Menggugat Konsep Support Yang Salah Kaprah

  • By: Che Cupumanik
  • Minggu, 30 August 2015
  • 8824 Views
  • 1 Likes
  • 0 Shares

"Gue udah beli album lo, tapi saat gue yang rilis album, lo ga beli album gue. Gue beli tiket show konser lo, eh giliran gue yang manggung, lo ga dateng. Kok lo gak support?",

Kalau dilihat secara gamblang, pernyataan di atas seperti gerutuan orang yang pamrih, tipe orang yang menolong teman, tapi dengan satu motif, orang yang kita tolong, suatu saat harus menolong kita balik. Bayangkan, kita jadi punya kewajiban harus balas membeli album teman kita, beli tiket konser teman kita yang belum tentu kita sukai, belum tentu masuk selera, hanya karena mereka telah membeli album dan tiket konser kita, dan karena takut dituduh tidak support, kita harus membelinya meskipun terpaksa, pokoknya kita jadi salah kalau tidak membeli. Ada cerita lain, sebagai contoh di komunitas musik tertentu kita sering melihat poster acara, dan band-band yang main sebagian besar adalah band yang mendaftarkan diri untuk bisa mengisi acara, yaitu melalui sistem registrasi. Sudah bisa dibayangkan, ada band yang mungkin baru satu kali latihan tapi sudah tampil, ada band yang baru dibentuk dan langsung tampil, atau ada band yang sama sekali belum siap/layak untuk tampil, tapi mereka bagian dari pengisi acara. Saya jadi ingat ada seorang teman mengeluh tentang ini kepada saya: “Gila Che, gue udah bayar tiket, trus gue kaya nonton orang lagi latihan di studio, kita terpaksa harus liat banyak band yang belum siap tampil. Acara dengan sistem registrasi harusnya mereka gelar dengan cara sewa studio latihan aja, bikin studio show dan gak usah buka tiket untuk publik, toh yang bakal nonton kan temen-temen mereka sendiri. Gue yakin orang yang berharap dapet pertunjukkan bagus, sulit untuk bisa menikmati. Tapi serba salah, kalo gak nonton bakal dicap gak support”. Mengerikan yah, konsep bernama support yang dimaknai dengan dangkal, secara otomatis telah menciptakan kondisi buruk, resikonya sekelompok komunitas secara tidak sadar menjadi saling pamrih bahkan mengorbankan kualitas.

Apa definisi support yang sebenarnya?, Support dalam bahasa Indonesia adalah ‘mendukung’, dan menurut kamus bahasa, itu artinya membantu, menopang dan menyokong. Pertanyaannya, sampai kapan band-mu harus terus dibantu?, sampai kapan mengharapkan sokongan?, karena selamanya mengandalkan support bisa melenakan, akan menggiring kita pada kondisi zona nyaman dan tanpa sadar band-mu hanya akan dikenal di lingkaran kecil pertemanan. Melihat ilustrasi cerita di atas, support yang dimaknai secara salah kaprah, menggiring prilaku kita pada sifat manja, kita jadi mudah menghakimi, berlaku pamrih dan jangan-jangan konsep support secara diam-diam memiliki definisi baru, yaitu kasihan atau mengasihani. Saya pernah mengelola sebuah majalah indie di Bandung, yang mengulas musik, street fashion dan literature, bernama ‘Jeune Magazine’, aktif terbit sejak 2004 - 2010. Kita sangat akrab dengan sebuah slogan “Support Your Local Movement”, dan slogan itu sama sekali bukan sebuah gerakan mengemis, bukan pula gerakan bersama minta dikasihani, itu slogan aksi untuk mendukung, membantu, menyokong semua gerakan independent, gerakan mendukung ekspresi baru, mendukung arah baru menuju kualitas, agar tercipta kemajuan bersama. Dan yang perlu digarisbawahi, koridornya adalah sama-sama menciptakan kebaruan yang berkualitas.

Yang majalah Jeune lakukan secara konkret sesuai slogan “Support Your Local Movement” misalnya, kami akan menopang setiap bakat baru band indie yang muncul, dan tidak mengarahkan liputan pada band mainstream, itu jenis dukungan kami pada gerakan lokal, tetapi dalam konteks dukungan, kami tetap harus jeli dalam mengangkat band indie yang kualitas, itu contoh nyata mempraktikkan etos support local. Dan para editor tidak terpaksa melakukan itu, juga tidak perlu mengasihani band indie yang memang belum pantas untuk dimuat dalam tulisan. Begitu juga di wilayah fashion indie, kami akan memilih beberapa brand apparel clothing yang bagus, lalu kami pinjam produk mereka untuk kami jadikan foto fashion di dalam halaman majalah. Dan meskipun kami membutuhkan iklan, dari para pemilik clothing, kami tak perlu mengemis minta mereka beriklan atas nama support, dan kalau mereka masih belum tertarik beriklan, juga tidak lantas menghakimi para pemilik line clothing itu dengan tuduhan bahwa mereka tidak support majalah kami. Jika mereka belum mau beriklan, artinya Jeune harus memperbaiki diri, karena cara terhormat agar mereka mau beriklan, yaitu dengan membuat kualitas majalah semakin bagus.

Begitupun di wilayah pertunjukkan atau festival, dari banyak gelaran acara indie, seperti Kick Fest, Bandung Berisik, atau Jackcloth misalnya, etos support local juga berjalan dalam koridor dukungan yang benar, slogan itu sama sekali bukan sebuah gerakan mengemis, bukan pula gerakan bersama mengasihani band indie, itu slogan aksi untuk mendukung, membantu, menyokong semua band-band indie yang memiliki kualitas layak tampil, sehingga pantas ikut meramaikan festival mereka dan tercipta hubungan mutualisme yang sehat. Jadi dengan ilustrasi di atas rasanya kita sudah menemukan benang merah, bahwa makna support itu mendukung yang pantas didukung karena kualitas, itu syarat menuju kemajuan bersama. Dengan kualitas orang mau mengeluarkan uang dengan tulus dan suka cita untuk membeli album kamu, mau membeli tiket konser ke acara festival yang kamu gelar, orang mau membeli merchandise yang kamu produksi karena kualitasnya baik, bukan karena pamrih, tidak terpaksa apalagi kasihan.

Tapi, bukankah gerakan independent anak muda sebenarnya lekat dengan paham resistensi?, jika paham support yang dimaknai dengan dangkal punya resiko memanjakan gerakan, dan menciptakan mental cengeng, seharusnya paham resisten bisa jadi senjata atau ideologi yang bisa diandalkan. Sebagai contoh daripada kalian sibuk minta didukung agar band kalian naik level sukses, coba tantang diri sendiri untuk terbiasa santai jika diremehkan orang, uji mental untuk bertahan jika kita dipandang sebelah mata oleh orang lain, dan bagi mereka yang memiliki jiwa resistensi, perkara diremehkan, dilecehkan, dipandang kecil, dianggap tak mampu, atau dicibir adalah ujian yang seru, kita akan bersuka cita gembira jika suatu saat bisa membuktikan keunggulan kita. Latih diri kita untuk mengambil posisi bersikap melawan pada kemunduran, menentang kekalahan, melawan kebodohan dan bangkit menemukan cara baru dalam menciptakan kegemilangan kita sendiri. Bukankah lahirnya band indie, label indie, majalah indie, festival indie, hadirnya clothing anak muda itu adalah karena adanya kebuntuan budaya yang tidak berkembang?, karena itu mereka melakukan resistensi agar keluar dari kejenuhan. Resistensi justru cara manusia menciptakan model untuk memahami dunia, untuk keluar dari kebuntuan budaya, dan menemukan kenyataan-kenyataan baru yang relevan dengan zaman.

Kita sadar waktu berjalan dan semakin terbatas, jadi jangan terjebak dalam dogma dan pola lama yang buntu, kalau perlu kita temukan objek atau hal yang telah mapan, dan itu sasaran untuk kita bongkar dan lawan. Putar otak untuk berusaha membuat sesuatu yang menggemparkan, cari perhatian dan gali kualitas, karena sebuah pengaruh, reputasi, keunikan, keunggulan bandmu, tidak akan berdiri dan terbangun di atas konsep support semata. Kamu sendiri pemilik merek dan penjaga merek band mu. Jadi bersyukurlah karena ada kondisi ketidaksuksesan, bersyukurlah karena masih mengakui bandmu adalah deretan band yang belum berhasil, karena ternyata itu semua pesan jelas dan tuntutan, agar kita memberontak untuk menjadi pemenang. 

Foto : pinterest.com

1 COMMENTS
  • ZheekaumkuCell

    Lawan!!!!!

Info Terkait

supernoize
845 views
supernoize
845 views
supernoize
845 views
supernoize
845 views
supernoize
845 views
supernoize
3082 views

Saat Venue Musik Gugur Perlahan