Karina Sokowati: Amarah untuk Bermusik

Musik dan Sapu Lidi

Saya terduduk di dalam kamar saya sambil mendengarkan mixtape bergenre EBM (Electronic Body Music) buatan saya di akhir tahun 2017, sambil mengingat-ingat kembali alasan saya bermusik saat kecil dahulu. Saya pikir, saya hanya akan berjujur saja atas pengalaman-pengalaman saya.

Saya mulai bermain musik ketika saya berusia 4 tahun. Saya ingat pada suatu sore di kota Balikpapan, saya dipanggil ke ruang makan oleh ibu saya. Terletak sebuah keyboard yang biasa dimainkan kakak saya. Namun bedanya pada hari itu, saya tidak melihat kakak saya menyentuh tuts keyboard. Saya malah melihat seorang ibu-ibu berparas baik yang tidak saya kenal terududuk di depan keyboard tersebut, Bu Yanti namanya.  Bu Yanti menyuruh Karina kecil untuk memainkan keyboard tersebut hari itu, di depan ia dan juga ibu saya.

Setelah perkenalan itu, saya kemudian dihimbau ibu saya untuk les keyboard seminggu sekali setiap sore selama dua jam di rumah. Sebagai seorang balita, saya menurut saja atas kemauan ibu saya. Namun setiap harinya, ibu saya memaksa saya untuk berlatih selama tepat 60 menit setiap harinya untuk mengulang pelajaran keyboard yang saya dapat. Saya tidak menyukai keyboard. Masih terekam dengan jelas bahwa saat itu saya ingin belajar biola, tetapi saat itu guru biola di Balikpapan sangat sukar ditemukan. Pertemuan saya dengan Bu Yanti berakhir ketika kami sekeluarga pindah dari Balikpapan ke Jakarta pada tahun 2003.

Saya melanjutkan les keyboard ini ketika saya sudah tinggal di Jakarta, tepatnya di daerah Bintaro. Awalnya saya melanjutkan les keyboard saya di MS Studio yang berlokasi di suatu ruko di Sektor 9, lalu harus berpindah ke Purwacaraka di bilangan ruko seberang Bintaro Plaza. Masih dengan disiplin latihan yang sama, akhirnya saya uring-uringan. Belum lagi dengan les-les lain yang harus saya ikuti di sela-sela hari saya seperti Kumon dan bimbingan belajar privat bersama mahasiswa STAN. Saya terlalu letih menjalani kegiatan-kegiatan yang tidak saya sukai. Sudah tidak terhitung berapa argumen yang harus saya lalui dengan ibu saya hanya untuk mengikuti jadwal latihan keyboard yang sudah ditetapkan oleh ibu saya setiap harinya. Seringkali ada hari-hari ketika saya harus bersembunyi di bawah kolong tempat tidur orang tua saya karena ibu saya sedang mengejar-ngejar saya dengan sapu lidi, atau saya harus menghabiskan sore saya di dalam gudang yang gelap, sampai menangis sambil latihan pada hari-hari mendekati resital. Laporan dari guru keyboard saya juga mengatakan hal yang sama—bahwa saya uring-uringan.

Sampai akhirnya saat mendekati kelulusan sekolah dasar, ibu saya memilih untuk memanggil guru les keyboard dari Purwacaraka ke rumah agar ibu saya dapat mengawasi saya ketika prosesi les berlangsung. Ada pula hari-hari ketika ibu saya lengah dan saya menangis-nangis pada guru les keyboard saya untuk meniadakan kelas hari itu. Tentunya hal itu dilaporkan oleh guru les keyboard saya dan saya kembali didisiplinkan oleh ibu saya. Sebagai pelarian, setiap petang saya berkunjung ke kamar kakak saya, Dimas Sokowati, untuk melihat dia berlatih drum dan berbagi referensi musik.

Gitar Adalah Pelarian

Di kamar kakak saya itu, saya mulai mengenal referensi-referensi musik yang sedang digemari oleh kakak saya yang lebih tua enam tahun daripada saya. Awalnya saya dikenalkan dengan game Play Station 2 bertajuk Guitar Hero saat saya kelas 4 SD. Saya dan kakak saya menggemari playlist gameplay Guitar Hero karena sedari saya bisa mengingat, ayah saya sering memutar kaset-kaset Cream, Deep Purple, Black Sabbath, dan sebagainya ketika kami bersantai di ruang keluarga atau ketika kami sedang dalam perjalanan ke luar kota menggunakan mobil.

Saya (11 tahun) dan kakak saya, Dimas Sokowati (17 tahun), 2009

Kami sekeluarga menikmati musik rock klasik karena orang tua saya lahir pada akhir era 40-an dan awal era 50-an. Kebetulan, ayah saya pun bermain beragam alat musik dari mulai flute, harmonika, gitar, bass, dan keyboard yang ia pelajari secara otodidak. Di hari-hari mudanya pada tahun 1968, ayah saya merupakan drummer sebuah band cover untuk pesta rumahan anak-anak muda zaman itu dari Panglima Polim, Jakarta bernama Bigman Robinson. Saya akhirnya dibelikan konsol gitar khusus untuk bermain game tersebut dengan perjanjian nilai 7 saya maksimal hanya boleh empat pelajaran dalam rapor. Sejak itulah Guitar Hero menjadi pelarian saya sebagai kepenatan dalam menjalani disiplin keyboard.

Saya akhirnya berkeinginan untuk bermain gitar dan mencari referensi-referensi musik yang dominan dengan lead gitar pada aransemennya. Sebagai anak berusia 10 tahun yang marah, saya mulai jatuh cinta dengan musik-musik bertempo cepat seperti Avenged Sevenfold, Arch Enemy, Lamb of God, Bullet for My Valentine dan sebagainya. Bahkan saya sampai membeli Majalah HAI edisi khusus “Metal A to Z”, guna memperluas referensi saya pada musik tersebut. Bahkan saya sempat merengek kepada ayah saya untuk datang ke Hotel Mulia, tempat di mana Avenged Sevenfold menginap saat mereka mengadakan konser di Tennis Indoor Senayan Jakarta pada 7 Agustus 2007. Satu hari sebelum ulang tahun saya. Namun ayah saya tidak mengizinkan karena ujarnya menghampiri band ke hotel itu seperti groupies. Singkat cerita, saya berkeras kepala untuk membujuk ibu saya agar meberikan izin kepada saya untuk les gitar.

“Agar seperti Synyster Gates, Ma!”, bela saya seraya menunjukan musik video Seize The Day, bagian Synyster Gates melakukan solo gitarnya di atas peti mati.

Namun ibu saya tidak mengizinkan. Alasannya adalah ketidakdisiplinan saya dalam menjalani les keyboard akan terbawa jika ibu saya menambah les gitar untuk saya. Ia mengatakan bahwa perilaku tersebut sama dengan menghambur-hamburkan uang. Memang, orang tua saya sangat terbuka dengan kondisi ekonomi kami sedari saya kecil karena ayah saya telah pensiun dari pekerjaannya sejak saya kelas 4 SD pada tahun 2004. Akhirnya ketika kelas 1 SMP, saya mulai mengambil gitar akustik dan memetiknya secara asal karena sudah tidak tahan lagi. Saya meminta teman-teman saya di sekolah untuk mengajarkan saya dan menonton video cover di YouTube sebagai guru privat saya. Saya sengaja bermain gitar sambil bernyanyi sumbang di depan ibu saya seraya berkata dengan penuh jumawa betapa ‘mahir’nya saya walaupun ia tak acuh. Sampai suatu hari ibu saya berkata,

“Ah, segitu mah belum jago. Mama baru akan akui kamu jago main gitar kalau kamu sudah bisa main gitarnya Led Zeppelin yang ‘Stairway to Heaven.”

Sekitar pertengahan kelas 2 SMP akhirnya saya harus berhenti les keyboard karena kondisi finansial keluarga kami memaksa untuk mengurangi pengeluaran. Setelah berhenti les keyboard, saya semakin jarang berlatih keyboard dan keluhan tajam ibu saya atas kemalasan saya berlatih keyboard sesekali terdengar, setidaknya sebulan sekali.

“Sayang uangnya. Apa sebaiknya keyboard-nya mama jual aja?” dalihnya dan saya hanya diam saja.

Akhirnya kami sekeluarga harus pindah lagi dari Jakarta ke Bandung pada tahun 2011 untuk menyusul kakak saya yang sudah lebih dulu pindah untuk melanjutkan kuliahnya, dan biaya hidup di Bandung jauh lebih murah dibandingkan biaya hidup di Jakarta. Saat itu saya baru saja lulus dari SMP dan mendaftarkan diri ke beberapa SMA di Bandung dengan NEM hasil UN. Akhirnya saya bersekolah di SMAN 15 Bandung.

Stairway to Alienation

Masa-masa SMA dapat menjadi masa terbaik seorang individu ataupun masa terburuk seorang individu. Setidaknya, itulah ujar para penggemar romantisme. Masa SMA yang saya lalui, sejujurnya, penuh dengan alienasi. Alienasi yang terbangun dari trust issues saya dalam medan sosial remaja yang disebabkan oleh culture shock di kota yang baru nan asing. Tentunya perpindahan tempat tinggal saya yang pertama, dari Balikpapan ke Jakarta, tidak begitu terasa karena usia saya baru 7 tahun pada saat itu. Namun menjalani pubertas saat berusia 13 tahun dan harus beradaptasi dengan lingkungan asing menjadi tekanan untuk saya.

Kebetulan teman sekelas saya saat kelas 1 SMA sering membawa gitar dan memainkan “Stairway to Heaven” dengan mahir. Akhirnya setiap pulang sekolah saya memohon pada teman saya tersebut untuk mengajari saya lagu tersebut untuk pembuktian saya dalam bermusik kepada ibu saya. Sekitar satu bulan lebih saya rajin berlatih, akhirnya saya mengajak ayah saya untuk jamming lagu “Stairway to Heaven”. Ayah saya bermain flute dan saya dengan semangat membawa gitar akustik milik ayah saya ke kamar orang tua saya. Saya memainkan lagu “Stairway to Heaven” dengan gitar sambil bernyanyi dan diiringi oleh flute ayah saya di depan ibu saya. Terlihat senyum bahagia dari wajah ibu saya hari itu dan ibu saya tidak pernah menyuruh saya untuk berlatih keyboard lagi.

Puas dengan reaksi ibu saya, akhirnya saya mulai terdorong untuk datang ke acara-acara musik pada akhir 2012. Seringkali saya berbohong pada orang tua saya ketika saya ditanya pergi dengan siapa. Bukan semata karena saya pacaran di acara music, tetapi saya tidak dapat menemukan teman yang mau saya ajak untuk menemani saya untuk menikmati acara-acara musik secara bersama-sama. Biasanya saya datang ke acara-acara musik bergenre stoner/psychedelic rock/doom metal di Basement DKV Itenas (RIP) atau acara-acara musik indie di Safe House (ex Café The Panasdalam), selasar kampus Unpar, Lou Belle Shop, IFI Bandung sampai Maja House. Teman-teman saya ternyata lebih memilih untuk mengunjungi acara musik yang audiensnya dapat bebas sing along pada lirik musisi-musisinya. Saya pun tidak mungkin memaksa teman-teman saya untuk mengganti preferensi musik mereka dan pada akhirnya terpaksa memutuskan untuk datang sendirian. Kalaupun tidak sendirian, saya terpaksa harus ngintil kepada kakak saya untuk mengunjungi acara musik UKM kakak saya, Apres! ITB dan rangkaian acaranya bernama Mustang (Musik Petang), di selasar-selasar kampus ITB.

Entah mengapa saya merasa kurang cocok dengan medan sosial remaja perempuan di Bandung. Semasa saya bersekolah di SMPN 177 Jakarta, saya berteman dengan hampir seluruh teman perempuan seangkatan saya. Bilamana ada salah satu teman perempuan yang tidak disukai, maka kami akan mengadakan forum sebagai bentuk evaluasi bagi teman perempuan yang tidak disukai ini. Ternyata budaya pertemanan di Bandung tidak seperti itu. Saat kelas 1 SMA, saya berteman dengan tiga orang perempuan dari beragam sekolah di Bandung—total berempat dengan saya. Saat saya sedang bermain bertiga, dua teman perempuan saya akan membicarakan keburukan teman saya yang saat itu tidak bisa hadir. Namun saat teman saya tersebut hadir, mereka berlaku sangat baik dan manis didepannya. Siklus tersebut terus menerus berulang di antara ketiga teman saya tersebut. Lalu kecurigaan timbul dalam pikiran saya bahwa kemungkinan sikap tersebut juga diterapkan ketika saya tidak bisa bepergian bersama mereka. Akhirnya saya mulai menjauhi ketiga teman saya tersebut dan menghabiskan waktu luang untuk lebih fokus belajar gitar dan menghabiskan uang jajan untuk membeli tiket masuk ke acara-acara musik di Bandung hampir setiap akhir pekan.

Sebagai ‘anak kecil’ yang hampir selalu muncul sendirian di acara musik, gunjingan tentang saya pun banyak terdengar dalam lingkungan sosial. Mungkin karena—katanya—perempuan tidak baik pergi sendirian sampai larut malam. Terlebih ketika mereka mengetahui bahwa saya masih duduk di bangku SMA. Padahal, ayah saya atau pun kakak saya selalu setia mengantar dan menjemput saya ke acara-acara musik menggunakan motor. Saat itu jam malam saya pukul 22:00 WIB sudah harus di rumah, tapi dengan sedikit bujukan atau kebaikan hati kakak saya akhirnya saya dapat mengulurnya menjadi pukul 00:00 WIB di beberapa malam tertentu. Tidak jarang juga saya harus berdebat dengan ibu saya agar dapat pulang lewat tengah malam karena, tentunya, acara musik seringkali selesai pada waktu yang tentatif alias tidak sesuai pada waktu yang tertera di poster.

Belum lagi jika acara yang saya datangi berlokasi di Maja House atau Fabrik yang terkenal dengan lingkungan party, gunjingan-gunjingan tersebut semakin nyaring. Tentu saja semasa SMA saya hanya berani menegak tidak lebih dari sebotol kecil beer Bintang sebagai kamuflase dari ketimpangan usia dengan orang-orang di lingkungan tersebut. Saya cukup menyadari bahwa saya datang sendirian ke tempat tersebut dan bukanlah tindakan bijak jika harus bermabuk-mabukan ketika saya bertanggung jawab atas keselamatan saya sendiri. Terlebih menyadari bahwa ayah sayalah yang akan menjemput di penghujung malam. Mendengar gunjingan tersebut yang sering datang dari teman-teman perempuan sebaya saya, akhirnya saya memutuskan untuk mencari teman-teman yang memiliki hobi yang sama yaitu bermain gitar.

Hobi bermain gitar sangat mudah ditemukan dari teman-teman laki-laki. Bermain gitar sambil bernyanyi kemudian menjadi pencair suasana yang sangat manjur, terlebih ketika dilakukan di tongkrongan.  Seperti tipikalnya, bergerombol bersama teman-teman sebaya dengan seragam putih abu-abu di depan warung dekat sekolah. Karena saya ingin belajar gitar, akhirnya saya mengikuti teman-teman saya bergerombol sepulang sekolah di Warzam, sebuah warung dekat sekolah yang sampai hari ini pun masih tidak jelas merupakan singkatan dari warung apa. Dari warung satu dan lainnya, saya bermain mengikuti teman-teman saya yang mayoritas adalah laki-laki sampai akhirnya saya diajak untuk membantu sebagai additional vocalist band tongkrongan bergenre blues. Di situlah pengalaman pertama saya untuk ngeband. Setelah itu, karena terlalu sering ngintilin kakak dan teman-temannya, kakak saya mengajak saya untuk meng-cover beberapa lagu Savages, band post-punk asal UK—yang berjudul "City’s Full", "She Will", "Husband", dan "Shut Up"—untuk acara Mustang: Apocalypse milik Apres! ITB bersama Aulia Ramadhan dan Aulia Lazuardi dari band post-rock Bandung, Ellipsis. Melalui tongkrongan itu juga saya mulai bertemu dengan Moyann Ayu Larasati, gitaris band saya Bananach.

Aulia Ramadhan dan Dimas Sokowati di ruangan Sekretariat Apres! ITB, Januari 2012

Requires Truth

Saat saya menginjak kelas 1 SMA, Moyann sudah kelas 3 SMA dan ia adalah senior saya di sekolah. Saya sangat takut kepada Moyann, bukan karena dia senior yang galak, melainkan karena tampilannya memang seram. Seragam perempuan SMA negeri di Bandung mewajibkan kami untuk mengenakan rok abu panjang, sedangkan hanya Moyann lah siswi yang mengenakan rok abu setinggi lutut dalam hari-hari sekolahnya. Belum lagi rambutnya yang dipotong pendek berponi, juga tattoo di dadanya yang sesekali mengintip dari kerah seragamnya. Saat di tongkrongan tersebut, saya dan Moyann pun tidak terlalu banyak berinteraksi. Namun sebenarnya saya menyukai musikalitas Moyann, saya menyadarinya lewat Soundcloud miliknya yang saat itu berisi lagu-lagu yang ia cover sambil bermain gitar, “Blackbird” oleh The Beatles dan  “Babe, I’m Gonna Leave You” oleh Led Zeppelin. Akhirnya saat saya kelas 3 SMA, tiba-tiba Moyann menghubungi saya lewat chat Facebook untuk membuat sebuah band bersama teman-temannya.

Terbentuklah Bánánach dengan formasi awal Moyann pada gitar, Octavia (Heals) pada bass, La Tessa (titotessa) pada drum, dan saya sebagai vokalis.

Panggung Bananach formasi awal di Tribute to Tony Sly di STSI Bandung, 2013

Namun sayangnya, Bánánach harus vakum untuk waktu yang cukup lama karena kesibukan kami masing-masing. Lagu pertama kami adalah “Aphrodites”, yang ditulis ketika saya berusia 15 tahun pada tahun 2013, berdasarkan alienasi-alienasi yang telah saya dan Moyann alami. Begitulah awal-awal keakraban saya dengan Moyann, dilandaskan dari kesadaran kolektif bahwa disisihkan, didiskriminasi, dan ditindas oleh sesama perempuan betul-betul mengurangi self-esteem kami sebagai seorang manusia di usia produktifnya. Bahkan Moyann pernah berada di titik pitamnya saat ia pernah melakukan percobaan bunuh diri sebanyak tiga kali hanya karena tekanan dari lingkungan sosial, Moyann dipaksa teman-teman perempuan sebayanya saat SMA untuk duduk di depan mereka dan menceritakan kehidupannya seraya teman-temannya itu menertawakan Moyann setelah ia selesai bercerita.

“Sebut saja lirik ini mereduksi, menstereotipkan, dan mempermalukan perempuan karena sudah menjadi feminine. Tapi bukankah lirik ini merupakan sebuah kritik satire? Ini subjektif sekali, akan tetapi ini adalah ironi perempuan yang terjadi pada kenyataannya. Coba dipikir lagi secara realita, berapa persen perempuan konsumtif yang menyadari hal itu? Apakah saya harus tetap memilih membela daripada menyadarkan? Di luar gender, sebetulnya ini tentang kemunafikan,” pantik Moyann beberapa hari silam saat kami sedang berdiskusi di sela-sela briefing seusai latihan.

Selama kurang lebih dua tahun dari tahun 2014 personel Bánánach sibuk menghidupi hidupnya masing-masing untuk belajar dari pengalaman-pengalaman dan fakta-fakta yang kami temukan setiap harinya. Pada tahun 2016, akhirnya Bánánach kembali latihan di studio dengan formasi hari ini; Moyann pada gitar, Azni pada gitar, Fay pada drum, dan saya masih sebagai vokalis Dalam formasi ini, kami sepakat untuk mengganti nama band kami menjadi Bananach.

Saya dengan personel Bananach: Moyan, Fay, Azni. 2018

Bagi saya pribadi, dua tahun tersebut tidak lagi membuat saya marah pada faktor-faktor eksternal di luar kedirian saya. Saya akhirnya dapat menyadari bahwa pertarungan yang saya lakukan bukanlah pertarungan atas penerimaan lingkungan sosial terhadap saya, melainkan pertarungan atas penerimaan saya terhadap perubahan-perubahan yang terus terjadi dalam hidup saya. Bahkan seringkali dalam lingkungan yang menerima saya, saya menjadi terbiasa untuk mengisolasi diri saya. Seperti diam berhari-hari di dalam kamar ketika memang tidak ada kewajiban yang harus saya jalani di luar rumah atau kosan, contohnya.

Saya tidak lagi marah kepada lingkungan seperti yang saya lakukan di masa-masa remaja saya. Saya menjadi marah terhadap diri saya sendiri yang tidak bisa menerima keadaan. Saya menyimpan dendam dengan lingkungan rumah yang mendikte saya untuk bermain keyboard. Tidak bisa dipungkiri, menerima kejujuran yang apa adanya dengan lapang dada merupakan sebuah kegiatan yang sulit. Setelah terjalin komunikasi yang baik antara saya dan ibu saya, kemudian saya menyadari bahwa ibu saya hanya mendidik saya menjadi seorang manusia yang menyelesaikan tanggung jawabnya. Bertanggung jawab dan memberikan kejujuran adalah bentuk yang paling berani dalam hidup, begitulah ajar ibu saya.

Suatu hari itu di akhir tahun 2017, akhirnya ibu saya mengatakan bahwa selama ini beliau diam-diam selalu bangga terhadap saya dan kegiatan saya. Dulu saya beranggapan bahwa saya harus mendapatkan rekognisi atas eksistensi saya dan buah pikir saya sebagai manusia dari publik. Ternyata hal yang paling penting, menurut saya, adalah sebuah pengakuan dari keluarga saya. Sebuah apresiasi sederhana atas aktualisasi diri saya yang datang dari lingkungan terdekat saya. Saya seperti kehilangan harga diri karena selalu menyalahkan dunia luar.

My sanity.

Have you seen it?

My head.

I hit my head.

 

I search all around the corner,

all around the room,

all around the stacks and curves,

but I do not find what I’m looking for.

I search all around the spaces,

under the table, and the bed.

I can only find dark dusty spaces

along with lost pennies and eaten bubble gum.

 

Say it to me over and over

Please make me sure

because the world gave me high fever.

Whisper so close to my ear about

Solid deal, mama mama.

Solid deal, mama mama.

*Dikutip dari penggalan lirik lagu “Dusty Spaces” oleh Bananach.

Dalam proses kreatif saya untuk menulis—baik itu lirik, cerpen, sampai puisi—saya merasa masa paling produktif ketika saya sedang diliputi rasa kecewa. Rasa kekecewaan terhadap diri sendiri itulah yang kemudian menjadi pembentuk alienasi saya, sampai hari ini, terhadap hal yang sedang saya hadapi. Ada hari-hari ketika saya kecewa karena saya tidak bisa memenuhi ekspektasi yang orang lain berikan terhadap saya. Namun, rasa kekecewaan dan amarah yang paling besar adalah ketika saya tidak bisa memenuhi ekspektasi saya terhadap diri saya sendiri. Saya terus mengevaluasi diri saya setiap hari dan malamnya sampai menderita insomnia selama jalan 8 tahun. Tetapi saya sangat beruntung dengan kekecewaan ini.

Art requires truth, not sincerity (seni membutuhkan kejujuran, bukan ketulusan),” mengutip monolog aktris Cate Blanchett dalam film Manifesto (2015) karya sutradara Jerman, Julian Rosefeldt.

Jika saya tidak pernah marah sedari usia saya 4 tahun, saya tidak akan pernah mengumpulkan referensi-referensi musik yang telah saya dapat, saya tidak akan pernah bermain gitar, dan saya tidak akan pernah memiliki keberanian untuk mencoba hal baru. Jika saya tidak memendam amarah, saya tidak akan berani berjujur tentang keadaan dalam tulisan-tulisan saya, dan saya tidak akan pernah membuat karya-karya dalam berbagai medium seperti yang saya lakukan sampai hari ini. Yang saya sadari, pemaknaan dari pengalaman saya ialah bahwa dari segala titik-titik berat yang saya alami merupakan pembelajaran baru atas cara menerima kejujuran dan saya sangat bersyukur atas segara tempaan yang telah saya terima.

*Semua foto adalah koleksi pribadi penulis

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
529 views
superbuzz
506 views
superbuzz
220 views
superbuzz
436 views