya seneng banget kalau tiap skena musik di Indonesia punya produk literasi sendiri”.

Setelah membaca uraian di atas, kita memang tidak bisa meremehkan narasi, jika banyak kisah inspiratif perjalanan musisi dibukukan dengan komprehensif, banyak orang kemudian akan belajar dari pengalaman idolanya, kita jadi bisa melihat pikiran, perasaan, kenyataan dari cerita musisi. Dan sifat lupa adalah sifat alami manusia, tanpa narasi yang tercatat, resikonya banyak kisah berharga yang akan tercecer hilang, sementara aspek narasi dan mencermati kisah hidup seseorang bisa mengikat rasa, memancing imajinasi orang banyak untuk berkarya. Maka sebenarnya mereka yang bisa menuliskan buku tentang kisah hidup seseorang dan bisa dibaca orang banyak, sesungguhnya mereka orang-orang yang berjasa, kita bisa belajar untuk bertahan dan yakin pada mimpi-mimpi yang ingin kita capai. Sejarah milik mereka yang menulis, jangan menunggu sampai para musisi inspiratif itu tutup usia, demi lestarinya regenerasi musisi, demi munculnya ekspresi-ekspresi baru yang lahir. Tulisan ini saya tutup dengan salah satu ungkapan yang 100% saya yakini: “Tidak akan ada masa depan tanpa masa lalu, bahkan tidak ada apapun di dunia ini kecuali teks”.

Foto : www.truthfromtheheart.com

1 COMMENTS
  • adjieadityapurwaka

    Respect kang!!

Info Terkait

supernoize
406 views
supernoize
406 views
supernoize
406 views
supernoize
406 views
supernoize
406 views
supernoize
336 views