Che Cupumanik MUSIKIMIA, CINTA & PERLAWANAN YANG BERSENYAWA

  • By: Che Cupumanik
  • Rabu, 4 May 2016
  • 12506 Views
  • 3 Likes
  • 12 Shares

Sebenarnya sejak awal sebelum menulis tentang band Musikimia, saya berusaha untuk tak menggiring-giring nama band Padi, tapi itu sulit karena seperti yang selalu mereka katakan: “Kami memang bagian dari Padi”. Seperti ketika kita bicara mengenai silsilah atau sejarah seseorang, hampir tak mungkin tak membicarakan darah sejarah dari mana mereka berasal. Tapi tenang, kalian akan secara utuh mengenal mereka, cukup ikut menguping obrolan saya dengan mereka, dan jangan khawatir, saya tak akan bicara mengenai sejarah Musikimia, yang kalian bisa membacanya sendiri di situs rockadventure.supermusic.id . Artikel ini bukan sebuah bacaan sekedar profil band. Dan mungkin inilah keberuntungan saya, mereka tau saya juga musisi, jadi mereka sejak awal interview melepas topeng jaga imej, bicara terus terang dan blak-blakan. Dan kalian yang ingin tau kabar sebenarnya nasib Padi simak obrolannya sampai akhir.

Saya menghubungi Gusman manager mereka via whatsapp, menanyakan di mana keberadaan personil Musikimia, karena butuh bertemu untuk keperluan artikel ini. Saya khawatir mereka sedang diluar kota, karena Musikimia sedang dalam perjalanan rangkaian tour 19 kota dalam acara Rock Adventure 2016. Ternyata mereka sedang berada di Senayan City usai interview, saya menyusul untuk membongkar isi kepala mereka. Obrolan ini dilakukan sebelum mereka akan menggelar tour ke-3 mereka di Bekasi. Stephan Santoso gitaris mereka sudah pulang lebih dulu, saya todong tanya kepada Fadly, Rindra dan Yoyo. Menyusun artikel wawancara ini, saya sambil mendengarkan nomor keras perlawanan ‘Merdeka Sampai Mati’. Saya makin yakin, band ini punya takdirnya sendiri untuk ada, dalam kondisi Padi vakum atau aktif, karena mereka menyimpan potensi besar dan hak veto pada nasib mereka sendiri. Di atas segalanya band ini layak digemari. Ok simak percakapan seru saya dengan 3 orang Indonisianis ini. Enjoy..

Che: Hallo guys, langsung aja yah santai sambil ngobrol, pertanyaan pertama nih,  Jadi jika Padi tak vakum, Musikimia itu ada atau tak ada?. (Pertanyaan ini ternyata bukan tipe tanya yang mudah dijawab, mereka saling melirik dan berusaha menjawab sebisanya sambil mengingat lagi sejarah kebelakang).

Fadly: Mmmm, hampir bisa dipastikan tidak ada, mungkin yah. (Rindra langsung memotong pendapat Fadly, berusaha menjelaskan) Nah Rindra mungkin bisa jawab, seru nih, untung aku bilang hampir… (Tertawa).

Rindra: Begini, sebenarnya kita sering kumpul di rumah Stephan, ngobrol-ngobrol, jadi jauh sebelum Padi vakum, dia udah ngajak bikin proyekan.

Fadly: Stephan dari dulu punya banyak lagu yang belum ada lirik dan notasinya, waktu itu dia mau keluar dari studio, bosan di studio terus, dia ngajak bikin band dengan konsep cover, ngecover 100 lagu rock terbaik sepanjang sejarah. Gak berfikir untuk merilis, cuma senang-senang, jadi bukan proyek yang serius.

Che: Jadi mini album perdana kalian itu banyak lagu yang dibikin Stephan?

Fadly: Lagu ‘Merdeka Sampai Mati’ itu full musiknya udah jadi Stephan yang bikin, kita nambahin notasi dan liriknya. Lagu ‘Ini Dadaku’, itu dibikin sama Yoyo.

Rindra: Stephan tuh punya lagu keren banget, cuma gak dia keluarin, gak tau kenapa, ngeri tuh musiknya. Fadly tau banget lagunya. Tapi saya senang ngeliat dia main gitar lagi.

Fadly: Iya betul, dia punya banyak lagu bagus, sementara dia cuma mau taro di studio aja, dia bilang masih bingung lagu-lagu itu mau diapain, yang pasti dia bilang itu musik idealismenya.

Che: Ok, pertanyaan berikut, apa sih niat terbesar kalian membentuk Musikimia?

Fadly: Aku pribadi niatnya bikin band ini demi menantang diri sendiri, aku gak mau dikenal sebagai vokalis yang nyanyi begitu-begitu aja, pengen ada rasa yang lain. Umpamanya Ingin seperti Philip Anselmo, ingin maenin musik grunge classic. Nah musik Stephan bener-bener bisa mewakili rasa itu.

Che: Kita bahas departemen lirik nih, setalah saya denger 2 album kalian, sepertinya tema nasionalisme menjadi tema yang selalu ada untuk disampaikan, kenapa begitu?

Fadly: Biasanya kita sering meluruskan opini orang, poin sebenarnya adalah itu bukan tentang nasionalisme, kita tidak terikat pada satu isme. Ini sederhana bahwa ini sikap cinta pada tanah air, itu cinta yang meliputi semua isme yang ada. Mau bicara sosialisme, nasionalisme, isme-isme itu gambaran besarnya, pondasi besarnya adalah rasa cinta kepada tanah air. Poin itulah yang kita bangun di lagu ‘Kolam Susu’, atau ‘Merdeka Sampai Mati’ dan ‘Ini Dadaku’.

Yoyo: Waktu awal kita ngumpulin materi lagu, saat kita bikin materinya, satu persatu dibikin, ini kok antara 5 lagu benang merahnya cinta tanah air, akhirnya kita sepakatin, tema ini dulu deh yang diangkat. Mini album perdana kita berjudul ‘Indonesia Adalah..’. Dan setelah dipikir-pikir lagi, hampir 20 tahun berkarir di musik, kita merasa orang Indonesia tapi gak pernah memberikan sesuatu buat Indonesia.

Rindra: Ide cinta tanah air tercetus bareng-bareng, jadi ini tantangan juga, karena ini tema yang sebetulnya gak populer. (Tertawa)

Yoyo: Betul, tema yang susah lakunya. (Tertawa)

Che: Oh iya, di mini album perdana kalian ada Puisinya Wiji Thukul, ya?

Fadly: Itu yang menjadi inspirasi, waktu itu saat bikin lagu kerasa ada energi Wiji Thukul, kenapa gak dimasukkin puisinya?, karena dia sosok yang mencintai tanah airnya. Terlepas dari isme-isme yang dimiliki, kita semua tau bahwa Wiji Thukul mencintai keadilan dan mencintai tanah airnya. Kita cuma ingin menyemangati diri sendiri. Kita orang Indonesia, kita ingin bikin tribute kebangsaan.

Rindra: Tapi tema ini bukan kotak, karena kita bisa menyuarakan tema lain, ngalir aja.

Che: Dan di album ke dua kalian ‘Intersisi’, tema cinta tanah air itu ada di lagu ‘Taman Sari Indonesia’ yah?

Yoyo: Itu lagu yang liriknya ditulis oleh Franky Sahilatua, lagu yang belum sempat dirilis. Pada saat bikin lagu itu, dia sudah dalam keadaan sakit. Fadly yang lebih paham, karena dia yang langsung ketemu istrinya almarhum.

Fadly: Kita sempet diminta mengisi soundtrack film Jendral Sudirman, di sana awal ketemunya. Kita disuruh ngecover ulang lagu tentang Jendral Sudirman. Film itu udah keluar 2 tahun lalu. Kita terlanjur jatuh cinta pada beliau. Dan akhirnya ketemu Ibu Anti Sahilatua, dalam momen itu diperdengarkanlah lagu ‘Taman Sari Indonesia’. Kita denger melalui HP, waduh ini enak banget, saya bilang ‘Ibu boleh gak lagu ini kita cover ulang? Kebetulan kita mau bikin album baru. Kalo boleh kami ingin melanjutkan warisannya’. Lagu ini notasi vokal dan liriknya udah jadi, kita ubah aransemennya.

Che: Di album ke dua Musikimia, ‘Intersisi’ saya sempet bilang ke Gusman, ini menarik ada keterlibatan co-producer Gugun, Bondan Prakoso, Stevi Item, Nikita Dompas dan Eben Burgerkill, itu ide siapa?

Fadly: Itu ide Stephan, 10 lagu di album itu pake co-producer. Kata Stephan orang-orang yang gak pernah jadi producer kita jadiin co-producer. Dan mereka datang bener-bener gak memainkan alat musik. Mereka datang dan berkolaborasi, ngasih ide dan langsung action. Kita respect sama mereka, mereka konsisten di musik yang mereka jalankan, itu yang menyenangkan. Kita sempet merasa buntu, kalo kita sendiri yang ngerjain mentoknya gitu-gitu aja, gak ada sesuatu yang baru.

Yoyo: Ada yang menarik, ada request dari Eben, dia dari awal pengen banget garap materi baru Musikimia yang paling <slow, dan beneran kita kasih 2 lagu balada. Tapi pada akhirnya lagu yang satu gagal slow (Tertawa). Lagu dengan judul ‘Redam’ jadi heavy

Fadly: Dari konsep co-producer ini banyak hal yang menarik, kita banyak belajar hal-hal baru. Gugun kita pikir cuek banget, Rock N Roll banget nih, ternyata pas waktu datang dia udah bikin dua versi demo, udah kerja rapi. Dan dia sama Bondan udah ngerjain bagan dengan rapi. Kita minta sama Sony Music, ide ini harus dipenuhi, karena dasarnya kita bikin Musikimia kan konsep kolaborasi, intinya bersenyawa di dalam musik, bagaimanapun itu harus ada persenyawaan.

[pagebreak]

Che: Sempat kaget, ternyata seorang drummer Musikimia adalah seorang penulis lagu yah?

Fadly: Banyak banget lagu Yoyo yang belum direkam.

Yoyo: Iya, justru dulu pada saat Padi Vakum, itu aku lagi produktif-produktifnya, bikin lagu bareng Fadly juga. Aku bikin notasi bisa dari apa aja, musik dasar aku bikin dengan garage band, biasanya dari keyboard atau gitar. Tapi karena aku memang terbatas, jadi kadang ada notasi yang sulit, aku tinggal nyanyi dan Fadly yang cari notasi, Fadly datang bawa notasi, aku bikin chord. Karyaku di Padi lagu pertama di side pertama judul ‘Bidadari’ dan single terakhir judul ‘Tempat Terakhir’.

Che: Temanya liriknya seputar apa sih?

Yoyo: Beragam, pada waktu itu aku ingin bisa nulis lirik yang bercerita tentang apa aja, termasuk lagu anak judul ‘Sahabat Selamanya’, aku bikin bareng Fadly dan Rindra untuk soundtrack Upin Ipin. Ada 1 lagu yang belum dirilis, aku buat untuk kado ultah anakku yang ke 3, judulnya ‘Malaikat Kecil’, itu belum dirilis. Atau ada tema yang berangkat dari berita di TV, anak-anak muda kerjanya tawuran. Mengalir aja bikin lagu, ada yang tentang orang bebas berpendapat tapi bisa tetep saling menghargai. Pokoknya tentang hal yang aku rasa saat itu, dan sedihnya, pada saat sedang produktif tapi Padi vakum. 

Che: Wah, kalo gitu artinya kehadiran Musikimia, hadir sebagai wadah dan saluran yah, sehingga karya tak mengendap?

Yoyo: Iya ini jalan Tuhan, di mana ada tempat untuk menyalurkan karya yang sempat mengendap.

Fadly: Bukan cuma itu, Musikimia juga tempat eksperimen, kita ingin menantang diri sendiri. Orang tau kita di Padi maenin lagu-lagu mellow. Lagu-lagu yang tidak seluas di Musikimia. Kita menantang diri sendiri, sebanyak apa genre yang bisa kita mainkan.

Rindra: Musikimia kalo buat saya, ini band pembuktian. Orang sering bertanya, Padi vakum apakah kita masih tetap bisa bikin karya atau gak. Ini sebuah pembuktian bahwa kita gak tergantung dengan siapapun. Musikimia adalah pembuktian. 

Che: Ada yang menarik, saya nyimak di sosial media, Padi sempet tampil yah baru-baru ini?

Fadly: Itu merayakan ulang tahun Padi ke 19, itu tradisi meski kita udah vakum. Sejak kita vakum, Sobat Padi menginspirasi kita dengan bikin acara, mereka nyiapin segalanya, kita tinggal main. Hampir selalu begitu tiap tahun. Udah pernah digelar di Jakarta, Yogyakarta, Makassar dan Bogor. Itu bener-bener inisiatif Sobat Padi. Bersyukur aja sih, mereka care banget sama kita, mereka ingin selalu ngeliat kita berlima, itu yang priceless, kita bener-bener terima kasih punya orang-orang seperti itu.

Yoyo: Kemarin pas ultah ke-19, gak terasa ada 10 lagu kita maenin.

Rindra: Dan itu seperti ujian ingatan, main tanpa latihan. (Tertawa)

Fadly: Dan memang kita niat melakukan itu untuk Sobat Padi. Ini untuk mereka yang sudah menginspirasi, yang terus menyemangati kita untuk terus berkarya.

Che: Ok, sampaikan ke publik, kenapa mereka wajib hadir ke rangkaian tour Musikimia yang masih berlangsung?

Fadly: Tour ini akan jadi konser yang tidak terlupakan, buat Musikimia aku rasa belum tentu kita punya konser seperti ini lagi. Se wah ini, ada pahlawan-pahlawan musik di scene-nya. Ada Endank Soekamti, NTRL, Barasuara, Rocket Rockers. Itu akan special, kita bisa sama-sama merayakan audio visual secara Live.

Yoyo: Dengan harga tiket yang sangat terjangkau Rp. 30.000, dengan tempat terbatas, bukan stadium Rock, tapi kita bener-bener fokus. Kapasitas 1000 - 2000 orang, ini konser yang layak sekali.

Che: Pertanyaan terakhir. Jika Padi kembali, Musikimia bubar?

Yoyo: Mmm begini.. Jadi fungsinya Musikimia itu kan ada karena Padi vakum. Kalo Padi suatu saat aktif lagi, ya kita pasti akan berembug lagi. Kita masih belum memikirkan hal itu, yang pentig kita jalan dulu, fokus mengerjakan Musikimia dulu. 

Musikimia pernah dituduh menghalangi Padi comeback, itu gak betul, itu jadi suatu pikiran yang negatif. Kalo segera ada kesepahaman antar personil Padi, ada upaya membenahi management  yang lebih baik, mungkin Padi akan kembali. Padi itu rumahku Che, kita semua masih berupaya, mencari keputusan yang mufakat demokratis.

Fadly: Kalo aku pribadi yah, aku masih ingin Musikimia jalan juga. Ini semua adalah state of art. Yang penting berkarya, apa yang kita lakukan selama hidup kita, itulah yang akan kita wariskan, peninggalan kita di dunia seni. Aku ingin Musikimia tetep jalan. Semua bisa berjalan beriringan.

Rindra: Saya maunya jalan bareng beriringan. Ini masalah management waktu aja, tapi liat nanti juga.

Fadly: Intinya tentang ini akan musyawarah mufakat juga, Stephan juga sibuk di belakang layar. Nah sekarang aku mau balik nanya ke kamu Che, Kalo Cupumanik bikin album, Konspirasi gimana? (Semua tertawa). 

1 COMMENTS
  • OPA13

Info Terkait