Kimun666: HELLSHOW 2015: KEEP IT IN A FAMILY \M/

  • By: Kimun666
  • Rabu, 23 December 2015
  • 10946 Views
  • 1 Likes
  • 0 Shares

Adalah November 2015, ketika Eben menelpon saya dan mengajak untuk bermain bersama Burgerkill di sebuah konser reunian 20 tahun Burgerkill di Hellshow 2015. Yang pertama kali terlintas oleh saya adalah seriuskan ajakan ini? Namun saya tahu Eben sangat serius. Seingat saya, sejak Eben merilis film dokumenter 17 tahun perjalanan Burgerkill, We Will Bleed, The Movie, Januari 2012, cita-cita untuk bernostalgia reunian sudah Eben gulirkan. Ia  berkisah, Burgerkill saat itu sudah berjalan sedemikian jauh dengan begitu banyak pencapaian spektakuler yang tercapai. Namun ia merasa ada banyak mata rantai yang menjadi kabur dalam perjalanan Burgerkill, baik dalam orientasi yang harus dituju, mau pun di rel perjalanan grup ini.

Ini terjadi baik di dalam internal keluarga besar Burgerkill mau pun di ranah pecinta musik dan pergerakan kreatif Burgerkill. Di ranah yang lebih luas ia melihat bagaimana anak-anak muda tidak sepenuhnya paham dengan apa yang dilakukan Burgerkill. Dan pemahaman ideal dalam pemikiran Eben, hanya bisa diberikan melalui sebuah karya atau pertunjukan yang memuat sisi kesejarahan. Saat itulah wacana reunian mulai digulirkan. Lebih jauh Eben sempat mengutarakan keinginannya untuk membuat sebuah album back to roots di mana Burgerkill memainkan musik-musik yang selama ini membentuk Burgerkill baik secara musikalitas maupun secara ideologi.

Dalam Hellshow 2014, wacana konser reuni kembali bergulir. Namun demikian saat itu banyak sekali yang harus dilakukan oleh Burgerkill. Dalam perayaan 19 tahun ini, Burgerkill berpameran artefak yang memamerkan berbagai hal berkaitan dengan pencapaian 19 tahun Burgerkill, dan yang paling penting adalah merilis buku foto dan DVD Spit The Venom Tour 2013. Buku ini disusun oleh kru Burgerkill, kita kenal dengan nama Hell Crew, kalau dulu namanya Homeless Crew.

Peluncuran buku ini semakin menegaskan begitu pentingnya peran kru dalam perjalanan Burgerkill dan juga menguatkan perhatian Burgerkill atas pendokumentasian serta peran artefak sejarah dalam membangun sebuah ranah musik. Sepanjang penggarapan Hellshow 2014, sering kali Eben mengutarakan keinginannya untuk menghadirkan para personil lama Burgerkill dalam sebuah konser.

Barulah dalam Hellshow 2015, wacana reunian Burgerkill ini digarap semakin serius. Sejak November 2015 seluruh personil Burgerkill dari tahun 1995 dihubungi dan berkumpul di studio Burgerkill untuk membicarakan Hellshow sebagai sebuah konser reuni. Adalah ide Eben untuk menggarap susunan lagu yang dimainkan berdasarkan sejarah perjalanan Burgerkill. Harapannya, Hellshow 2015 akan menjadi sebuah rekonstruksi sejarah 20 tahun perjalanan Burgerkill dalam sebuah konser yang padat selama 1,5 jam. Disusunlah repertoar enam lagu pertama dari album Dua Sisi di mana saya, Eben, Toto,dan dibantu Vicky tampil membuka konser.

Pertunjukan lalu diteruskan dengan masuknya Ugunk pada gitar dan Andris pada bass di dua lagu dari album Berkarat, dan dua lagu selanjutnya masih dri album Berkarat, Agung masuk menggantikan Ugunk. Usai 10 lagu dua album Dua Sisi dan Berkarat, mulailah Andris pindah ke peranti drum dan bass diisi Ramdhan—personil Burgerkill yang kini dikenal luas oleh ranah musik metal Indonesia. Burgerkill memainkan lagu-lagu dari album Beyond Coma And Despair, Venomous, serta lagu cover “Air Mata Api” dari Iwan Fals dan konser ditutup dengan “Undefeated”, singel terakhir Burgerkill yang dirilis pada Hellshow 2014. Burgerkill juga mengundang Yuli Jasad, sosok yang di tahun 1990an sangat banyak membantu Burgerkill. Yuli Jasad bermain dobel bas bersama Ramdhan di lagu “Atur Aku”.

Adalah sebuah kebanggaan bagi saya untuk kembali tampil bersama Burgerkill. Sejak terakhir tampil bersama Burgerkill tahun 2000—15 tahun yang lalu—saya sama sekali tidak pernah membayangkan bisa kembali berada di sana bersama Eben dan Toto. Siang dan malam saya mempersiapkan diri mempelajari lagu-lagu Dua Sisi. Saya meminjam bass milik Agung dan memainkan lagu-lagu yang akan saya mainkan nanti, setiap hari saat bangun tidur dan sebelum tidur sesempat saya. Semalam menjelang Hellshow 2015 saya merasakan gugup yang semakin hebat. Saya tak bisa tidur dan terus berlatih sendiri sepanjang malam.

[pagebreak]

Benar memang Burgerkill adalah band saya, band yang saya dirikan dan sepanjang 15 tahun ini saya terus intens berhubungan dengan Burgerkill dan membuat karya-karya bersama mereka, terutama bersama Eben. Namun keberadaan Burgerkill 2015 dengan 1995 bagi saya sudah jauh berbeda. Band yang saya dirikan bersama Eben di ruang Bimbingan Penyuluhan SMAN 1 Ujungberung ini kini sudah menjelma menjadi sosok yang demikian besar baik dalam musikalitas, teknologi, seni petunjukan, mau pun pergerakan sosial.

Kegugupan ini juga ditambah dengan keistimewaan Hellshow itu sendiri. Festival ini merupakan festival sangat eksklusif yang menampilkan sedikit band yang dipilih langsung oleh pihak Burgerkill. Tak hanya masalah musikalitas yang menjadi acuan utama Burgerkill dalam memilih band-band yang tampil di Hellshow, namun jugabagaimana band-band ini bisa berhasil memberikan hal yang baik bagi ranah musik secara umum. Karena itu, mereka yang tamil di Hellshow merupakan band-band yang luar biasa. Hellshow juga istimewa karena festival ini merupakan satu-satunya di Indonesia yang digelar atas inisiatif sebuah band atau musisi. Bahkan di dunia pun hanya beberapa kita bisa mencatat festival yang digelar atas inisiatif band atau musisi. Mungkin beberapa di antaranya adalah Ozzy Osbourne dengan Ozzfestnya, Megadeth dengan Gigantournya, Slipknot dengan Knotfestnya, dan kini ada Burgerkill dengan Hellshownya.

Hellshow 2015 menampilkan hanya sembilan band yaitu In Place of Hope, Hellcrust, Jeruji, The Dissland, Beside, Fraud, Turtles Jr., Jasad, dan Burgerkill. Selain itu, Hellshow 2015 juga memperkenalkan gitar merk Chronic Guitar yang akan dimainkan Eben di beberapa lagu di konser nanti. Gitar ini dibuat atas kerja sama Eben dengan Genta, pabrikan lokal gitar legendaris asal Ujungberung yang sudah ada sejak saya kecil. Chronic Guitar tentunya bisa jadi menjadi satu brand lain yang mengkapi daya dobrak Burgerkill di ranah ekonomi kreatif.

Ketika akhirnya malam tiba dan konser Burgerkill sebagai band penutup Hellshow 2015 dimulai dan sampling Adam Koil beberapa detik lagi akan usai, tanda intro “Heal The Pain”, lagu pertama di Hellshow 2015, yang diawali oleh bass saya, harus segera dimainkan, perasaan gugup dan beban perlahan terbang jauh dan saya bermain dengan lepas. Tak bisa dilukiskan bagaimana perasaan saya kembali bermain bersama Eben dan Toto, serta Vicky yang memakai wig, topeng kumis jenggot putih dan sudah saya aggap Ivan Scumbag saja waktu itu, yang jelas saya menjadi sangat enjoy.

Saya tahu Burgerkill tak akan mempermalahkan apa pun mengenai musikalitas saya yang sudah menguap jauh selama 15 tahun ini, sepanjang kami berbagi spirit 20 tahun perjalanan Burgerkill di 20 menit penampilan kami. Dan di situ saya merasa sangat nyaman. I feel love, saya merasa kembali pulang ke rumah saya setelah 15 tahun saya berada di jalanan. Semua perasaan kemarin-kemarin, kegugupan yang berlebihan, dan beban yang saya rasakan beberapa hari sebelumnya  ternyata salah dan tidak seharusnya saya baperkan. Saya merasa 20 tahun lebih muda.

[bacajuga]

Usai enam lagu, saya harus kembali ke belakang panggung dan posisi saya kemudian digantikan Andris dalam konser. Hingga konser usai saya terus bertahan di sisi panggung dan menikmati semua pergelaran yang disuguhkan Burgerkill dalam konser reuni ini. Luar biasa, batin saya. Perasaan, tak ada dalam sejarah musik metal Indonesia sebuah band yang mampu menyuguhkan sebuah pertunjukan yang merekonstruksi kronik-kronik bersejarah 20 tahun sebuah band secara relatif lengkap dan mampu membangun satu atmosfer yang paling penting di mana Burgerkill sangat membumi dengan budaya Indonesia : kekeluargaan. Memang, setelah 20 tahun, keberadaan Burgerkill tak hanya merepresentasikan hanya sebuah band, namun lebih jauh dari itu, sebuah keluarga besar di mana di dalamnya semua memiliki satu dengan lainnya dan saling mengembangkan.

Dalam akun resminya, dua hari usai Hellshow 2015 Eben menulis mengenai Burgerkill, “Bagi saya Burgerkill bukan sekedar sebuah band, kami adalah keluarga yang saling menginspirasi satu sama lain dalam banyak hal.. Mereka yang datang dan pergi di band ini baik personil atau crew adalah bagian sejarah penting yang tidak mungkin dilupakan. Tidak ada istilah mantan, karena di Burgerkill pergantian hanyalah sebuah pertukaran tugas saja.. Kami tetap bisa berkumpul dan bersinergi walaupun tidak selalu bersama. Meskipun Alm. Ivan tidak lagi berada di antara kami, namun spirit-nya akan selalu tertanam baik dalam hati.. Terimakasih teman2 semua atas segala apresiasinya, semoga momen perayaan 20 tahun karir bermusik bersama para sahabat yang berdedikasi tinggi menjadi semangat baru bagi Burgerkill untuk tetap terus berkarya.. Aminnn.. I love you guys!!

Saya sunguh beruntung memiliki keluarga besar ini. Tak masalah di mana saya berada sekarang—di atas panggung atau di jalanan—saya tetaplah Burgerkill, tetaplah bagian dari keluarga besar ini. Just keep it in a family \m/

 *Penulis adalah musisi, dokumenter, dan rekreasioner. Mendirikan Burgerkill tahun 1995 dan kini bermain musik bersama Karinding Attack, The Devil And The Deep Blue Sea, Nicfit, dan Sonic Torment.

Foto: Adjie, Yuda, Yunda

 

 

1 COMMENTS
  • Mipox

    Sukses selalu http://mipox.heck.in/survive.xhtml

Info Terkait