Stephanus Adjie: Mesin Perang Bernama Down For Life

  • By: Stephanus Adjie
  • Minggu, 17 December 2017
  • 4020 Views
  • 4 Likes
  • 34 Shares

24 November 2017 pukul 10.00 WIB malam lebih, saat terbayang wajah Marsha Timothy yang cantik dan dingin di film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak, saya menerima pesan Whatsapp dari Rio Baskara, mengatakan kalau materi lagu untuk album baru Down For Life sudah siap dieksekusi. Yeaaah.. akhirnya empat tahun berlalu setelah dirilisnya Himne Perang Akhir Pekan, band ini akan segera merilis album penuh ketiganya. Kembali teringat bagaimana perjalanan panjang yang melelahkan—dan mulai membosankan—dari sebuah mesin perang bernama: DOWN FOR LIFE.

 Dimulai pada pertengahan tahun 1999. Setelah gagal menyelesaikan kuliah di Jogja dan bekerja tidak jelas di Jakarta, saya harus pulang ke Solo, membawa dendam dan amarah untuk pembuktian diri dengan segala idealis yang menggumpal. Tinggal di rumah bersama orang tua di daerah pinggiran Kota Solo membuat saya bosan dan mencoba untuk mencari teman yang sepaham dalam banyak hal, termasuk musik tentunya.

Meninggalkan kota ini sejak kelas 6 sekolah dasar membuat saya tidak mempunyai banyak teman. Akhirnya saya menyambangi wilayah Sriwedari, bertemu teman-teman Sriwedari Boot Bois yang sebelumnya sudah saya kenal, sebuah komunitas punk dan skinhead yang cukup disegani. Di masa itu hardcore masih terpinggirkan. Jangankan hardcore, oi! dan kultur skinhead masih cenderung belum diterima.

Anang ‘Achenk’ Ahmadi, drummer band street punk Underdog, adalah orang yang pertama mengajak membuat band hardcore lagi. Sebelumnya di Jogja, saya bermain untuk band old school hardcore, Sabotage, yang liriknya sarat kritik sosial politik. Tentu saja, saya antusias dengan ajakannya dan segera mencari personel lain. Imam Santoso dari band Mindsnare dan Ahmad ‘Jojo’ Ashar dari Apotikcore melengkapi formasi awal band yang belum ada namanya.

Nama Down For Life sendiri diambil dari tulisan di kaset pita Biohazard album No Holds Barred milik Achenk yang akan dijual ke adik Imam, Sigit Pratama yang beberapa tahun kemudian bergabung di band ini juga. Ini adalah nama fans club mereka. Setelah dicari artinya juga cukup menarik untuk nama band kami yang resmi terbentuk di akhir 1999.

Pada awalnya Down For Life meng-cover lagu-lagu milik Backfire!, Only Attitude Counts, dan Discipline. Januari 2000, untuk pertama kalinya kami manggung. Sebuah gig punk di Auditorium Universitas Diponegoro Semarang menjadi tonggak awal dimulainya Down For Life. Sepulang dari sana kami memutuskan untuk lebih serius dalam bermusik, termasuk juga Achenk yang memutuskan keluar dari Underdog. Hal ini membuat friksi antara kami dan beberapa teman di Sriwedari Boot Bois semakin membesar. Meski beberapa teman seperti Zoelham (sekarang di The Working Class Symphony) dan Mamik dari The Barbershop/Tendangan Badut tetap mendukung kami sampai sekarang.

Perbedaan selera musik, visi, dan tentu gejolak masa remaja menjadi sumbu utamanya. Tidak hanya adu argument, tapi intimidasi sampai bentrokan fisik harus kami hadapi sampai beberapa tahun kemudian. Sebenarnya hal ini sangat wajar, kerasnya kehidupan di jalan adalah pengalaman yang sangat berharga di kemudian hari. Kami memutuskan keluar dari komunitas secara fisik, meski secara jiwa dan hati masih merasa menjadi bagiannya. Bagaimanapun Sriwedari Boot Bois adalah bagian dari perjalanan kami sebagai band maupun sebagai manusia. Tentang perjuangan, persahabatan, kebanggaan, idealisme yang menjadi nafas Down For Life. You can leave the ghetto but the ghetto never leave you.

Down For Life mulai memasuki fase berikutnya pada pertengahan tahun 2000, dengan sering nongkrong dan latihan di Studio Biru di daerah Tipes, studio musik yang cukup berpengaruh dalam sejarah musik populer di Solo. Bertemu dengan banyak musisi dari genre lain membuat wawasan dan pergaulan semakin luas.

Juni 2000, kami memutuskan menambah satu gitaris lagi. Achenk bergeser menjadi gitaris dan Doddy Mortorg eks Traxtor/Brutal Corpse/Tragical Memories menjadi drummer. Masuknya Doddy yang lebih metal membuat musik Down For Life bergeser lebih heavy. Meninggalkan European Hardcore dengan menjadi lebih metallic hardcore dengan pengaruh Hatebreed dan All Out War.

Uniknya, sebenarnya Achenk tidak dapat bermain gitar dengan baik. Dia menjadi gitaris karena supaya terlihat keren dan ingin punya foto dengan pose melompat ala hardcore. Sial. Alasan yang tidak masuk akal tapi memang itulah kenyataannya. Ada suatu pengalaman menarik saat kami diundang main di Pacitan di tahun itu. Perjalanan cukup jauh dengan bus umum dan sampai di sana ternyata Down For Life tidak ada di rundown. Tapi setelah merayu panitia kami akhirnya tetap bisa bermain. Hal yang lumrah di era underground zaman itu.

Pacitan juga tidak terlupakan bagi saya. Kami diundang lagi untuk bermain di sana tahun 2001. Saat akan tampil perut saya bermasalah dan merasa mules tapi tetap dipaksakan main. Alhasil lagu pertama saat mulai berteriak, perut saya mulai tidak beres dan segera lari ke toilet yang letaknya cukup jauh dan membersihkannya. Tentu akhirnya saya tidak bernyanyi selama Down For Life tampil. Saya juga memutuskan untuk membuang celana dalam dan tidak memakai CD sampai pulang ke Solo. Saat pulang, kami berfoto di depan bus umum sambil berkhayal suatu saat akan tur dengan bus carteran sendiri. Beberapa tahun kemudian cita-cita itu terwujud.

Dalam formasi ini, kami terus menjelajahi banyak gigs underground di Solo dan beberapa kota di Jawa Tengah. Kemudian datang tawaran bermain di Malang. Ada cerita menarik tentang Kota Malang. Pada awal berdirinya Down For Life, saya bercerita ke Achenk dan Jojo, bagaimana saya dengan Sabotage pernah bermain di Kota Apel itu, tentang skena hardcore di sana yang luar biasa. Jadi bermain di Malang menjadi cita-cita dan target awal Down For Life; harus manggung di Malang, di bumi Arema.

Karena keterbatasan biaya, kami berangkat ke stasiun diantar Erdo dengan mobil pickup-nya dan ke Malang dengan menjadi penumpang gelap kereta api ekonomi. Sampai di Malang dengan selamat, tapi pulangnya tidak, karena tidak membeli tiket sesuai jumlah rombongan, kami diturunkan di Stasiun Madiun oleh petugas polisi kereta api sampai kemudian diberangkatkan dengan kereta berikutnya tapi dengan pengawalan petugas.

Sepulang dari Malang, kami mendapatkan begitu banyak referensi musik metallic hardcore/evil core ala H8000 dan Goodlife Recordings seperti Morning Again, Arkangel, dan lainnya. Ini membuat kami semakin bersemangat dalam band. Berjalan beberapa saat kemudian, Achenk memutuskan keluar dari band di bulan Desember 2001, tepat sebelum kami harus berangkat manggung ke Bekasi. Paranoid karena narkoba sebenarnya menjadi alasan utama. Sekarang dia sudah lama berhasil berhenti menjadi pemakai dan terus mendukung Down For Life. Sampai hari ini Achenk kadang masih ikut proses latihan dan manggung meski bukan personel band lagi. Dia adalah personel sejati Down For Life. Bersama Achenk, kami sempat menghasilkan dua lagu. “Fear of The Unknown” adalah lagu pertama yang kami bikin, di album Simponi Kebisingan Babi Neraka diubah liriknya dalam bahasa Indonesia menjadi “Ketakutan Tanpa Alasan”. Lagu yang terinspirasi dari pengalaman kami dengan narkoba. Seperti halnya Achenk, saat itu kami adalah pengguna meski tidak aktif dan berhasil berhenti beberapa tahun kemudian. Kemudian disusul dengan lagu “Change” yang mempresentasikan proses dan progress yang Down For Life alami dalam setahun itu.

Berbekal dua lagu itu, di tahun 2002 Neverend Records dari Bekasi mengajak kami untuk terlibat dalam kompilasi With Pain We Born bersama Fist of Therapy (sekarang The Corals), Passenger, Full of Respect, Quarter Out (sekarang Speedkill) dan Screaming Factor. Proses rekamannya di Studio K, Pondok Gede, Bekasi yang legendaris dengan sound engineer Ronny Zabreak. Ini adalah pengalaman pertama untuk Down For Life melakukan sesi rekaman di studio. Rekamannya secara analog belum digital, jadi kalau salah take ya harus diulang dari awal. Melelahkan sekaligus menyenangkan.

*Foto oleh Mugi Wirasto

Dirilis dalam format kaset, mungkin itu menjadi album kompilasi metalcore pertama di Indonesia. Lagu “Change” dengan part yang catchy dengan mudah diterima oleh penggemar musik keras, meski skena musik keras atau underground saat itu didominasi death metal dan black metal. Kebetulan saya penyiar di salah satu radio swasta di Solo, SAS FM, jadi bisa memutarkannya dan mendapatkan respons cukup bagus dari pendengar. Dengan kompilasi itu, Down For Life semakin dikenal. Dari yang awalnya harus membayar registrasi, kemudian diundang dan dibayar untuk main di berbagai acara. Pengalaman menjadi pembuka band internasional, yaitu Ingrowing dari Ceko di Jogja, untuk pertama kalinya juga kami dapatkan. Tapi tekanan juga semakin keras menerpa. Saat itu skena musik di Solo masih didominasi oleh band rock, alternative, pop dan cover band atau Top 40. Bahkan di Studio Biru pun kami masih seperti anak tiri. Rommy Lek Acung, pemilik studio, bahkan sempat menyarankan mengurangi kadar kekerasan musik kami agar bisa rekaman disana dan bisa bermain di banyak panggung lagi. Tentu saja kami tolak mentah-mentah. Susahnya kesempatan bermain tidak membuat kami menyerah.

Di awal 2003, dari Studio Biru kami pindah tempat berkumpul di rumah seorang kawan, Erdo a.k.a Babah. Dia beserta keluarganya mau menyediakan rumahnya untuk kami  berkumpul bahkan tidur dan hidup. Karena sering berkumpul di sana yang merupakan bagian dari kecamatan Serengan, kami menamakan diri Serengan Side Crew.

Saya masih ingat seorang sahabat, Syahudi a.k.a Chotak, bermimpi nanti akan ada semacam distro/rockshop di rumah ini. Itu terwujud beberapa tahun kemudian dengan berdirinya Belukar Rockshop. Kemudian bersama teman-teman wilayah lain juga band-band seperti Moment of Pain, Cause of Damage, Child Abused, Hard of Truth dan lainnya kemudian menjadikan komunitas Solo City Hardcore, yang sebelumnya sudah ada, semakin solid. Membuat gigs hardcore adalah hal realistis yang kami dilakukan. Dari Hardcore Movement, Fucklentine juga beberapa studio gigs membuat musik ini semakin kuat dan diterima di Solo. Cibiran dan tekanan makin keras, bentrokan fisik kadang masih harus dihadapi. Ya musik dan hidup ini memang keras.

Inilah era sejarah di Kartopuran dimulai. Referensi yang semakin bertambah membuat musik Down For Life pun berkembang. New Wave of American Heavy Metal, istilah keren untuk metalcore Amerika seperti Killswitch Engage, Unearth, Chimaira dan lainnya semakin memengaruhi. Kemudian kami berpikir untuk menambah satu gitaris lagi. Setelah mengaudisi beberapa gitaris, akhirnya Sigit Pratama dari Full Stricken/Corrupshit yang juga adik kandung Imam bergabung dengan kami.

down for life

Saya dan Jojo sangat menyukai sepak bola. Tentu saja mendukung klub yang berkandang di Solo saat itu yaitu Persijatim Solo FC dan bergabung dalam kelompok suporter Pasoepati. Kami berdua cukup aktif menonton dan mendukung langsung di stadion, tidak hanya di kandang tapi juga tandang di berbagai kota. Fanatisme dan kebanggaan ini dituangkan dalam lagu “Pasoepati”. Ini dipersembahkan untuk kelompok suporter Pasoepati, bukan kepada klubnya. Hal ini kemudian sering kali menimbulkan masalah untuk Down For Life. Dalam beberapa tahun kemudian sering kali mendapat intimidasi dan ancaman dari kelompok suporter lawan saat kami manggung di kota mereka. Kami dianggap berafiliasi dengan Pasoepati meski hanya saya dan Jojo yang terlibat di dalamnya. Tapi di satu sisi Down For Life semakin mendapat dukungan dari masyarakat Solo. Beberapa tahun kemudian, tepatnya 2007, lagu itu menjadi soundtrack film pendek Ojo Wedi Dadi Abang karya Arum Tresnaning Tyas Dayu Putri. Sampai sekarang kami dianggap band yang sangat dekat dengan kultur sepak bola.

Saya dan beberapa teman tergabung dalam Bahaya Kolektif/Sengat Production mengadakan Rock in Solo juga pertama kali di tahun 2004. Mengejutkan bagi publik musik di Solo dan sekitarnya, underground yang identik dengan hal negatif berubah menjadi keren dan diperhatikan. Ini membuat musik keras di Solo semakin bergairah, melanjutkan perjuangan generasi sebelumnya di era 70-an dengan Ternchem dan 80-an dengan Kaisar. Terlibat di Rock in Solo membuat Down For Life juga semakin diperhitungkan. Ini menjadikan kami sangat produktif dalam berkarya. Untuk pertama kalinya juga kami dibantu Achenk merilis t-shirt merchandise Down For Life yang artwork-nya dikerjakan oleh Conel dari Sinkkink/Nothing Special. Produksi t-shirtnya di Jogja dan kami mengalami kecelakaan mobil saat perjalanan. Untungnya kami tidak terluka hanya mobil Achenk yang rusak ditabrak truk.

Tahun 2005 di bawah Dapross Management, kami melakukan proses rekaman di Studio Biru dengan sound engineer Setyo. Total 12 lagu yang kemudian kami sebarkan sebagai promo dalam format CDR. CD promo ini beredar secara gratis dan menjadi semacam album bootleg Down For Life, karena promo yang berisi banyak lagu seperti album. Jadwal manggung semakin banyak seiring dengan beredarnya CD promo itu. Tidak hanya di Solo dan sekitarnya, tapi juga beberapa kota lainnya. Tawaran untuk rilisan album pun juga masuk dari Aunorysm Records meski hal ini tidak terealisasi.

Font Down For Life pertama dibikin oleh Daniel Conel dari Sinkkink/Nothing Special. Sementara logo babi pertama dipakai saat Dapross merilis t-shirt merchandise Down For Life dengan artwork karya Yunita, seorang desainer dari FSR UNS. Artwork babinya masih imut belum seperti sekarang ini. Dapross juga merilis 1 VCD live kami di Fakultas Hukum UNS yang dicetak sebanyak 500 keping dan habis dalam waktu singkat. Saya dan Erdo juga semakin aktif membuat event. Kemudian kami membentuk the ThiNK Kolektif yang bermarkas di rumah Erdo. Kolektif inilah nantinya yang melanjutkan Rock in Solo dan membuat event-event subkultur di Solo yang melibatkan Down For Life dalam beberapa kesempatan.

Di pertengahan tahun itu, Jojo bersama beberapa teman harus menjalani proses hukum karena tindak kekerasan penganiayaan. Hampir 10 hari mereka mendekam di sel polisi, padahal saat itu kami ada kontrak manggung yang harus dijalani. Dengan bantuan pengacara, Jojo diizinkan keluar sebentar untuk manggung tapi dengan pengawalan petugas. Sangat mengharukan saat manggung, teman dan penonton menyambut dan mengelukan Jojo, luar biasa. Dan setelah itu dia harus kembali ke sel polisi lagi dan keluar beberapa hari kemudian. Itu salah satu momen yang tidak terlupakan bagi saya dan Down For Life, tapi sebenarnya menyimpan sebuah masalah yang dipendam antara Jojo dan Imam. Masalah pribadi antar mereka yang membuat mereka hampir tidak berbicara satu sama lain selama hampir 10 tahun. Tetapi itu tidak membuat kami berhenti. Mesin terus bergerak.

Tahun 2006, kami menjadi band pembuka Van Katoen dari Belanda saat mereka bermain di Solo. Di tahun ini juga pertama kalinya kami merilis video klip, dari lagu “Change” yang sebenarnya adalah tugas mahasiswa UNS. Video yang dipadukan unsur animasi ini menjadi karya terakhir kami bersama Doddy di saat band ini sangat aktif dan bergerak masif. Dia meminta kami untuk segera mencari drummer baru. Jojo, yang cukup aktif di skena, mengusulkan Wahyu ‘Uziel’ Jayadi dari Arm of The View, dan sempat latihan bersama satu kali di studio.

Saat itu kami harus bermain di gigs SCHC dengan headliner R.A.M.B.O dari Amerika. Tapi Doddy tidak datang saat kami sudah harus segera tampil, jadinya Uziel yang saat itu ada di venue langsung mengisi posisi drum tanpa persiapan berarti. Setelah itu kami memutuskan untuk mengganti Doddy dengan Uziel.

Doddy yang paling berpengalaman, terutama dalam hal teknis dan kematangan bermusik. Keluarga dan finansial menjadi kendala yang kemudian membuatnya memutuskan keluar di pertengahan 2006. Tidak dapat dipungkiri, Down For Life yang masih hijau di ranah musik keras apalagi memainkan musik yang lebih ekstrem di waktu itu, belum bisa menghasilkan secara ekonomi. Sementara Doddy sebagai kepala rumah tangga harus bertanggungjawab kepada istri dan dua anaknya.

Ditinggalkan Doddy sangat berat untuk kami. Dia mentor sekaligus kakak tertua untuk kami. Saat itu pun hampir semua alat musik kami pinjam dari Doddy. Jadi bisa dibayangkan bagaimana bingungnya kami tanpa dia. Tapi saya, Jojo, Imam, dan Sigit mendapat dukungan dari teman-teman lain untuk terus melanjutkan band ini. Down For Life harus bisa lepas dari bayang-bayang seorang Doddy Mortorg. Tugas berat menanti Uziel. Bahkan banyak teman dan penggemar yang meragukannya. Perlahan dia berhasil menjawab keraguan itu. Tenaga segarnya membuat kami semakin yakin untuk segera merilis album pertama secara resmi. Tahun ini pula Jojo harus vakum dari Down For Life. Ia harus long trip di beberapa kota di Indonesia bersama band Top 40. Tapi dia sudah menyiapkan pengganti untuk sementara, yaitu Pendek dari Pecas Ndahe, yang memakai nama Kijing Berputar, dan Komeng dari Termite.

Kami memang harus berstrategi dan memutar otak untuk terus melanjutkan Down For Life dengan problema hidup yang harus dihadapi. Latar belakang dari keluarga yang pas-pasan memaksa kami harus bekerja keras untuk sekadar menghidupi diri sendiri.  Hampir dua tahun Jojo pulang pergi untuk pekerjaannya itu. Saya sendiri, masih bekerja sebagai penyiar di sebuah radio swasta. Sigit masih kuliah dan Uziel mengajar les drum, kadang bermain dengan band cover juga. Imam pun harus bekerja serabutan dari bermain dengan band humor sampai menjadi art decorating. Ia harus pintar membagi waktu karena dia bersama kelompok musik humornya yaitu Padat Karya, mendapatkan kontrak 2,5 tahun untuk mengisi satu program di TV swasta nasional.

Di tahun 2007, Down For Life mendapatkan penawaran untuk merilis album dari sebuah record label asal Jakarta, yang biasa merilis album jazz. Setelah berembug kami memutuskan untuk merekam ulang semua materi lagu karena pergantian drummer dari Doddy ke Uziel. Kami kembali masuk ke studio rekaman lagi dengan biaya sendiri, karena pihak label tersebut meminta materi yang sudah jadi. Studio Biru dan Setyo kembali menjadi pilihan. Beberapa lagu diaransemen ulang dan tidak dipakai karena beberapa pertimbangan.

Pihak label juga meminta kami untuk membuat satu lagu yang lebih slow untuk pertimbangan jualan, dengan susah payah akhirnya kami memenuhi permintaan itu. Terciptalah lagu “Menuju Matahari” dalam waktu singkat. Saat rekaman, kebetulan DD Crow, gitaris Roxx yang juga orang Solo sedang ada di studio, kami ajak untuk mengisi melodi gitar. Dan lagu itu kemudian juga nantinya menjadi salah satu lagu yang banyak disukai dan Rio Bonding membuat video klipnya untuk proyek kompilasi DVD East Side Metal. Total 10 lagu siap untuk dirilis tapi kemudian pihak label malah mundur. A*uuuu..!

Kepalang basah dan materi album sudah siap, kami memutuskan untuk merilis sendiri melalui Belukar. Saya bersama Erdo dan Jahlo Gomes, seorang artworker terbaik Kota Solo juga vokalis MTAD, membuat Belukar clothing line dan distro yang berkonsep rockshop di lorong pojok rumah Erdo. Dengan modal sendiri dari saya dan Erdo juga sedikit kas Down For Life. Terpililah Judul Simponi Kebisingan Babi Neraka dan dirilis melalui Belukar Records pada tahun 2007.

Pemilihan judul album merujuk dari Pasukan Babi Neraka, istilah yang diperuntukkan sebagai sebutan bagi kami dan penggemar Down For Life. Ini adalah hasil diskusi kami dengan Tatuk Marbudi, seorang desainer grafis dari Solo. Saya dan Tatuk berpikir bahwa harus ada sebutan dan logo ikon untuk band ini. Motorhead dengan kepala binatang imajinatif, Iron Maiden dengan Eddie, Seringai dengan Serigala Militia. Kami harus punya juga supaya keren. Kenapa babi? Merujuk dengan artwork lama kami, binatang babi yang dibuat Yunita beberapa tahun sebelumnya. Babi mempunyai makna ganda. Binatang yang serakah dan sifat-sifat buruk lainnya seperti jorok dan menjijikkan. Bahkan bagi Muslim, babi adalah binatang haram untuk dimakan. Tapi meski begitu babi juga merupakan binatang kesayangan bagi masyarakat lain. Masakan daging babi pun banyak disukai. Kata babi juga bisa berarti umpatan kekesalan, tapi kata babe bisa juga berarti panggilan sayang. Ini sangat mirip dengan Down For Life, dibenci sekaligus dicintai. Babi adalah analogi yang sangat tepat untuk band ini.

Awalnya saya memilih kata legiun tapi Tatuk mengusulkan pasukan. Lebih Indonesia katanya. Sementara kata neraka, ya selain biar keren juga kalau babi di surga tidak matang dan tidak bisa dimakan. Jadi harus di neraka biar matang, hehe. Artwork dan lay out dikerjakan oleh Jahlo. Font Down For Life dan logo kepala babi neraka dibikin ulang oleh Jahlo dan dipakai sampai sekarang.

Album ini tentang respons Down For Life terhadap berbagai hal yang terjadi dalam kehidupan kami yang dikemas penuh energi amarah yang menggebu-gebu. Dirilis sebanyak 1000 keping dan didukung oleh satu brand rokok nasional. Kami dibantu banyak teman untuk mempromosikan album ini secara swadaya. Memasang poster di tembok jalanan juga kami lakukan sendiri. Kami sangat antusias akan rilisan album pertama ini. Perjuangan dan kerja keras selama 7 tahun akhirnya membuahkan hasil. Album ini direspons bagus oleh skena musik keras di Indonesia. Di Solo sendiri hal ini dianggap sebagai gebrakan band untuk merilis albumnya secara indie. Rock in Solo juga kembali digelar di tahun ini dengan sukses. Melalui dua hal itu Down For Life semakin dikenal dan tawaran panggung pun semakin banyak.

Di tahun 2008 kami menjadi salah satu band pembuka jagoan metalcore dari Jerman, Caliban, di Solo. Saat itu kota Solo mulai diperhitungkan kembali di ranah musik keras di Indonesia. Jadwal Down For Life juga semakain padat. Dari gigs sampai menjadi band pembuka artis nasional di beberapa kota di Jawa Tengah kami lalui sampai tahun 2009. Salah satu pengalaman luar yang tidak terlupakan adalah kami menjadi band pembuka Parkway Drive di Jakarta bersama band-band hardcore ibukota lainnya. Di saat kami sedang soundcheck mereka menonton kami, kemudian mereka menghampiri dan meminta izin untuk mengunakan channel dan setelan sound kami. Ya, dengan senang hati kami mengizinkan. Selain karena kami baik hati, juga karena personel Parkway Drive seru.

Bertambahnya usia juga berbanding lurus dengan tanggung jawab. Imam yang baru berkeluarga pasti juga harus bertanggungjawab untuk menghidupinya. Sementara kesanggupan Down For Life baru sebatas menghidupi bandnya sendiri, belum bisa diharapkan untuk kehidupan sehari-hari. Imam untuk kesekian kalinya harus meninggalkan kami sementara waktu untuk menjadi musisi pengiring artis.

Dia sempat mengusulkan nama Rio Baskara, tapi ia akhirnya memutuskan untuk melakukan audisi. Melalui proses audisi kami akhirnya mendapatkan gitaris additional Moses Rizky dari Remain Silent, menyisihkan beberapa kandidat lainnya. Tapi Imam masih menjadi personel Down For Life meski tidak aktif, dia masih terlibat dalam membuat lagu baru. Dengan formasi ini persiapan untuk album kedua mulai dikerjakan meski jadwal manggung yang lumayan padat membuat prosesnya jadi cukup panjang. Di tahun yang sama, kami juga berbagi panggung dengan Psycroptic dari Selandia Baru di Rock in Solo. Ini untuk pertama juga Rock in Solo mengundang band internasional sebagai headliner.

Kombinasi Sigit dan Moses yang saling mengisi membuat kami semakin nyaman, sementara Imam juga semakin sibuk dengan proyeknya. Saat Imam selesai dengan proyeknya dan ingin masuk ke Down For Life itu menjadi dilema besar. Kami sedang proses mengumpulkan materi untuk album bersama Moses dan Sigit. Akhirnya setelah berdiskusi panjang kami menantang Imam dan Moses untuk membuat lagu. Hal ini membuat Imam tersinggung dan memutuskan untuk keluar dari band ini. Salah satu pendiri Down For Life mengundurkan diri, menyisakan saya dan Jojo. Imam adalah performer sejati. Penampilan dan aksi panggungnya merupakan salah satu kekuatan terbesar Down For Life. Ditinggalkan Imam adalah pukulan besar bagi kami.

Masalah belum selesai sampai di situ. Sigit, yang notabene adik kandung Imam, juga mengundurkan diri. Rasa sungkan dan menghargai kakaknya yang mengajaknya bergabung di band ini membuat Sigit mengambil langkah ini. Bammm..! Pukulan sangat telak. Lebih keras dan berat bahkan dibanding saat Doddy keluar dulu. Sigit, yang sangat berperan dalam proses menyusun materi lagu untuk album baru, dan Imam, pendiri sekaligus kekuatan panggung Down For Life, memutuskan keluar menjelang akhir 2009. Hal ini membuat saya dan Jojo sempat berpikir untuk menyudahi perjalanan ini. Tapi Moses, Uziel, dan lagi-lagi Achenk juga teman-teman yang lain terus menyemangati untuk terus melanjutkan band ini. Moses mengusulkan nama Rio, yang sebelumnya pernah diusulkan juga oleh Imam. Juga satu gitaris handal lainnya. Kami mengaudisi kedua gitaris ini selama satu bulan. Setelah dengan beberapa pertimbangan, akhirnya Rio Baskara menjadi gitaris Down For Life berikutnya di Januari 2010.

Hubungan kami dengan Imam juga tidak terjalin dengan baik. Dendam masih menyelimutinya, ditambah keras kepalanya saya dan Jojo. Keraguan dari banyak pihak akan kelangsungan band ini, bahkan dari saya sendiri, mulai terkikis setelah melewati beberapa panggung.

Tur bersama Burgerkill, Seringai, Superglad dan lainnya di Jawa Tengah, juga menjadi pembuka Exodus di Jakarta menjadi pengalaman menyenangkan bagi kami. Saat itu kami menjadi satu-satunya band di luar genre thrash metal yang bermain. Saat kami manggung, tiba-tiba Gary Holt, yang sekarang menjadi gitaris Slayer, menonton dari samping panggung. Turun dari panggung dia menghampiri kami dan memuji Rio dan Moses, “Anak-anak kecil yang bisa bermain gitar dengan bagus,” katanya, haha. Dia pikir kami masih ABG mungkin ya. Rio mendapat tanda tangannya di gitar yang kemudian dihapus dan itu menjadi salah satu penyesalannya seumur hidup.

2010 menjadi tahun yang berat dengan jadwal padat. Beradaptasi dengan gitaris baru dilakukan sambil berjalan menghajar banyak panggung. Ada kejadian lucu saat kami tur bersama Burgerkill di Kendal. Setelah soundcheck kami makan siang di hotel bersama Burgerkill. Selesai makan beberapa karyawan hotel menghampiri kami dan meminta foto, bukan Burgerkill. Wah ini luar biasa, kami tersenyum bangga. Kami lebih terkenal dibanding Burgerkill. Tapi tunggu dulu. Setelah selesai dan kembali ke kamar, road manager kami saat itu, Franz, memesan kopi dan rokok, tiba-tiba karyawan tadi bertanya, “Apakah tadi benar band Repvblik?” haha, yah, karena memang Moses sangat mirip dengan vokalis Repvblik.

Proses album baru yang sempat terhenti karena kendala beruntun yang kami alami, kembali dilanjutkan. Moses memegang peran penting dalam hal ini. Menyusun ulang part dan riff juga lagu yang sudah dikerjakan bersama Imam dan Sigit. Rio belum banyak berkontribusi di sini, meski penampilannya di atas panggung sangat luar biasa dan berhasil menjadi kekuatan besar bagi kami seperti Imam dulu. Tapi kemampuannya membuat lagu dan mengaransemen belum sesuai harapan kami saat itu.

Pergantian gitaris sangat vital dalam mengubah warna musik Down For Life, meski karakternya masih tetap sama. Benang merah masih sama, hanya lebih dewasa dan keras, baik secara musik dan lirik. Setelah 10 lagu terkumpul, kami mulai masuk dapur rekaman. Studio Biru kembali menjadi pilihan terbaik secara teknis di Solo dan sesuai bujet keuangan kami. Setyo, yang juga sound engineer live kami, kembali terlibat membantu membuat demo. Tiga lagu direkam sebagai preview dan gambaran awal, sambil mencoba menawarkan ke beberapa record label. Cukup banyak yang menolak, ada juga yang tertarik, tetapi belum ketemu titik temu yang kami harapkan. Andre Tiranda dari Siksakubur merekomendasikan kami ke pihak Fast Youth Records untuk merilis album baru kami. Namun tidak ada pembicaraan lebih lanjut.

Sampai satu malam di tahun 2011, setelah kami bermain di sebuah acara clothing expo di Solo, seorang sound engineer bernama Otto dari 3dB menghampiri kami bersama pemilik Rockstar Studio dari Jogja. Mereka tertarik dengan Down For Life dan menawarkan sebuah kerjasama untuk proses produksi album baru. Setelah beberapa kali komunikasi, tercapailah kesepakatan kerjasama. Pihak 3dB menjadi tim produser untuk album ini dengan mempertemukan kami dengan Eko Pakting sebagai produsernya. Ia sebelumnya dikenal sebagai sound engineer untuk hampir semua album Shaggydog dan beberapa artis lainnya. Ini sebuah pengalaman besar bagi kami. Pakting menunjuk Andreas Oky Gembus sebagai produser pendamping untuk divisi gitar dan bass. Dua studio, yaitu Rockstar, untuk take drum dan vokal, dan Pengerat, untuk gitar dan bass, menjadi studio tempat kami melalukan proses rekaman. Kedua studio yang ada di Jogja membuat kami harus mengatur waktu cukup ekstra. Ditambah lagi jadwal manggung kami di beberapa festival seperti Hammersonic, Bandung Berisik juga panggung lainnya, ditambah juga dengan Pakting yang masih sibuk dengan Shaggydog. Kami juga membuat festival sendiri bernama Pesta Partai Barbar. Diambil dari salah satu judul lagu yang akan ada di album kedua nanti. Festival kecil yang sepenuhnya milik kami untuk bersenang-senang dengan mengajak band sahabat dari berbagai kota. Ini merupakan persembahan dan bentuk terima kasih kepada Pasukan Babi Neraka dan semua pihak yang mendukung kami.

Pertengahan 2012 kami mendapat kesempatan tampil live di TV nasional untuk pertama kalinya. Program Radioshow di sebuah TV nasional yang ratingnya sangat bagus saat itu. Tanggapan positif kami terima dari banyak pihak. Terutama keluar dari pihak, termasuk keluarga, yang sebelumnya tidak menganggap kami serius bermusik bahkan mencibir. Ada kebanggaan dan kepuasan bagi kami.

Sementara itu pengerjaan album terus berlanjut dengan susah payah. Meski pihak 3dB membantu dengan memberikan potongan harga untuk studio, tapi kami tetap harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk ini. Saya kembali mengeluarkan uang pribadi karena kas band tidak mencukupi. Kendala waktu dan biaya menjadikan proses rekaman ini tidak berjalan sesuai jadwal. Proses yang baru dan berbeda dibanding saat pengerjaan album pertama menjadi pengalaman baru. Pakting sebagai produser sangat detail dan keras. Dia menghapus hasil take vokal satu shift karena menurutnya jelek dan meminta saya mengulangnya lagi. Bukan hanya masalah waktu, tapi saya berpikir untuk biayanya, haha.

Karena terbatasnya dana yang kami miliki, saya dan personel yang lain sepakat masing-masing mendapat jatah lima shift, kalau lebih biaya ditanggung sendiri. Meski kenyataannya tetap lebih dari 25 shift haha. Diskusi dengan Pakting juga sangat menarik. Dia banyak memberi masukan, seperti saat saya ingin ada suara paduan suara sebagai intro dan outro yang diambil saja dari sampling. Pakting mengusulkan merekam paduan suara asli. Saya kemudian meminta tolong road manager Down For Life, Doel Lukas yang juga vokalis MTAD, untuk mencari paduan suara gereja di Jogja untuk membantu. Doel yang cukup aktif di gereja kemudian meminta bantuan paduan suara Mudika Paroki Banteng Sleman. Sulit dan berliku, tapi yang terjadi ya karena demi hasil yang maksimal.

Gembus juga tidak kalah keras. Rio sempat ngambek ketika disebut tidak bisa bermain gitar saat take yang selalu gagal dan diulang berkali-kali. Baru kali ini Rio rekaman secara profesional, jadi wajar kalau dia kesulitan. Sambil proses rekaman rutinitas manggung tetap kami jalani. Kami mendapatkan undangan untuk bermain di Bali yang pertama kalinya, dan bagi saya, Jojo, dan Uziel ini juga kali pertama kali kami pergi ke Bali. Karena sesuatu hal, Moses tidak bisa berangkat, kami cukup panik saat itu. Rio lalu mengajak sahabatnya, Isa Mahendrajati dari End of Julia untuk membantu. Inilah awalnya Isa mulai bermain dengan Down For Life.

Kemudian kami bemain di acara tahunan Cellbutton yang digarap teman kami, Venzha dan HONF di Liquid Club Jogja. Kami bertemu Rifky Bachtiar, pemilik Sepsis Records dan vokalis Revenge. Dia menawarkan dan mengajak kami bergabung dalam label miliknya. Sepulang dari situ kami kembali berkomunikasi dengan intens, akhirnya tercapailah kesepakatan dengan Sepsis Records. Untuk pertama kalinya kami mendapatkan kontrak secara profesional dan resmi dengan record label. Saya bisa bernafas lega karena tidak perlu mengeluarkan biaya dan mengurus tetek bengek rilisan seperti manufaktur, duplikasi, dan distribusi. Dengan kontrak di tangan dan campur tangan Sepsis, proses mixing segera diselesaikan Pakting di Jogja. Bolak balik Solo-Jogja menjadi rutinitas kami dalam satu-dua tahun itu.

Januari 2013, Rio mulai bekerja di perusahaan perdagangan ekspor impor yang membuatnya harus sering pergi ke luar negeri. Tentu ini membuatnya beberapa kali tidak dapat bermain bersama Down For Life. Rio kembali meminta Isa membantu kami untuk menggantikannya saat dia berhalangan. Masalah terpecahkan meski sebenarnya tidak ideal, tapi itulah solusi terbaik yang bisa diambil. Karena kami sadar, bermain musik di Down For Life belum bisa menjadi sandaran hidup, kami harus bekerja. Rio, Moses, dan Isa saling bergantian mengisi posisi gitar dalam beberapa kali panggung. Jadi kami seperti memiliki tiga gitaris yang siap bermain sesuai jadwal dan waktu mereka. Hal ini seperti menyimpan bom waktu yang siap meledak.

Sampai pada bulan Maret 2013, kami meminta Rio vakum dari Down For Life agar bisa fokus pada pekerjaannya, dan kami juga bisa fokus tanpa saling menganggu. Rio memutuskan keluar dari Down For Life. Untuk kesekian kalinya terjadi bongkar pasang personel. Secara teknis tidak terlalu menganggu, karena sudah ada Isa yang biasa mengisi posisinya. Meski secara psikis hal ini sangat menganggu persiapan album. Sesi foto untuk album dengan Rio sudah dikerjakan oleh Anggula Brintik dengan konsep Perjamuan Malam Terakhir Yesus. Kami mengajak crew dan teman-teman yang terlibat di Down For Life dalam foto ini. Meski Rio sudah bukan salah satu personel lagi di band, tapi dia yang mengerjakan proses album, jadi kami sepakat untuk tetap memakai foto dan memasukkan namanya di album.

Panggung dan proses album terus berjalan. Pihak 3dB menawarkan mastering oleh David Nelson di Crystal Studio Melbourne, Australia. Studio ini yang menangani album Blooduster, Madison Avenue, dan lainnya. Sepsis juga mendukung hal ini. Tapi sempat terjadi masalah karena Otto sempat menghilang dengan membawa uang pembayaran mastering yang harusnya dibayarkan ke Crystal Studio. Santo Gunawan dari Merchcons datang membantu dengan memberi kontrak untuk merilis merchandise Down For Life dari album baru ini dan proses mastering untuk album ini selesai juga.

Tapi masalah belum selesai. Artwork yang seharusnya dikerjakan oleh Jahlo tidak kunjung selesai. Akhirnya saya dan Jojo meminta Yudha Matirasa untuk membuat artwork cover-nya. Dan Jahlo mengerjakan lay out-nya lengkap dengan simbol setiap lagunya. Ini adalah album dengan konsep yang saling berkesinambungan dari artwork, lay out dan foto sangat sesuai dengan musik juga lirik secara keseluruhan. Kami memang mempersiapkan album ini dengan lebih matang sejak awal.

Judul yang dipilih, Himne Perang Akhir Pekan, sangat sesuai dengan Down For Life yang lebih sering manggung di akhir pekan, karena personelnya yang mempunyai rutinitas pekerjaan pada hari biasa. Kami memang weekend band warrior. Setelah semua siap kemudian saya mengusulkan kepada Sepsis untuk bekerjasama dengan demajors untuk pendistribusian album. Secara keseluruhan album ini masih sama dengan album pertama, hanya mengemas kemarahan dengan lebih bijak dan dewasa. Bulan September 2013, album kedua Down For Life resmi dirilis.

Momen dan strategi promosi yang tepat membuat album ini mendapatkan tanggapan luar biasa. 1000 keping CD terjual habis dalam waktu singkat dan segera dicetak ulang lebih dari 3000 keping sampai saat ini. Ini mungkin angka yang kecil bagi industri musik di Indonesia, tapi bagi kami ini adalah sebuah pencapaian hebat. Album ini juga terpilih menjadi “20 Album Terbaik 2013” menurut majalah Rolling Stone Indonesia dan “10 Album Nasional Terbaik 2013” versi Majalah Tempo. Hal yang tidak terbayangkan oleh kami sebelumnya, sama sekali! Meski saya pribadi yakin kerja keras tidak akan berbohong pada hasilnya. Himne Perang Akhir Pekan adalah pintu gerbang kami menuju ke level berikutnya. Sesuatu yang hanya menjadi khayalan bagi Down For Life saat dibentuk dulu.

Kejadian aneh bin ajaib terjadi lagi. Suatu pagi di akhir Oktober, Rio menghubungi saya dan bilang ingin masuk kembali ke Down For Life. Saya bilang iya, tapi masalahnya kami sudah ada Moses dan Isa. Yang mengejutkan lagi adalah, Rio bilang dia sudah meminta Moses mundur dan dia menggantikannya. Gila! Saya kemudian menghubungi Moses dan dia membenarkan. Akhirnya setelah berbicara bersama, Rio kembali menjadi gitaris band ini dan Moses keluar. Saat itu Moses sedang fokus dengan keluarganya. Solusi terpecahkan dan berakhir bahagia, haha.

Tawaran bermain di berbagai festival dan acara semakin banyak, seperti Java Rockin’ Land dan Rock in Celebes. Untuk pertama kalinya kami bermain di Sulawesi untuk festival rock terbesar di timur Indonesia itu. Kami mendapatkan bagian di hari pertama, berbagi panggung dengan Dashboard Confessional, salah satu band emo yang sangat disegani, meski saat itu hanya Chris Carrabba sendirian yang tampil. Jadwal kami adalah beberapa band sebelum dia. Ketika Down For Life beraksi, saya melihat Chris ada disamping panggung, menyaksikan kami. Setelah menyelesaikan setlist, Chris langsung menghampiri kami di atas panggung dan bilang sangat suka penampilan kami dan dia bilang kalau sangat suka hardcore dan metal. Kami ke backstage dan kejutan berikutnya, Chris memilih bergabung bersama kami dan ngobrol banyak hal. Bagi Isa ini sungguh luar biasa, Isa menganggapnya seperti dewa. Chris Carrabba, nama besar yang luar biasa ramah dan baik.

Setelah album rilis, kami langsung menyiapkan rangkaian tur swadaya yang dibantu pihak Sepsis di beberapa kota di Indonesia di tahun 2014. Tapi kejutan terjadi di Januari 2014. Masalah sepertinya sangat senang menghampiri kami, atau mungkin sudah menjadi bagian dari kami. Uziel mengundurkan diri karena tawaran pekerjaan sebagai manajer sebuah kelompok budaya. Pukulan di saat kami sedang bersemangat karena pencapaian yang ada, juga rencana tur yang sudah di depan mata. Uziel mengusulkan Muhammad Abdul Latief dari Fearless untuk membantu. Saya menghubungi dan berbicara dengan Latief. Dia bersedia tapi hanya bersifat sementara dan additional saja. Kami menyetujuinya karena waktu tur sudah semakin dekat.

Beberapa festival besar seperti Hammersonic, Bandung Berisik, Hellprint, Rock in Celebes, Kukar Rockin’ Fest, dan lainnya kami sambangi. Kukar Rockin’ Fest 2014, yang sekarang menjadi Rock in Borneo, cukup menarik karena ini momen pertama kami bermain di Kalimantan. Sehari sebelumnya kami bermain di Semarang. Perjalanan dari Semarang ke Solo tiga jam, kemudian kami hanya sempat beristirahat dua jam langsung ke bandara. Terbang jam 6 pagi dari Solo ke Balikpapan disambung jalur darat empat jam ke Tenggarong langsung ke venue. Begitu sampai di backstage, stage manager bilang 30 menit lagi kami harus naik ke atas panggung. Dengan rasa lelah yang masih mendera karena perjalanan, kami langsung bersiap dan tiba-tiba dua head ampli yang kami bawa tidak bisa menyala, mungkin karena goncangan saat perjalanan. Kami akhirnya menggunakan ampli yang ada di pangung dan berhasil menyelamatkan penampilan perdana kami di bumi Borneo.

Ada pengalaman seru saat itu. Testament yang didapuk menjadi headliner bertingkah buruk dengan menganggu set Power Metal hingga mereka mendapat kecaman dari penonton. Puluhan ribu penonton protes dengan sikap arogannya. Mereka duduk dan tidak merespons aksi Testament dengan semestinya. Sampai sang vokalis, Chuck Billy, meminta Rio, yang saat itu nonton di samping panggung bersama Arian13 dan Eben Burgerkill, untuk membantu melisankan penjelasan Testament ke penonton. Tapi Rio menolaknya. Entah menolak atau dia tidak paham yang dikatakan Chuck sebenarnya, haha.

Di tahun itu pengalaman kami bertambah banyak, bertemu banyak kawan baru, dari band internasional dan band nasional lainnya di hampir penjuru Indonesia. Kami juga mendapatkan nominasi di AMI Awards meski tidak berhasil memenangkannya. Tapi kami sendiri tidak pernah berekspektasi sampai di sini. Wah, ternyata musik kami diapresiasi dengan baik. Kesempatan pertama kami bermain di luar negeri datang dari Sepsis sebagai label rekaman kami, yaitu di Singapura dan Malaysia bersama A.L.I.C.E. Jojo sempat bicara dengan saya, ini tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Bagi saya pun ini adalah pengalaman pertama saya ke luar negeri. Rangkaian tur yang luar biasa sepanjang tahun 2014.

Berjalan setahun dengan Latief, tahun 2015 kami kemudian menawarkan dan berhasil membujuknya untuk bergabung resmi di Down For Life. Puluhan panggung kami hajar dan untuk kedua kalinya kami diundang kembali ke Singapura dan Malaysia. Kami juga mulai menyiapkan album baru. Rio mulai menyusun riff dan part-part untuk lagu baru. Masuknya Isa dan Latief memberi energi dan warna baru untuk Down For Life. Saya pribadi merasa ini adalah formasi terbaik untuk saat ini. Meski gejolak selalu ada, seperti saat penampilan kami di Sonic Fair 2015 di Jakarta, Jojo mengalami kendala teknis, lalu saya menegurnya di atas panggung. Itu membuatnya tersinggung dan sempat berpikir untuk keluar dari band. Tapi kemudian dapat terselesaikan secara baik-baik.

Dalam proses mengaransemen lagu pun sering terjadi beda pendapat cukup keras antara Rio dan Isa. Mungkin karena kedekatan mereka, menjadikan mereka seperti itu. Situasinya tentu sudah berbeda jika dibandingkan beberapa tahun lalu. Kami relatif menjadi lebih stabil secara emosi mungkin karena faktor umur dan pengalaman juga. Kami juga kembali diundang bermain untuk Rock in Celebes, kali ini untuk acara satelitnya di Gorontalo. Penerbangan sangat lama hampir 10 jam perjalanan dengan beberapa kali transit di Jakarta, Makassar dan akhirnya tiba di Gorontalo jam 7 malam. Dari bandara dijemput langsung ke venue dan satu jam kemudian sudah naik panggung. Keesokan harinya kami sudah harus ke bandara jam 4 pagi karena penerbangan pertama. Teman-teman baru sampai di Solo saat sore. Jojo sempat berujar apa yang kami lakukan selama 24 jam ini. Capek tapi juga senang. Pesta Partai Barbar juga kembali diadakan setelah beberapa tahun vakum. 2015 sampai 2016 adalah tahun yang cukup sibuk dengan jadwal manggung di berbagai daerah. Ini membuat proses menciptakan lagu baru untuk album tersendat. Meski kami sendiri sudah mulai bosan membawakan lagu dari kedua album sebelumnya. Titik jenuh mulai menghampiri, tidak hanya kami, tapi juga Pasukan Babi Neraka.

Hampir empat tahun berselang, kami akhirnya merilis EP Menantang Langit dalam format 7” vinyl oleh demajors. EP ini berisi dua lagu yang belum pernah dirilis secara resmi sebelumnya, yaitu “Liturgi Penyesatan” versi akustik dan “Kerangka Langit”, sebuah lagu cover dari Kaisar. Sebenarnya kedua lagu tersebut sudah direkam dan selesai mixing di tahun 2015 untuk konten sebuah portal digital tapi tidak berlanjut. Sampai kemudian demajors merilisnya di September 2017.

Kendala jarak dan waktu sangat menghambat proses album ketiga ini. Jojo masih mengurus Belukar dan usaha obat herbal, ia tinggal bersama istri dan kedua anaknya di Solo. Rio harus pergi Solo-Jogja setelah menikah dan mengurusi usaha Havoc Guitar dan Dath Strap miliknya. Latief masih mengajar drum di berbagai sekolah musik dan bermain dengan band cover rock. Isa tinggal di Jogja dan bekerja di Euforia Records milik Endank Soekamti. Sementara saya sekarang menetap di Jakarta dan bekerja di demajors sambil freelance di beberapa proyek.  Dengan semua kendala yang ada, kami sudah siap untuk kembali ke studio rekaman dan merilis album ketiga di tahun depan.

Perjalanan tujuh belas tahun membuat kami lebih dewasa dan lebih licik dalam mengatasi masalah hidup. Meski saya pribadi sedikit khawatir dan bingung akan menulis tema apa untuk album baru nanti. Keresahan dan kemarahannya sudah berbeda. Keluarga dan kemapanan secara finansial membuat kami lebih mapan dibanding 4 atau 5 tahun lalu. Ya memang kemapanan ini memabukkan tapi mesin ini belum boleh berhenti. Kami akan segera merilis album baru sebagai amunisi untuk perang berikutnya. Cerita ini semua berawal dari mimpi dan kerja keras untuk mewujudkannya. Halangan rintangan bukanlah alasan untuk menyerah, tapi pelajaran dan pengalaman berharga yang tidak ternilai harganya. Kebanggaan dan loyalitas adalah pelumas yang membuat mesin perang ini masih terus menderu dan berlaga. Kami tidak pernah menganggap kami ini keluarga, tapi mesin perang yang berupa pasukan; Pasukan Babi Neraka.. Down For Life..!

*Foto: dokumentasi pribadi penulis

5 COMMENTS
  • dephythreehandoko

    KEREN

  • juangpratama

    Teruslah berkarya bung...

  • dooniyudha@gmail.com

    Mesin perang ini tidak akan pernah berhenti........!! Heaaaaaaaaagrh..!!

  • Indonesian firm

    Jangan lelah berkhutbah !!!

  • putri.cikput

    Woderfull history Adjie.......wonderfull life Good luck & succes 4 u, Wonderfull to be ure friend, from "trenchem" girl solo

Info Terkait

supernoize
389 views

Reney 'Scaller': Those Early Days (Part 1)

Usia saya 14 tahun ketika ibu saya menanyakan, “Reney, kalau sudah lulus sekolah nanti mau...

Baca Selengkapnya
supernoize
443 views

Japs Shadiq 'Indische Party': Rekam Jejak Analog Tour

Bulan Oktober 2017 lalu, Indische Party baru saja selesai menjalankan Analog Tour ke Malaysia,...

Baca Selengkapnya
supernoize
523 views

Jeff 'Kasino Brothers': 'Triol Aspect' dalam Bermusik

Tulisan ini merupakan kajian argumentasi tentang tiga aspek rahasia dalam proses kreatif Kasino...

Baca Selengkapnya
supernoize
482 views

Arief 'Blingsatan': Zaman Menghasilkan Generasi

Ketika para musisi era pergerakan indie label yang berawal pada sekitar awal tahun 90-an merasa...

Baca Selengkapnya
supernoize
2380 views

Novan ‘Captain Jack’: Menolak Mati dan Dimatikan

Membangun kembali sebuah rumah yang tinggal puing bukanlah perkara gampang. Sama halnya dengan...

Baca Selengkapnya
supernoize
750 views

Eka Annash: Musik Rock dalam Sinema Superhero

Sejak lahirnya dunia sinema lewat film bisu di awal abad 20, musik sudah menjadi bagian esensial...

Baca Selengkapnya