Jangan Salahkan Musik

  • By: Soleh Solihun
  • Senin, 24 August 2015
  • 9555 Views
  • 1 Likes
  • 0 Shares

Tahun 1991, waktu masih kelas 1 SMP, orang tua saya memasukkan saya ke pesantren kilat selama sebulan dalam rangka mengisi liburan sekolah. Saya bersedia, karena sebelumnya menolak untuk dimasukkan ke pondok pesantren Gontor. Orang tua saya ingin sekali anaknya jadi orang Soleh, padahal nama saya sudah Soleh, Solihun pula.

Saya lupa pelajaran apa saja yang saya dapat selama di pesantren kilat, karena selama sebulan, ketika ada pelajaran, saya lebih banyak tidur. Gurunya baik hati, tak pernah memarahi saya yang tertidur. Tapi, ada satu pelajaran yang saya ingat benar dan cukup merasuk ke dalam jiwa saya selama beberapa tahun ke depan.

Musik itu haram.

Kata para pengajar di pesantren kilat, cuma ada dua jenis suara musik yang halal untuk didengar: suara laki-laki, dan suara rebana alias kendang alias alat musik pukul yang bahannya dari kulit domba atau sapi itu loh. Mungkin Anda pernah mendengar istilah nasyid, nah musik itulah yang halal untuk didengarkan. Pulang dari pesantren kilat, saya membeli dua kaset nasyid yang entah siapa penyanyinya, yang jelas masih remaja. Harapannya, saya bisa tetap mendengarkan hiburan tapi tidak berdosa.

Maklum, era itu, banyak sekali band dari luar negeri yang mengeluarkan album bagus. Musik rock sedang berjaya. Makanya, ketika teman sebangku saya rajin bercerita soal album terbaru yang dia beli, saya hanya bisa tersenyum. Ingin menikmati lebih lanjut, tapi takut dosa.

Tapi, hasrat pada musik masih begitu membara di dada. Kalau kata lagu mah, “Sik sik musik aku suka musik, kamu suka musik, seluruh dunia suka musik.” Ketika diberi pinjaman album Celoteh-Celoteh dari Iwan Fals, saya langsung jatuh cinta. Berhubung Iwan Fals, muslim, saya pikir, dosanya tak akan terlalu besar lah. Kan yang main musiknya juga muslim. Belakangan saya menyukai Slank, yang ternyata semuanya muslim. Maka, dua nama itu yang kemudian saya dengarkan terus.

Tapi, begitu kuliah, entah karena iman saya sudah tak sekuat remaja, entah karena hasrat mendengarkan musik begitu besar, saya tak peduli lagi soal agama musisinya. Selama musiknya enak buat saya, maka saya dengarkan. Toh saya juga hanya menyukai musiknya, tak lantas mengikuti gaya hidup musisinya.

Lantas, belakangan, saya dengar banyak musisi yang berhijrah dan berhenti dari musik, padahal mereka musisi yang menghasilkan album bagus. Ya memang, ini bukan yang pertama kali. Hari Moekti agaknya salah satu musisi yang berhenti jadi musisi lalu mendalami agama, bahkan jadi pendakwah. Saya pernah bertemu dengannya beberapa minggu lalu dalam pesawat menuju Pekanbaru. Mau minta foto bareng, tapi saya grogi. Haha.

Eh malah melantur. Kembali ke topik ya.

Selain Hari Moekti, nama Irfan Sembiring, dari band trash metal Rotor juga berhenti dari musik karena mendalami agama. Lalu ada Sakti dari Sheila On 7. Yah pokoknya banyak lah. Kalau di Bandung sih, nama seperti Noor Al Kautsar alias Ucay dari Rocket Rockers, dan si kembar Adi dan Udi dari Pure Saturday, adalah beberapa di antara banyak nama yang belakangan ini memutuskan hijrah dari musik.

Saya belum pernah mendengar langsung dari mulut mereka soal alasan mereka berhenti bermain musik. Tapi, saya rasa, mereka juga mendapat pencerahan yang sama seperti ketika saya SMP.

Musik itu haram.

Padahal, menurut saya sih, yang haram bukan musiknya. Kalau main musik sambil mabuk-mabukan, maka mabuk-mabukannya yang haram. Kalau main musik sambil berzinah, maka berzinahnya yang haram. Alat musik selain rebana atau kendang, adalah haram—seperti yang pernah diajarkan di pesantren kilat—mungkin karena jaman nabi belum ditemukan gitar listrik. Hehe. Kalau alat musik itu haram karena ditemukan oleh orang non muslim, ya banyak sekali teknologi yang berguna buat kehidupan tapi tak ditemukan oleh orang Islam.

Eh maaf ya, buat yang non muslim, karena saya dari tadi bicaranya dari sudut pandang orang Islam saja. Bukan apa-apa, saya belum pernah mendengar yang non muslim meninggalkan musik karena alasan mendalami agama. Buat yang muslim dan pengetahuan agamanya mendalam, maaf ya kalau ada yang salah dalam pemahaman saya.

Saya cuma ingin bilang, seperti yang sudah saya tulis di judul: jangan salahkan musik.

Jangan jadikan musik kambing hitam. Saya sih dari dulu tak pernah merasa karena musik saya jadi berbuat dosa. Kalaupun saya berbuat dosa, itu bukan karena musik. Ya karena saya sendiri tak bisa menahan godaan. Buat yang merasa musik mendekatkan diri pada narkotika, ya jangan salahkan musik. Salahkan pengedarnya saja. Haha. Atau, salahkan diri sendiri karena mau coba-coba narkotika. Mabuk kok, karena musik. Mabuk mah karena patah hati. Haha. Intinya, manusianya yang membuat musik membawa ke perbuatan dosa. Sama saja dengan internet misalnya. Bisa saja internet membuat orang berbuat dosa, tapi kan kita tak bisa menyalahkan internet.

Bukan cuma dalam konteks perbaikan diri, musik pun sering disalahkan kalau ada keributan di konser. Ada orang-orang norak yang gampang tersinggung, lalu berkelahi karena mungkin badannya tersenggol pada saat nonton konser, sehingga menimbulkan kericuhan, maka musik disalahkan. Bukannya dicegah dengan meningkatkan keamanan, solusi paling mudah adalah mempersulit ijin konser.

Kalau bicara konteks musik dan agama, saya selalu ingat Gito Rollies. Masa lalunya begitu rock n’ roll dan liar. Ketika dia kemudian mendalami agama dan jadi lebih religius, dia masih bernyanyi dan tak lantas menghujat semua yang berkaitan dengan masa lalunya yang kelam. Saya juga bukan mau menghujat mereka yang berhenti dari musik karena mendalami agama ya. Itu adalah pilihan masing-masing. Saya hanya menyayangkan betapa banyak bakat musik yang tersia-siakan. Padahal kan, mereka berpotensi memberi inspirasi lewat musik. Siapa tau, bisa berdakwah secara halus sambil bermain musik. Berdakwah di pengajian mah sudah biasa. Lagian, mereka yang ke pengajian, biasanya sudah punya niat berubah. Nah, bayangkan kalau berdakwah di panggung musik di lapangan, atau café-cafe. Pasti tepat sasaran.

Ah, saya makin sok tahu begini ya. Sudah dulu ah. Yuk, kita bernyanyi sama-sama. Sik sik musik aku suka musik. Kamu suka musik. Seluruh dunia suka musik.  

2 COMMENTS
  • Maruto

    Ahh, bang soleh ngingetin ane ada wajib di pondok pesantren di kampus, jadi kpikiran nih, -_-

  • yazidisihab

    Jadi keliatan, kang soleh sedang dakwah tentang musik. :)

Info Terkait

supernoize
836 views
supernoize
836 views
supernoize
836 views
supernoize
836 views
supernoize
836 views
supernoize
3077 views

Saat Venue Musik Gugur Perlahan