Skena musik Kalimantan

Kancah Musik Kalimantan dan (Apabila) Ibu Kota Berpindah ke Sana

  • By: Yulio Onta
  • Selasa, 17 September 2019
  • 1274 Views
  • 18 Likes
  • 26 Shares

Rencana pemindahan ibu kota dari DKI Jakarta ke Kalimantan mendapat respons beragam dari berbagai lapisan masyarakat. Pro-kontra muncul menanggapi keputusan dari presiden terpilih. Beragam aspek dikaji secara mendalam sambil menimbang-nimbang neraca keuntungan dan kerugiannya.

Wacana pindah ibu kota sebetulnya bukanlah gagasan kemarin sore. Ide ini dicanangkan dari era Presiden Soekarno yang saat itu ingin memindahkan ibu kota ke Palangkaraya. Hingga era Presiden Joko Widodo yang sepakat menunjuk Kutai Kertanegara dan Penajam Paser Utara sebagai calon ibu kota baru Indonesia.

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional-Bappenas ditunjuk oleh presiden Joko Widodo untuk melakukan kajian selama 1,5 tahun, demi meninjau lahan-lahan baru yang nantinya akan menjadi pusat pemerintahan Republik Indonesia.

Poin-poin utama mengenai wacana pemindahan ibukota perlahan mulai diutarakan ke publik. Hasil kajian terangkum dalam beberapa faktor penting, seperti:

Mendorong penyebaran penduduk

57% persen penduduk Indonesia tinggal di Pulau Jawa, 21% di Sumatera, 7% di Sulawesi, 6% di Kalimantan dan 3% di Papua dan Maluku. Dampak dari penyebaran penduduk akan membuat pembangunan lebih merata. Sebab penduduk yang tersebar juga berfungsi sebagai agen perekonomian.

Pembangunan yang tidak ‘Jawa Sentris’

Pola pembangunan akan berubah bila ibu kota tak lagi berada di Jawa.

Birokrasi yang menjangkau semua wilayah

Pulau Kalimantan dianggap strategis karena berada di tengah Indonesia, langkah ini akan memudahkan pemerintah membentuk sistem birokrasi yang menjangkau seluruh wilayah di Indonesia. Pemindahan ibu kota ke kawasan tengah Indonesia, diharapkan mampu membuat wilayah barat sampai timur lebih mudah terpantau.

Minim risiko bencana

Wilayah Penajam Paser Utara dan Kutai Kertanegara dinilai minim risiko terkena bencana banjir, gempa bumi, tsunami, kebakaran hutan, gunung berapi, hingga tanah longsor.

Faktor-faktor di atas adalah penilaian yang muncul dari tinjauan fungsi administratif pemindahan ibu kota. Meski wacana pemindahan ibu kota lebih sering dibahas dari kacamata politik dengan bermacam turunan untung-ruginya, bahasan menyoal kegiatan sosial dan budaya tentu akan mengikuti seiring  dijalankannya rencana ini.

Membahas daftar tempat wisata, misalnya. Kutai Kertanegara dan Penajam Paser Utara memiliki tempat wajib kunjung dan warisan budaya masing-masing yang menarik.

Kutai Kertanegara atau Kukar berjarak sekitar 70, 6 kilometer dari Kota Samarinda. Sebagian wilayah Kukar adalah daerah pesisir dengan luas pantai sebesar 202.281 hektare. Roda perekonomian Kukar berpusat pada bidang pertambangan, migas dan nonmigas.

Tempat-tempat wisata yang terkenal di Kukar beberapa diantaranya adalah kawasan hutan konservasi Bukit Bangkirai Samboja, Pantai Tanah Merah Samboja, Museum Mulawarman, Waduk Panji Sukarame, Planetarium Jagad Raya dan Suaka Perlindungan Hewan Borneo Orang Utan Survival (BOS) Samboja.

Penajam Paser Utara memiliki letak wilayah yang strategis sebagai gerbang utama Trans Kalimantan, serta menjadi lalu lintas perdagangan antar provinsi.

Kawasan wisata yang menjadi daya Tarik utama dari Penajam Paser Utara adalah Pantai Tanjung Jumlai, Pantai Sipakario, dan Pulau Gusung. Penajam Paser Utara memiliki bermacam pesta adat seperti Pesta Nondoi, Pesta Lango dan seni tari yang terkenal macam Uok Botung.

Sedangkan untuk budaya yang lebih populer, nama Kutai Kertanegara melejit di tahun 2012. Sebuah daerah yang kala itu belum terlalu mudah di jangkau, menyita perhatian publik lewat gelaran metal akbar Kukar Rockin’ Fest 2012. Legenda thrash metal Brazil, Sepultura menggempur Borneo yang disesaki penonton hingga 70.000 orang.

Putra-putri daerah kebanggaan Kalimantan mulai dikenal publik. Kapital dan Biang Kerock menjadi salah dua band metal yang namanya paling santer terdengar. Kukar Rockin’ Fest terus berguling beberapa edisi setelahnya, tetap mendatangkan band keras kelas kakap macam Halloween dan Testament, sebelum berganti menjadi Rock In Borneo yang digelar hingga 2017.

Perlahan tapi pasti, Kalimantan mulai mengibarkan bendera eksistensinya di peta musik nasional. Beberapa kotanya mulai menjadi destinasi bagi band-band yang sedang menggelar tur.

Namun, kabar yang lebih menggembirakan tentu munculnya talenta-talenta luar biasa yang tersebar dari Pontianak hingga Samarinda. Musik yang dimainkan pun beragam. Ada Manjakani yang membawakan folk merdu, Davy Jones si rocker urakan, Irine Sugiarto yang manis, Murphy Radio dengan ketaktisan musiknya, sampai Slapitout sang manusia baja baru.

Pemindahan ibu kota ke wilayah Kalimantan diidamkan oleh beberapa pihak agar dapat membawa angin segar kepada sektor yang lebih mikro, yaitu kancah musik. Tak muluk-muluk, pembangunan sarana dan prasarana musik menjadi salah satu konsentrasi yang harapannya bisa diperhatikan.

Pembangunan sarana dan prasana yang mumpuni diyakini dapat menjadi roda penggerak awal untuk memacu perputaran ekonomi kreatif yang lebih sehat, serta menjanjikan.

Kalimantan saat ini sedang bergerak maju dan berbenah luar biasa dengan wacana pemindahan ibu kota. Hal ini tentunya sejalan dengan nafas pergerakan musik yang hidup di kantong-kantong kolektifnya, menuju ke arah yang lebih baik sembari berharap ekosistemnya semakin maju dengan pembaharuan tanpa mengurangi dan menghilangkan yang sudah ada sebelumnya.

Kali ini, penulis melakukan laporan untuk SUPERMUSIC, merangkum perbincangan dengan beberapa figur yang merupakan representasi pergerakan musik di kota-kota yang ada di Kalimantan. Menanyakan bagaimana kondisi scene musik di sana, hubungan jejaring dengan kota sekitar, hingga tanggapan menyoal perpindahan ibu kota.

***

Akbar Haka (Vokalis band Kapital - Tenggarong)

“Kancah musik di Tenggarong hari ini bergerak cukup deras, melihat banyaknya band atau penyanyi solo merilis album ataupun single. Selain itu hampir setiap minggunya selalu ada gigs, walaupun hanya dalam skala intimate. Kalau berbicara soal ekosistem musik, di Tenggarong baru akan terbentuk, karena beberapa band belum lagi mampu menjual rilisan merchandise dalam jumlah banyak, sedangkan untuk pendistribusian materi produk musiknya telah banyak yang menggunakan fasilitas digital streaming, dan hanya sedikit yang merilis dalam bentuk fisik.

Teman-teman di Tenggarong sudah berjejaring cukup baik dengan kota-kota lain di sekitaran Kalimantan Timur dengan cukup baik. Namun untuk daerah Kalimantan lainnya masih agak kurang, mungkin karena faktor jarak antar daerah yang cukup jauh. Malah untuk jejaring luar pulau seperti Jawa, Sulawesi lebih aktif dan lebih baik, bisa dilihat dari beberapa band lokal sini yang sempat melakukan pertunjukan di sana.

Rencana pemindahan ibu kota ke wilayah Kutai Kertanegara, saya rasa kembali kepada personal yang menyikapinya. Justru kekhawatiran terbesar adalah selain tentu saja pembukaan lahan besar-besaran untuk industri dan perkantoran nantinya, juha akan ada shock culture menanti masyarakat lokal yang secara mindset belum cukup terbekali dengan baik mental dan wawasannya.

Salah satu kekurangan di skena musik Tenggarong adalah minimnya media-media online lokal yang mengulas materi promo band atau produk musik lokal, selain itu dengan era digital streaming yang semakin cepat, harus ada pula agregator atau musisi lokal yang membuka label recording lokal, guna memfasilitasi teman teman di sini yang punya minat tinggi berkarya namun bingung soal pendistribusiannya.”

David Haka (Vokalis band Biang Kerock, show director Rock In Borneo, owner Distorsi Rockaholicompany - Tenggarong)

“Perkembangan scene musik di Kutai Kertanegara, khususnya di kota Tenggarong, menurut saya sudah sangat menggeliat perkembangannya, sangat maju. Sejauh ini Tenggarong identik dengan musik rock dan metalnya. Beberapa band baru dengan kualitas mumpuni dan genre yang beragam juga mulai bermunculan, yang mana itu baik untuk perkembangan scene musik di sini.

Ekosistemnya juga sudah baik. Tenggarong memiliki sumber daya manusia yang mumpuni, studio latihan dan studio rekaman dengan standar profesional, juga event dan gigs lokal yang hampir setiap bulan selalu ada, dibuat oleh teman-teman di Tenggarong. Dan kami juga pernah beberapa kali membuat seni pertunjukan musik besar sekaliber dengan kota-kota besar di daerah lain.

Jaringan musik Tenggarong dengan kota-kota lain di Kalimantan sudah kami bangun dan jaga sejak dulu, seperti melalui Distorsi Rockaholicompany, kami bahkan membangun hubungan yang baik dengan teman-teman dari luar pulau, seperti Bandung, Makassar, Solo, Jogja, Jakarta, Bekasi, Bogor, Bali, Palopo, Medan, dan lainnya. Terbukti, beberapa kali Kapital, Biang Kerock dan beberapa band lainnya diundang untuk tampil di acara mereka.

Kalau urusan pindahnya ibu kota, yang jelas band-band di sini, nantinya akan berstatus band ibu kota dong [tertawa]. Rencana pemindahan ibu kota kalau dikaitkan dengan pergerakan musik di sini, tentu positif dan akan membuka banyak akses dengan seluas-luasnya bagi perkembangan skena musik di Kutai Kertanegara dan Kalimantan Timur. Harapan dibangunnya sarana dan prasarana sudah tentu, dan terlebih lagi tidak menutup kemungkinan kawan-kawan di sini  bisa lebih terbuka dalam berjejaring, baik skala nasional maupun internasional.”

Dies Mangawing (Event organizer - Balikpapan)

“Scene-nya tumbuh dengan bagus, ditandai dengan tumbuhnya kolektif-kolektif musik yang baru. Kalau soal ekosistem, dibandingkan sebelumnya, kini lebih oke, biarpun belum berada di titik standar. Karena ekosistem ini sedang tumbuh dan mencari identitasnya.

Untuk jejaring dengan kota lain, kami sedang merapatkan barisan. Kami semua punya kesamaan nasib yang menjadi trigger dari segala pergerakan.

Kalau soal menjadi ibu kota, dasarnya pasti membuat segala sesuatunya menjadi meriah, semarak dan sesak. Karena tambahnya populasi, akulturasi dan pastinya kami sekarang menjadi perhatian dan diperhatikan.”

Happy (Manajer band Murphy Radio - Samarinda)

“Di Samarinda saat ini masih cukup santai, walau geliatnya tetap ada dan beberapa nama sudah mulai merangsek keluar. Tapi sayangnya, tidak semua berani melakukan hal yang sama, masih banyak terbelenggu oleh hal-hal krusial seperti finansial, jadi berkaryanya kurang maksimal. Banyak nama-nama baru yang lumayan potensial menurutku, tapi semua ya balik lagi ke mereka sendiri.

Samarinda menurutku belum berada pada ekosistem musik yang baik, malah cenderung masih jauh dari itu. Sebagai band atau musisi harus punya produk dulu untuk dipasarkan. Nah ini yang selalu jadi momok, banyak yang karyanya bagus tapi enggak direkam. Ada yang direkam, kemudian dirilis, tapi yasudah, begitu saja. Sekedar hasrat punya album dan selesai, enggak dipikirkan progress ke depannya bagaimana.

Menurutku kalau produknya saja enggak ada, ya bagaimana mau jadi ekosistem. Memang dari segi apresiasi di sini jauh tertinggal bila dibanding Jakarta atau Pulau Jawa. Tapi ternyata kita bisa kok dapat pasar dari sana walaupun band dari Samarinda. Ke depannya, kalau semua musisi atau band sadar akan hal itu, ekosistem pasti akan terbentuk dengan sendirinya.

Hubungan kami dengan kota-kota sekitar sekarang sudah mulai aktif, walaupun belum ke semua kota ya, mungkin karena belum pernah bertemu langsung. Secara geografis Samarinda dekat dengan Tenggarong dan Balikpapan. Tapi ke depannya aku yakin pasti bisa terkoneksi satu sama lain dan memang harus ditempuh dengan jalur offline.

Nah, soal ibu kota, ini masih belum bisa diprediksi, karena yang pindah adalah administratifnya. Industri bakal bertahan di Jakarta karena akses tetap lebih mudah di sana. Tapi harapannya sih ya perpindahan ibu kota bisa membawa impact yang bagus buat scene musik. Dengan proses juga tentunya, enggak tiba-tiba rame, kalau gitu ya tetap aja band Jakarta yang datang ke sini."

Achmad Soni (Fotografer panggung - Samarinda)

“Saya yang sempat sekolah di Jakarta beberapa tahun sambil menjalani hobi fotografi panggung melihat scene Jakarta itu banyak mendapat dukungan dan dorongan dari pelakunya sendiri sehingga sampai sekarang tambah keren dan bakal terus meningkat ke arah yang lebih baik. Ditambah juga banyak dinamika di dalamnya yang bikin menjadi scene itu lebih mantap.

Sekarang saat balik ke Samarinda, saya melihat Samarinda kalah jauh untuk urusan infrastruktur, atau tempat untuk show, kecil dan besar, jumlahnya sangat terbatas di Samarinda, biarpun semakin ke sini jumlahnya perlahan meningkat. Selain itu, frekuensi acara di sini cukup jarang, terutama show kecil.

Mungkin yang bisa kita mulai bersama dan rapihkan lagi di Samarinda adalah dengan memperbanyak jadwal tampil band-band, terutama di panggung skala kecil, walau tidak mudah memang melihat keadaan di sini. Lalu berkolaborasi dengan pihak lain yang masih memiliki benang merah dengan scene musik, visual art misalkan. Dan, semoga saja bisa membuat tempat yang bisa digunakan untuk performance, workshop sampai marketplace. Kalau sudah ada, semoga bisa bertahan lama dengan pemanfaatan yang tepat guna.

Kalau menurut saya, hubungan pemindahan ibu kota dengan perkembangan scene musik, sepertinya cenderung tidak berpengaruh, karena yang saya lihat pemindahan ibu kota ke Kalimantan ini lebih dari pembangunan mulai dari awal dan lebih berpengaruh ke orang-orang yang berurusan dengan pembangunan tersebut dalam memajukan proyek mereka di Kalimantan ini, dan juga kita belum tahu bagaimana nantinya ketika ibu kota sudah benar-benar pindah ke Kalimantan.

Ya tapi yang saya harapkan pastinya adalah pengaruh yang positif dan siginifikan tentunya, minimal bakal ada infrastuktur yang mumpuni dengan izin yang mudah dan harga yang terjangkau untuk memanjakan pelaku-pelaku musik Kalimantan, agar bisa membuat lebih banyak acara. Atau bahkan bisa lebih dari sekedar scene musik, bisa berkesinambungan dengan pihak-pihak lain yang masih beririsan dengan musik, supaya bisa saling berkolaborasi untuk membuat suatu gong besar yang membawa nama baik Kalimantan kedepannya sebagai ibu kota Indonesia di masa depan.”

***

Kesimpulan lalu bisa ditarik: pembangunan baik adalah pembangunan yang dapat membawa dampak positif bagi lingkungan sekitarnya. Sekalipun itu berada di ruang jangkau yang terjauh.

Kalimantan yang sedang bersiap, berpayung optimisme di banyak sektor. Pemindahan ibu kota yang menyita pikiran sekian banyak elit negeri, merembeskan satu-dua tetes harapan bagi para anak-anak bawang pembangunan. Sederhana saja, dukung bakat-bakat calon permata ini dengan menyediakan tempat berkreasi yang mumpuni, agar mereka bisa bergeliat dengan lebih seru lagi.

Namun, jikalau pun tidak, tentu tak mengapa. Kancah musik Kalimantan kini sudah berada di jalur mandiri yang tepat, tinggal memompa semangat pantang kendur lagi dan kerja keras berlapis mental baja untuk menjaga apa yang sudah dibangun sejauh ini, atau bahkan nantinya sampai berhasil mendobrak sentralisasi.  

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
348 views
superbuzz
592 views

Kapital Umumkan Drummer Baru

supertapes
1226 views

Supertapes: Murphy Radio

supershow
1160 views
superbuzz
2934 views
superbuzz
1074 views