Menggelar Konser Band Internasional

ekrig: Menggelar Konser Band Internasional? Gampang Kok!

  • By: ekrig
  • Rabu, 29 January 2020
  • 741 Views
  • 3 Likes
  • 21 Shares

Nama saya ekrig, project saya, Six Thirty Recordings beberapa kali berkesempatan mendatangkan band internasional untuk tampil di Jakarta. Beberapa diantaranya: Nothing, Turnover, Full of Hell, Cult Leader, Marijannah, dan Connan Mockasin (bersama project saya, PPP95). Selain kedua project tersebut saya juga terlibat di Binaural, sebuah immersive concert konseptual, dan sekaligus vokalis band black metal/hardcore, Avhath.

 

Jika ditarik mundur ke 2015 saat saya mendatangkan Full of Hell, mungkin bisa dibilang trend mendatangkan band/musisi independen internasional belum booming seperti sekarang. Atas dasar itu, saya “keasyikan” mengundang beberapa band lain di tahun-tahun berikutnya ke Jakarta. Pada 2018 awal, mulailah tren ini dilirik lebih banyak orang, apa sebabnya? Mungkin yang pertama, karena ternyata ada market-nya, dan kedua, ya segampang itu.

 

Artikel ini ingin menjelaskan “Bagaimana sih caranya?”, dan “Apakah segampang itu?” Di sini saya akan breakdown beberapa hal yang harus dilakukan, sejauh pengalaman saya. Hal di bawah ini bukan berarti adalah pakem yang paling benar juga, tapi at least sudah saya jalankan.

1. Know Your Way Out

Kenapa mencari jalan keluar menjadi poin pertama? Simply karena ini bukan bisnis yang pasti balik modal atau untung. Kalau nanti acara kalian akan merugi, bagaimana cara kalian menyelesaikan masalah tersebut menjadi kunci penentu: apakah kamu serius atau mengikuti arus?

 

Bersama Six Thirty, saya beberapa kali menjalankan sistem “gali lubang tutup lubang”. To put it simple, jika ada satu band yang saya suka sekali dan tanggal tur-nya cocok tapi market di Jakarta tidak terlalu besar, saya mengakali dengan mencari band dengan penonton lebih massif untuk booking berikutnya.

 

Sebagai contoh, konser Cult Leader. Meskipun saya tahu bahwa market Deathwish Inc. (label rekaman milik Jacob Bannon) ramai di Indonesia khususnya Jakarta, tapi penonton Cult Leader masih tergolong sedikit. Saya pesimis untuk acara itu sold out, dan ternyata terbukti, dari total 500 tiket, kurang dari 100 orang membeli tiket Cult Leader Live in Jakarta.

 

Ini sudah saya antisipasi sejak awal, kemudian di bulan Juli saya mendatangkan Turnover untuk yang kedua kali. Turnover jelas lebih besar pasarnya di Indonesia, dan terbukti tiket ludes walau sehari sebelum konser 22 Mei terjadi demo besar di Jakarta. Turnover pun ‘menambal’ kerugian saya di konser Cult Leader sebelumnya.

 

Know your way out bukan selalu tentang uang, terkadang force majeure menjadi faktor kegagalan acara, seperti delay pesawat, pembayaran, homesick, dan sebagainya. Jadi menanggulangi kondisi terburuk sebelum proses berjalan adalah hal yang paling saya anjurkan.

2. Your Customer is Your Boss

Karena terlalu concern pada konsep acara dan hal-hal yang tidak terlalu penting, terkadang promotor lupa apakah sound system sesuai dengan ekspektasi penonton? Apakah sistem flow entry memudahkan penonton? Apakah mood acara sesuai dengan harapan penonton?

 

Selalu posisikan diri kalian sebagai penonton. Jika kalian saat menonton konser menginginkan kepraktisan, yang keren banget, yang memorable, maka implementasikanlah keinginan kalian ke acara tersebut. Saat customer pulang tanpa merasa puas atau malah kecewa, itu akan mempengaruhi kepercayaan mereka untuk membeli tiket di masa mendatang.

 

Sound system seringkali membuat kecewa penonton konser. “Sound-nya jelek banget”, mungkin enggak sekali kamu berkomentar begitu selepas konser. Ini mungkin disebabkan vendor sound system jelek, tapi mungkin juga pihak penyelenggara enggak begitu paham urusan sound.

 

Tidak mungkin tempat berkapasitas 1.000 orang menggunakan sound system yang sama dengan kapasitas 500 orang. Saran saya, pahami sedikit banyak soal sound system, karena akan sangat memalukan kalau sub kalian enggak terdengar sampai setengahnya barisan penonton. Kalau kalian tidak, lempar ke para ahli di bidangnya. Jangan tergiur harga murah, karena “ada harga, ada barang.”

3. Find the Right Partners

Melakukan hal-hal tadi memang terasa gampang, tapi posisi itu bisa dicapai kalau kalian punya partner yang tepat. Maksud partner adalah orang-orang yang berada di dalam kolektif kalian. Akan sangat ideal jika dalam satu kolektif ada satu orang di kreatif, satu orang di finansial, satu orang di pemasaran, satu orang di public relation, satu orang di produksi, dan satu orang lagi di artist booking.

Belum tentu skill orang lain itu ada di diri kalian, dan sebaliknya. Jadi, jangan coba-coba mengerjakan semuanya sendirian, selalu libatkan semua anggota kolektif.

4. Know Your Limit

Jangan ngoyo, kalau memang kamu pada saat ini hanya masih mampu untuk mendatangkan band kisaran ribuan dollar jangan muluk-muluk untuk mendatangkan band ratusan ribu dollar. Karena treatment untuk band kisaran ribuan dollar dan ratusan ribu dollar sangat berbeda dari semua hal, hospitality, produksi, dan lain-lain. Realistis dan sabar saja.

5. Do Your Budgeting

Masih sabar kan? Hehe, pasti kalian mau langsung “Gimana cara contact-nya? Harus kenal siapa untuk dapat akses ke artis-artis yang kami mau?” Hal tersebut saya tempatkan di akhir, karena itulah hal termudah yang akan kamu lakukan, dibanding langkah sebelumnya. Termasuk step ini, budgeting.

 

Gimana sih kok sering acara rugi, atau tiba-tiba batal, tapi organizer-nya hilang, enggak bisa refund uang tiket, dsb. Mungkin karena mereka enggak melakukan budgeting dengan benar di awal. Saat kalian mengadakan acara, budget adalah hal yang enggak boleh miss walau satu Rupiah saja. Bagi saya, uang adalah hal paling sensitif. Gimana cara mencermatinya? Dengan budgeting sedetail mungkin.

 

Kalian bisa download template budgeting, itu yang biasanya saya lakukan. Enggak sempurna, masih banyak yang lebih detail, tapi setidaknya kalian punya perkiraan untuk mematok harga di tiket hingga balik modal. Selain harus cermat, kalian juga harus tahu dimana tempat mencarinya, apakah dari tiket sudah cukup? Atau harus ada sponsor? Kalau pun ada, siapakah sponsornya?

 

Kalau kalian yakin dengan penjualan tiket saja sudah bisa menutup total biaya produksi, maka kerahkanlah semua resource kamu di marketing programs supaya tiket laku terjual. Beberapa saran program yang biasa saya gunakan adalah membuat playlist Essential Songs band atau musisi tersebut. Siapa tahu memang ada yang suka musik seperti itu, tapi mungkin belum tahu tentang keberadaan artisnya atau soal kedatangan mereka ke Indonesia.

 

Jika kalian mencoba mencari sponsor, karena setiap content yang kamu bawa memiliki DNA yang berbeda-beda, maka pengajuan sponsor tidak bisa disamaratakan. Bagaimana cara menentukannya? Riset kecil-kecilan, kira-kira campaign apakah yang sedang brand jalankan? Apakah content kamu bisa menaikkan campaign mereka? Selalu berpikir untuk take-and-give; apa yang mau kalian ambil dan apa yang bisa kalian berikan ke mereka.

 

Selain sponsor, cari uang dari mana lagi sih? Investor. Namun, perlu digarisbawahi bahwa uang yang akan kamu kembalikan ke mereka ada additional percentage-nya. Jadi kalau memilih investor carilah yang paling sedikit bunganya, hehe.

6. Befriend the Internet

Ini adalah gimana cara saya mengetahui band apa saja yang akan mampir ke region Indonesia (SEA), apa alamat email representative artis yang ingin saya undang.

 

Ada dua workflow yang akan saya jelaskan, yang pertama lebih mengandalkan jadwal artis yang ingin menyambangi region kamu, yaitu Asia. Tau dari mana? Dengan mengakses situs-situs penyedia jadwal konser seperti Bandsintown atau Songkick.

 

Di sana, kamu bisa mengetahui artis mana aja yang mau mampir ke Asia, dan itulah kesempatan untuk menawarkan show tambahan di kota kalian. Akan jauh lebih murah jauh untuk mendatangkan artis dari negara satu region ketimbang menerbangkan langsung dari kota asal mereka.

 

Kemana harus menghubungi mereka? Biasanya tempat pertama saya untuk mencari contact representative adalah Facebook, di bagian fan page. Umumnya di kolom about, biasanya mereka akan menuliskan contact person jika ingin mengundang mereka.

 

Langsung email saja, sebutkan portfolio kamu (acara lokal enggak masalah), dan utarakan maksud kalian menghubungi adalah penawaran apakah mungkin untuk menambah show untuk artis tersebut di kota kalian.

 

Gimana kalau belum punya portfolio? Kalian hanya mampu membuat agen yakin, caranya adalah dengan responsif terhadap email dan semua pertanyaan. Hal terpenting: tepat waktu membayar down payment artis tersebut.

 

Workflow kedua adalah dengan membawa artis tersebut ke region kalian, entah untuk single show, atau bisa kalian carikan promotor di kota lain untuk menjadikannya sebuah rangkaian tur. Namun, satu hal yang harus di garisbawahi adalah, selalu cari promotor di kota lain dahulu sebelum menawarkan opsi ini. Pastikan promotor kota lain tertarik atau siap mengadakan event.

 

Setelah itu apa? Perjelas segala sesuatunya dengan kontrak, ini sangat penting. Kalian harus tahu apa saja kewajiban dan hak masing-masing stakeholders. Jangan pernah bergerak, apalagi yang melibatkan uang, tanpa ada perjanjian hitam di atas putih, riskan.

 

Terakhir, jangan berasumsi bahwa semua band yang kalian suka itu akan profitable untuk didatangkan, semuanya didukung dengan data. Enggak akan ada orang yang mau kehilangan uangnya karena merugi terus-terusan (kecuali uang memang bukan permasalahan di hidup kalian) maka dari itu lebih penting untuk melakukan poin satu sampai lima dahulu sebelum akhirnya ke poin terakhir ya.

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
196 views
supericon
95 views
superbuzz
382 views
supershow
480 views
supernoize
322 views