Jeff ‘Kasino Brothers’: Influence X Reference

Kajian Argumentasi Tentang Penerapan Referensi Musik

Menyukai musik adalah hal yang secara alamiah terjadi dalam tiap individu, bahkan tidak sedikit yang mengatakan “musik selalu berada dalam tiap unsur kehidupan masyarakat penikmatnya”. Setiap individu penikmat secara sadar ataupun tidak sadar mengotakkan jenis musik yang disukai, hal tersebut tentunya memiliki alasan dari tiap individu, ada yang beralasan preferensi, suasana hati, hingga tujuan khusus lainnya yang berkaitan dengan project musik.

Setiap individu penikmat musik memiliki referensi musikal yang dijadikan sebagai patokan dalam mencari karya musik berkaitan dengan jenis musik yang disukai. Beberapa individu penikmat mengungkapkan bahwa menikmati musik dapat memengaruhi suasana yang sedang dialami atau yang akan (ingin) dialami, siapa sangka melalui bebunyian yang diciptakan oleh musisi dapat membuat banyak individu merasakan sesuatu yang ingin dirasakan dikemudian hari. Seperti ketika saya masih SMP, mengagumi sosok kelompok musik The Sigit, seolah-olah ingin menjadi seperti mereka.

Ketika pertama kalinya melihat artwork (logo) Rolling Stones, menjadi awal bagi saya menyukai musik rock and roll. Entah mengapa, melihat logo itu di studio musik, membuat saya penasaran, dan ingin  segera mencari tau itu logo apa, kalau logo anak band siapa ya kira-kira.

Berkaitan dengan definisi budaya populer yang dikemukakan oleh John Fiske, bahwa budaya populer dipahami dalam berbagai jenis suara, gambar, dan pesan yang diproduksi secara massal dan komersial (termasuk film, musik, busana, dan acara televisi) serta pemaknaan terkait lainnya. Berdasarkan definisi tersebut, maka dapat dikatakan saya sebagai penulis merupakan masyarakat budaya pop, karena berupaya mencari tahu tentang suatu perihal dengan menggunakan beberapa media yang terkait dalam jenis definisi budaya pop.

Rasa penasaran terhadap logo Rolling Stones membuahkan hasil!

Setelah mengetahui bahwa artwork tersebut adalah logo dari band Rolling Stones yang diciptakan oleh John Pasce pada tahun 1970, membuat saya ingin mendengarkan karya musik dari band yang yang terdiri dari Mick Jagger, Keith Richard, Brian Jones, Ronnie Wood, dan Charli Watts. Hits dari Rolling Stones seperti “Brown Sugar”, “Honky Tonk”, “Paint in Black”, “Jumpin Jack Flash”, dan beberapa hits lainya menjadi titik awal yang membuat saya berangan-angan, “Saya harus memainkan musik seperti ini, dan beraksi seperti ini juga”.

Angan-angan tetaplah angan-angan, namun performativity yang dihadirkan oleh Mick Jagger seakan memengaruhi saya untuk tidak hanya berangan-angan, dan juga tidak menjadi anak band yang hanya menghabiskan waktunya di studio musik.

Beranjak sedikit lebih dewasa, saya memberanikan diri untuk menerima ajakan dari rekan-rekan kelompok musik (band) untuk tampil dalam pementasan seni kolektif yang diadakan di lingkungan sekolah. Semakin memahami pentingnya wawasan dalam pertunjukan musik, membuat saya tidak hanya berpatokan kepada satu atau dua kelompok musik, seperti yang sudah saya sampaikan bahwa sosok kelompok musik lokal, yaitu The Sigit dapat juga memengaruhi preferensi saya dalam bermusik.

Mengetahui bahwa jenis musik rock and roll tidak hanya berpatokan pada progress chord I IV V, membuktikan bahwa musik rock and roll berkembang menjadi hybrid musik yang telah mengalami proses kreativitas eksplorasi dan tranformasional.

Menurut sumber yang diketahui, bahwa terdapat genre musik yang terpisah dari rock and roll namun tetap dalam basic progress chord dan irama rock and roll. The Enfields dalam karyanya yang berjudul “I’m For Things You Do“ membuktikan bahwa terdapat unsur karakter musikal yang kuat dari irama musik rock and roll, tetapi beberapa media massa saat itu mengatakan bahwa itu adalah karya musik dengan genre yang berbeda, yaitu garage rockEksplorasi dan tranformasi jenis musik mempengaruhi saya untuk lebih memahami teknik dalam mengembangkan suatu karya musik rock and roll.

Mendirikan sebuah band dengan anggota yang memiliki preferensi musik yang berbeda tentunya menjadi sedikit persoalan yang harus di hadapi bersama, tetapi hal tersebut bukanlah persoalan yang dikatakan “tidak baik”, hal tersebut bisa saja menghasilkan sesuatu yang “baik” apabila dikerjakan dengan  penerapan dan attitude yang baik pula.

Pengalaman Menjadi Vokalis Kasino Brothers

Perpecahan anggota band karena memiliki selera musik yang berbeda itu adalah hal yang sangat biasa, mengapa saya mengatakan biasa, karena saya juga pernah mengalami hal yang sama, dan itu juga pernah dialami rekan-rekan band yang saya kenal. Pada intinya suatu kelompok musik (keluarga) tidaklah layak untuk bubar hanya dikarenakan persoalan perbedaan selera musik.

Namun adapula yang mengatakan ini adalah persoalan jati diri, apabila sadar itu jati diri lantas kenapa memberanikan diri untuk membuat suatu kelompok (keluarga), maka dari itu saya menyebutkan kelompok musik atau band itu adalah keluarga, karena sebelum memutuskan untuk memebentuk keluarga seharusnya dilihat dulu calon keluarga yang dipilih, cocok atau tidak. Bukan persoalan anggota tersebut memiliki kemampuan di atas standarnya, tetapi cocok atau tidak cocok itulah yang akan membentuk harmoni dalam berproses nantinya. Terkecuali apabila anggota tersebut memiliki kesepakan untuk menyampingkan jati dirinya, dan memutuskan untuk menciptakan sesuatu yang baru di luar dari selera pribadi masing-masing.

Saya dan anggota Kasino brothers yaitu Uki dan Dary (kecuali Andi Tarigan) memiliki selera musik yang sama, tetapi hanya berbeda dalam kategori fenomena atau jamannya. Kedua personil Kasino Brothers, Uki (gitar) dan Dary (drum) merupakan dua bersaudara yang menggemari musik rock and roll dengan sentuhan (image, color, character) garage rock. Perbedaan karakter musik rock and roll berdasarkan fenomena tentunya juga berpengaruh pada referensi dari tiap anggota, tapi apabila kelompok tersebut dapat mengatasinya dengan cara yang benar itu akan menjadi suatu karya musik yang hanya akan dimiliki oleh kelompok tersebut.

Menyikapi Referensi

Cara dalam menyikapi referensi adalah hal yang penting sebelum menciptakan karya musik bersama kelompok musik. Setiap musisi menginginkan selera musiknya harus masuk dalam karya musik yang akan diciptakan, yang menjadi pertanyaan, “Bagaimana cara memasukkan selera dan referensi musikal yang dimiliki ke dalam suatu karya musik yang akan dikerjakan oleh kelompok musik secara bersama-sama?”

Berbagai macam cara mungkin telah dilakukan beberapa anggota musik, salah satunya dengan cara mengalah sambil mengatakan “Yaa sudah saya ikut aja deh mau musiknya kayak gimana, saya ngalah aja daripada dikeluarin dari band.” Menurut saya itu merupakan sebuah kesalahan.

Namun ada juga yang berpendapat bahwa itu hal yang biasa dan bukan juga merupakan kesalahan. Setiap musisi telah memiliki karakternya masing-masing sebelum bergabung atau membentuk kelompok musik, cara yang harus dilakukan adalah bagaimana karakter yang telah dimiliki tidak dihilangan.

Lalu muncul pertanyan, “Ngapain dihilangkan, kan kelompok musik itu keluarga, masa iya harus saling menghilangkan karakter?”

Sebagai contoh, Andi Tarigan (bass) dari Kasino Brothers. Tiga anggota Kasino Brothers yaitu saya, Uki, dan Dary memiliki karakter musik rock and roll, berbeda dengan Andi Tarigan yang menggemari musik jazz, funk, blues, dan psychedelic. Ketika menciptakan aransemen musik bersama Kasino Brothers, Andi banyak memasukkan teknik walking bass yang menyerupai teknik permainan musik jazz swing dan blues.

Begitu juga dengan saya sebagai vokalis Kasino Brothers, menjadikan musik rock and roll seperti Rolling Stones, Chuck Berry, dan The Seeds sebagai referensi musikal, memang benar karakter dan selera musikal yang saya miliki tidak cocok untuk Kasino Brothers dan ketiga anggota lainnya, tapi saya berusaha agar karakter yang saya miliki tidak hilang, maka dari itu dalam kurun waktu satu tahun saya fokus menjadikan panggung sebagai wadah untuk menunjukkan inilah saya dengan cara bernyanyi saya dan aksi panggung yang saya ciptakan.

Intinya, referensi musikal dapat memberikan pengaruh bagi musisi dalam menciptakan karakter dan selera musikal, hal itu secara alamiah terjadi berdasarkan preferensi yang telah diciptakan oleh musisi itu sendiri. Referensi itu merupakan pilihan bagi tiap musisi, tapi referensi tidak membatasi kreativitas musisi dalam berkarya, karena referensi tidak hanya berasal dari musisi idola atau kelompok musik idola, tapi juga berasal dari teknik-teknik perrmainan musik dan juga wawasan serta pengetahuan tentang musik dan sekitarnya. Jadi referensi musikal tanpa teknik penerapan yang baik hanya akan berdampak “tidak baik” bagi musisi dan kelompok musik.

Pertanyaan lainnya mungkin juga akan muncul tentang “Apakah penting sebuah kelompok musik yang anggotanya memiliki selera musik yang sama, menentukan referensi kelompok musik untuk kepentingan pembuatan album musik?” Tentunya sangat penting, karena dalam menciptakan album musik juga berkaitan dengan unsur atau disiplin ilmu lainnya, misalnya pemilihan karakter sound.

Mungkin kelompok musik yang sudah melakukan rekaman sering mendapatkan pertanyaan dari seorang sound engineer “Karakter sound-nya mau sperti apa? referensi bandnya apa?” Pertanyaan tersebut terkadang membuat bingung para musisi, padahal hal tersebut merupakan bagian yang penting untuk mewujudkan karya musik ke dalam suatu kemasan audio yang akan didengarkan oleh orang banyak.

Menyikapi hal itu bisa saja dengan mencari band yang memiliki karakter yang sama dengan karakter musik yang telah diciptakan, karakter tersebut bukan sekedar teknik permainan, tapi karakter sound yang berasal dari satu hingga dua kelompok musik yang menjadi referensi sound yang telah dipilih. Misalnya seperti Kasino Brothers memilih Graveyard dan Wolfmother sebagai referensi karakter sound.

Kesimpulannya, referensi kelompok musik atau band tidak hanya pada unsur musikal saja, tapi juga terdapat pada unsur lainnya, misalnya performativity (pertunjukan), karakter sound, hingga fashion yang digunakan.

Begitulah uraian mengenai “influence x reference” yang saya tuliskan, berlandaskan pengalaman empiris dengan menggunakan beberapa teori kreativitas dan juga fenomena musik rock and roll.

*Foto: emmel14.deviantart.com (cover), dokumentasi pribadi penulis, berbagai sumber

0 COMMENTS