Menciptakan Lingkungan yang Aman di Acara Musik

Menciptakan Lingkungan yang Aman di Acara Musik

  • By: Anida Bajumi
  • Kamis, 31 October 2019
  • 1776 Views
  • 15 Likes
  • 1515 Shares

Beberapa waktu silam, internet dikejutkan oleh pengakuan seseorang yang mengalami pelecehan seksual ketika sedang menyaksikan penampilan .Feast. Korban bercerita mengenai kronologi kejadian secara rinci melalui akun Twitter-nya dan mendapatkan respons dari Baskara Putra, vokalis .Feast. Kejadian tersebut mendorong Baskara untuk membuat sebuah tanda S.O.S. yang dapat digunakan siapapun jika ada hal-hal yang tak diinginkan terjadi. Ia juga mengajak beberapa teman musisi seperti Kunto Aji, Dipha Barus, dan The Panturas untuk menyosialisasikan inisiasi tersebut. 

Berdasarkan kejadian tersebut, sepertinya kita harus berterima kasih kepada .Feast karena topik mengenai pelecehan seksual di acara musik menjadi terangkat ke khalayak yang lebih luas. Mau bagaimana lagi, sudah banyak kejadian-kejadian serupa yang terjadi dan tenggelam begitu saja. Apa karena terjadi di gigs kecil dengan penampilan dari band-band yang namanya belum besar? Atau Karena pelaku adalah ‘teman’? Tidak tahu juga, yang pasti kasus-kasus yang terjadi selalu berujung ke jalan buntu.

Inisiatif yang dibuat oleh Baskara dan kawan-kawan merupakan langkah yang baik, namun masih mendapatkan kritik. Berdasarkan pernyataan Zara Zahrina di artikel The Jakarta Post, tanda S.O.S. tersebut kurang efektif, terutama di panggung besar. Menurut Zara, tanda tersebut bisa menjadi situasi yang menyeramkan ketika identitas korban diketahui dengan jelas dan pelaku bisa saja menemukan lokasi korban untuk melakukan aksi balas dendam.

Melalui artikel yang sama, Zara menyarankan untuk menyediakan sebuah hotline yang disediakan sebelum acara mulai dan bisa dihubungi ketika ada pelecehan yang terjadi. Hal tersebut Sudah dilakukan oleh band seperti Modern Baseball dan Speedy Ortiz. Pada wawancara dengan Newsweek, Sadie Dupuis, vokalis dari Speedy Ortiz menyatakan bahwa ia belum yakin kalau hotline tersebut adalah upaya yang efektif. Namun ia merasa bahwa hal terpentingnya adalah memperlihatkan kalau kalian berkomitmen dalam membuat perubahan dalam sebuah pertunjukan musik dan mendukung pengunjung melalui segala cara.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh YouGov pada tahun 2018, 22% dari pengunjung festival musik di Inggris mengalami pelecehan seksual. Hanya 1% yang melaporkan pengalamannya ke pihak berwajib. Saya rasa di Indonesia sendiri sudah banyak kasus pelecehan seksual yang tidak terangkat ke publik. Kerap kali korban pelecehan merasa takut dan memendam kisah yang dialaminya sendiri. Kemungkinan besar hal tersebut terjadi karena budaya kita yang selalu menyudutkan korban pelecehan dan menyalahkan dirinya karena tidak bisa menjaga diri. Perlu diingat kalau korban seharusnya diberi semangat, dilindungi, dan tidak disalahi. Mereka datang ke acara musik untuk bersenang-senang, bukan untuk merasa cemas karena takut dilecehkan di antara crowd.

Lantas cara apa yang paling tepat untuk mengatasi terjadinya pelecehan seksual di sebuah acara musik? Pengunjung acara musik di Inggris mendirikan sebuah inisiasi Safe Gigs for Women dengan tujuan menciptakan lingkungan yang aman bagi perempuan di gigs. Mereka melalui pendekatan dengan tiga cara, yaitu melalui pengunjung acara, tempat acara, dan musisi. Melalui pengunjung acara, mereka menyebarkan kesadaran bahwa pelecehan seksual adalah hal yang buruk. Mereka juga meyakinkan korban untuk berani bicara.

Berikutnya, mereka meminta agar venue dapat menerima laporan pelecehan seksual dan ancaman lain terhadap perempuan dengan serius. Hal tersebut agar dapat tercipta standar venue yang aman untuk acara musik. Terakhir, mereka mengajak musisi untuk mulai bicara mengenai apa yang harus dan tidak dilakukan di setiap acara musik. Mengingatkan pengunjung untuk tidak melakukan pelecehan seksual, tentunya.

Menurut saya, segala hal yang dilakukan oleh musisi untuk meningkatkan kesadaran para pengunjung akan cukup berpengaruh. Selain apa yang dibuat oleh .Feast, Grrrl Gang pernah melakukan sesuatu untuk menangani kasus pelecehan seksual yang terjadi ketika mereka sedang tampil. Ketika Ageeta Sentana, vokalis/gitaris Grrrl Gang mendapat kabar, ia langsung mengajak seluruh penonton perempuan untuk naik ke atas panggung dan menumpahkan keluh kesahnya soal kejadian tersebut.

Sepertinya dalam waktu dekat harus segera diadakan, entah gig atau talkshow yang sekaligus memberikan edukasi bagi khalayak luas mengenai bagaimana seharusnya bersikap di acara musik. Apa susahnya sih menjadikan acara musik sebagai lingkungan yang nyaman bagi semua orang? Sekali lagi saya ingatkan: Pengunjung datang untuk bersenang-senang, musisi datang untuk tampil. Tidak semestinya ada kekhawatiran di acara musik karena seharusnya pelecehan seksual tidak terjadi.

0 COMMENTS

Info Terkait

supernoize
616 views
supershow
229 views
supernoize
1255 views

Bakatmu Adalah Komoditas!