Malang Emo Revival: Gelombang Pembaharu Post-Hardcore di Timur Jawa

Memasuki 2000-an akhir dan 2010-an, emo/post-hardcore mulai mengalami fase yang disebut emo revival. Sebuah fase yang ditandai dengan maraknya movement band yang menggali kembali kearifan elemen musik dari masa-masa indie-emo/post-emo 90-an bahkan Revolution Summer 1980-an, di mana elemen fashion dikesampingkan dan musik lebih diutamakan, meninggalkan cengkok ‘merengek’ yang marak di era emo 2000-an. Band-band seperti American Football, Braid, maupun Cap’n Jazz seperti revived atau bangkit kembali karena popularitas yang mendadak kembali meroket sejak tahun 2008-an.

Midwest emo, sebuah sebutan bagi band-band tersebut, mengimplementasikan elemen ketukan math-rock yang ganjil, terompet dan elemen jazz. Basically midwest emo adalah pop-punk yang kebetulan lahir di daerah Midwest, Amerika Serikat, atau tepatnya di Chicago, Illinois, dengan berbagai variasi elemen yang saat itu bisa dianggap mendahului zamannya.

[bacajuga]

Meloncat 20 tahun ke depan dan berjarak 14.440,78 KM jauh dari pantai barat Amerika ke tepat di timur pulau Jawa, yaitu Malang, emo revival mulai mendapat perhatian kembali sejak munculnya Write The Future sebagai band pop punk yang memasukkan sound dari band emo revival Into It Over It, diramu dengan keras-tapi-heartfelt-nya Knuckle Puck dan The Story So Far. Lalu Shewn dengan ramuan galaunya Prawn, Foxing, spoken word ala La Dispute dan ambience dari Being As An Ocean. Dan terakhir Beeswax yang kental akan elemen math dari Mock Orange, Braid dan syahdunya American Football. Tiga nama berpengaruh yang membawa nama Malang terkenal dengan emo revival-nya itu mendadak menjadi pemicu untuk banyak band tercetus membentuk band emo revival dan bahkan berubah haluan menjadi emo revival. Tapi apakah emo revival di Malang ini terjadi begitu saja atau karena tren? Untuk itu kita perlu mundur beberapa tahun ke belakang, tepatnya 2007.

Early Years

Menurut salah satu narasumber dan salah satu scenester emo Malang, yaitu Andrean Giovanni, emo di Malang sudah masuk sejak 2001-an, ketika band-band seperti Finch mulai memengaruhi muda mudi skena Malang. Namun pengaruh ini baru mulai terlihat dalam bentuk band sekitar dua tahun kemudian. Band-band seperti Kill My Hero, Evil By Envy, Son Of Sundance, Kids Next Door dan Take This Life mulai muncul di poster-poster acara underground kota Malang. Para anggota dari band-band ini juga tidak melulu bermain di band-band emo saja, tapi juga band-band metal, punk maupun hardcore di Malang.

Kebutuhan untuk pentas dengan satu semangat dan satu tema pun mulai muncul. Akhirnya setelah sering nongkrong di kafe di sekitar Samantha Krida, yaitu Café Maleo, muncullah ide untuk membuat satu gig tematik emo berjudul Hearts To Be One Heart pada 10 Juni 2007 dibawah kolektif Flying Nightingale. Gig ini juga mengumpulkan band-band yang berpartisipasi melalui demo submission. Kemunculan kolektif ini juga bukan tanpa rintangan, karena saat itu masih awal tahun 2007 dan masih ada xenophobia terhadap elemen fashioncore mereka. Ancaman maupun kerusuhan bermunculan mewarnai sesi band terakhir gig mereka oleh oknum tak bertanggung jawab. Akhirnya Hearts To Be One Heart menjadi acara pertama dan terakhir yang tematik untuk Flying Nightingale, selebihnya kolektif mereka dihubungi untuk undangan perwakilan band agar ikut serta pentas di event antar kota seperti event Blood Brothers.

Studio gig juga menjadi pilihan sejak Hearts To Be One Heart vakum, seperti penuturan Raditia Putra ex Mocking My Friend yang mengaku terinspirasi Underoath, yaitu studio gig di bilangan Cengger Ayam maupun café seperti Cinemax Sawojajar yang dahulu masih sangat support untuk dipakai gig. Setelah beberapa tahun tidak ada kejelasan untuk terjadinya acara sekuel, band-band yang pernah berpartisipasi pun mulai menemukan aktualisasi di sound-sound baru dan identitas baru seperti deathcore maupun metal, kecuali band-band seperti Kids Next Door, Son of Sundance, dan Take This Life. Band-band emo di Malang pun jarang yang mempunyai rilisan fisik kecuali Take This Life, Ceremonial Victory, Son of Sundance, dan Ballad For Romantic, sedangkan Kids Next Door bisa ditemui di kompilasi-kompilasi yang beredar di saat itu. Band-band tersebut, menurut Yogi Yudo dari Leftover, mengedarkan rekaman mereka secara self-released yang dilabeli sendiri dengan nama record label sendiri, salah satu bukti bahwa semangat DIY sangat kental di Malang.

Keberadaan kolektif Flying Nightingale bisa dibilang redup sampai medio 2010-an. Namun seakan menolak redup, tahun 2012 kolektif Flying Nightingale kembali bangkit sesaat bertepatan dengan momen Underoath bubar untuk membuat acara tribute to Underoath. 

Media Influences

Emo dengan musik dan segala elemen kulturalnya datang ke Indonesia melalui majalah Alternative Press yang ada di seksi majalah impor di toko-toko buku besar di Indonesia. Namun jasa terbesar ada pada dua media yaitu internet dan televisi satelit. MTV yang gencar-gencarnya mempromosikan band-band seperti My Chemical Romance, Cute Is What We Aim For, Dashboard Confessional dan Fall Out Boy menjadi pilihan di antara keterbatasan informasi di Malang awal tahun 2000-an. Walaupun MTV memberikan keberlimpahan informasi, ternyata tidak semua bisa mengakses layanan parabola atau televisi kabel yang saat itu sangat mahal. Masuklah era digital di mana Internet masih muda dan warnet-warnet dengan kecepatan tinggi masih jarang.

Menurut Andrean Giovanni, pilihan utama ada di Prima Net. tak hanya download lagu-lagu yang sudah di-list sebelumnya, layanan streaming YouTube juga menjadi sumber untuk asupan gizi kultural. Selain itu social media purba seperti Myspace yang marak digunakan emo kids kala itu menjadi opsi untuk membangun jejaring tour dan relasi. Selain itu, peran hacker amatir di kalangan pelaku musik independen di Malang juga besar. Dengan hacking skill yang minimum, impor majalah musik luar negeri dan rilisan band-band emo idola menjadi terjangkau, bahkan dengan budaya sharing yang kuat, teman-teman yang ada di lingkaran tersebut menjadi punya akses untuk produk-produk budaya tersebut.

Untuk generasi emo revival seperti Eki Darmawan dari Shewn maupun Rizki Satoto dari Mansfield, layanan streaming yang begitu terjangkau di ponsel menjadi sebuah oase setelah era keterbatasan speed internet di dekade 2000-an awal. Dengan streaming, tak hanya band idola yang bisa dinikmati, akan tetapi untuk kebutuhan bermusik, fitur similar artist dan diskografi yang lengkap membuat mereka menjadi lebih eksplor.

Andrean Giovanni sebagai musisi yang terjun hampir dua dekade di skena musik Malang pun juga menyadari hal itu. Namun dia melihat dari sisi referensi, bahwa dengan layanan seperti itu perbendaharaan musiknya sedikit terbantu untuk menjadi lebih mengakar atau nge-roots. Seakan menjadi elemen yang tak terpisahkan bahwa perkembangan emo di akhir 90-an sampai 2010 tak bisa dipisahkan dari peran internet. Bahkan menurut Andy Greenwald di bukunya, Nothing Feels Good: Punk Rock, Teenagers and Emo (2003) bahwa di antara siklus musik emo yang tak berkesudahan, internet menawarkan jalan keluar dan jalan ke depan: sebuah medium yang menghubungkan basement ke panggung besar dan individu ke komunitas (Greenwald, 2003, p. 58).

Foto: Yogi dan Andre

Internet telah mengubah wajah musik punk, yang dulunya didominasi oleh regionalitas, kini menjadi sesuatu yang sama sekali baru dan belum terjelajah; sebuah subkultur nasional, didominasi dan ditentukan oleh orang-orang yang terlalu muda untuk didengar dan terkenal, namun cukup cerdik untuk membuat keberadaan mereka dirasakan (Greenwald, 2003, p. 58).  Dengan Internet, para remaja mempunyai sebuah "perkakas emo tercanggih", sebuah media pribadi yang para orang tua tak bisa pahami, di mana mereka bisa dengan mudah bertukar, mengakses dan berbagi musik, ide, berita, perasaan, dan dukungan. Internet membuat sebuah artefak yang terabaikan selama satu dekade seperti Pinkerton dari Weezer untuk menjadi lebih dari pada sebuah rahasia (Greenwald, 2003, p. 56)

Menurut Anizar Yasmeen, media zaman ‘early days’ tahun 2007-an seperti radio yang mau menampung rilisan indie yang sekeras emo masih Bhiga FM. Sedangkan menurut Yogi Sinyo, sekarang hampir setiap radio mempunyai sesi indie di jadwal mereka, menjadi kesempatan publikasi lebih besar. Apalagi perkembangan ponsel dan media sosial, pengumuman acara bisa menjadi viral dalam sekejap. Yogi Sinyo juga menambahkan bahwa dahulu fanzine juga sangat berpengaruh karena akses internet yang tidak segampang di ponsel sekarang. Segala pengumuman gigs dan review album teranyar adanya di zine seperti Common Ground dan Bubble zine. Booming distro juga berpengaruh menurut Andrean Giovanni, karena mereka merupakan tempat distribusi rilisan emo impor maupun local, dan sebagai tempat promo dengan diputarnya lagu-lagu band emo dan melodic punk Malang oleh distro Red Cross yang dahulu terletak di Dinoyo, di saat distro lainnya memutar lagu metal.

Tak hanya medianya, peran propagandis musik seperti Alfan Rahadi pun juga penting. Menurut Eki, peran propagandis di Malang membuatnya lebih banyak eksplor dan rooting ke band-band sebelum tahun 2000-an. Dandy juga mengaku bahwa peran propagandis juga membuat ia lebih percaya diri untuk menyebarkan karya lewat netlabel maupun layanan seperti Soundcloud. Seorang propagandis media juga tak hanya bergerak di media, tapi jalur promosi lainnya seperti tour organizer maupun mengenalkan ke orang-orang media di luar Malang untuk membuat musik mereka lebih dikenal di luar kota. Peran seorang propagandis walaupun kecil tapi mampu membangkitkan percaya diri sebuah band untuk tak hanya menjadi jago kandang, namun jago tandang berkat jembatan relasi yang dibangun bersama.  

Bersambung ke halaman 2

[pagebreak]

Era Malang Emo Revival

Skena musik di Kota Malang adalah skena yang kecil, artinya sering terjadi interaksi karena tempat tongkrongan yang dekat dan banyak juga personel yang bermain di multi-band. Sehingga, band-band emo revival yang ada di Malang muncul karena pergaulan yang sangat erat dan teman yang saling memengaruhi baik secara referensi musik maupun dorongan semangat bermusik. Hal inilah yang membuat band-band yang masih bisa dihitung dengan jari bisa terasa ramai karena sering membuat acara bersama baik menyambut band yang sedang tur maupun acara launching album.

Era emo revival di Malang tak bisa dipungkiri tak lepas dari campur tangan Dandy Gilang dan Write The Future, Bagas Yudhiswa dan Beeswax, lalu Eki dan Afif dari Shewn. Twinkle sounds yang syahdu dan menggelitik hati itu takkan percaya diri dieksploitasi Bagas Yudhiswa jika tanpa stimulan dari Dandy Gilang dan dua rilisan solonya yang dirilis oleh Tsefula/Tsefuelha Records dan rilisan EP Write The Future oleh Haum Entertainment. Beeswax dan karier solo Dandy Gilang melesat di era yang sama, yaitu tahun 2014, dan nampaknya itulah awal mula kemunculan emo yang berbau midwest maupun ambient post-rock di Malang.

Mei 2014 Write The Future merilis EP influential berjudul Bury My Trace Someone Will Take My Place dengan lirik penuh ansietas, paduan twinkle sound dan distorsi. EP ini menarik perhatian media musik regional dan bahkan nasional karena sound-nya yang fresh dan liriknya yang artikulatif. Saat itu Write The Future belum banyak melakukan manuver tur dan jam terbang masih belum setinggi sekarang, namun diam-diam beberapa mata mengawasi dan mulai terinspirasi. Seperti Eki yang mengaku terdorong untuk mendirikan Shewn setelah pengalaman beberapa bandnya di masa lalu tidak bertahan lama. Spotify dan Youtube dianggap menjadi pembuka cakrawala untuk merangkul sound baru untuk diperkenalkan kepada skena musik Malang.

Lain hal dengan Bagas, ia membentuk Beeswax sebagai proyek bedroom-nya, bahkan mengaku tidak mengetahui tentang emo revival walaupun dia sudah pernah bersentuhan dengan band seperti American Football dan Mock Orange. Namun baginya mereka adalah indie rock. Ia mengetahui tentang emo revival sendiri setelah setahun kemudian di saat format bandnya berubah menjadi 4 personel. Menurut Bagas, emo revival di Malang mulai dikenal karena band-band seperti Beeswax dan Shewn lah yang pertama memproklamirkan diri sebagai band emo revival ala midwest, walaupun ada band seperti Write The Future dan Much. Write The Future sendiri secara eksplisit memproklamirkan diri sebagai band pop punk walaupun ada elemen emo revival, sedangkan Much memproklamirkan diri sebagai band indie rock.

Selang waktu setelah Beeswax muncul, Dandy Gilang – sebagai manusia yang multi-project, kemudian mempunyai niat membentuk band lagi selain solo act dan Write The Future. Setelah pengalaman spiritual menonton Lemuria di Jakarta, Februari 2014, ia kemudian mengajak pacarnya, Aulia Anggi, untuk bermain musik dan memainkan indie-emo yang didominasi cerita tentang suka duka hubungan berpacaran. Mengambil influence dari Lemuria, Rainer Maria, dan Alvvays, Much melaju dengan pasti untuk mengukuhkan diri mereka di skena musik Malang. Nada yang catchy dan lirik yang sederhana namun penuh hook menjadi andalan mereka.

Di sisi lain, dua mahasiswa jurusan Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya: Guntur dan Bagas Asfriansyah, dipertemukan dengan visi yang sama. Mereka mengaku bahwa Eitherway ada karena kecintaan mereka pada kejujuran, keterusterangan, dan ‘quirkiness’ dari Modern Baseball. Jadi kalau ditanya influence terbesar apa, jawabannya pasti merekalah pondasi Eitherway, walaupun musik yang dimainkan sekarang ini tidak ‘tumpek-blek’ sama dengan mereka. Tak hanya itu, lebih personal lagi Bagas dan Guntur sering bertukar pikiran—atau curhat, lebih tepatnya—tentang segala yang dirasa di kehidupan ini, yang jika mereka sebutkan mungkin tidak akan ada habisnya. Yang pasti mostly tentang solitude, lonesomeness, dan segalanya yang berhubungan. Setelah diobrolkan matang-matang, juga karena mereka memiliki selera musik yang sama, kenapa tidak dibuat lirik saja semua "curhatan" itu. Maka terbentuklah Eitherway sebagai media per-curhat-an dan untuk media solidaritas bagi penonton yang relate dengan apa yang mereka nyanyikan.

Lain hal dengan Mansfield, Rizky Satoto AKA Dalbo dan Andrew mengawali Mansfield sebagai band beraliran pop punk, namun karena ditinggal dua personel awal mereka akhirnya jadilah Mansfield yang sekarang. Mansfield yang sekarang pun terjadi karena sebuah diskusi mengenai masa depan band, dan apa yang didengarkan akhir–akhir ini. Andrew dan Dalbo ternyata sedang sama-sama menyukai Counterparts. Akhirnya mereka pun menambah personel yaitu Dion, Devrizal dan Bogi jadilah Mansfield yang seperti sekarang. Mereka mengaku untuk beberapa waktu ke depan sreg dengan Mansfield yang post-hardcore/emo ini.

Ada pula Mika, band yang diprakarsai Boim dan Nanda ini dibentuk setelah berkenalan dengan Spotify dengan band-band melodic hardcore dan post-hardcore yang termuat di sana. Berasal dari background hardcore dan metal, mereka mencoba bermain di ranah post-hardcore dengan tema yang lebih ekspresif. Adalah momen perkenalan Boim dengan Beeswax yang membuat mereka lebih percaya diri untuk yakin di jalur emo revival. Beeswax membuka cakrawala Boim tentang midwest emo seperti American Football dan jatuh cinta kepada twinkly guitar sound tersebut dan mulai menginkorporasikannya di Mika. Rama sang gitaris mengaku bergabung dengan Mika pun dengan keyakinan bahwa emo revival menawarkan spirit eksperimental yang kental yang memungkinkan dia lebih bebas mengeksplor banyak sisi. Ardian Bagus sang bassis pula ikut bergabung karena sudah suka emo revival yang tersirat di band lainnya yang bernuansa pop punk, Every Rage Away. Menurut Nanda, Mika yang sekarang telah menjalani proses yang lama, dengan berbagai macam pengaruh. Kesibukan kerja menjadi faktor lamanya proses brainstorming itu. Namun setelah melihat band seperti Shewn maupun Beeswax, Nanda mengaku terdorong sehingga menjadi Mika yang sekarang ini.

Ada pula band-band emo revival yang berasal dari generasi emo awal di Malang seperti Take This Life dan Leftover. Mereka adalah pelaku-pelaku yang mengalami revival, baik secara konten kreatif maupun secara personal. Sebagai band yang pernah mengalami dua dekade emo di Malang, Leftover diisi oleh orang – orang yang tidak asing di skena musik Malang. Sebut saja anggota-anggota dari Kids Next Door, Ceremonial Victory, dan Son Of Sundance, beserta drummer dari War of Badar. Leftover memainkan post-hardcore dengan balutan ambience dan post-rock ala Counterparts dan Touche Amore. Band ini dibentuk saat vokalis Son of Sundance memasuki masa skripsi yang sibuk. Kemudian saat mereka diberi kesempatan pentas, ternyata melirik Andrean Giovanni dari Kids Next Door yang berdiri sejak 2003. Maka muncullah benih chemistry, dan mereka sepakat membentuk band baru. Nama Leftover seakan menyiratkan bahwa mereka adalah sisa-sisa semangat Flying Nightingale yang menolak tua.

Take This Life berdiri sejak 2007 sebagai band yang didirikan Julius sang vokalis. Band ini terdiri dari teman-teman SMA-nya. Yogi sang bassist mengaku bahwa dia sebelumnya adalah kru dari band tersebut. Sebelum menjadi Take This Life yang sekarang, band ini lebih banyak terinspirasi oleh 3rd wave emo macam Aiden. Kemudian berjalan seiring waktu, mereka pun menambah asupan gizi yang lebih cadas dari Converge, Dillinger Escape Plan, dan yang paralel dengan emo revival yaitu The Locust, sebuah band dari dedengkot screamo San Diego yaitu Justin Pearson (Swing Kids, Dead Cross, Head Wound City, Retox). Nuansa ini muncul pasca EP There is No Deer in the Forest yaitu album Animus Animalis (2013). Take This Life kemudian merambah nuansa lebih berat di era Numbers (2015) dan Numbers part II (2017). Mungkin Take This Life bisa dibilang salah satu pionir skramz di Malang. Walaupun kondisi sekarang relatif lebih kondusif daripada 2007, Yogi Sinyo mengaku bahwa lebih ada pride datang ke acara dulu (Hearts to be One Heart) karena dikelilingi band yang setema dan sevisi, walaupun sekarang kesempatan band emo lebih banyak untuk tampil di acara multi-genre ataupun acara emo tapi skala lebih kecil.

Emo revival di Malang bisa dibilang berkembang karena tongkrongan yang sensitif dengan perkembangan terbaru music-musik di era digital. Bahkan trend emo revival di luar kota Malang bukan menjadi alasan mengapa emo revival booming di Malang. Hal ini tidak lepas dari campur tangan label-label rekaman yang mencermati perkembangan band-band emo revival di Malang seperti Haum Entertainment dan Barongsai Records. Menurut Vino Sungepet dari Haum Entertainment, emo revival di Malang adalah selebrasi tersendiri yang tidak sekejap menarik perhatian regional. Menurut Vino, emo revival mulai dikenal di Malang karena band-band yang ada berani melakukan manuver laga tandang yang cukup sering, seperti Write The Future dan Much yang lebih dulu tur di Jakarta dan puncaknya Beeswax saat bermain di We The Fest 2016, yang membuat publik Malang aware akan emo revival di kotanya. 

Bahkan acara-acara bersponsor besar maupun acara kampus yang dulunya masih nyaman dengan band-band yang familiar dan itu-itu saja mulai memainkan Beeswax sebagai line up utama. Sebuah anomali bahwa emo revival dikenal di luar Kota Malang dahulu baru dilirik di kota sendiri. Vino sendiri mengaku bahwa ia merekrut band-band seperti Shewn, Beeswax (era First Step), dan Write The Future karena materi yang potensial dan bukan karena tren musik nasional. Kebetulan tren musik emo revival di Malang muncul bersamaan dengan emo revival di Jakarta dan Bandung. Yogi Sinyo juga menyadari satu hal bahwa akhir-akhir ini pengaruh emo revival juga sedikit merembet ke melodic hardcore kekinian ala More Than Life yang mulai melanda Malang. Ia melihat mulai bermunculan band-band hardcore dengan tema romantik dan bervisualkan floral maupun rumah.

Andi Wahono dari Barongsai Records mempunyai pandangan lain. Menurutnya emo revival di Malang adalah skena yang cuek. Dia adalah skena yang menyelebrasi dirinya sendiri tanpa terpengaruh skena di daerah Jakarta maupun Bandung. Band-band seperti Leftover maupun Beeswax (era Growing Up Late) pun ia rekrut karena alasan kedekatan dan karena materi yang bagus. Materi yang bagus menurutnya lebih penting karena akan didengarkan orang lain, daripada memanfaatkan peluang tren musik yang ada. Bahkan usaha yang dimilikinya tidak profit oriented dan lebih mendekati sebagai usaha dokumentasi. Menurutnya ketika band mendapat review yang bagus, pasti label juga dapat mention, menurutnya itu sudah merupakan reward tersendiri.

Kedua label ini juga ikut dalam kompilasi berstatus cult yang berjudul Revolution Autumn hasil prakarsa Indra Menus (vokalis band post-rock skramz LKTDOV) dan Akhmad Alfan Rahadi (vokalis Laora dan publicist Beeswax). Revolution Autumn yang sudah sampai volume 2 ini ada untuk usaha dokumentasi skena emo revival yang saat itu masih muda dan belum semasif sekarang. Menurut Andi Wahono sendiri, kompilasi ini juga tidak muncul karena tren, karena ia sendiri kenal kedua orang tersebut yang bertanggung jawab memang penggemar musik post-hardcore/emo yang mencakup berbagai era/wave dan berbagai style. Menurutnya Revolution Autumn saat itu memang diproduksi untuk orang-orang yang memang into dengan emo revival karena diproduksi pun secara terbatas.

Aftermath

Genre emo dikenal sebagai genre yang mampu bertahan sampai 2-5 tahun, namun diisi oleh band-band berusia pendek. Menurut Bagas dari Beeswax yang kini juga menaungi label rekaman Fallyears, band-band emo revival di Malang jika ingin bertahan harus mempertahankan produktivitas. Jam terbang pentas itu bisa didapat dengan mudah, tapi produktivitas adalah kunci keberhasilan band. Menurut Yogi Yudho dari Leftover, tren rilisan di era 2007-an yang lebih ke self released dan kualitas produksi terbatas sudah jauh dilampaui oleh kesadaran produksi yang baik dan rilisan yang kontinu di era emo revival 2010-an ini.

Bahkan menurut salah satu soundman dan crew di Malang, yaitu Ananda Khrisna, emo revival sekarang punya kans untuk bertahan karena band sekarang lebih aware dengan effect gear dan alat, dengan perkembangan teknologi, tutorial efek gitar, tutorial produksi rekaman, teknik bermain, dan setting audio di panggung lebih terjangkau sedekat kita mengklik Youtube di ponsel. Menurutnya, dengan kondisi skena seperti sekarang, bukan tidak mungkin band-band post-hardcore Malang era 2012 yang sempat menghilang seperti Lights Out dan Laora bisa kembali lagi.

Label pun tidak lagi didominasi oleh Barongsai Records maupun Haum Entertainment, kini ada label - label baru seperti Pop Flesh Records yang menaungi Whitenoir, Fourwall yang menaungi Wordsworth, Need Guts yang menaungi Newthings, dan Fallyears yang menaungi Beeswax, Dizzyhead, dan Mika. Bahkan untuk kesempatan go International bisa terbuka lebar karena kualitas sound, strategi marketing dan international relation yang lebih baik dari dekade yang lalu. Dengan tercantumnya Beeswax di kompilasi emo revival Asia yaitu Emotion, No! keluaran Sweaty & Cramped (Hong Kong) and Qiii Snacks Records (Guang Zhou), dan dirilis secara digitalnya First Step dari Beeswax via label Bandcamp asal Australia, Broadcast Syndicate, merupakan sebuah bukti bahwa emo revival di Malang bukan hanya sebagai selebrasi regional, tapi bisa juga sebagai selebrasi internasional, khususnya di kawasan Asia Pasifik.

Foto oleh koleksi pribadi penulis.

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
171 views
superbuzz
225 views
supertapes
197 views

Supertapes: Sal Priadi

superbuzz
171 views
superbuzz
284 views