Idhar Resmadi Jurnalisme Musik di Indonesia (Part 1)

  • By: Idhar Resmadi
  • Kamis, 14 April 2016
  • 8469 Views
  • 2 Likes
  • 0 Shares

Sejak kapan istilah jurnalisme musik digunakan dan dipakai secara umum memang tidak dapat diketahui secara pasti. Apalagi di Indonesia. Namun, fenomena untuk orang-orang yang menulis musik – sebelum istilah jurnalisme musik digunakan – memang sudah berkembang sejak tahun 1960-an di Amerika dan Inggris sana. Akar dari jurnalisme musik atau kerap juga  disebut jurnalisme rock (rock journalism) dimulai pada tahun 1960-an melalui munculnya penerbitan-penerbitan musik dan budaya populer seperti Rolling Stone, NME, Melody Maker, dan Creem. Rolling Stone yang terbit tahun 1967 oleh Jann Wenner dan Ralph Gleason menjadi tonggak penting perkembangan jurnalisme musik.

Pada awalnya jurnalis musik adalah fans musik itu sendiri atau kerap disebut “fans yang tercerahkan (enlightened fans)” (Gudmondsson et al. 2002). Jika melihat tokoh-tokoh jurnalis musik pada masa itu seperti Lester Bangs, Nick Kent, Robert Christgau, atau Simon Reynolds merupakan orang-orang yang memiliki passion terhadap musik. Tak ada institusi resmi yang mempelajari jurnalisme musik – kecuali, saat ini beberapa perguruan tinggi di Inggris dan Amerika sudah menjadikan jurnalisme musik sebagai disiplin ilmu sendiri. Seperti halnya  ilmu jurnalistik, jurnalisme musik tentu memiliki tugas untuk menyediakan informasi faktual mengenai musik dan tetek bengeknya. Gambaran seperti apa seorang jurnalis musik bekerja ditampilkan dalam film Almost Famous yang diangkat dari pengalaman pribadi sang sutradara semasa remaja, Cameron Crowe; mewawancarai band, mengikuti tur panjang, dan melihat berkembangnya budaya sex, drugs, and rock’n’roll. .

Seiring dengan pertumbuhan industri musik kebutuhan akan informasi mengenai musik rasanya menjadi bagian dalam budaya populer dewasa ini. Rasanya kita masih menemui tulisan-tulisan musik dalam berbagai rubrik hiburan atau seni budaya. Apalagi kita sudah memasuki era spesialisasi dalam media massa. Untuk itu di tengah gegap gempitanya media-media sekarang ini, pertumbuhan media musik memang terbilang lamban meski tidak mati-mati amat. Lantas bagaimana dengan perkembangan jurnalisme musik di Indonesia sendiri? 

Perkembangan Awal di Indonesia: Propaganda Budaya Barat

Media yang fenomenal dalam sejarah musik Indonesia adalah Aktuil. Hampir selama tiga belas tahun Aktuil menulis peristiwa-peristiwa dan perkembangan musik, serta berupaya membentuk opini masyarakat pecinta musik Tanah Air. Memang pada masa selepas kemerdekaan corong media yang menampilkan musik lebih didominasi oleh RRI dan TVRI. Namun, kedua media tersebut lebih tepat sebagai “media promosi” dibandingkan “produk jurnalistik” itu sendiri.

Aktuil bukan media atau majalah yang pertama kali menampilkan musik sebagai konten utamanya. Sebelum Aktuil, tahun 1963 di Yogyakarta majalah Discorina terbit. Jauh sebelum itu, tahun 1957, tercatat pernah terbit majalah Musika (Solihun, 2004). Surat kabar pada masa itu juga menyediakan ruang untuk tulisan-tulisan musik, seperti surat kabar Pos Utara dengan pojok musiknya “Salah Sambung” asuhan Ronny Deo, Aneka Minggu dengan pojok musiknya “Nada Sumbang” asuhan Zatako, Sinar Pembangunan dengan kolom “Close Up” asuhan Sariko, Sinar Harapan dengan kolom “Lingkaran Musik” yang diasuh oleh Tjang Abbas.yang muncul tiap Sabtu pada tahun 1962 sampai dengan 1970. Surat kabar sampai tahun 1970-an belum menempatkan musik sebagai tulisan yang rutin. Film dan teater lebih mendapat tempat (Mulyadi, 2009).

[pagebreak]

Aktuil didirikan oleh Denny Sabri, mantan kontributor Diskorina. Denny Sabri mengajak Toto Raharjo, pemilik percetakan di Bandung,untuk menerbitkan suatu majalah musik yang dinamakan Aktuil dan terbit pada 1967. Selain nama Denny Sabri dan Toto Raharjo, nama lain yang terlibat dalam pendirian majalah Aktuil antara lain Bob Avianto, Bernad Jujanto, Deddy Suardi, dan Remy Sylado. Pada perkembangan selanjutnya tiras Aktuil mencapai 100 ribu eksemplar dan begitu digemari anak muda pada masa itu. Opininya didengar anak muda, dan mampu menampilkan informasi yang  berbeda karena kemampuannya dalam menyajikan wawancara atau reportase langsung dengan sejumlah musisi di luar negeri.

Dampak penulisan Aktuil dirasakan oleh band semisal Superkid, The Rollies, dan beberapa grup band asal Bandung, kota asal Aktuil. Mereka mendapat perhatian dari peminat musik rock dalam waktu yang sangat cepat. Penggemarnya ingin membuktikan kenyataan dari publikasi majalah Aktuil tentang kehebatan-kehebatan pemain Superkid seperti kemampuan Jelly Tobing yang digadang-gadang sebagai “Top Drummer of The Year”, kemudian ketergantungan Deddy Stanzah terhadap narkoba, dan aksi-aksi panggung Deddy Dores. Pembentukan opini dalam Aktuil diarahkan kepada musik-musik rock Barat. Yang paling fenomenal tentu saja perseteruan antara “Rock vs Dangdut”. Rock yang “diwakili” oleh Benny Soebardja (The Giant Step) menganggap musik dangdut yang diwakili oleh Rhoma Irama dianggap sebagai “musik (maaf) tai anjing”. Polemik yang memanas ini seakan diberi tempatnya oleh Aktuil.

Selain itu, kecenderungan Aktuil untuk mengangkat musik-musik rock Barat pernah dikeluhkan oleh seorang pembaca. Surat pembaca yang terbit dalam majalah Aktuil no 124 1975 dari Bambang Sulistyo Yuwono di Temanggung menyimpulkan bahwa Aktuil telah menggiring pembacanya untuk menyukai musik rock Barat seperti The Rollies atau The Peels. Remy Sylado menyebut Aktuil sebagai propagandis budaya rock Barat.

Tulisan di majalah Aktuil yang menarik adalah liputan pementasan-pementasan musik rock di berbagai kota di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Malang, Solo, dan Yogyakarta. Aktuil melaporkan persiapan pementasan, profil kelompok musik, tingkah laku musisi, liputan pementasan, dan tingkah laku penonton. Aktuil juga secara detil melaporkan bagaimana jalannya pertunjukan misalnya Ucok AKA dan Godbless yang membawa peti mati ke panggung, Micky Jaguar menyembelih kelinci dan meminum darahnya, serta Rawe Rontek yang menancapkan paku dan peniti terbakar ke tubuh vokalis dan musisinya. Pengaruh dari liputan-liputan itu mengakibatkan masyarakat menyenangi sensasi-sensasi grup band yang membawa ular ke panggung, membawa peti mati, atraksi gantung diri, dan lain-lain. Akibatnya grup musik yang tidak menyajikan teatrikal dan sensasional di atas panggungnya akan disoraki penonton. Sayang Aktuil bubar pada tahun 1986 selepas mereka mengundang band Deep Purple tampil di Indonesia yang berakibat kerugian finansial dan kemudian banyak ditinggal pergi awak redakturnya.

Selain Aktuil, beberapa majalah yang sering menulis musik di Indonesia pada periode 1950-1980 adalah Selecta, Monalisa, Diskorina, Variasi, Top, Junior, Violetta, dan Soneta. Tahun 1970-an dan 1980-an muncul majalah hiburan yang menuliskan musik secara rutin misalnya majalah HAI, Gadis, Mode, Vista, FMTV, kemudian tabloid Monitor, Citra, dan Bintang (Mulyadi, 2009). Karakteristik majalah-majalah yang menyajikan musik sebagai sajian utamanya menampilkan informasi berupa profil artis/musikus, kegiatan-kegiatan pementasan, resensi album, tangga lagu, hingga memuat poster album dan tayangan acara radio dan televisi. Majalah-majalah musik itu menjadi media komunikasi yang efektif antara pelaku musik dengan masyarakat. Periode 1980-an, dapat dilihat iklan-iklan album musik di majalah-majalah yang membahas musik. Selain majalah-majalah yang khusus menuliskan musik sebagai bagian dari beritanya, memang masih terdapat surat kabar yang masih menulis konten-konten mengenai musik. Akan tetapi, musik tidak pernah menjadi sajian rutin surat kabar. Biasanya, hanya untuk mengisi rubrik hiburan atau seni budaya. Selepas Aktuil, tak ada rasanya majalah yang menampilkan musik sepenuhnya. 

***

Duncombe, Stephen. 1997. Notes From Underground: Zines and Politics of Altenative CultureVerso: London

Gudmondsson, G, Lindberg, U., Michelsen, M., and Weisthaunet, H. 2002. Brit crit: turning points in British rock critism, 1960-1990, in Pop Music and the Press, ed. S. Jones Temple University Press: Philadelphia  

Mulyadi, Muhammad. 2009. Industri Musik Indonesia Suatu Sejarah. Koperasi Ilmu Pengetahuan Sosial

Munsyi, Alif Danya. 2005. Bahasa Menunjukkan Bangsa. Gramedia: Jakarta

Solihun, Soleh. 2004. Perjalanan Majalah Musik di Indonesia. Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. Skripsi. 

Foto: prince.org, rateyourmusic.com

0 COMMENTS

Info Terkait

supernoize
854 views
supernoize
854 views
supernoize
854 views
supernoize
854 views
supernoize
854 views
supernoize
3089 views

Saat Venue Musik Gugur Perlahan