Teenage Death Star

Kisah Sertifikasi Band Slebor Tanpa Skill

  • By: Alvin Yunata
  • Senin, 8 April 2019
  • 2208 Views
  • 11 Likes
  • 9 Shares

Kata Pengantar

Sebuah cerita picisan banal ini seolah merefleksikan sebuah momentum besar di Indonesia. Alvin Yunata, salah satu gitaris band Teenage Death Star merefleksikan saat ia dan keempat teman-temannya menempatkan diri sebagai karakter utama. Perjalanan sebuah band berkonsep nihilis yang tidak mengindahkan norma-norma kaidah bermusik, melawan tirani lewat tindakan konyol dengan segala keseruannya. Cerita fiksi tak berfaedah yang menghibur ini memperlihatkan cara kerja mereka merespon suatu keadaan besar sesuai dengan karakter masing-masing. Selebrasi akan mimpi buruk yang berharap mampu memutarbalikkan keadaan; setidaknya kebaikan dalam bejana yang dipenuhi keburukan. Sebuah kejadian yang mungkin saja terjadi, pemikiran sederhana nan ringan dan penuturan jujur ada dalam cerita pendek ini. Tak usah terlalu serius, ini bukan hasil sebuah desertasi maupun tesis. Kisah ini adalah khayalan tanpa batas untuk mengapresiasi sebuah momen. Selamat membaca.

Cileungsi, 3 Maret 2020

- Hasmanan

Selamat Datang Mimpi Buruk, Berbahagialah Selalu

Bagi mayoritas musisi, pengesahan RUU Permusikan adalah bencana besar industri musik Indonesia. Apa mau dikata? Semua sudah disahkan oleh pemerintah, lagi-lagi rakyat dikelabui. Metodenya persis seperti UU ITE yang memakan korban Ahmad Dhani, akhirnya dia harus bertengger di dalam bui akibat kicauannya di sosial media. Saya bukan teman Dhani, tapi melihat kasusnya saya rasa UU ITE ini brengsek, pasal karet jebakan Batman. Sekarang terjadi lagi, dan sialnya kali ini lewat UU Permusikan. Saya dan beberapa teman sadar bahwa pasal-pasal jebakan ini tidak secara langsung mencari band/musisi "pembangkang", kemudian serta merta menjebloskan mereka ke bui. Pasal tersebut pastinya akan dijadikan alasan saat rezim atau segolongan orang ingin menjebak lawan dan menyeret mereka ke meja hijau. Basi!

Akhirnya keresahan itu datang, yang entah kenapa selalu saya nanti. Tanpa diminta, secara mendadak semua musisi seakan akan bahu membahu melawan dan menolak rancangan pasal ini. Musisi angkat bicara dan berteriak, memerangi atas nama keyakinan sendiri, ini kejadian keren. Saya melihat kekompakan yang tak pernah ada sebelumnya, bertahun bahkan berdekade lamanya. Serupa saat Reformasi 1998 ketika semua mahasiswa menjadi aktivis dan bahu membahu menurunkan rezim.

Jujur ada hal positif yang saya sukai, yaitu perlawanan dan, jujur, “keuntungan” kasus ini adalah revolusi musik Indonesia kembali bergairah lagi. Band-band memiliki isu penting yang disematkan di lirik, album atau lagu yang seolah menjadi sebuah pergerakan. Otomatis pergerakan ini membuat saya bergairah melihat riuhnya aktivitas teman-teman musisi lintas genre dan generasi mencoba menyuarakan hal serupa, serta semangat yang sama. Momen yang indah dan bersejarah kembali hadir di Indonesia.

Mimpi buruk? Mungkin ya tapi setidaknya ada revolusi musik baru dan Indonesia membutuhkan ini sejak dulu, sadar atau tidak. Kampanye muncul dimana-mana, dari kampus hingga tempat umum dan komunitas. Kampanye paling seru adalah "Mari penuhi bui dengan musisi!". Bayangkan bui dipenuhi teman-teman yang asyik. Indonesia memanas tapi terlihat bernas karena para musisi memperlihatkan aksi terbaiknya.

Mengendarai Monster yang Menjijikkan      

Tak biasanya hari itu grup Whatsapp Teenage Death Star begitu ramai, biasanya selayang lelucon receh tak mengenal usia yang tak pernah berfaedah yang kerap menghiasi grup ini. Tercetus sebuah ide bodoh yang brilian yang datang dari Iyo sang bassist, "Eh ikutan sertifikasi yuk?", celotehnya. Sontak semua anggota grup tertawa riuh, dan dengan cepat disambut Sir Dandy, "Boljug Yo, yuk lah, penasaran!". Tampaknya saya mencium gelagat tak becus, walau tak ada salahnya mencoba, nothing to lose. Saya menyambut, diamini Helvi dan Firman. Kontan Ivan sang manager menimpali, "Serius nih? Kalo iya gua siapin semuanya", tukasnya. "Sikat Van!", seru saya.

Perjalanan mengendarai monster pun dimulai.

Kami tahu kapasitas masing-masing, awalnya tak pernah terlintas sedikitpun untuk mengikuti ujian sertifikasi musik. Banyak teman kami bilang tak ada gunanya, atau buat apa, atau band seperti kami tak memerlukan plakat itu. Kami telah sepakat bukan itu alasan keputusan ini, ada satu petualangan yang wajib dijajal selagi mungkin. 

Ivan segera mempersiapkan segala tetek bengeknya: pendaftaran, serta segala macam dokumen persiapan dan ketentuan untuk mengikuti tes kompetensi. Mereka meminta semacam portofolio band seperti curiculum vitae, diskografi dan informasi pendukung seperti artikel media massa. Konon semuanya dibutuhkan untuk penentuan kelas, yaitu Pemula, Madya dan Pratama. Omong kosong pengklasifikasian musik bagi kami adalah selera, enak atau tidak enak, titik.

Semua tetek bengek dan dokumen yang diperlukan akhirnya diserahkan, terima kasih pada manager band paling sabar di seluruh dunia, Ivan Dharmawan.Selang kurang lebih seminggu kemudian kami mendapatkan surat, undangan Uji Kompetensi Musik telah kami terima. Acara tersebut berlangsung dua hari di sebuah hotel, akhirnya hari-hari yang dinanti telah tiba.

Hari yang Ditunggu

Kami malas hadir lebih awal karena tertera di rundown acara bahwa acara uji kompetensi ini dibuka dengan sambutan pejabat terkait ,yang sudah dipastikan berbicara keuntungan program ujian ini menurut mereka. Entah kenapa saya sedang bergairah datang lebih awal, paling tidak mewakili yang lain walaupun ini sia-sia. Beberapa wajah sering saya temui dan kenal, wajah-wajah lama saat masih menjabat sebagai editor di sebuah majalah musik. Ah, inilah biang-biangnya persatuan artis inisiator program bodoh ini, mereka berkumpul sembari tertawa terbahak-bahak. Banyak musisi yang hadir tapi mereka bukan teman-teman saya, toh keikusertaan ini hanya untuk membunuh kepenasaranan kami.

Untungnya Ivan pun hadir tepat waktu, maklum sebagai dosen ia memiliki jiwa disiplin yang tinggi. Sisanya? Jangan diharap, bisa dipastikan mereka hadir tepat sebelum makan siang. Ketua Lembaga Sertifikasi Profesi Musik (LSP Musik) naik ke podium membuka acara, dia bilang kelak sertifikasi ini bisa membantu para musisi Indonesia untuk tampil layak di panggung luar negeri. Panggung yang mana? Burgerkill tak memerlukannya saat manggung di acara festival metal bergengsi di Eropa, begitu juga bagi band pop sekelas White Shoes And The Couples Company atau Mocca. Sambutan demi sambutan dari berbagai pihak terkait terus bergulir membuat saya semakin bosan, lebih baik menunggu kawan-kawan lainnya sambil menikmati kudapan. Acara remeh temeh telah usai, ditutup oleh break makan siang sebelum ujian fase pertama mulai, di mana anak-anak brengsek ini? Tak lama batang hidung mereka muncul satu persatu dengan paras polos, dari wajah cengengesan hingga wajah bantal. Mari kita makan sebelum masuk ruang ujian.

Hari 1: Jika Kamu Memakluminya Anak Cucumu Akan Menjadi Korban Berikutnya

Sesi ini diawali perkenalan dari para asesor, katanya sih ahli seni musik, mereka memberikan petuah "jalan yang benar". Saya tidak pernah mengerti dengan teori seni musik, dari mana mereka tahu kebenaran teori itu? Bule-bule datang berabad-abad lalu ke nusantara dan katanya melakukan sesuatu yang benar.

Benar menurut siapa?

"I Don't Know What Is Right Anymore" by Teenage Death Star, track 1 on Longway To Nowhere (2008)

Para asesor duduk di meja yang menghadap peserta mengingatkan saya pada acara Indonesian Idol. Pengkelasan sudah mulai terbagi dan anehnya kami ditempatkan di Madya, padahal secara estetika skill kami jauh di bawah rata-rata. Pada saat makan siang saya sempat bertanya kepada salah seorang asesor soal pengklasifikasian itu dan mengapa kami berada di kelas Madya. Ternyata mereka menilai sepak terjang atau portofolio setiap band, "Band sampeyan sudah lama ada, malah sampeyan sempet muncul di beberapa kompilasi, walaupun hanya menelurkan satu album saja. Tapi kami melihat band sampeyan banyak diulas di media-media besar juga, empat halaman di majalah Rolling Stone", pungkasnya.

Setelah pembicaraan tersebut saya kembali menemui rekan-rekan dan bicara perihal ini, bodohnya mereka kami tertawa terpingkal-pingkal. Jujur saja, banyak teman kami tersebar dimana-mana. Kuncinya, masuk di komunitas yang pas dan benar di trek sesuai dengan karakter band, alhasil kami ada di empat halaman majalah Rolling Stone.       

Sesi pertama adalah ujian teori, kami duduk berjajar. Sesuai dugaan, semenjak soal dibagikan kami pun hanya bisa celingak celinguk. Firman hanya tertawa saja, sementara Iyo sibuk menggambar di kertas jawaban. Tak begitu jelas apa gambarnya, tapi sekilas terlihat seperti sebuah kemaluan pria raksasa bersayap. Iyo sesekali meneguk air dari tumbler berbentuk botol gepeng, tentu saya curiga karena makin lama wajahnya kian memerah, saya pun hanya tertawa.

Saya juga tidak tahu persis apa yang dilakukan Sir Dandy, parasnya tampak seperti serius sekali tapi saya yakin dia sedang melakukan aktivitas lain, entah menggambar, entah menulis tapi dapat (dipastikan) sebuah hal gila. Sementara Helvi hanya bertahan kurang dari sepuluh menit, kemudian ia keluar dan merokok disusul oleh Firman. Saya sendiri memilih mengarang bebas, membuat jawaban-jawaban yang seakan-akan benar tapi sebenarnya bualan omong kosong. Not balok? Persetan!

Hari 2: Masa Depan Itu Semakin Jauh Tak Terlihat

Hari itu kami datang lebih pagi dari biasanya, masing-masing ingin saling menonton tes praktek instrumen. Peserta ujian sertifikasi cukup membludak, waktu ujian semua serentak tapi untungnya kami masih bisa saling menengok karena antrian giliran ujian yang cukup banyak. Kami sudah bersiap menjadi tim hore Sir Dandy, yang kebetulan maju lebih dulu. Sepertinya peserta ujian vokal jumlahnya banyak dibanding instrumen lain, maklum di Indonesia menjadi biduan adalah impian banyak orang. Namun jumlah peserta wanita terhitung luar biasa banyaknya, kami memperhatikan sekeliling semua sibuk dengan persiapannya. Setelah mendapatkan pengarahan dari para asesor ternama yang vibranya rata-rata mencapai sembilan oktaf, satu persatu peserta mulai maju.

Kebanyakan peserta sepertinya adalah jebolan kursus vokal ternama, mereka cekikikan berkelompok sambil mengadu vokal lengkap dengan pembagian suaranya. Di sisi lain, ada geng para biduan dan biduanita dangdut dengan dandanan kasual tapi bagi saya tetap mencolok dan seksi. Ada lagi kelompok yang datang dari timur Indonesia, untuk kualitas suara, batuk mereka pun tak mungkin fals. Pandangan saya tertuju pada Sir Dandy, dia terduduk jongkok, sesekali menenggak dari tumbler Iyo. Katanya berisi air pengurang rasa stres. Saya hanya tertawa, No Future.

Giliran Sir Dandy masuk, keseruan pun dimulai. Sayang kami hanya bisa melongok dari jendela, suaranya tak terdengar jelas. Kami hanya bisa melihat Sir Dandy membuka mulut tanpa melepas kacamata Rayban. Pandangan saya tertuju langsung pada para asesor, sepertinya raut muka mereka kebingungan dan dan saling menatap satu sama lain. Kami tak kuat menahan tawa, tak lama pun Sir Dandy keluar ruangan, lalu saya bertanya, "Gimana?"

Dia menjawab, "Gampang ternyata Krisdayanti aja mah lewat ama gua!"

Tak banyak waktu tersisa, kami pun berlari ke hall untuk sesi ujian instrumen bass, di sana Iyo sudah duduk dengan tumbler yang sudah mulai habis. Mukanya memerah, tanpa melepas kacamata hitam dia membiarkan kancing atas kemejanya terbuka sembari ditemani Ivan yang sedang memeriksa senar-senar bassnya. Pemandangan serupa menghiasi hall tersebut, beberapa kelompok adu kehebatan skill bass, rata-rata mereka membahas bassis terkenal yang katanya hebat. Saya sendiri tak pernah  mendengar nama-nama itu.

Ada yang sibuk latihan dengan kontra bass fretless dengan memejamkan mata, "Tuh Yo sambil merem", ujar saya pada Iyo."Yoi Vin pas buka mata ruangan kosong kayaknya", tangkas Iyo sambil terkekeh. "Wah bentar lagi giliran si guah nih", Iyo berdiri dan segera berlari kecil ke arah ruangan. Lagi-lagi kami hanya bisa mengintip dari luar. Wah, Iyo tampaknya menemui lawan yang berat, ia tandem dengan bassis a la jazz fusion dengan slap maut, sementara dia setia dengan jurus andalannya: bass satu senar. Screw us!

Giliran kelas gitar, saya merasa beruntung karena ada Helvi. Kami hanya bisa pasrah, tanpa tahu apa yang akan terjadi nanti. Semua peserta seakan-akan sangat siap: ada yang berdandan seperti Slash, atau sedang fingering. Mereka sepertinya fans dari Steve Vai ataupun Yngwie Malmsteen, saya benci gitaris handal. Penjelasan singkat asesor mengenai teori dasar membuat saya mengantuk, apalagi ditambah penjelasannya yang lambat, membuat saya ingin segera keluar kelas. Di nada-nada dasar mungkin masih mudah, tapi saat memasuki "Kres" minor 7 dan bla bla bla, saya menyerah. Saya hanya bisa melongo. Sialnya Helvi tidak dalam bagian ujian ini, jadwal kami berbeda. Saya hanya diam membiarkan asesor memperhatikan ketidakpedulian saya. Lama kelamaan tes ini membuat saya kesal, tak ada yang bisa membuat saya diam di kelas. Tanpa banyak bicara, saya keluar ruangan dan tak pernah kembali. Saat saya melangkah keluar Helvi sedang menjalani tes awal, saya sudah terlalu tersiksa untuk menyemangati dia, lebih baik cepat-cepat cari makan daripada muntah di kelas. 

Setelah makan siang ada sesi terakhir, yaitu Live Session. Pasti kami akan terlihat konyol tapi masa bodoh lah. Kami diminta untuk mendaftarkan lagu yang akan dibawakan, satu lagu band/musisi lain boleh barat atau lokal dan satu lagu karya sendiri. Akhirnya kami memutuskan membawakan "Loiue Louie" dari The Kingsmen, walau sejujurnya kami lebih tertarik versi Black Flag.

"Pokoknya nanti gas aja seperti kalo kita manggung biasa", ujar Sir Dandy.

"Iyalah ngapain juga basa basi beresin aja langsung gas pol biar cepet pulang", tutup saya mengamini.

"Slonong boy!" selak Iyo.

Setelah makan siang, kami bersiap cek alat agar setidaknya tak ada masalah apa-apa saat tes. Kami patut bersyukur buat tim kru yang selalu siap membantu. Salut buat Arman, Titing dan Ivan. Jelang perform, kami sudah bersiap di luar ruangan, ingin cepat menyelesaikan semuanya dan pergi dari ujian terkutuk ini. Sudah tidak ada waktu lagi untuk grogi, kami hanya ingin cepat menyudahinya.

Akhirnya nama Teenage Death Star dipanggil untuk bersiap. Saat kami memasuki ruangan, terlihat sudah ada tiga asesor, siap menunggu dengan senyum (sok) manis. Terima kasih, tapi kami tak butuh senyum kalian. Kami mempersiapkan alat sesegera mungkin, sementara asesor kembali membacakan resume band yang kami kirim. Mereka seperti hanya membacakan ulang semua di depan kami dan sedikit bertanya basa-basi, untung saja Sir Dandy masih menjawab basa basi tersebut. "Oke lagu pertama, silahkan" ujar salah seorang asesor. Lagu "Louie Louie” langsung kami mainkan, pedal langsung saya nyalakan. Saya tidak memandang asesor sama sekali, saya anggap mereka tidak ada.

Seperti biasa Sir Dandy tetiba mengubah lirik di tengah lagu dan kamipun tak peduli. Dia semakin ngasal, sementara saya masih menahan permainan. Saya berniat menyimpan semua kegilaan di lagu kedua. Saya hanya memandang Iyo dan Firman memberi aba-aba saat lagu akan segera selesai, karena saya menjadi patokan untuk lagu kedua. Setelah "Louie Louie" selesai, saya langsung memberi aba-aba ke lagu berikutnya. Para asesor ingin berpendapat tapi tak saya beri jeda, saya hanya mengisyaratkan nanti saja.

Saya langsung memainkan intro "Absolute Beginner Terror", sontak Firman, Iyo dan Helvi menyambut seperti biasa. Pedal saya ada di volume tertinggi, dan kebetulan Firman bermain dengan tempo lebih cepat. Ini mulai mengasyikkan, saya benar-benar menunggu bagian tengah lagu saat saya menggesekkan senar gitar pada tiang mic. Waktu yang ditunggu tiba, saya gesekkan dawai gitar pada tiang mic yang membuat suara gitar semakin berisik. Terlihat ketidaksukaan di raut wajah asesor, inilah yang saya nantikan.

Saya makin menggila, teman-teman makin liar. Saya mulai membanting gitar ke stand mic dan melompat berdiri di atas bass drum Firman. Sir Dandy sudah terkulai dilantai, saya segera melompat menyudahi lagu dengan membanting gitar. Para kru sudah berlari masuk untuk mencabut semua alat. Saya berlari keluar tak mempedulikan kehadiran asesor, karena saya sudah tahu mereka tidak akan mengerti dan menyukai semua hal yang kami perbuat. Kami langsung menuju parkiran, hanya ada canda tawa untuk menutup hari yang lelah ini, saat keringat membasahi sekujur tubuh walaupun kami hanya memainkan dua lagu.

Hari Ini, Kemarin dan Esok Sama Saja

Satu minggu telah berlalu. Jujur kami semua sudah melupakan ujian kompetensi musik. Kami pun tak peduli saat selang beberapa hari kemudian hasil ujian menyatakan kami “TIDAK LULUS”. Namun, siapa peduli? Tak ada satu pun dari kami yang peduli. Sia-sia? Tentu tidak, karena memang kami ingin mengikuti ujian tersebut. Terbukti bahwa ujian tersebut memang bukan untuk kami. Sampai pada suatu hari, Ivan mengabari kami di grup dan tiba-tiba memberikan hasil scan selembar kertas sertifikat kompetensi dalam bidang musik.

Sontak kami bertanya padanya, "Van lu gila? Lu malsuin surat?" tanya saya.

Dia pun tertawa, "Nggak kok ini asli, udah yah terbukti ternyata kalian lulus," ujarnya.

"Bagaimana ceritanya?" tanya saya.

"Ceritanya panjang sih tapi pendek, saya ketemu orang yang bisa buat surat ini, jalur belakang," pungkasnya cepat.

Sontak kami tertawa terbahak-bahak. Ternyata seonggok kertas ini masih bisa didapatkan lewat cara "di bawah tangan."

Saya sampai lupa, ini kan negeri dongeng yang selalu menjadi negeri yang menyenangkan, selalu ada yang bisa dilawan dan diakali. Sedih? Mungkin ya atau mungkin tidak, hanya bagaimana cara kita memandangnya. Negeri yang dinamis ini tidak pernah membosankan, selalu ada yang bisa kita lawan setiap harinya.

"Sexy country where are you ? Come or run ?

But I saw your steps deep underground

That is why I know your direction, I follow you

Look those leaves are falling from that yellow trees

But the peacock dog will make it clean. Could it ?

That is why I know your fantasy right here

Peacock dog where are you , peacock dog where are you ?"

The Gang of Harry Roesli – “Peacock Dog”, The Philosophy Gang (1973)

1 COMMENTS
  • dephythreehandoko

    TDS

Info Terkait

supernoize
3301 views
supernoize
2437 views
supernoize
5939 views
supernoize
7254 views
supernoize
5476 views