MENULISKAN BUKU BANDUNG BAWAHTANAH

  • By: Kimun666
  • Senin, 31 August 2015
  • 4734 Views
  • 1 Likes
  • 0 Shares

Tanggal 11 November 2007 ketika buku Myself : Scumbag Beyond Coma and Despair dirilis, sudah diproklamirkan bahwa buku ini adalah bagian ke satu dari trilogi yang akan saya tulis dan rilis bertemakan sejarah musik bawahtanah Bandung. Buku ke dua yang lalu terbit adalah Sejarah Ujungberung Rebels yang dipaparkan dalam tiga buku, Memoar Melawan Lupa (Minor Books, 9 Februari 2011), Jurnal karat, Karinding Attacks Ujungberung Rebels (Minor Books, 20 Oktober 2011), dan Ujungberung Rebels, Panceg Dina Galur (Minor Books, 22 November 2013). Buku ke tiga yang kini sedang dipersiapkan kepenulisannya adalah buku Bandung Bawahtanah.

 

Menuliskan buku Bandung Bawahtanah adalah satu tantangan terbesar dalam melengkapi kajian sejarah yang saya pahami mengenai ranah musik ini. Tentu saja kepenulisannya akan sangat kompleks mengingat tidak saja satu tema yang harus dipaparkan, namun begitu beragam hasrat musik yang darinya terbentuk komunitas-komunitas serta ranah musik independen di masa kini. Dalam penggodokan wacana konten buku ini setidaknya ada sepuluh tema yang harus digali dan disajikan masing-masing dalam satu buku. Tema-tema tersebut adalah sejarah ranah musik metal, punk, hardcore, grunge, pop, hiphop, musik hibrida perpaduan musik tradisi dan modern, merchandising, zine, dan extreme sport. Tema-tema lainnya yang menjadi kandidat tema alternatif adalah mengenai pegelaran-pergelaran musik bawahtanah, desain dan artwork, serta ranah musik lain yang memiliki spirit pergerakan bawahtanah namun sering tidak disebutkan berkorelasi dengan ranah musik “bawahtanah”, seperti pergerakan musik jazz, rock n’ roll, blues, folk, dan bahkan dangdut.

Tentu saja untuk menghindari perluasan pembahasan hingga ke sana-sini, upaya pengerucutan tema dilakukan berdasarkan kepada hakikat mengenai musik bawahtanah itu sendiri. Untungnya perdebatan dan pewacanaan mengenai hal ini sudah dilakukan dan sudah terbangun banyak sekali pemahaman bersama mengenai hakikat ranah musik bawahtanah sejak ranah musik ini berkembang di Kota Bandung. Era-era awal di tahun 1970an dan kemudian di tahun 1990an dan 2000an, sudah menghasilkan banyak wacana eksploratif mengenai ranah musik bawahtanah baik itu dalam abstraksinya, mau pun manifestasi yang terbangun dari wacana tersebut. Kajian-kajian ini sudah dilakukan dan terus digodok untuk memperkuat konsep “bawahtanah” yang menjadi gerbong utama kepenulisan buku-buku ini.

Secara teknis, pengumpulan dokumentasi, data, dan artefak juga terus dilakukan seiring dengan inventarisir sumber-sumber lisan yang hingga kini masih ada dan dari mereka bisa diperoleh informasi-informasi penting mengenai pergerakan musik bawahtanah Bandung. Upaya ini sebenarnya sudah dilakukan sejak saya melakukan riset untuk buku Scumbag tahun 2006 dan inventarisir serta informasi mengenai keberadaan data semakin terkumpul sepanjang menuliskan trilogi sejarah Ujungberung Rebels. Dari data-data ini juga sudah dilakukan pemetaan data, dokumen, artefak, serta sumber lisan yang kelak akan mempermudah proses penelitian dan penulisan buku Bandung Bawahtanah. Selain itu, diskusi-diskusi, baik yang terbuka mau pun yang tertutup juga secara berkala dilakukan di ruang-ruang inisiatif dan ruang-ruang publik, melibatkan para pionir musik bawahtanah dari masa ke masa untuk memperkaya wacana yang digulirkan di dalam masing-masing tema buku Bandung Bawahtanah.

***

Ini tentu saja bukan sebuah kerja yang mudah. Perlu waktu bertahun-tahun untuk menyiapkan kerja ini agar menghasilkan buku yang bagus dan yang paling penting adalah buku ini, baik dalam isi mau pun proses kepenulisannya, harus mampu membangkitkan semangat bersama untuk membangun ranah musik Kota Bandung. Untuk itu, kepenulisan buku ini akhirnya dikembalikan kepada kebutuhan yang paling mendesak dalam pergerakan literasi independen, terutama berkaitan dengan kepenulisan buku-buku sejarah dan kajian-kajian ilmiah di ranah musik bawahtanah Bandung. Kebutuhan tersebut adalah memunculkan para penulis muda yang memiliki komitmen dan konsistensi yang tinggi dalam menulis dan membangun ranah musik bawahtanah menjadi satu ranah yang lebih baik, terutama dalam ideologi dan pemikirannya. Untuk itu kepenulisan buku ini harus dijadikan momen regenerasi penulis, di mana penulis-penulis yang sudah berkiprah di literasi musik bawahtanah Bandung harus mampu mempersiapkan anak-anak muda yang selanjutnya akan memegang estafet pembangunan ranah musik bawahtanah di bidang literasi dan kepenulisan kesejarahannya.

Walau pada faktanya literasi sudah menjadi kekuatan utama pergerakan ranah musik bawahtanah Bandung sejak awal kelahirannya, namun harus diakui bahwa literasi yang menyangkut wacana kesejarahan masih belum terumuskan dengan baik. Di masa lampau kita pasti sangat akrab dengan zine-zine, majalah-majalah seperti AKTUIL tahun 1970an, serta TROLLEY dan RIPPLE di era 1990an dan 2000an awal. Media-media ini merupakan wadah awal yang memberikan informasi-informasi awal mengenai ranah musik ini sekaligus menempa ideologi pergerakan independensi yang menjadi rel pergerakan para pionir ranah musik ini. Namun demikian, wacana kesejarahan serta wacana sosial dan budaya yang secara harfiah hadir dalam bentuk buku—dengan segala kompleksitas dan fungsinya yang sangat laten—baru muncul di awal tahun 2000an.

Buku—dalam kekurangan serta kelebihannya—adalah manifestasi sebuah keseriusan dalam berpikir dari seorang individu, kelompok, ataupun komunitas. Buku juga bisa menjadi gerbang yang mengantarkan individu, kelompok, atau komunitas yang menulis dan merilis buku tersebut berjejaring lebih luas, tak hanya dengan masyarakat umum, namun juga dengan pergaulan ilmiah dan akademik. Tidak semua sumber referensi bacaan bisa dijadikan acuan untuk menulis sebuah karya tulis ilmiah kajian pustaka. Buku memegang peranan penting di sini. Ini karena buku bisa dijagikan sumber data dan bisa dimasukkan ke dalam daftar pustaka ketika seorang peneliti atau penulis mengambilnya sebagai bahan dalam kepenulisannya. Semakin banyak buku bertema ranah musik bawahtanah Bandung dirilis, makan akan semakin besar kans ranah musik ini untuk menjadi kajian ilmiah, baik di sekolah-sekolah lanjutan, universitas-universitas, mau pun jejaring akademik independen yang memiliki perhatian tehadap penerbitan-penerbitan karya ilmiah. Di titik ketika pergaulan di jejaring ilmiah sudah semakin terjalin, kajian mengenai ranah musik bawahtanah Bandung akan semakin komplit. Ia akan menawarkan banyak sekali solusi-solusi kreatif yang muncul dari aktivitas riset bagi berbagai permasalahan yang muncul, baik di internal ranah musik bawahtanah, juga di masyarakat secara umum.

Lebih jauh, pergerakan literasi bawahtanah dan juga perbukuan akan membuat pembangunan ranah musik bawahtanah Bandung bisa dilakukan secara lebih efektif dan strategis. Tentu kita mendambakan sebuah bentuk ranah musik yang berumur panjang, berkelanjutan, dan semakin membaik hari demi hari. Untuk merancang satu kondisi yang berkelanjutan, maka modal awalnya adalah pengetahuan masa lalu yang komplit yang dibangun dalam narasi-narasi. Dalam hal ini, buku bawahtanah Bandung tentu saja akan menjadi narasi utama yang memberikan wawasan kepada para penggiat ranah musik bawahtanah Bandung dan juga masyarakat yang lebih luas, termasuk pemerintah dan juga kalangan para pengusaha yang selama ini berjalan berdampingan dengan ranah musik bawahtanah Bandung.

Namun demikian, sekali lagi isi dan proses penggarapan buku ini harus berada dalam kaidah-kaidah pergerakan musik bawahtanah itu sendiri. Wacana perkembangan kaidah-kaidah ini dari masa ke masa juga harus disesuaikan dengan nilai-nilai kearifan lokal di mana karya ini dituliskan. Saya kira spirit keterbukaan terhadap perkembangan wacana bawahtanah dari masa ke masa, penghargaan terhadap keragaman, toleransi, kolaborasi, kebersamaan, silihwangian, dan daya eksplorasi tiada henti adalah spirit utama yang menjadi refleksi dari Bandung serta ranah musik bawahtanah yang lahir di tanahnya.

Hajar terus jalanan \m/

 

*Penulis adalah musisi dan rekreasioner

 

Foto : burgerkillofficial.com

1 COMMENTS
  • dinan

    diantos pisan kakak ^_^

Info Terkait

supernoize
824 views
supernoize
824 views
supernoize
824 views
supernoize
824 views
supernoize
824 views
supernoize
3069 views

Saat Venue Musik Gugur Perlahan