Japs Shadiq 'Indische Party': Rekam Jejak Analog Tour

  • By: Japs Shadiq
  • Minggu, 7 January 2018
  • 2370 Views
  • 11 Likes
  • 14 Shares

Bulan Oktober 2017 lalu, Indische Party baru saja selesai menjalankan Analog Tour ke Malaysia, Inggris, dan Belgia. Tur singkat ini meninggalkan kesan dan pengalaman seru bagi gue. Ide awal tur ini adalah untuk tampil di Europalia Arts Festival di Belgia. Namun ternyata daftarnya bertambah ke Malaysia dan Inggris.

Rencana tampil di Europalia Arts Festival sudah dimulai dari bulan Mei 2016. Chris, perwakilan dari Europalia, datang ke Jakarta untuk bertemu Tika (drummer Indische Party). Chris datang untuk mengajak Tika membentuk band tribute untuk Dara Puspita agar bermain di Europalia Arts Festival 2017 di Brussels, Belgia. Singkat kata, Chris juga mengajak Indische Party serta David Tarigan untuk tampil dalam satu rangkaian acara.

Sementara untuk tampil di Malaysia, ini terjadi karena pertemanan gue sama Noh Saleh, frontman dari band Hujan (Malaysia). Waktu itu kebetulan dia lagi mengurus rilisan solonya di Jakarta, dan kami makan siang bersama. Di situ Noh mengutarakan niatnya untuk memboyong Indische Party ke Malaysia buat tampil bareng side project-nya yang sudah lama vakum, Da Vagabonds. Langsung gue hubungkan Noh Salleh dengan manager Indische Party, Ben Mukti, untuk atur detail jadwal. Disepakatilah gig Malaysia pada tanggal 13 Oktober 2017.

Yang bikin lebih padat lagi, tanggal 7 Oktober kita juga perform di Synchronize Fest, lalu tanggal 9 Oktober kami juga tampil bareng Flower Girls dan David Tarigan untuk pemanasan sebelum tur Eropa. Bisa kebayang seketat apa persiapan Tika, drummer Indische Party dan Flower Girls, untuk persiapan tur kami ini.

13-14 Oktober 2017: Petaling Jaya, Malaysia

13 Oktober 2017, Indische  Party berangkat menuju Malaysia. Flight jam 6 pagi, kami tidak ada yang tidur. Sesampainya di Kuala Lumpur International Airport jam 9 pagi, kami dijemput sendiri oleh Noh Salleh. Ia langsung ngajak kami untuk makan siang dan mampir ke rumahnya untuk signing session vinyl 7 inch On Vacation dan Serigala yang gue hadiahkan buat dia di Jakarta. Alhasil, kami baru sampai di apartemen jam 2 siang. Niat mau memejamkan mata sebentar jadi buyar karena Jacobus yang selalu mengganggu (selain Kubil, Jacobus memang yang paling jahil di antara anak-anak Indische Party). Jam setengah 4 sore, Noh Salleh sudah menjemput untuk segera ke venue, ATAS by Bijan FX.

Noh Salleh terpaksa mencetak tiket ekstra buat penonton yang ternyata membludak. Sehari sebelumnya memang tiket sudah sold out. Jam 9 malam kita naik panggung melewati kerumunan penonton yang padat. Lagu pertama, “Hey Girl”, langsung membakar penonton. Di luar ekspektasi, ternyata crowd di sana sudah hafal dengan lagu-lagu kami. Ada juga yang udah punya koleksi lengkap CD, kaset, dan vinyl.

Baru 3 lagu pertama, energi penonton sudah klimaks, chaos, monitor beberapa kali feedback karena kena tendang. Langit-langit kafe pun ada yang berjatuhan karena saking semangatnya mereka crowd surfing. Gila. Noh Salleh mencoba menjaga agar sound kita tetap oke (maklum, kita nggak bawa kru sama sekali). Namun kondisi crowd udah out of control. Pada lagu “Khilaf”, Noh pun naik panggung buat ikut nyanyi. Lagu “Ingin Dekatmu” gue take out dari setlist, melihat vibe penonton yang lebih senang lagu-lagu yang upbeat. Penonton yang cewek-cewek pun terpaksa melipir ke pojok karena cowok-cowok yang chaos.

“Terkapar Sudah” mengakhiri konser intim kami di ATAS by Bijan FX malam itu. Da Vagabonds naik panggung, acara semakin klimaks karena terakhir kali mereka tampil adalah 2 tahun lalu. Penonton tanpa henti menghampiri buat sekedar minta foto bareng atau minta tanda tangan CD, kaset, vinyl kami. Letih, kurang tidur, capek semua terbayarkan dengan kepuasan yang sulit digambarkan.

Malamnya kami tidak langsung pulang. Kami sempat diajak Noh dan teman teman Da Vagabonds buat makan malam. Seinget gue nama tempatnya Williams. Kalau mau lihat menunya harus googling, aneh banget. Kami pesan makanan dan minuman, eh pas datang ternyata semua menunya porsi raksasa, haha. Bahkan Mas Mo pun nyerah nggak kuat makan (Ini nggak pernah terjadi), haha. Makan malam yang absurd. Lalu kami diantar pulang sama Noh. Sesampainya di apartemen, kami tidak langsung tidur. Walau belum tidur dari kemarin, kami lanjut ngobrol sampai subuh di balkon apartemen, sambil menghitung ringgit hasil sharing penjualan tiket yang ternyata di luar dugaan. Alhamdulillah, uangnya bisa buat jajan-jajan di Eropa minggu depannya, haha.

Esoknya kami pulang ke Jakarta. Sebelum pulang, kami sempat makan siang dan berfoto di Twin Tower, spot ikonik di KL. Noh Saleh, selain saleh kamu memang baik hati. Kami berhutang budi banyak sama beliau.

18-21 Oktober 2017: London, Inggris

Tanggal 18 Oktober malam kami, Indische Party, Flower Girls, dan David Tarigan berangkat menuju London. Penerbangan jauh dengan total 18 jam di pesawat. Fiiuh, gue paling ngga bisa tidur di pesawat. Paling kita semua hanya 3 jam total. Kami mendarat di Heathrow Airport jam 12 siang setelah transit dua kali. Hello London, we’re back! Langsung dijemput oleh taksi ke area Camden Town, tempat kita menginap. Istirahat sebentar, kami langsung keluyuran seputar Camden dan malamnya end up di Dublin Castle, nostalgia dua tahun lalu kami sempet nongkrong di situ juga.

Esoknya bangun tidur, kami masih merasa jetlag, keluar muter-muter sekitar. Tika drop sakit, sempet pake koyo di jidatnya. Wah, bahaya nih, kata gue dalam hati, soalnya dia akan main di dua band. Sorenya kami berangkat untuk soundcheck di venue, Rich Mix, deket kawasan Bricklane. Selesai checksound jam 7 malam, yang gue khawatirkan terjadi: Tika hampir pingsan, mimisan, ngga kuat untuk berdiri. Wah kita semua jadi perawat dadakan buat memulihkan kondisinya. Sementara setengah jam lagi Indische Party dijadwalkan main.

Setelah dipijat dan minum teh hangat dan berbagai terapi lainnya, perlahan Tika mulai bisa bangkit. Dengan sisa semangatnya yang emang nggak habis-habis, gue sempet nawarin untuk motong durasi tampil ke Tika, tapi malah diprotes, ”Enak aja lo, udah di London nih, masa kurangin lagu,” katanya. Haha yasudah, Indische Party naik panggung seperti nothing happened at the backstage. Energi yang kita tularkan ke penonton berhasil menggoyang suasana yang memang tidak terlalu padat namun tetap hangat. Banyak teman-teman lama kami di sana hadir mendukung kami. Indische Party, Flower Girls, dan David Tarigan berhasil mengguncang London malam itu.  Perasaan yang luar biasa

21-22 Oktober 2017: Brussels, Belgia

Keesokan harinya kita berangkat ke Belgia dengan kereta, dijemput oleh Cristophe dari Europalia. Tiba di stasiun, kita harus buru-buru karena antrean yang panjang banget, sempet terjadi peristiwa yang kurang mengenakkan saat Rully, sound engineer kami, diminta petugas mengembalikan trolley ke depan dan harus antre ulang, sementara jam keberangkatan udah mepet. Gue yang biasanya suka skip dengan barang-barang bawaan, mendadak jadi tertib dan rapi karena harus masukin semua barang-barang (kami memang tidak membawa kru). Berdua dengan Christophe, gue estafet masukin barang-barang. Total ada 16 tas besar dan hardcase instrumen. Kami sempat telat 5 menit, untungnya kereta mau menunggu. Fiuh, hampir saja kami terlantar di London.

Setelah perjalanan 3 jam di kereta, kami langsung menuju venue untuk soundcheck karena waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore waktu setempat. Wah, tempatnya magical banget, bekas gereja tua yang udah berusia lebih dari 300 tahun, disulap jadi tempat konser. Nggak pernah gue manggung di tempat sesakral ini. Dan gue denger bocoran dari Christophe, katanya bakal ada 500-an orang yang hadir nanti malam. Wah bakal seru nih. Harus all out. Tonight at Les Brigittines , we preach rock n roll.

Benar saja, malamnya kita turun ke venue, sudah ramai. banyak di antara crowd yang sudah menunggu gig yang bertemakan 60 dan 70-an dengan memakai wardrobe vintage. Suasanya jadi terasa manggung di era 60-an beneran. Semenjak lagu pertama penonton sudah ikut berdansa, mengikuti tepuk tangan di lagu “Hey Girl”. Dengan bahasa Prancis yang masih kaku karena baru diajarkan oleh Tika dan Emin (temen lama kami yang sudah lama tinggal di Paris. Ia hadir malam itu. Thanks, Emin!), gue sapa penonton, “Salut.. Comment allez-vous!“ Haha gue segitu doang bisanya, Tika yang menimpali sisanya.

Lagu-lagu berikutnya “Sepeda”, “No More”,  “I Wanna Dance” berhasil membuat penoton makin menggila. Lagu “Lonely” pun dibawakan dengan syahdu di megahnya Les Brigittines. Dan ketika intro lagu “Serigala” dimainkan, semua terpuka dan berdansa liar dalam malam yang hingar bingar. Setlist kami ditutup dengan lagu “Terkapar Sudah” yang kami panjangkan di bagian tengahnya. Seusai tampil, penonton bertepuk tangan riuh dan meminta encore. Tetapi kami tidak mengabulkan permintaan mereka, karena akan menjadi anti klimaks.

Kami turun ke ruang ganti dengan berloncatan, berpelukan girang. Ben, manajer kami juga larut dalam euphoria. Ia mendatangi kami dengan berteriak “Anjiiing!” sambil tertawa. Tugas Indische Party sudah selesai dengan sukses yang luar biasa. Tika lanjut tampil bersama Flower Girls yang tampil sangat keren malam itu, terutama lagu “Hei Kasih” yang resmi jadi lagu Dara Puspita favorit gue. David Tarigan harus main dengan total 5 jam setelahnya karena penonton pantang pulang sebelum digoyang nampaknya, haha. Sementara kami satu per satu sudah mulai terkapar di dalam apartemen.

Akhir cerita, kami bermalam satu malam lagi untuk meresapi ketentraman Brussels yang syahdu, tempat yang asik untuk melepas lelah kami, dengan suara-suara gereja tua sebagai ambience-nya. Esoknya kami hengkang ke Amsterdam untuk merasakan apa yang David Tarigan sampaikan: “Udara kebebasan Eropa.” Lalu kami bertolak ke Jakarta pada tanggal 25 Oktober dari Schiphol Airport, Amsterdam.

*Foto: Dokumentasi Indische Party

1 COMMENTS
  • dephythreehandoko

    jasad