FRESH SOUND: Kiat Alyuadi 'Heals' Menciptakan Karya Fresh di era Daur Ulang

“Good artists copy; great artists steal.” – Pablo Picasso

Bukan, saya bukan mendorong kita sebagai seniman/musisi untuk mencuri karya musisi lain. Namun di era saat banyak sekali musik yang lalu-lalang di berbagai channel musik, besar kemungkinannya kita mendengarkan track lagu yang serupa namun tak sama. Yang jadi permasalahan, adalah bagaimana musik yang kita angkat bisa tetap relevan di antara ratusan juta lagu yang hilir-mudik setiap tahunnya. Bagaimana caranya kita bisa “mencuri” esensi dari suatu track yang menginspirasi, tanpa tenggelam menjadi plagiator.

 

SIAPKAN INSPIRASI

Banyak sekali tolak ukur yang bisa membuat musik menjadi fresh atau tidak. Tetapi di era sekarang, musik yang dicap fresh pun hampir tidak lepas dari daur-ulang. Tinggal bagaimana caranya penggubah meracik setiap inspirasi dan menciptakan track lagu yang “seakan” terdengar baru. Sudah pasti setiap orang – khususnya komposer musik – di era sekarang mendengarkan berbagai musik. Tentunya sangat tidak mungkin kita menutup kuping dari berbagai jenis musik yang berkumandang di radio. Hanya saja, sejauh mana kita memilih musik mana yang sengaja (ataupun tidak sengaja) kita dengarkan dapat menginspirasi atau menjadi referensi dalam membuat komposisi musik.

Tentu saja dalam berkarya saya tidak memaksakan diri untuk selalu disebut “segar”, tapi saya juga tidak bisa menyangkal kalau kalau saya terinspirasi oleh sound yang sudah ada. Karena sudah pasti saat penikmat musik mendengarkan track yang kami hasilkan, sebagian pendengar mungkin akan teringat dengan band, lagu, atau karakteristik musik tertentu. Dan sudah pasti tidak asal jiplak dalam membuat sebuah komposisi.

Dengan banyaknya playlist musik baru yang didengarkan lewat berbagai channel musik – seperti Spotify, Youtube dan lainnya, artinya banyak juga referensi musik yang saya dengar. Secara tidak langsung membuat saya dapat memilah-milih mana jenis musik yang seru untuk diadaptasi, mana yang tidak. Biasanya referensi musik tersebut membuat saya bersenandung nada-nada acak saat beraktivitas, yang akan saya rekam dengan ponsel dan nantinya akan saya jadikan landasan untuk aransemen musik. Barulah kemudian saya lengkapi dengan bunyi instrumen.

Namun terkadang saya juga bisa merasa stuck dalam proses berkarya, bisa karena karakter preferensi musik sudah terlalu banyak yang didengar, atau keberhasilan musik sebelumnya menjadi ‘standar’ dalam berkarya. Secara tidak langsung menciptakan batasan dan membuat saya tidak berani atau segan untuk mengolah musik baru. Singkat kata, saya memilih lebih baik untuk menghindari standarisasi tersebut.

Idealnya seorang komposer memiliki perpustakaan musik, bisa dengan menyisikan 50% kapasitas hard-drive untuk file audio musik serta setiap hari mencari musik baru melalui situs streaming musik. Manfaat dari kebiasaan ini, kita dapat menciptakan 1 track spontan dengan menciptakan melodi yang mungkin terinspirasi dari referensi musik yang sebelumnya kita kumpulkan.

 

SAATNYA PRODUKSI

Setelah menciptakan beberapa lagu, tantangan selanjutnya ada di usaha mengkurasi track mana yang nantinya terpilih untuk diproduksi. Akan ada banyak pertimbangan, mulai dari mana yang jadi track favorit saya pribadi, apakah sudah mewakili keinginan personel lain, hingga pertimbangan apakah track tersebut dapat diterima jutaan kuping pendengar atau bahkan dapat menghasilkan jutaan rupiah. Hehehe. Oleh karena itu, saya dan teman-teman sangat selektif dalam memilah lagu-lagu yang benar-benar kami inginkan dengan berbagai pertimbangan.

Di tahap selanjutnya, yaitu proses produksi dengan rekaman, mixing, dan mastering menjadi penentu atas hasil track lagu yang telah dirancang akan terdengar. Langkah memilih alat-alat yang akan digunakan saat rekaman juga dapat mempengaruhi karakteristik sound yang akan dihasilkan. Sementara saat proses mixing, tentunya peran sound engineer sangat penting dalam menemukan sound serta karakteristik lagu yang bisa mewakili visi dari sang musisi. Walau pada akhirnya, biarkan sentuhan ajaib sang sound engineer yang berkreasi untuk menciptakan hal-hal baru lewat track kita.

Saat proses produksi rampung, inilah pembuktian track lagu yang selesai diproduksi untuk dikonsumsi telinga para pendengar musik. Lewat tahap inilah kita bisa mendapatkan input dari para pendengar untuk proyek selanjunjutnya. Secara tidak langsung langkah ini akan menentukan bagaimana pendapat publik, positif atau negatif. Walau bisa saja track yang sudah diproduksi dengan maksimal tidak akan mendapatkan respons yang efektif jika didengarkan oleh pendengar pasif. Barulah saat kita mendapatkan banyak respons dari para pendengar aktif, yang rela meluangkan waktunya untuk menelaah track kita, kita dapat mendapatkan bahan untuk menciptakan track ‘segar’ ke depannya.

 

Sesungguhnya musik yang dicap ‘segar’ adalah perkara relatif. Bukan tidak mungkin track lagu yang sudah saya buat dengan anggapan fresh dan benar-benar baru, ternyata bertolak belakang dengan anggapan para pendengar. Kembali ke referensi, inspirasi, proses produksi (rekaman, mixing, mastering), dan cara penyebaran, para musisi harus selangkah lebih maju dari pendengar. Kesimpulannya, agar musik saya/kami bisa selalu fresh di era daur ulang ini, mungkin salah satu caranya adalah mengerti apa yang pendengar harapkan namun tetap memberikan sejumput sound unik yang mungkin tidak dimiliki musisi lain. Seperti frasa sang pelukis legendaris Pablo Picasso, mungkin makna sesungguhnya adalah seorang seniman yang hebat sudah seharusnya bisa “mencuri” inspirasi ataupun cara berkarya dalam menciptakan karya yang benar-benar baru. 

2 COMMENTS
  • victoria

    Giid song

  • reggy

    Good song

Info Terkait

supernoize
6597 views
supernoize
4085 views
supernoize
3812 views
supernoize
9267 views
supernoize
2598 views