Kenyataan Gelap Gemerlap Dunia Pop

Eka Annash: Kenyataan Gelap Gemerlap Dunia Pop

  • By: Eka Annash
  • Sabtu, 30 November 2019
  • 698 Views
  • 11 Likes
  • 2558 Shares

Ada dua  menghebohkan dari industri musik yang belakangan ini, menurut saya latar belakangnya berkaitan erat.

Pertama, rangkaian kasus bunuh diri beberapa penyanyi K-Pop seperti Sulli dan Goo Hara, serta pernyataan Agnes Monica tentang tidak adanya darah Indonesia dalam dirinya. Dua motif pola perilaku ini jelas berkaitan dengan keadaan mental dan psikologi masing-masing individu.

Kalau menelusuri latar belakang kasus bunuh diri sejumlah bintang K-Pop, ternyata kita akan menemukan banyak fakta gelap, serta rahasia umum soal tekanan dan stres yang dialami penyanyinya.

Mulai dari jadwal latihan super ketat tanpa henti, kompetisi antarpersonil, perombakan fisik signifikan, sampai ke tekanan keras dan disiplin dari para mentor. Banyak laporan media dan pengakuan pelakunya menyamakan proses ini dengan latihan wajib militer.

Menjadi penyanyi dalam girl group, idol group atau boy band jadi cita-cita banyak anak muda Korea Selatan. Laporan NBC News tahun 2016 menyebutkan 25% dari total populasi anak muda Korsel ingin menjadi bintang K-Pop.

Status selebriti global, gaya hidup glamor dan banyak penggemar seolah menjadi puncak pencapaian hidup mereka. Banyak yang nekat langsung terjun sejak SMP sIbuk mempersiapkan diri dengan mengikuti kursus dance, kursus menyanyi, berlatih ke gym sampai operasi plastik.

Rentang proses yang dijalani biasanya bertahun-tahun. Mayoritas bahkan tidak meneruskan SMA atau kuliah. Lalu, mereka akan mengikuti proses audisi di beberapa manajemen artis besar Korea seperti SM Entertainment, YG Management, Big Hit Entertainment, dan sebagainya. Jika terpilih, maka dimulailah proses latihan ekstrem yang “sebenarnya.”

Di balik sajian image artis-artisnya yang fashionable, fenomenal dan futuristik, industri manajemen artis Korea dijalankan dengan metode displin keras, ketat, juga sangat konservatif.

Keleluasaan waktu menjadi faktor yang harus dikorbankan sejak awal. Porsi sosialisasi layaknya remaja kebanyakan hampir tidak ada. Latihan berlangsung 10-15 jam per hari. Tidak boleh pacaran. Penggunaan handphone dilarang sepanjang workshop.

Rangkaian program latihan dari mentor yang ekstrim dibarengi kompetisi tinggi seringkali merontokkan percaya diri individu. Sehingga, mereka dipersiapkan untuk terlihat sempurna secara fisik, tapi tidak dibarengi pembentukan mental kuat untuk menghadapi tekanan publik.

Akhirnya, saat mereka berhadapan dengan audience (merekalah ‘juri’ sebenarnya), mereka tidak bisa menerima penolakan, kritik dan sentimen negatif. Kehidupan bintang K-Pop ini berada di bawah mikroskop media massa dan media sosial.

Belum lagi dengan keberadaan sasaeng (fans berat) yang menjadi penguntit obsesif yang menginvasi kehidupan mereka. Kultur masyarakat Korea Selatan pun yang mengharuskan public figure tampil sempurna tanpa cela menjadi beban berat. Begitu skandal terjadi, hujan kritik keras dan cacian super tajam (terutama di media sosial) langsung menghujam menjadi krisis mental yang tak terelakkan.

Imbasnya, mereka bisa dipecat dari manajemen dan dikucilkan, ini berujung pada tindakan ekstrim seperti bunuh diri. Belum lagi kondisi terisolasi dari dunia luar yang otomatis memutus koneksi sosial terhadap peer group dan lingkungan mereka.

Sekarang mari kita bandingkan dengan apa yang terjadi terhadap Agnes Monica Muljoto (atau Agnez Mo). Penyanyi kelahiran Jakarta tahun 1986 ini tidak asing dengan komen negatif para haters-nya sejak pertama kali merilis album And The Story Goes sebagai penyanyi professional di tahun 2003.

Memulai karir sejak umur 6 tahun dengan merilis beberapa album lagu anak, Agnes mungkin sudah siap mental dan fisik untuk menjadi performer/ entertainer dengan semangat tinggi sejak dini. Didukung keluarga berlatar belakang ekonomi kelas atas, Agnes menempa diri melalui berbagai macam pelatihan dan workshop menyanyi, menari, teater dan sebagainya. Jalur rute pengembangan bakat hampir sama yang dilalui oleh para bintang K-Pop. Namun, yang membedakan ia dan bintang K-Pop adalah rentang waktu serta proses persiapan mental.

Agnez Mo adalah hasil proses marathon pembentukan bakat bertahun-tahun sejak belia secara organik dan natural. Ia tidak melalui penggemblengan disipliner ekstrim diluar batas kemampuan. Bukan juga hasil tekanan manajemen diktatorial (manajer Agnez adalah Steve Muljoto, kakaknya sendiri).

Ia masih bisa bersosialisasi dengan berbagai kalangan di lingkungan sekolah, kampus dan sesama peer di industrinya. Dorongan ambisius untuk medorong karirnya menembus ranah internasional juga membuahkan hasil, yaitu album internasional berjudul X (2017). Album ini didukung serangkaian single berbahasa Inggris yang dipromosikan di negeri Paman Sam.

Lalu, setelah melihat keseluruhan wawancara yang menghebohkan di kanal YouTube Build Series, kita secara tidak sadar sedang menyaksikan seorang artist at the top of her game. She was built for fame. Mentally and physically.

Pernyataan yang ia katakan bisa jadi benar secara teknis (walaupun terkesan arogan di saat yang bersamaan). Namun, pernyataan ini adalah manifestasi dan refleksi dari kondisi mentalnya yang penuh percaya. Seorang performer ambisius yang nyaman dengan kesuksesan diraihnya, dan ia ingin menunjukkan hal ini pada dunia.

Seperti yang kita tahu, langsung terjadi tsunami backlash dari pernyataan Agnez. Cercaan dan kritik langsung datang menghujani. Banyak yang berkomentar bahwa Agnez kehilangan jati diri. Namun, kemungkinan besar kondisi krisis ini tidak akan mendorong Agnez Mo untuk bunuh diri atau melakukan tindakan ekstrim lain.

Tentu tidak adil rasanya membandingkan keadaan mental para bintang K-Pop dan Agnez dipaparkan hitam putih begitu saja. Realitanya pasti lebih kompleks.

Kalau saja Agnez besar sebagai remaja di Korea Selatan dan diharuskan melalui proses penggemblengan manajemen artis dan tidak pandang bulu, mungkin ceritanya akan berubah kelam. Seandainya saja ia harus berurusan dengan gelombang haters serta gempuran netizen Korsel, mungkin bisa jadi mentalnya roboh. But here’s one thing that we need to consider: success came at a price. And it’s very expensive.Tentu, saya tidak membicarakan soal uang di sini.

Banyak orang (terutama generasi muda) yang menginginkan ketenaran dan popularitas sampai mengorbankan hidupnya. Namun, mereka malah membencinya begitu sampai di atas popularitas. Deretan kasus nya sudah tidak terhitung dalam industri musik pop: Britney Spears, Katy Perry, Kanye West, Miley Cyrus semuanya mengalami public meltdown karena gangguan kesehatan mental dan tekanan popularitas. Tidak ada buku panduan yang dibuat sebagai petunjuk untuk menavigasi hidup selebritis saat krisis menerpa.

Lebih buruknya lagi, di era digital serba instan ini, ramalan Andy Warhol kalau semua orang akan tenar selama 15 menit menjadi kenyataan. Tidak ada lagi porsi waktu untuk proses pembentukan mental. Momen berbahaya datang saat 15 menit itu berlalu. Bakat-bakat baru ini akan terkunyah, tergilas dan terbuang mesin industri tanpa bisa mencapai potensi puncaknya.

Ini baru sebagian kecil fakta gelap dalam dunia industri musik pop. Belum lagi kalau subyek pembahasan melebar ke ranah musik rock dan musik ekstrim. Kita semua sudah tidak asing dengan cerita mengenaskan di balik banyak kematian legenda rock. Korbannya terus berjatuhan dari tahun ke tahun karena tekanan mental, contohnya Chris Cornell dan Chester Bennington sebagai kasus terakhir.

So you might want to reconsider your goal when it comes to fame. It will definitely change you. Popularitas kerap bermata dua dan sisi lainnya bisa sangat berbahaya. Biarkan proses yang membentuk karirmu, kalau memang memutuskan untuk menjadi musisi.

Proses seharusnya memang lama dan sulit, supaya kamu bisa menghargai apa yang kamu raih ketika sudah berada di atas. Setelah itu, rute nya pasti akan menurun kebawah dan mentalmu sudah siap untuk segala kondisi. Satu hal lagi yang lebih penting, never do it for fame. Do it for the music. Fame is just a bonus.

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
112 views
superbuzz
182 views
superbuzz
198 views
superbuzz
361 views
superbuzz
461 views
superbuzz
362 views