Merajut Terputusnya Generasi ‘Super Band’ di Surabaya

Arief 'Blingsatan': Merajut Terputusnya Generasi ‘Super Band’ di Surabaya

Berikut adalah kilas balik singkat dari generasi super band yang kiprahnya diawali dari kota Surabaya dari era 50-an: The Tielman Brothers (belajar bermusik di Surabaya dan besar di Belanda), Dara Puspita, Ucok Harahap, AKA, SAS, duo Franky and Jane. Mereka dilanjutkan generasi jawara festival rock seperti Grass Rock, Power Metal, Andromeda, Boomerang dan terakhir super band legenda era akhir 90-an, yaitu Dewa 19 dan Padi.

Seiring perjalanan waktu, Surabaya seakan mengalami kemandulan, ada apa gerangan dan apa saja yang menyebabkan semua itu? Akan saya coba telaah secara sederhana.

Fenomena industri musik dunia di era 90-an hingga awal dekade 2000 adalah transisi perubahan iklim musik di industri musik di Surabaya, baik pelakunya, musisi sekaligus masyarakat pencinta musik. Ini disebabkan karakter kota yang cenderung konservatif, tidak dinamis secara apresiasi, dan sulit menerima hal-hal baru. Inilah yang membuat kita jauh tertinggal.

Pasca Era Take Over Kejayaan Major Label oleh Gerakan Indie Label

Era kejayaan Dewa 19 dan Padi banyak menginspirasi banyak musisi, khususnya di Surabaya, untuk berkarya dengan skala orientasi yang lebih besar. Dua band ini menjadi sebuah standard acuan yang relatif cukup tinggi bagi musisi Surabaya.

Dewa 19 era awal (Sumber foto)

Mereka berhasil menjadi band populer di Tanah Air, sementara  dari generasi berikutnya muncul Dwipa, TIC band dan beberapa nama lain yang muncul, walau dengan hasil tak sesukses impiannya. Akhirnya, muncul kultur bahwa band adalah musisi yang hanya membuat lagu, bermain bagus dan bertampang keren, singkatnya: komersial dimata major label. Inilah hal yang mati-matian mereka kejar.

Dari sekian perjalanan perjuangan meraih harapan menjadi artis di ibu kota, tidak sedikit yang terjebak dalam perbudakan major label era itu. Sedangkan, kota-kota luar Surabaya mulai muncul arus indie label dengan jalur bawah tanah mulai terdengar lirih. Mereka menyeruak dari Jakarta, Bandung dan Yogyakarta.

Kebanyakan berawal dari gerakan lokalitas yang mandiri untuk konsumsi kotanya sendiri, dan cenderung dilakukan dengan fun; membentuk sebuah subkultur, mempropagandakan kemerdekaan berkarya melawan tirani industri, menjadikan karya pelakunya dihargai oleh masyarakat kotanya sendiri.

Pergerakan masif dari segala bidang, mulai dari merchandise, media lokal/zine, hingga hal-hal kompleks seperti fesyen dan , bahkan ideologi. Hal-hal ini sedikit banyak meracuni kota-kota lain di sekitarnya, termasuk Surabaya.

Sedangkan dalam rentang 94 sampai memasuki era 2000-an di Surabaya sempat muncul generasi indie label dan band-band seperti Karpet serta X-Callibour yang mampu menembus MTV Asia, Blukhutuq dan Wafat di kompilasi perdana Metalik Klinik dari label besar sekelas Musica Studio, kemudian disusul dengan Carnaval, Plester dan masih banyak lagi.

Perkembangan mereka terganjal selera masyarakat Surabaya yang tidak mudah diputarbalikkan. Saat itu, mereka tidak memahami gerakan lokal yang berjuang dengan karya-karyanya. Mereka hanya tau bahwa musik bagus itu yang sering diperdengarkan di media arus utama seperti radio dan televisi.

Alhasil, pasar off-air pun dikuasai oleh band-band cover yang membawakan lagu Top 40, baik di cafe maupun di gigs era booming classic rock hingga puncaknya di era hip-metal dan hip-hop. Skena pun lambat laun mulai meredup, rasa ketidakpercayaan terhadap passion sebagai musisi mulai melanda hingga pada 2005 semakin terpuruk saat industri major label mulai banyak gulung tikar karena pergeseran era.

NSP, free download mp3 dan sebagainya menggantikan toko-toko cd dan kaset, sedangkan musisi berbakat di Surabaya pun tak kunjung move on dari budaya major label. Bahkan hingga sekelas media-media mainstream Surabaya seperti media cetak dan radio ikut tertinggal. Semuanya tertelan budaya sentralisasi yang sudah terbiasa tergantung dengan label ibu kota.

Lalu, apa kabar mereka yang sukses menjadi di Jakarta? Kebanyakan cenderung menjaga jarak, antara band nasional (ibu kota) dengan band lokal. Ini berbanding terbalik kalau kita melihat seorang Pongky (Jikustik) menjadi produser album perdana Endank Soekamti atau vokalis Arian13 menjadi jurnalis di Jakarta dan mengangkat band-band Bandung dengan tulisannya.

Ini diperparah lagi saat band-band major label minded ini memaksakan diri hijrah ke ibu kota, saat industri mulai goyah. Bak masuk mulut buaya, tidak sedikit yang terjebak oleh mafia label abal-abal, mulai dari modus makelar artis dan sistem "titip edar". Korban-korban ini tidak sadar diri atas bahaya yang harus dihadapi bersama, malah justru menjadi bagian mafia ini dengan mencari mangsa kawan-kawannya sekotanya sendiri.

Belum lagi di ranah musik rock, label besar sekelas Logiss Records yang sangat diharapkan merilis album juga vakum. Padahal, kultur festival yang dibentuk Log Zhelebour sudah membudaya di Surabaya selama bertahun-tahun.

Karya musisi surabaya tidak terapresiasi dengan baik di dalam kotanya, sedangkan untuk bergerak ke luar kota masih belum terbiasa dengan budaya band independen. Sementara cara yang paling mainstream melalui major label pun mengalami kebuntuan.

BIingsatan (sumber foto)
 

Kebangkitan Pasca Keterpurukan

Dari titik keterpurukan di rentang waktu, ada generasi yang berusaha menghidupkan gairah musik lokal Surabaya di tahun 2005, saat kancah independen tidak lagi selalu berangkat dari gigs komunitas, tetapi langsung digerilyakan ke sekolah, kampus dan klub malam hingga event umum.

Beberapa nama-nama pionir yang hingga saat ini masih kerap menjadi line up yang dijagokan di Surabaya adalah Devadata, Heavy Monster dan Blingsatan, yang berusaha membangkitkan kepercayaan masyarakat terhadap industri musik lokal, juga terus menginspirasi musisi-musisi generasi berikutnya.

Usaha ini melahirkan generasi penerusnya seperti Fraud, Rasvan Aoki, Silampukau dan Saga yang mulai merambah industri musik dengan skala yang lebih luas dengan caranya masing-masing. Mereka terus berjuang dan menginspirasi generasi berikutnya, hingga muncul keyakinan untuk bisa mengejar ketertinggalan dan akan meraih kejayaan di masa depan.

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
170 views
supericon
342 views
superbuzz
499 views
supergears
229 views
superbuzz
482 views
superbuzz
731 views

Merunut Album Terbaik Padi