Menjadi Musisi Entrepreneur dan Berbagai Tantangannya

Menjadi Musisi Entrepreneur dan Berbagai Tantangannya

Entrepreneur sering dikaitkan dengan bisnis dengan basic passion, kegemaran atau hobi pelakunya, hal-hal ideal yang secara personal dituangkan dalam wirausaha baik itu usaha mandiri maupun usaha bersama dari sekian banyak entrepreneur yang berasal dari para musisi.

Saya sebagai penulis dalam kesempatan ini akan berbagi cerita lewat tulisan ini, dari kegemaran terhadap musik menjadikan saya banyak terlibat di dalamnya termasuk di industrinya, lebih cenderung berkutat di bisnis-bisnis lokal sebagai musisi, talent management , hingga seputar production dan event organizer, beberapa kegiatan bisnis yang dijalani dengan santai sambil membuat beberapa gerakan-gerakan kolektif lokal.

Dari sana saya menikmati pertumbuhan ekonomi kreatif yang stabil dan mulai menuai hasilnya yang saya kira ini terjadi di berbagai kota di Indonesia di 5–7 tahun terakhir. Buat sekelas pebisnis kecil baik itu UKM maupun UMKM milik musisi lokal pun bisa hidup layak sebanding dengan mereka yang berprofesi mainstream, minimal bisa membeli kebutuhan primernya dari karya dan kerja kreatifnya yang sebagian besar adalah orang-orang yang berdikari dan mandiri.

Tidak sedikit di antara mereka adalah tulang punggung keluarga dari rumah beserta isinya, alat transportasi keluarga hingga kebutuhan standar sampai dengan investasi masa depan mereka bisa penuhi. Dan sampai pada suatu saat pandemi melanda dunia sehingga industri ini adalah salah satu industri yang mengalami goncangan yang sangat hebat khususnya di musik sebagai industri seni dan hiburan.

Bertahan adalah langkah bijak bagi kita untuk menyiapkan segala sesuatunya untuk bangkit dari keterpurukan, tetap bergerak adalah kata kuncinya, tetap produktif dalam situasi apapun ... kreativitas sebagai musisi bisa digunakan untuk mencari solusi dan spirit dari budaya musik itu sendiri. Seperti celoteh kawan-kawan musisi yang saya pernah dengar di sebuah obrolan santai, yaitu bisa menjadi inspirasi bagaimana mengaplikasikan attitude musik ke dalam kehidupan sehari-hari.

Rock n' Roll misalnya dengan hidup apa adanya meminimalisir segala aspek gaya hidup berubah menjadi gaya hidup hippies hehe. Dengan musik Blues yang selalu menguatkan hati orang-orang yang merasa tertindas, lalu spirit punk teraplikasi dengan semangat perlawanan dengan terus bekerja dan berkarya, dan musik hiphop menjadi tolak ukur kecerdasan jalanan mencari solusi diantara jalan-jalan yang buntu. Ya, ini sekedar candaan musisi yang mungkin bisa diambil sisi positifnya.

Lantas tidak hanya sekedar wacana tentang bagaimana wirausaha yang berbasis passion itu bergerak melawan keterpurukan. Dari sekian banyak mereka yang bertahan, saya mewakili mereka musisi lokal dan wirausahawan kelas menengah yang ngak mau mengalah dengan keaadaan. 

Ada hikmah dari semuanya khususnya orang-orang seperti saya yang kelewat santai mungkin, dipaksa untuk bergerak atas dorongan kebutuhan yang semakin menghimpit dan kekhawatiran terhadap masa depan. Entah egois atau idealis, saya kira banyak orang seperti saya yang hanya melakukan apa-apa saja yang disenangi.

Mencoba merambah ke dunia fashion 

Selain bermusik, berkendara dan gerakan-gerakan social humanitarian merupakan kegemaran yang saya jalani juga. Kemudian dari kegemaran itu saya berinisiatif membuat sebuah produk fashion yang sebelumnya belum pernah saya lakukan. Di sebuah fase di mana bisnis tidak hanya melulu mencari keuntungan semata dan keinginan membuat sesuatu yang mempunyai nilai dan menjadi besar mendominasi bukan sebuah target, berproses mengalir dengan milestone yang sederhana.

Lantas lahirlah "Cycle skull" & "Classless" yang merupakan sebuah brand dan movement.

Dari hobi bersepeda dan selepas saya hengkang dari sebuah cycling club yang bernama "cycle punk" sebuah worldwide "cyclist collective” yang berpusat di Jerman karena suatu hal, kemudian saya membuat sendiri brand "cycle skull" sebuah brand yang berbasis kolektif lokal para pesepeda dengan tagline "All cyclists are brothers" sebagai pesan dan brand ini terkoneksi dengan gerakan sosial kemanusiaan #homelesscaneat (via ig) yang saya bangun bersama teman-teman.

Para pesepeda fixed gear dari 2 tahun silam di mana sebagian hasil penjualan produk cycle skull ini didonasikan untuk gerakan ini, selain itu juga ada program patungan dimana setiap 12 pembeli artikel cycle skull mereka telah berkontribusi membelikan 1 produk yang sama untuk beliau-beliau pekerja di jalanan yang sama-sama menggunakan sepeda roda dua.

Selain itu ada produk yang dirilis dari kolaborasi dengan desainer dan art worker lokal dengan beberapa campaign khusus dan masih akan ada banyak gerakan kolaborasi lain yang secara program akan dijalankan dan kemudian menyusul sebuah brand fashion yang berbasis kegemaran dengan nama " Classless".

Secara kebetulan saya juga bermain motor "cafe racer" dan tahun lalu mendirikan sebuah komunitas motor cafe racer untuk surabaya bersama kawan-kawan rockers lainya (Rockers sebutan pengendara cafe racer) yang terkoneksi dengan Cafe Racer Indonesia, kemudian muncul inisiatif untuk membuat brand dengan mengkhususkan kepada pecinta motor sebagai segmentasi dengan tema "motorcycle street wear" , dengan tagline "motor city rockers". Sasih sama brand ini juga terkoneksi dengan gerakan sosial #streetjackpot (via ig). 

Gerakan ini merupakan gerakan kemanusiaan yang berbasis pecinta motor klasik dan custom yang sebagian besar anggotanya adalah musisi punk rock surabaya yang dibangun di bawah naungan sosial foundation yang saya bentuk @arekisme_. Dari 5 tahun silam, brand ini saya bangun dalam tahun ini pasca pandemi yang terhitung masih baru tapi cukup menjadi sebuah solusi pendapatan di saat situasi pandemi seperti ini dan yang penting adalah brand baru yang saya bangun ini cukup ikut berpartisipasi memberi manfaat bagi orang-orang yang lebih terdampak oleh pandemi . Sampai saat ini brand ini masih naik turun karena daya beli yang tidak stabil di situasi ekonomi seperti sekarang.

Sebelum 2 brand ini saya buat , saya juga membuat online shop yang berkonsep lebih ke kolektif sebagai etalase bersama untuk digunakan sebagai media titip jual dengan sistem konsinyasi untuk kawan-kawan yang ingin menjual barang pribadinya. Toko ini saya beri nama Shoplast via instagram dilatar belakangi kisah teman-teman yang ingin banting setir untuk berbisnis.

Banyak di antara mereka yang kehilangan pekerjaan, korban PHK, dan sebagian besar kesulitan untuk pengadaan modal, maka toko ini cukup menjadi solusi bagi mereka yang ingin menjual barang pribadinya. Dengan sistem terbuka hanya menghubungkan penjual dan pembeli karena kontak penjual dicantumkan di keterangan barang dan toko ini hanya mengambil bagian seikhlasnya yang diberikan penjual saat barang dagangan laku.

Tapi toko ini juga memberikan kebebasan untuk tidak mengenakan potongan konsinyasi sepeserpun dengan alasan darurat kebutuhan dari pemilik dagangan.

Dari 3 bisnis kecil saya yang baru dibangun ini, saya memperoleh “keuntungan” versi saya. Tidak lepas dari peluang sebagai opsi menjaga eksistensi band, merchandise band kami bisniskan secara maksimal ketika Blingsatan merilis single sekalipun. Di single "Mao kwan to thai" kami berkolaborasi bareng art worker dan pengusaha konveksi lokal melakukan produksi besar dan syukur sampai sekarang masih repeat-order.

Selain usaha yang dibentuk secara mandiri dengan aktivitas livelihood dan micro enterprise yang bertujuan mengatasi darurat kebutuhan akibat pandemi, ada yang saya bentuk bersama-sama kawan dengan goals yang lebih besar.

Masih berhubungan dengan passion yaitu musik, kali ini saya berada di posisi sebagai bagian dari penggerak skena hiphop lokal yang memang telah lama digerakan bersama dan ada hal-hal yang tidak mudah di masa sulit seperti ini mengubah sebuah kolektif menjadi sebuah industri.

Mengubah skala lokal ke arah national to global tidak hanya tentang bagaimana mendirikan perusahaan berskala PT dengan kondisi saat ini. Belum lagi mengubah mindset dan membuat sistem komunikasi bisnis di pasca pandemi yang mana ruang gerak serba terbatas.

Sekali lagi digerakan oleh hal-hal baik, perusahaan ini diharapkan menjadi jalan "ikhtiar" bagi mereka-mereka yang ditakdirkan menjadi besar, bergerak dan besar bersama atas nama hiphop indonesia. PASUKAN RECORDS berdiri di bawah naungan PT. Partist Asia yang didirikan oleh 2 musisi yaitu Wiesa dan Arief Blingsatan di era pandemi.

Hingga kini telah merilis karya-karya artisnya dan telah berkolaborasi dengan berbagai elemen industri hiphop tanah air mulai dari kolektif, production hingga record label tercatat nama2-nama yang tidak asing di industri musik indonesia seperti Flava, Guest music, Demajors records dll.

Tidak hanya bisnis record label, kami pun putar otak dan berkembang ke ranah event. Sampai detik ini kami masih bergolak naik turun dan bertahan, kami nikmati perjalanan ini sebagai proses. Begitulah sedikit cerita tentang wirausaha yang saya bangun. Ini bukan wacana kisah sukses pengusaha, ini hanya kisah nekat seorang musisi kelas menengah jangan menyerah!.

0 COMMENTS