Khemod 'Seringai': Kunci (Tidak) Sukses dalam Bermusik

“Kang, gimana sih caranya bisa sukses ngeband? Padahal genre yang dimainkan tidak pasaran.”

Pertanyaan ini sering saya dapatkan dalam berbagai kesempatan yang berbeda. Mulai dari percakapan santai dengan teman yang meminta masukan untuk bandnya yang baru mulai, atau japri di kotak pesan social media saya yang secara acak masuk. Diskusi tentang bagaimana menawarkan bandnya ke festival-festival besar, bagaimana memperdagangkan merch dari band barunya, bagaimana cara membuat fans club untuk band barunya… Daftar pertanyaan bertambah panjang.

[bacajuga]

Sambil teman saya melanjutkan pertanyaannya dengan bertubi tubi, tanpa sadar saya malah tidak menghiraukan pertanyaannya, sambil melamun kembali ke masa muda saya di awal tahun 90-an di Bandung ketika mulai bermain musik. Kata “sukses” atau “menghasilkan” dari memainkan musik yang saya suka rasanya seperti mimpi saat itu. Saya tumbuh di era di mana panggung yang ada untuk musik rock didominasi oleh festival perlombaan band, dengan cara membawakan satu lagu wajib dan satu lagu bebas untuk melihat kemampuan skill-nya. Cara berkompetisi seperti ini seringnya menjadi halangan untuk anak2 seperti saya yang skill-nya terbatas dan punya selera musik yang berbeda dari tren musik pada saat itu.

Sambil melihat para senior saya memainkan solo gitarnya di atas lengkingan sang vokalis membawakan lagu "She's Gone"nya Steelheart, semakin membuat saya si anak SD yang tak punya bekal pendidikan musik merasa semakin jauh dari mereka. Sampai kapan juga saya tidak akan bisa main musik seperti itu rasanya.

Entah kenapa, tapi rasanya pada saat itu secara kolektif ada gelombang kegelisahan pada anak muda di sekeliling saya untuk mendapatkan sumber referensi budaya baru, budaya tandingan terhadap tren yang berjalan saat itu. Rasanya jenuh melihat pilihan hiburan budaya populer yang ada saat itu, di era sebelum adanya internet.

Majalah-majalah musik dan skate yang dibawa segelintir anak orang kaya yang pulang dari luar negeri menjadi bahan percakapan di tempat tongkrongan, sambil memperhatikan nama-nama band aneh yang ada di kaus tiap skater. Nama band seperti Red Hot Chili Pepper, Sepultura, Soundgarden di zaman sekarang sudah menjadi pengetahuan umum. Tapi untuk generasi 90-an awal, saat pertama kali mendengar ada band seperti itu rasanya sudah seperti sebuah pencerahan dari tren musik yang ada. Setiap ada band baru yang musiknya berbeda, apapun genrenya, segera kita lahap. Kaset impor yang dibawa dari luar negeri atau beli di toko kaset Duta Suara Jalan Sabang di Jakarta, di-copy berkali-kali dari tangan satu ke tangan lainnya. Perjuangan untuk sekadar mendapatkan referensi musik baru dan berbeda rasanya begitu berharga. Sehingga keinginan untuk memainkan musik yang berbeda pun menjadi begitu berharga.

Kesamaan selera yang berbeda, mendorong saya dan teman-teman di komplek untuk memberanikan diri membuat band dan membawakan lagu-lagu yang tidak umum dibawakan pada saat itu. Pemandangan yang cukup aneh kalau saya bayangkan sekarang, segelintir anak SD-SMP di acara 17 Agustusan di sebuah komplek perumahan di Bandung, memainkan The Ramones dan Xentrix di awal tahun 90-an. Kita tidak peduli panggungnya apa, pokoknya asal ada kesempatan untuk tampil. Karena untuk ikut festival dan kompetisi, skill dan selera kami tidak sesuai dengan standar yang ada saat itu. Mulai dari panggung 17 Agustusan hingga bazaar SMA menjadi pilihan panggung yang dituju. Dapat uang? Boro-boro, yang ada kita harus bayar biaya audisi masuk ke acara, yang ujungnya belum tentu lolos.

Tapi ternyata saya tidak sendiri, banyak anak muda lain di sekeliling saya melakukan hal yang sama.

Dan akhirnya secara kolektif, band-band ini  memutuskan untuk membuat acara mereka sendiri. Acara tandingan dari format festival dan kompetisi yang biasa ada. Mereka mengumpulkan uang dari masing-masing band, dan menjadi panitia dari acara mereka sendiri. Di Bandung hal ini terasa di era keemasan GOR Saparua Bandung circa 1993-1999. Hampir setiap minggu pasti ada acara musik di GOR Saparua Bandung. Sukses? Boro-boro, yang ada band-band ini mengeluarkan uang setiap minggunya untuk sewa tempat dan bisa tampil.

Keterbatasan dana dan akses, memaksa anak-anak muda di Bandung era ini untuk melakukan segala sesuatunya dengan mandiri. Mulai dari membuat rekaman dengan dana sendiri di studio ala kadarnya, hingga menduplikasinya secara manual menggunakan tape recorder rumahan. Membuat merchandise sendiri sambil berharap menjadi uang tambahan untuk sekedar survive sebagai band. Memperdagangkannya secara mandiri, dari titip jual di distro-distro yang ada sampai melayani mail order. Menjadi kaya? Boro-boro, apalagi di era sebelum adanya internet dimana kita harus bersusah payah mencari outlet untuk menawarkan produk kita.

Waktu berlalu, zaman berubah...

Internet muncul, akses membesar...

Komunitas musik membesar, pasar meluas...

Kini, musik yang katanya 'berbeda', sudah tidak begitu 'berbeda' lagi. Acara musik extreme metal kini bisa mendatangkan puluhan ribu penonton, dengan skala acara festival besar. Para penonton menggunakan merchandise dari band-band lokal kegemaran mereka, di antara puluhan ribu watt sound system, ratusan polisi penjaga, mobil pemadam kebakaran, dan ambulans. Di satu sisi, kondisi yang membanggakan bahwa pertumbuhan industri musik di Indonesia bisa sepesat ini, bahkan untuk genre yang tidak umum. Di sisi lain, semakin sulit untuk bisa melihat band-band baru dan pertumbuhannya di antara panggung-panggung raksasa, menunggu giliran mereka untuk bermain di jam prime time acara festival besar. Panggung-panggung yang gigantis, seperti memberi jarak antara si musisi dengan audiensnya.

Saya pernah melontarkan pertanyaan ini di kesempatan yang berbeda, dan masih mengganggu saya sampai sekarang. Apakah ini perasaan saya saja, atau rasanya kini seperti kembali ke era kompetisi? Bedanya, sekarang kompetisi untuk menjadi band besar, agar bisa menjadi headliner di festival musik raksasa. Sedangkan dibandingkan dulu ketika band-band yang bermain di GOR Saparua era 90-an, tujuannya tentu bukan untuk menjadi yang terbesar. Yang penting kita bisa memainkan musik yang kita suka. Meskipun kita band baru yang skill-nya masih pas-pasan, kita tidak peduli. Orang-orang pun tidak peduli. They're just there for the music and the community.

Yang saya takutkan adalah, ketika band-band baru bermunculan. mereka muncul dengan cita-cita untuk bisa sebesar band-band pendahulunya, bermain di panggung megah dan menjual ratusan hingga ribuan potong merchandise-nya. Bahwa inilah definisi 'sukses' mereka dalam bermusik. Bukan lagi soal kesuksesan untuk memainkan musik yang mereka cintai, apapun kondisinya.  

Padahal melihat dari berbagai contoh kasus, yang sukses bertahan sebagian besar adalah yang konsisten memainkan apa yang mereka suka, dan berusaha bertahan dengan itu. Mulai dari band sekelas Slank hingga Burgerkill, di mata saya memiliki kesamaan  dalam konsistensi memainkan musik yang mereka suka, apapun situasinya. Jangan-jangan itu kunci untuk 'sukses' dalam bermusik. Bukan soal seberapa besar panggung yang dinaiki, atau seberapa banyak merch yang terjual. Jangan-jangan bukan soal berapa banyak followers di medsos band kalian, tapi seberapa loyal mereka menyukai musik kalian. Jangan-jangan...

"Kang... Jadi apa jawabannya untuk sukses ngeband?" tanya teman saya kembali, sambil membuyarkan lamunan pikiran saya yang kemana-mana. Saya lupa, saya masih harus menjawab pertanyaan ini. Akhirnya satu-satunya jawaban yang terpikir oleh saya adalah:

"Aduh maaf. Jangankan kamu, saya saja tidak tahu jawabannya apa. Nanti kalau sudah ketemu jawabannya tolong kasih tahu saya juga yah."

*Foto oleh Rigel Haryanto dan Rendha Rais, diambil dari akun Instagram penulis

3 COMMENTS
  • juangpratama

    Mantap...

  • Damascus29

    BETUL !!!!

  • miftahariss15@gmail.com

    ntabs

Info Terkait

superbuzz
117 views
superbuzz
224 views
superbuzz
175 views
superbuzz
248 views