Kuping sebagai indera pendengaran dan esensi manusia untuk mendengarkan

  • By: Rektivianto Yoewono
  • Senin, 31 August 2015
  • 6197 Views
  • 1 Likes
  • 0 Shares

Untuk menikmati dan menangkap bebunyian manusia tentunya membutuhkan telinga yang sehat untuk mendengarkannya. Apalagi mencerna musik dengan baik apalagi musik beraliran keras, maka kitapun perlu dengan bijak menggunakan dan memperlakukan telinga kita.

Sebagai manusia kita telah dianugrahi lima jenis indera untuk menghubungkan diri kita dengan lingkungan sekitar. Indera pendengaran merupakan salah satu nya yang menjadi kebutuhan dasar sebagai manusia sempurna.

Pada tulisan sebelumnya saya telah mengajak kalian untuk mulai mendengarkan, menyimak dan merasakan. Apakah itu mungkin untuk dilakukan? Apakah kita tahu cara untuk melakukannya? Apakah kita punya kemampuan untuk mendengarkan dan menelaah kemudian merasakan apa yang kita dengarkan? Begitu banyak pertanyaan yang muncul, namun pertanyaan paling besar adalah apakah kita sudah menggunakan indera pendengaran dengan semestinya?

Dalam upaya mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tadi, saya akhirnya mendapatkan sebuah ide untuk membuat percobaan iseng. Percobaan ini berupa sesi tanya-jawab dengan orang terdekat saya, di mana saya akan menyebutkan beberapa kata secara acak dan orang terdekat saya tersebut diminta untuk mendeskripsikan apa yang muncul di dalam benak mereka secara spontan setelah mendengar kata tersebut. Mungkin kalian juga bisa ikut mencoba menjawabnya.

Ada pun beberapa kata yang saya sebutkan adalah sebagai berikut;

  1. Kucing
  2. Kuda
  3. Kentut
  4. RX King

Berikut ini adalah hasil percobaan terhadap orang-orang terdekat saya;

  1. Kucing

Semua orang terdekat saya memberikan jawaban mengenai penampakan seekor kucing di dalam benak mereka.

  1. Kuda

Pertanyaan ini juga memberikan gambaran seekor kuda di dalam benak mereka, tetapi dalam bentuk yang berbeda-beda. Ada yang menggambarkan seekor kuda sedang berlari, ada yang menggambarkan muka kuda yang di-zoom di bagian mulut. Walaupun gambaran yang ada di benak mereka berbeda-beda, semua orang setuju bahwa sosok seekor kuda yang muncul secara spontan.

  1. Kentut

Kata ini agak sedikit berbeda dengan dua kata sebelumnya. Ada yang mendapati gambaran sesorang sedang dalam posisi melakukan kentut, ada juga yang langsung teringat akan bau kentut.

  1. RX King

Sama seperti kata kentut, kata ini memberikan jawaban yang beragam. Ada yang membayangkan sebuah motor, ada juga yang membayangkan sebuah bunyi motor yang berisik.

Bagaimana dengan jawaban kalian? Apa yang terlintas di benak kalian saat mendengar kata-kata tersebut? Mungkin kalian masih bingung mengenai tujuan saya menyebutkan kata-kata random seperti di atas. Namun jika diperhatikan, kita bisa melihat beberapa pola pada jawaban yang didapatkan.

Kucing dan kuda adalah makhluk hidup yang tidak asing bagi kita semua karena keberadaan mereka begitu dekat dan hadir di lingkungan sekitar kita. Hampir semua orang yang saya tanyakan, mengasosiasikan kata kucing dan kuda dengan citra atau bentuk visual dan penampakan khas nya. Padahal kedua makhluk ini juga memiliki dan menghasilkan suara yang sangat khas. Nah sekarang kamu baru ingat sama suara kucing dan kuda bukan?

Berbeda dengan kucing dan kuda, kentut adalah sebuah zat yang kita hasilkan melalui proses pencernaan, tidak berwujud dan tidak tampak, hanya berbau dan berbunyi (kadang-kadang). Tetapi yang menarik adalah hasil percobaan iseng ini menunjukkan bahwa kebanyakan orang lebih mengingat bau kentut ketimbang bunyi kentutnya.

Sekarang mari kita tinjau RX King, yang merupakan makhluk mati, tetapi layaknya kucing dan kuda, sama-sama memiliki bentuk yang khas, juga menghasilkan bunyi yang khas dan kencang tentunya. Kebanyakan dari orang yang saya tanyakan setuju bahwa mereka langsung teringat akan suara knalpot RX King yang bising.

Otak kita akan mencoba mengartikan semua informasi yang diterima melalui indera, kemudian menyimpannya ke dalam memori dalam bentuk yang mudah dimengerti oleh otak. Oleh karena nya, pengartian sebuah informasi akan sangat berbeda-beda (subjektif) dan tergantung dari pemahaman otak masing-masing.

Hasil pengamatan dari percobaan ini secara tidak langsung menyatakan bahwa manusia sangat tergantung dari informasi yang diterima dari indera pengelihatan. Hal tersebut dibuktikan oleh jawaban saat mendengar kata kucing dan kuda. Sedangkan untuk kata kentut, kebanyakan orang menyimpan memori mengenai kentut dari hasil penciuman. Hanya pada kata RX King lah sebagian orang menyimpan memori mengenai kendaraan tersebut dalam bentuk bebunyian.

Mengapa hal ini terjadi pada kebanyakan orang? Jawabannya mungkin terletak kepada kebiasaan kita untuk melihat dari pada mendengarkan. Hanya saat sebuah objek tidak memiliki bentuk seperti kentut lah indera selain pengelihatan diberi kesempatan untuk berbicara pada otak, itu pun indera penciuman bukan indera pendengaran. Nyata nya indera pendengaran baru akan diberi kesempatan untuk berkomunikasi dengan otak saat sebuah objek menghasilkan suara yang sangat bising. Terlalu bising untuk tidak dihiraukan. Seperti RX King ataupun AK47 (saya sempet memberikan kata itu pada beberapa orang), barulah otak manusia merespon indera pendengaran dan menyimpan nya dalam memori. Dengan kata lain orang-orang disekeliling saya sangat tergantung pada pengelihatan mereka dan baru akan menggunakan indera pendengaran mereka saat suara dari objek nya sangat keras.

Apakah ini sebuah indikasi dari budaya kita yang tidak peka saat mendengarkan? Akan kah semua orang baru mau mendengarkan saat objek nya mengganggu pendengaran, atau saat lawan bicara kita berbicara dengan kencang atau cerewet atau menyebalkan. Kalau indikasi ini benar, saya khawatir bahwa indera pendengaran kita hanya terasosiasi dengan emosi kekesalan, kemarahan, arogansi, layaknya saat kita mendengarkan suara knalpot RX King.

Jika kalian setuju dengan kesimpulan prematur ini, mungkin ini saat nya mulai melatih indera pendengaran kalian. Mulailah akrabkan otak kalian dengan indera pendengaran. Mulai pejamkan kan mata dan perhatikan semua bebunyian yang ada di sekitar kalian. Mulailah mendengarkan musik favorit kalian tanpa melihat citra dan penampakan musisi nya. Mulai lah mendengarkan pembicaraan orang lain sebelum memberikan opini kalian. Mudah-mudahan kalian bisa mulai menangkap detil-detil suara, layaknya saat kalian memperhatikan sebuah lukisan atau foto, layak saat kalian melihat raut muka seseorang atau gesture seseorang. Mudah-mudahan kalian bisa mulai menangkap emosi dan makna di balik suara-suara itu. Dengan begitu barulah kita bisa menggunakan telinga sebagai indera manusia seutuhnya.

 

Foto : tesladream.tumblr.com

0 COMMENTS

Info Terkait