Rudolf Dethu: JARI TENGAH NAN PONGAH

  • By: Rudolf Dethu
  • Rabu, 20 July 2016
  • 7616 Views
  • 6 Likes
  • 0 Shares

Pernah melihat foto Johnny Cash yang terlihat kesal dan mengacungkan jari tengah itu kan?

Foto legendaris tersebut merupakan momen klasik yang terjadi di lembaga pemasyarakatan San Quentin pada tahun 1969. Johnny Cash yang sedang berlatih untuk pertunjukannya di depan para narapidana di LP yang berlokasi di California, Amerika Serikat, tersebut merasa kesal dengan fotografer Jim Marshall. Ungkapan gusarnya itu ia ungkapkan dengan mengacungkan jari tengah kepada Jim.

Gestur mengacungkan jari tengah sedemikian rupa merefleksikan tindakan derogatori, peyoratif, menghina lawan bicara, melecehkan pihak lain. Isyarat itu bisa dibaca sebagai “fuck you”, “fuck off”, “go fuck yourself”, “shove it up your ass”, “up yours”, “die motherfucker”, “persetan kau”, “babon bulukan”, “pale lu bau menyan”, dan macam-macam ungkapan nyolot nan murtad Pendidikan Moral Pancasila, agama, serta sopan santun.

Di jagat Barat, gestur jari tengah tersebut ditajuki the finger (olah tubuh seolah-olah “giving someone the finger”). Dikenal pula dengan nama lain seperti the finger wave, the middle finger, flipping someone off, flipping the bird, the rude finger, the one finger salute, dan sebagainya.

Mau tahu sejarahnya?

Manuver the finger ini konon telah digunakan sejak peradaban Yunani Kuno dan Romawi Kuno (antara 8 Sebelum Masehi hingga 600 Masehi). The finger merepresentasikan batang kemaluan. Sementara dua jari di sisi kiri dan kanannya diposisikan mewakili buah zakar. The finger pula melambangkan hubungan badan. Ketika the finger diacungkan ke pihak lain, artinya bahwa si pengacung sedang merendahkan pihak tersebut.

Di masa Yunani Kuno gestur jari tengah itu disebut sebagai katapygon yang erat berhubungan dengan aktivitas seks anal. Di ensiklopedia Yunani Kuno, Suda, gestur jari tengah diterangkan sebagai “menyentuh lubang dubur dengan jari”.

Dalam budaya Latin the finger digolongkan sebagai digitus impudicus alias “jari yang memalukan, membuat tersinggung, tak senonoh”. Barangkali mirip dengan budaya kita yang menganaktirikan tangan kiri lalu menyebutnya “tangan kotor”.

Di masa Abad Pertengahan tindakan mengacungkan jari tengah dianggap setara saat ksatria mengacungkan lance (sejenis tombak) ke musuhnya, ekspresi merendahkan lawan, gestur disrespek.

Di era modern, menurut linguis Jesse Sheidlower, ia perkirakan the finger mulai tumbuhkembang di Amerika Serikat sekitar tahun 1890an. Antropolog Desmond Morris menyebut budaya mengacungkan jari tengah dibawa oleh para imigran Italia.

Aksi the finger yang paling pertama berhasil didokumentasikan di AS terjadi pada 1886. Old Hoss Radbourn, pemain baseball dari klub Boston Beaneaters, saat berpose bersama rekan setimnya tertangkap kamera mengacungkan jari tengahnya—kabarnya ia persembahkan kepada tim rival, New York Giants. 

Pada 1976, wakil presiden AS masa itu, Nelson Rockefeller, terekam media mengacungkan jari tengah kepada para hippies saat berkampanye di New York. Peristiwa ini lalu memunculkan istilah baru: Rockefeller Gesture.

Pada periode belakangan ini, musisi dan atlet olahraga tampaknya yang paling kerap mengacungkan jari tengah di depan publik. Sering kali penyebabnya karena ultra sebal tanpa jeda dikuntit oleh para paparazzi.

Pun kolektif dance-pop asal NYC, Cobra Starship, mendendangkan tembang spesial soal jari tengah yang bertajuk, ya, “Middle Finger”.

Bagaimana dengan di Indonesia?

Gestur the finger ini cukup populer juga di pergaulan anak muda Nusantara, lumayan sering dipraktekkan, terutama di skena musik cadas—dan lebih kerap bermakna “aku tak peduli” atau “fuck the world” dibanding “fuck you”.

Dalam konteks folklor lokal, kita juga memiliki gestur jari-jari semacam the finger walau tak sama persis namun setara bermakna derogatori. Saya nihil informasi gestur seperti foto di bawah ini sebutan tepatnya apa—istilah Inggrisnya sih fig sign. Yang jelas, sering dimaknai sebagai representasi berhubungan badan. Pun karena pemakai gestur ini didominasi penggunaannya oleh laki-laki, gestur ini kerap dipakai untuk menggambarkan lawan jenis yang dikategorikan, istilah tertibnya, friends with benefits.

Secara historikal fig sign ini diperkirakan muncul dari kultur Hindu, merefleksikan kontak seksual antara lingga (penis) dengan yoni (vagina). Gestur fig sign ini dipraktekkan juga oleh penduduk di negara-negara Eropa Timur dan Turki.

Kembali ke isu awal, di masa sekarang Rockefeller Gesture mulai rutin digunakan sebagai simbol keberanian, ekspresi menantang, proklamasi pembebasan diri terhadap nilai-nilai kaku di masyarakat, sebentuk diplomasi dari so-called budaya perlawanan/counter culture.

Namun, saking mahsyurnya, akibat terlalu menjamur penggunaannya di berbagai belahan dunia, terkesan sekadar gagah-gagahan (baca: korban Westernisasi), belakangan ini the finger perlahan tapi pasti kian kehilangan shock value-nya. Sudah hampir terlalu biasa, kelewat sering kita menyaksikan orang di sekitar kita mengacungkan jari tengah ke udara hingga akhirnya derajat ketersinggungan yang timbul anjlok secara signifikan. The finger is no longer offensive.

Lalu langkah apa yang mesti dilakukan agar mutu ofensif the finger kembali menjulang dan berbahaya? Mark L. Knapp, profesor emeritus bidang Komunikasi di University of Texas at Austin menyarankan menggandakannya: bersikaplah lebih total, acungkan kedua jari tengah!!!

Foto: iconicphotos.files.wordpress.comandthatswhyyouresingle.comheromachine.comhistorybyzim.comtheselvedgeyard.files.wordpress.comchicagonow.com

 

0 COMMENTS

Info Terkait

supernoize
613 views
supernoize
613 views
supernoize
613 views
supernoize
613 views
supernoize
613 views
supernoize
613 views