Khemod 'Seringai': Berhenti di 15

Napak Tilas Perjalanan Bermusik Sebelum Seringai

Tulisan kali ini untuk teman-teman saya bermain musik sebelum saya tergabung di Seringai. Bahwa apa yang saya tahu dan punya sekarang, berawal dari perjalanan yang sangat panjang bersama mereka sejak 90-an awal. Saya cukup beruntung untuk mengalami banyak situasi bermusik. Mulai dari panggung 17 Agustusan, acara komunitas di GOR Saparua, hingga ke panggung kafe, semuanya. Berbagai jenis panggung dan genre ini berjasa banyak dalam membentuk saya sebagai musisi seperti sekarang.

Terima kasih semua untuk pertemanan dan pengalamannya, tulisan ini untuk kalian.

Belajar Drum Pertama

Perkenalan pertama saya dengan drum dimulai dari rumah. Salah seorang kakak saya memiliki satu set drum yang ditaruh di kamarnya. Set drum yang sering mengundang persinggungan dengan tetangga yang menelpon ke rumah (karena belum ada handphone saat itu!) dan mengeluh tentang bocoran suara drum ke rumahnya. Saya kelas 3 atau 4 SD ketika diajarkan tentang dasar bermain drum paling sederhana. Tangan kanan jalan terus mukul hi hat, kaki kanan untuk bass drum, tangan kiri untuk snare. Itu saja! haha.

Tapi dorongan untuk mempelajari drum lebih mendalam dan bermain band, justru dipicu untuk kebutuhan sosialisasi. Bermain band adalah cara saya untuk melebur dalam lingkungan pertemanan. Salah satu teman bermusik saya paling awal adalah Hari (eks Puppen & Cherry Bombshell), tetangga di komplek Bukit Dago, Bandung di tahun 1989. Saya duduk di kelas 6 SD saat itu.

Kami dan beberapa anak-anak komplek lainnya memiliki kesamaan selera, terutama soal musik rock dan skateboard. Dia bertanya apakah saya bisa main drum, karena dia akan membuat band untuk tampil di acara 17 Agustusan di komplek. Dia tahu ada drum set di rumah saya, sehingga dia pikir saya bisa main drum. Saya langsung jawab "Bisa!" meskipun saya tidak pernah belajar main drum, kecuali dengan kakak saya. Saya harus jawab bisa, supaya bisa diterima di band, dan di pergaulan, hehe.

Bermodalkan pemutar kaset dan set drum ala kadarnya, saya berusaha pelajari dan ikuti lagu-lagu yang saya dan teman-teman sedang sukai pada saat itu. Jaman dimana belum ada YouTube untuk mencari tutorial, mengandalkan pendengaran dari kaset yang diputar berulang kali sampai kusut. Saya lupa nama bandnya apa, Death Create kalau tidak salah, whatever that means, haha.

Saya, Hari Ajo, Akung, dan Budi yang rata-rata masih SD atau SMP, membawakan "Can I Play With Madness" dari Iron Maiden, "I Believe In Miracle" dari The Ramones dan "Am I Evil" dari Metallica. Lumayan membanggakan lah ya sebagai catatan lagu pertama yang dibawakan saat manggung, haha.

Orion

Band serius pertama saya adalah Orion, dari tahun 1990-1993. Iya, kami mengambil nama band-nya dari lagu Metallica dengan judul yang sama. Saya berusia 13 tahun saat tergabung dalam band ini. Beranggotakan Wawa (eks The Waves) pada gitar, Hari (eks Puppen & Cherry Bombshell) pada gitar & vocal, dan Nino (eks The Waves) pada bass. Tampil di panggung-panggung acara sekolah dan kampus di sekitaran Bandung, band ini muncul di era pra Saparua, di mana band menulis lagu sendiri itu belum populer, baru beberapa band yang melakukannya. Sebagian besar meng-cover lagu dari band yang mereka suka.

Di era ini juga mulai muncul geliat anak muda yang haus referensi musik rock yang baru dan lebih ekstrem. Orion membawakan lagu-lagu yang pada saat itu belum begitu banyak orang dengarkan, seperti Sepultura, Red Hot Chili Pepper, Annihilator, Xentrix dll. Lagu-lagu dari band yang termasuk baru dan sulit mendapatkan referensinya, di era sebelum adanya internet.

Pada saat itu saya juga tidak punya uang untuk membeli peralatan drum, terutama double pedal. Sedangkan lagu-lagu yang kami bawakan adalah musik rock yang membutuhkan double pedal. Akhirnya saya harus belajar membawakan lagu-lagu ini dengan single pedal dan perpaduan floor tom, memberi efek seperti double pedal, hehe.

Era ini untuk saya seperti memberi pondasi untuk selera dan permainan drum saya. Rasa haus untuk mencari referensi musik yang segar dan lebih ekstrem, terus terbawa hingga sekarang. Dan perpaduan genre yang dibawakan juga membentuk permainan drum saya untuk tidak hanya fokus pada satu gaya. Dari permainan agresif di lagu Sepultura, lalu berpindah ke groove Red Hot Chilli Peppers, melatih saya untuk jadi pemain drum yang versatile.

Life At Pawn

Arian13 yang memberi nama band ini. Terdiri dari Denny pada vokal, Luki (owner 347), Aji (The Milo), dan Ape (eks Harapan Jaya). Saya tergabung di band ini dari tahun 1993-1995. Skena independen Bandung pada saat itu masih sangat muda, sedang mencari cara untuk membuat panggung. Acara-acara komunitas masih sangat jauh dari radar para sponsor, sehingga anak-anak ini harus membuat acara mereka sendiri. Inisiatif beberapa anak muda untuk membuat acara komunitas independen di GOR Saparua menjadi cikal bakal banyak band independen Bandung untuk tampil dan tumbuh.

Life At Pawn pun masih meng-cover lagu-lagu orang, sambil menyelipkan satu atau dua lagu ciptaan sendiri. Influence terbesar kami pada saat itu adalah band Helmet. John Stanier (eks Helmet, Tomahawk, dan Battles) adalah drummer idola saya saat itu. Saya sepertinya berumur 15 tahun di foto ini. Seperti lirik Seringai "Berhenti di 15", mungkin ini titik di mana saya "berhenti". Melihat foto ini selalu mengingatkan kembali alasan awal saya bermusik, untuk memainkan musik yang saya suka, apapun kondisinya.

Melalui band ini juga saya bisa berkenalan dengan almarhum Samuel Marudut, manajer radio rock legendaris Bandung GMR Radio. Pada saat itu dia sudah sukses merilis mini album PAS Band, Four Through The Sap di toko-toko kaset Bandung dan Jakarta. Dan melalui program-program di GMR, dia banyak mendukung band-band independen lokal untuk bisa memutarkan rekaman mereka.

Suatu hari band kami mendapat telpon dari Samuel Marudut untuk datang ke kantornya di radio GMR. Mungkin lewat Arian13, Udut entah bagaimana bisa mendengarkan demo latihan Life At Pawn membawakan lagu-lagu ciptaan sendiri. Mungkin hanya ada dua atau tiga lagu kalau tidak salah. Dia mengundang kami untuk datang dan bilang kalau dia tertarik untuk memproduseri kami rekaman. Bayangkan senangnya si anak umur 15 tahun mendengar tawaran ini. Sayangnya harapan kami harus pupus bersamaan dengan kabar meninggalnya Samuel Marudut.

Zoom

Tergabung di band ini dari tahun 1995-2000, beranggotakan Sule (vokal), Jack (gitar) dan Reza (bass/gitar). Sempat juga Ali Akbar (eks kibordis The Groove), Mulki (eks bassis Seurieus) dan Ferly (gitar) tergabung dalam band ini. Zoom bermain di pub-pub dan kafe-kafe di Bandung dan Jakarta. Saat itu live music menjadi pilihan hiburan utama di pub dan kafe. Dengan berbagai pilihan genre, mulai dari Top 40, R&B, sampai alternative rock. Banyak band Bandung yang lahir dari lingkar cover band pub/kafe, mulai dari /rif sampai Peter Pan. Zoom mengambil jalur alternative rock, meng-cover lagu-lagu dari U2, The Police, hingga kadang New Order sampai Duran Duran.

Ini fase yang sangat menarik untuk saya sebagai drummer, karena membuat saya belajar banyak genre dan gaya bermain drum yang jauh berbeda dari yang biasanya saya lakukan di band-band sebelumnya. Melatih saya untuk jadi pemain musik yang lebih mengenal dinamika, tidak hanya gaspol agresif dalam bermain drum. Membuat saya lebih peduli pada genre lain, tidak berkaca mata kuda pada satu genre. Termasuk latihan menghafalkan belasan hingga puluhan lagu untuk dimainkan dalam semalam, hehe. Di band ini juga pengalaman saya pertama mendapatkan uang dari bermusik, setelah sebelumnya lebih banyak mengeluarkan uang untuk bermusik, haha.

Kalau tidak salah Zoom sempat menulis dan merekam beberapa lagu orisinal, tapi entah di mana hasil rekamannya. Saya ingat salah satu judul lagunya adalah "Akal Logika".

Aparat Mati (AxMx)

Band berumur paling pendek, dengan durasi lagu paling pendek, tapi mungkin paling berkesan dan berjasa untuk karier bermusik saya. Terdiri dari Angga Reza (eks bassis Piece Of Cake), Arian13 (saat itu masih menjadi vokalis Puppen), dan Eben (gitaris Burgerkill). Aparat Mati membawakan lagu-lagu dengan genre powerviolence seperti Spazz, Charles Bronson, dan beberapa lagu ciptaan sendiri dengan rata-rata lagu hanya berdurasi di bawah 1 menit.

Berumur pendek, hanya di tahun 2001, dan hanya bermain di dua panggung saja, haha. Panggung pertama band ini adalah di sebuah acara di Buqiet cafe & skatepark, Bandung.

Meskipun Arian dan Eben sudah cukup punya nama di skena musik independen Bandung, tapi AxMx tetaplah band baru yang orang belum pernah dengar. Panitia acara lalu mendatangi kami dan menerangkan bahwa sebagai band baru, Aparat Mati hanya punya waktu tampil 10 menit. Dan kami pun bingung, karena kami hanya punya 7 lagu dengan rata2 durasi 30 detik! Tidak sampai 10 menit! Terpaksa kami mengulang lagu yang sama sampai dua kali, haha. Band ini tidak pernah rekaman, tapi kalau tidak salah Arian punya kaset rekaman latihannya. Saya musti cek lagi nanti.

Band ini berjasa banyak untuk saya sebagai musisi karena seperti mengembalikan saya ke jalur yang membuat saya merasa paling nyaman. Setelah mencoba berbagai jenis band dan panggung, kembali ke panggung kecil membawakan musik yang kita cintai tanpa peduli hal lainnya ternyata yang paling membuat saya nyaman. Aparat Mati mengingatkan saya akan hal itu. Dan Aparat Mati juga yang membuat saya dan Arian bermusik bersama, dan menjadi embrio untuk lahirnya Seringai.

*Foto: Rigel Haryanto (foto Khemod), dokumentasi pribadi penulis

0 COMMENTS