Riki Noviana: JANGAN MINDER DIBILANG TUA, KARENA UMUR NGGAK ADA HUBUNGANNYA SAMA WAWASAN

  • By: Riki Noviana
  • Rabu, 30 December 2015
  • 21624 Views
  • 1 Likes
  • 0 Shares

Ketika sedang berkumpul sambil membahas musik dengan teman-teman kita, biasanya, ada saja celetukan berbau guyonan yang berbunyi; 'tua', 'umur nggak ngebohong ya', 'sesuai ama umur loe', dan sejenisnya saat salah satu teman mengaku suka sama lagu lama atau tahu seluk beluk band/musisi yang nggak sejaman dengan dirinya. Padahal, selera dan wawasan sama sekali nggak ada hubungannya dengan umur. Bukankah dengan membekali diri dengan wawasan musik yang banyak sama artinya dengan memiliki senjata andalan yang bisa kita gunakan saat bergumul di segala tingkatan komunitas musik? Nggak perlu jago-jago amat. Yang penting nyambung saat ngobrol dengan mereka.

Tahu diri akan cekaknya pengetahuan tentang musik (khususnya musik rock Indonesia) dan minimnya pengalaman sebagai wartawan di bidang ini, saya pun menceburkan diri ke beberapa komunitas gitaris - baik yang berbasis di dunia maya maupun dunia nyata - di kawasan Jabodetabek dan memenjarakan diri di sejumlah grup WhatsApp berbasis musik demi menambah pundi-pundi sejarah musik rock Indonesia ke dalam kantong memori saya yang dangkal. Dan salah satu grup WhatsApp yang memberi saya banyak pengetahuan musik adalah "Rumah Kita", yang di dalamnya terdiri dari beberapa tokoh musik seperti wartawan senior dan mentor saya Kang Denny MR, musisi senior Toto Tewel dan Ikang Fawzi, pemerhati musik Indonesia Stanley Tulung, serta pemimpin redaksi Majalah GitarPlus Mudya Mustamin. (Istri Ian Antono, Titik Saelan sebelumnya juga pernah bergabung di grup ini sebelum akhirnya meminta izin keluar lantaran telepon genggamnya nge-hang akibat serangan notifikasi).

Di suatu siang yang terik, saat saya malas beranjak dari tempat tidur untuk sekadar membeli es doger di depan rumah, saya pun membuka telepon genggam yang sejak malam tergolek lemah di atas DVD player di dalam kamar. Alih-alih melihat pesan WhatsApp dari seorang teman yang nggak terlalu saya harapkan, saya justru mengintip grup “Rumah Kita” yang baru saja memulai sebuah diskusi tentang sejarah musik rock Indonesia. Hasilnya? Saya mendapatkan tambahan ilmu dalam diskusi yang  - katakanlah - menampilkan Stanley Tulung (memiliki kedekatan dengan sejumlah musisi Tanah Air) sebagai narasumber utamanya.

Sejarah musik rock Indonesia memang bisa kita temui di sejumlah situs di internet. Baik di blog pribadi seseorang maupun media-media musik yang bertebaran di sana. Tapi saya pikir, apa yang saya temui dalam diskusi ini benar-benar beda. Banyak untold story yang memuncrat ke permukaan yang tanpa disadari membuat kita terbangun dari ketidaksadaran akan kehebatan para musisi Indonesia. Ya, dari situ saya makin menyadari. Ternyata musisi Indonesia bukan jago belakangan ini saja. Tapi dari dulu.

Menurut Stanley, cikal bakal musik rock Indonesia tergurat kali pertama sekitar tahun 1957-1958. Adalah Teruna Ria - yang dibentuk oleh Alwi Hoisein (di Wikipedia tertulis dibentuk oleh Moes DS) dan Oslan Husein di Jakarta - yang pada satu kesempatan pernah membawakan lagu "Bengawan Solo" dalam balutan intro blues 12 bar (pemerhati musik lainnya, Remy Silado pernah mencatat Oslan sebagai orang pertama yang menyanyikan Bengawan Solo dengan gaya rock). Jenis musik yang dihidangkan band ini memang bukan pure rock, karena Teruna Ria adalah band 'hiburan' yang kemudian dikenal sebagai band pop.  "Dulu nggak ada istilah genre pop karena orang lebih mengenalnya dengan sebutan 'musik hiburan', dan hiburan itu musiknya lebih ke arah jazz. Personel lain band ini adalah Khamid, yang pernah bermain dengan Eka Sapta, Idris Sardi, dan Ireng Maulana serta Zaenal Arifin, leader dari Zaenal Combo," terang Stanley.

Zaenal Combo sendiri pada masa itu dikenal 'macan banget'. Lagu "Teluk Bayur" yang dinyanyikan Ernie Djohan adalah salah satu dari puluhan hits yang diiringi oleh band ini. Tapi ironisnya, nggak banyak yang tahu kalau janda Zaenal Arifin saat ini tinggal di daerah terpencil antara Depok dan Citayam serta putera mereka adalah Didik, vokalis band grindcore Cosmix Vortex.

[pagebreak]

Pada periode yang sama, di Surabaya antara tahun 1955-1958 cikal bakal musik rock muncul melalui The Tielman Brothers yang kala itu sudah menggilai lagu-lagu Chuck Berry seperti "Roll Over Beethoven", "Madellene", dan "Johnny B. Good" yang mereka dengarkan melalui radio Australia. Fakta ini sekaligus menepis sejumlah berita yang tercecer di dunia maya yang menyebutkan The Tielman Brothers merupakan pionir musik rock dunia. “Faktanya, eksistensi Chuck Berry jauh lebih awal ketimbang mereka," ucap Stanley.

Tapi nggak bisa dipungkiri, di Eropa, The Tielman Brothers dipandang sebagai salah satu musisi rock Indonesia generasi awal yang layak diperhitungkan. Nggak kurang musisi sekelas Ludwig Lemans (eks gitaris God Bless) pernah bergabung dengan The Tielman Brothers selama dua tahun di era '80-an. Ya, fenomena Andy, Reggy, Ponthon dan Louloe Tielman memang luar biasa. Stanley bahkan menyebutkan, pada satu kesempatan, The Tielman Brothers dan The Beatles pernah sama-sama tampil di Jerman dimana saat itu penyelenggara memfasilitasi Tielman bersaudara dengan kamar hotel sedangkan The Beatles cuma diberi kamar kost.

Hanya saja, rumor yang menyebutkan The Beatles pernah bertemu atau menonton The Tielman Brothers secara langsung dan cerita yang menyebutkan Jimi Hendrix juga pernah menyaksikan The Tielman manggung hanyalah sebuah cerita rakyat. Pasalnya, Stanley melanjutkan penjelasannya dalam diskusi tersebut, hal itu nggak pernah terlontar dari mulut para personel The Tielman Brothers sendiri. "Itu hanya cerita dari mulut ke mulut yang nggak  bisa dipastikan kebenarannya."

Mengapa Stanley begitu yakin? Pada September 2014, ia pernah berkunjung ke Den Haag, Belanda dan bertemu dengan Ilse (janda Reggy Tielman) dan anak Reggy yang kebetulan bernama sama, Stanley. Mereka banyak bercerita tentang misteri The Tielman Brothers, termasuk rumor tentang Jimi Hendrix dan The Beatles yang pernah menyaksikan The Tielman Brothers secara langsung tadi dan kisah salah satu personel Tielman yang pernah tinggal beberapa tahun di Kebumen, Jawa Tengah dan wafat serta dimakamkan di sana.

Awalnya, Ilse dan anaknya menolak menjawab seluruh pertanyaan yang dilontarkan Stanley. Selain nggak terlalu suka dengan pertanyaan semacam itu, mereka juga sedang menyusun buku tentang The Tielman Brothers dan sepertinya nggak ingin beberapa misteri yang selama ini belum terkuak ke permukaan bocor sebelum bukunya benar-benar terbit. (Hingga kini, buku tersebut masih dalam proses penulisan).

Kita kembali ke Indonesia. Berawal dari Teruna Ria dan The Tielman Brothers inilah, di akhir tahun '60 dan '70-an benih-benih musik rock yang sesungguhnya mulai lahir di Tanah Air. Di Bandung misalnya, mulai ada The Peels (Benny Soebardja, Soman Loebis, Boetje Garna) kemudian lahir Sharkmove, Giant Step dan lainnya. Di Surabaya ada AKA yang kemudian jadi SAS (minus Ucok Harahap), di Malang ada Yeah Yeah Boys, di Jakarta ada Big Man Robinson (Emmand Saleh, Idang Rasjidi), di Bandung ada Freedom of Rhapsodia yang kemudian berevolusi menjadi Rhapsodia dan di saat yang sama di Belanda, The Road dan Clover Leaf saling bertukar gitaris. Itulah awal pertemuan gitaris Ludwig Lemans dengan vokalis Achmad Albar sebelum keduanya membentuk God Bless.

Dalam diskusi ini, Kang Denny MR ikut menambahkan, bahwa lagu AKA yang berjudul "Crazy Joe" pernah merajai tangga lagu di radio-radio Australia pada 1972 dimana pada tahun tersebut God Bless baru saja terbentuk! Coba, kurang apalagi dengan musisi Indonesia?

Namun bagaimanapun, berbicara sejarah musik rock Indonesia memang tidak bisa lepas dari God Bless. Karena jika kita mengikuti kisah God Bless, filosofi hidup itu nyata sekali, karena mereka teruji luar dalam. Mulai dari kehilangan personel karena meninggal, sampai ditinggal cukong hingga jatuh miskin. "Jadi jangan hanya tahu era "Semut Hitam" saja!" tandas Stanley.

Singkatnya, Ludwig Lemans diajak Achmad Albar ke Jakarta dimana di Ibukota mereka bertemu Donnie Fattah, Fuad Hasan dan Yockie Surjoprayogo yang kemudian membentuk Crazy Wheels yang merupakan cikal bakal dari God Bless. Dari situ era baru musik rock Indonesia pun menyembur. Tapi sayangnya, formasi ini tidak bertahan lama karena saat berlatih di kawasan puncak, Yockie dipecat dan digantikan oleh Deddy Dorres. Sebelum merilis album pertamanya, God Bless memang kerap mengalami bongkar pasang personel termasuk bergabungnya tiga keluarga Nasution: Keenan, Oding dan Debbie serta Soman Loebis (eks kibordis The Peels dan Sharkmove).

Ludwig Lemans sendiri, kendati nggak pernah terlibat di satu pun album God Bless, tapi ia sempat ambil bagian di album solo Deddy Dorres yang bertajuk “The Road”. Di satu kesempatan, Ludwig pernah menceritakan kisah itu kepada saya. Tepatnya, di kediaman Achmad Albar di kawasan Cinere, Depok di bulan Ramadhan 2015. “Waktu itu Deddy (Dorres) bilang kalau album ini didedikasikan buat saya, karena dia sangat suka dengan nama The Road. Saya mengisi gitar di seluruh album, sekitar 12 lagu,” kata Ludwig yang saat itu mengaku belum bertemu lagi dengan Deddy Dores selama lebih dari 40 tahun. “Nanti malam dia akan datang ke sini (rumah Iyek) dan  kami akan bernostalgia.”

[pagebreak]

Judul “The Road” sendiri diambil dari nama band Ludwig Lemans semasa di Belanda sebelum ia membentuk God Bless dan Clover Leaf (band bentukan Achmad Albar yang sempat menghasilkan beberapa hits di Eropa seperti “Dont Spoil My Day” dan “Tell The World”). Selain Ludwig Lemans, album solo Deddy Dores itu juga menampilkan Fuad Hasan (dram) dan Donny Fattah (bass). “Bisa dibilang, ini adalah album God Bless tapi tanpa kehadiran Achmad Albar,” seloroh Ludwig.

Khusus Fuad Hasan, Stanley kembali berkisah, musisi jaman sekarang seperti nggak banyak yang kenal dengan sosok dramer yang satu ini. Padahal perannya di God Bless cukup dominan dan signifikan. Fuad adalah salah satu dari tiga dramer keren di era '60-an. Dua dramer lainnya adalah Benny Mustafa dan Eddy Tulis yang pernah bergabung dengan Eka Sapta, Leading Star dan The MC serta guru dram dari Rudy Arifin (Aria Junior), Cendy Luntungan, Ekki Soekarno dan Jelly Tobing.

Pada jaman itu, God Bless memang masih merangkak. Tapi nama Fuad Hasan sudah dikenal khalayak luas mulai dari level tukang becak hingga ke tingkat jendral. Dan ironisnya, hingga kini juga masih banyak yang nggak tahu kalau Fuad Hasan adalah dramer dari Zaenal Combo Mark II, dan juga The Pro's yang digawangi Enteng Tanamal, Dimas Wahab - ayahnya Aldi Bragi,  Broery Marantika, Bob Tutupoly, dll. Fuad juga merupakan guru dari Yaya Moektio (eks God Bless, Gong 2000 dan Cockpit - ayah dari Rama Moektio dramer Cockpit, Baim Trio, FOS dan eks Ada Band).

Sayangnya, umur Fuad Hassan begitu pendek. Ia meninggal dalam kecelakaan di Kalibata, Jakarta bersama Soman Loebis yang saat itu sudah menjadi kibordis God Bless. Mereka ditabrak truk saat  melakukan perjalanan menuju Jl. Pegangsaan, Menteng untuk berlatih di kediaman keluarga Nasution. Sebelum menuju Pegangsaan, keduanya sempat singgah di kediaman Emier Abay (dramer Farid Hardja) di kawasan Kalibata. Emier saat itu melarang mereka pergi ke rumah keluarga Nasution, namun Fuad bersikeras dan 10 menit setelah keluar dari rumah Abay, tepat di depan TMP (Taman Makam Pahlawan) Kalibata sebuah truk  merenggut nyawa mereka. Rambut Soman terjepit di gardan truk, sementara kondisi Fuad pun kurang lebih sama.. mengenaskan.

Ada untold story lain mengenai Soman Loebis yang dikisahkan langsung oleh Benny Soebardja kepada saya beberapa waktu lalu. Soman - digadang-gadangi bakal jadi pemain kibord hebat Tanah Air - awalnya merupakan kibordis band progresif yang juga pionir pergerakan indie di Indonesia bentukan Benny, The Peels dan Sharkmove. Tapi saat Sharkmove vakum ia 'dibajak' oleh Achmad Albar ke God Bless tanpa sepengetahuan Benny. Benny merasa sakit hati kepada God Bless dan Iyek (sapaan Achmad Albar), dan makin sakit lagi ketika ia mendengar Soman meninggal dalam kecelakaan lalu lintas setelah beberapa hari sebelumnya berjanji akan kembali ke pangkuan Sharkmove. Benny pun menangis dan Sharkmove bubar.

“Pada satu fase, dia ngerasa jenuh sama God Bless karena manggung terus-terusan. Suatu hari saya ketemu dia di Jl. Riau, Bandung dan kami ngobrol di pinggir jalan selama satu jam. Dia ngajak bikin Sharkmove lagi. Saya bilang, Oke aja, asal kamu bilang baik-baik sama Iyek. Dan dia pun berjanji mau pamitan ke Iyek. Tapi Alloh berkehendak lain, besoknya Soman kecelakaan dan meninggal dunia,” ujar Benny kepada saya.

Lantaran nggak kunjung menemukan kibordis yang pantas menggantikan sosok Soman Loebis, Benny akhirnya membentuk Giant Step bersama Yockie Suryoprayogo (kibord) Deddy Stanzah (bass) dan Sammy Zakaria (dramer). Di sisi lain, Benny juga nggak mau membesar-besarkan soal pencomotan Soman ke dalam tubuh God Bless tadi. Karena menurut kabar yang dia dengar dari beberapa sumber, peristiwa itu merupakan ide Deddy Dores yang saat itu menjabat sebagai gitaris God Bless. “Tapi kalau saya jadi Iyek, saya akan melarang Deddy (Dorres) melakukan pencomotan itu,” Benny melanjutkan.

Kira-kira itulah secuil kisah tentang sejarah musik rock Indonesia yang saya dapatkan dari diskusi di grup WhatsApp Rumah Kita plus beberapa tambahan dari hasil obrolan santai saya dengan Ludwig Lemans dan Benny Soebardja. Di akhir diskusi, Stanley mengatakan, hal yang sangat disayangkan dari para musisi jaman sekarang adalah mereka nggak suka sejarah dan filosofi musik. Mereka hanya suka dan hanya tahu bagaimana mengulik lagu, bermain dan berusaha jago tanpa pernah tahu esensi bermusik. “Kalau kita tahu filosofi dan sejarah musik Indonesia pasti jiwa musik itu bakal 'dapet'. Kalau kita tahu perjalanan bermusik para pahlawan musik rock kita, semangat bermusik kita dijamin tidak akan pernah luntur,” pungkasnya.

Bagi saya pribadi, menyelami sejarah musik (apa pun jenis musiknya) amatlah penting. Karena selain menambah wawasan, juga menjadi amunisi andalan saat kita terjebak dalam ruang dan lingkup yang berhubungan dengan musik. Berteman dengan siapapun juga sangat penting, khususnya dengan mereka yang berkategori wikipedia berjalan. Intinya, jangan takut bergaul dan jangan minder dibilang tua. Karena wawasan, sama sekali nggak ada hubungannya sama umur.  

Foto: idfl.me, souniqmusic.com, mashable.com, psychedelicbaby.blogspot.com, lagukenangan.com, jawapos.com, stereosnap.id, expose.org, museummusikindonesia.com

1 COMMENTS
  • Mipox

    Betul... http://mipox.heck.in/raprox.xhtml

Info Terkait

supernoize
836 views
supernoize
836 views
supernoize
836 views
supernoize
836 views
supernoize
836 views
supernoize
3077 views

Saat Venue Musik Gugur Perlahan