Kimun666: MEMBANGUN RANAH MUSIK INDEPENDEN: BELAJAR DARI METAL BANDUNG (Part 2)

  • By: Kimun666
  • Kamis, 31 March 2016
  • 6898 Views
  • 2 Likes
  • 0 Shares

Di bagian sebelumnya artikel ini kita sudah membahas mengenai infrastruktur ranah musik metal yang telah dibangun seiring perjalanan ranah musik ini. Di bagian ini kita membahas mengenai studio musik, kru, simpul jejaring, basic fans, dan partisipasi perempuan. Enjoy \m/

Studio musik

Studio musik adalah tempat paling penting di sebuah ranah musik. Di sinilah para musisi menggodok musikalitas mereka, saling berinteraksi secara musikal bersama dengan rekan-rekan musik satu bandnya. Di zaman awal tumbuhnya ranah musik metal, studio yang bisa digunakan untuk latihan musik metal sangat sulit ditemukan. Kebanyakan studio-studio sudah menempelkan label besar-besar di jendela depannya “NO UNDERGROUND”.

Hanya sedikit studio saja yang bersedia menerima musik-musik yang saat itu dikategorikan sebagai musik bawah tanah. Studio-studio inilah yang menjadi kawah candradimuka sekaligus menjadi simpul pengembangan yang paling penting dalam komunitas metal. Kini kita beruntung dengan iklim keterbukaan yang terjadi sebagai dampak perkembangan musik metal. Pekerjaan rumahnya adalah bagaimana kita terus mempertahankan semangat berkarya dalam segenap fasilitas ini.

[bacajuga]

Kru

Kru bagi band metal adalah bagian yang paling penting dalam membangun komunitas. Mereka bukan sekedar pendukung band atau “tukang angkut alat” atau “tukang gulung kabel” dalam sesi penampilan band di panggung atau rekaman di studio, namun jauh lebih dari itu. Kru bertanggung jawab atas kelancaran pergelaran, tata suara, dokumentasi, manajemen, dan hal-hal detil lain di lapangan yang selalu luput dilakukan oleh para musisi yang secara khusus berkonsentrasi pada musikalitas. Kru adalah pion, sosok-sosok yang berada di jajaran terdepan konser atau proses rekaman para musisi. Namun mereka bagaikan bayangan. Nyumput buni di nu caang.

Di lini manajemen tata suara kru terdiri dari produser, engineer, dan kru panggung, di lini manajemen dokumentasi kru terdiri dari fotografer dan videographer, sementara di manajemen dipegang oleh manajer eksekutif dan road manager. Semua ini bekerja sama untuk membangun musikalitas dan imej musik yang dibuat oleh para musisi. Dengan kru yang solid dan memiliki visi yang sama, misi sebuah band akan lancar dilaksanakan. Manajemen juga memegang peran penting. Mereka lah yang mengatur jadwal, mencari panggung-panggung untuk band, ikut aktif dalam forum-forum silaturahmi jejaring karinding dan bertukar informasi mengenai banyak hal yang dilakukan oleh band yang ia kelola secara berkala dan intens.

Manajemen juga menjembatani komunikasi antar musisi dalam band yang ia kelola sehingga arus informasi dan komunikasi internal akan terjaga dengan baik. Manajemen yang baik akan melahirkan band yang terkelola dan terdesain pergerakannya. Band yang baik akan membangun komunitas yang baik juga. Dan komunitas-komunitas yang saling berjejaring dengan baik akan membentuk ranah musik yang mantap.

[pagebreak]

Simpul jejaring

Ketika komunitas sudah terbangun dan membentuk ranah musik, maka yang dibutuhkan kemudian adalah simpul-simpul komunitas. Simpul-simpul ini adalah tempat pertemuan antar komuntas untuk membahas program bersama yang tujuannya mengembangkan ranah musik lebih besar lagi. Bentuk simpul jejaring ini bisa berupa ruang inisiatif, distro, sanggar, gelanggang pemuda, juga bisa berupa blog atau website. Antar simpul komunitas harus terus melakukan koordinasi dan berkomunkasi sehingga jejaring yang terbentuk dari komunkasi simpul ini akan memiliki terminologi pergerakan yang sama. Tak masalah bentuk pergerakannya berbeda, sepanjang terminologi berpikir, visi, dan misinya sama maka goal yang akan dicapai tentu akan sejalan dan saling menguatkan. Simpul-simpul ini juga mengikat visi, strategi, dan alur pergerakan komunitas musik metal.

Basic fans

Harus diakui, para penggemar adalah pendukung utama eksistensi sebuah musik. Sebagus apa pun musik yang dihasilkan seorang musisi, tanpa ada fans, maka musiknya tak akan ke mana-mana, tidak bisa diapresiasi secara luas yang akhirnya tak akan menginspirasi siapapun untuk bergerak. Dalam kultur lama, fans adalah semata penggemar. Kini banyak sekali band yang memiliki program pengembangan komunitas ke dalam basic fans bandnya. Akhirnya, kini basic fans—atau mungkin bisa disebut juga fans club—bukan hanya sekumpulan grupis yang ganjen teriak-teriak, namun sekelompok orang yang berpikir sama—dan lebih jauh bertindak sama—dengan musik yang ia gemari dan bergerak mendukung apa yang ia sukai.

Mereka sering melakukan kumpul bareng, membentuk kelas-kelas belajar yang bisa mendukung pergerakan band, dan bergerak membuat serta membangun sesuatu, bergerak dalam aktivitas sosial dan alam seperti penanaman pohon, sekolah gratis, zero waste events, penyantunan anak yatim piatu, program pendidikan anak jalanan, dan masih banyak program positif lainnya. Tak jarang basic fans juga membentuk tatanan ekonomi yang kuat seperti membentuk kloting dan distro sendiri yang mengeksplorasi berbagai pernak-pernik band yang mereka gemari. Akhirnya, pendidikan komunitas tak kemudian berhenti di lingkar dalam musisi, namun juga harus bisa mencapai ranah luar—termasuk penggemar.

[bacajuga]

Partisipasi perempuan

Perempuan adalah tokoh sentral yang secara unik bisa kita lihat dalam budaya musik metal yang didominasi para lelaki. Di ranah musik metal, para perempuan tidak tampil hanya sebatas grupis yang bisanya teriak-teriak di bibir panggung dan mengekkor ke mana pun rockstar pergi. Mereka ikut aktif dalam pergerakan musik metal dan bersama dengan para laki-laki membangun komunitas. Mereka membentuk riungan, menulis jurnal, memotret, menggambar, menjadi MC dan presenter, membuat film dokumentasi, mengurus bisnis, manajemen band, menggelar pergelaran musik metal, bahkan tampil sebagai vokalis, penabuh drum, gitaris, pencabik bass. Dari masa ke masa telah lahir perempuan-perempuan luar biasa di ranah musik metal Bandung. Keberadaan para perempuan luar biasa ini melengkapi keseimbangan pemikiran yang mendasari pergerakan ranah musik metal hingga semakin terbuka dan toleran.

Demikian beberapa gelintir hal yang dibangun dalam masa perkembangan seperempat abad ranah musik metal. Tentu masih banyak lagi hal lain yang tak bisa disebutkan secara detil di sini. Apa pun itu, yang terutama adalah membangun mentalitas manusianya untuk konsisten pada komitmennya membangun sebuah ranah musik yang baik. Yang tak kalah penting adalah rancangan strategi cerdas agar semua ide, pemikiran, dan pergerakan tersebut harus membumi dengan tempat di mana ia berada, harus bisa menyerap kearifan lokal sehingga tumbuh subur dan berguna bagi masyarakat banyak. Dan dari kesuburan itu maka akan lahir generasi-genrasi baru yang semakin baik.

MAJU TERUS ANAK MUDA \M/

 

Penulis adalah musisi dan rekreasioner

0 COMMENTS

Info Terkait