Jeff 'Kasino Brothers': The Power of Stage

Kajian argumentasi yang membahas tentang “panggung” pertunjukan musik.

Interpretasi - Budaya Populer

Menurut Richard L. Palmer, interpretasi adalah proses komunikasi melalui lisan atau gerakan antara dua atau lebih pembicara (Palmer : 2003). Mengapa definisi interpretasi tersebut diutarakan dalam kajian ini, karena kajian ini akan membahas tentang penafsiran musisi ketika berada di atas panggung.

 Hampir dari keseluruhan penggiat musik terutama musisi menginginkan wadah, yaitu panggung pertunjukan agar dapat menginterpretasikan karya musik yang telah diciptakan. Mengapa  dikatakan “hampir semua?” Karena wadah intepretasi setiap penggiat musik pun berbeda-beda, dimulai dari panggung pertunjukan hingga media sosial yang saat ini kerap digunakan untuk kepentingan eksistensi para musisi. Namun dalam pembahasan ini secara eksplisit akan terfokus pada wadah interpretasi musisi berupa panggung pertunjukan.

Seperti yang dijelaskan oleh Ariel Heryanto dalam bukunya yang berjudul Identitas Kenikmatan menyatakan bahwa terdapat dua kategori yang menjadi ciri khas masyarakat budaya pop. Pertama yaitu masyarakat budaya pop yang mendistribusikan hasil kreativitas melalui media atau jejaring sosial, sedangkan yang kedua secara langsung melalui suatu pristiwa seperti keramaian publik, parade, dan juga pergelaran, dalam hal ini dapat berupa panggung pertunjukan. Berdasarkan kesimpulan dangkal yang berakar dari definisi budaya pop, maka dapat dikatakan bahwa saat ini mayoritas musisi atau penggiat musik menggunakan kedua kategori budaya tersebut untuk mendapatkan respons dari para pendengar atau penonton. Kedua budaya tersebut digunakan para musisi dalam banyak ragam wadah interpretasi, salah satunya panggung pertunjukan musik (stage).

Stage

Pemaparan mengenai interpretasi dan budaya pop tentunya menjadi jembatan agar saya dapat membahas tentang peran panggung pertunjukan terhadap karier musisi pada umumnya. Mengapa demikian? karena panggung pertunjukan memiliki peran penting, dapat  menambah musikalitas hingga pengaruh positif psikologis musisi tersebut. Pengalaman panggung yang saya gawangi sejak awal melangkah bersama Kasino Brothers pada tahun 2015 cukup membuat saya tertawa ketika mengingatnya, di mulai dari manggung di ajang pameran busana Muslim, kemudian harus bayar sekian ratus ribu untuk mendapatkan beberapa panggung, hingga tertipu dengan spesifikasi riders (harusnya full band, sesampainya di backstage eehh malah disuruh akustikan).

Percaya dan harus percaya bahwa setiap musisi memiliki pengalaman panggung yang bisa dianggap lucu, menyedihkan, hingga mengenaskan. Namun satu hal yang menjadi prinsip ketika seseorang memutuskan untuk menjadi musisi pertunjukan (performer) yaitu jangan pernah meragukan serta meremehkan kekuatan panggung pertunjukan “The Power of Stage”, karena setiap panggung pertunjukan memiliki feedback nya masing-masing.

Beberapa musisi di sekitar saya ada yang mengutarakan “Halah ini panggungnya esek-esek, norak banget nih panggungnya, yaudah anggap aja latihan yaa, enggak usah serius banget.” Musisi yang mengutarakan hal tersebut adalah musisi yang tidak percaya akan kekuatan panggung pertunjukan dan feedback dari pertunjukan tersebut, atau mungkin saja ia mengganggap musik hanya sekadar untuk mengisi waktu luang saja. Dalam pembahasan ini mungkin dapat ditegaskan bahwa musik juga memiliki hukumnya, memiliki attitude-nya, dan cobalah untuk menghargai musik, karena musik sudah menjadi kebutuhan pokok para penikmatnya. Apabila musik dimainkan oleh musisi yang tidak memiliki attitude dan ketidakseriusan, maka beberapa penikmat mulai akan kehilangan kebutuhan pokoknya.

Crowd

Kemungkinan terbesar musisi tidak akan menyadari siapa saja yang sedang menyaksikan dan memperhatikan ketika sedang beraksi di atas panggung, kadang juga beberapa musisi yang sedang beraksi dapat terpengaruh akan jumlah penonton, “Penontonnya sedikit, ya sudahlah gak usah aksi berlebihan, buat apa aksi toh sepi kok.” Namun hal penting yang telah dilupakan adalah “jumlah penonton yang banyak belum tentu tanggap dengan apa yang telah diinterpretasikan”.

Seperti yang diutarakan oleh Joakim Nilsson, vokalis sekaligus gitaris Graveyard asal Swedia, dalam wawancara khusus bersama Headbanger Lifestyles mengungkapkan bahwa:

I just love playing music. I need the motivation of everybody in the band. The communication between the musicians on stage, you don’t have to say anything you just play together. And then there is the crowd. We don’t have the loudest crowd I guess but we have a good crowd.

Pernyataan tersebut cukup menyimpulkan bahwa komunikasi antar musisi adalah ketika memainkan musik, bukan membicarakan hal lain yang mungkin dapat mengganggu konsentrasi ketika berada di atas panggung, apalagi mengkhawatirkan jumlah penonton.

We don’t have the loudest crowd, I guess but we have a good crowd” – Joakim Nilsson.

Hal penting yang dapat diambil dari ungkapan tersebut, seburuk apapun kondisi atau keadaan panggung pertunjukan, jangan pernah sedikitpun meremehkan atau meragukan kekuatannya, karena kita tidak akan pernah mengetahui siapa yang sedang memperhatikan kita. Mungkin sontak terpikir hal positif dibenak para musisi bahwa di antara keramaian penonton ada seorang produser, hingga pihak penyelenggara atau bahkan promotor pertunjukan besar berskala Internasional. Tidak menutup kemungkinan aksi band di atas panggung juga diperhatikan oleh band lainnya yang mungkin telah memiliki nama besar atau lebih terkenal. 

Fenomena ini terjadi ketika kala itu Green Day harus berbagi panggung bersama The Hives yang jumlah pengemarnya jauh tidak sebanding apabila dibandingkan dengan Idiot Nation. Menyaksikan penampilan The Hives yang memukau di hadapan para pengemar Green Day, membuat frontman Green Day, Billie Joe Amstrong mengutarakan bahwa The Hives adalah band dengan aksi pertunjukan yang besar.

Inti dari kajian ini adalah: panggung pertunjukan memiliki pengaruh besar bagi setiap musisi, apabila kondisi band yang sedang digawangi merupakan band dalam kategori promosi, atau katakanlah seumur bayi maka alangkah baiknya tetap totalitas walaupun keadaan panggung atau hal yang bersifat teknis tidak memadai. Karena seperti yang sudah dibahas bahwa kita tidak mengetahui siapa yang sedang menyaksikan dan memperhatikan kita.

Siapa sangka di antara sepuluh penonton di hadapan kita, salah satunya merupakan orang yang akan membawa kita ke stage yang kita impi-impikan. Itulah panggung pertunjukan dan kekuatannya, sejauh ini saya pun merasakannya, berada di atas panggung menghabiskan seluruh tenaga. Megahnya stage itu tergantung dengan aksi yang kita tunjukkan di hadapan crowd. Jangan hiraukan apapun, tetap fokus pada GOD STAGE ! GOD CROWD !

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
4269 views
supernoize
2877 views
superbuzz
2251 views
superbuzz
761 views

Graveyard Umumkan Album Baru