Riki Noviana: Musisi Indonesia Itu Revolusioner

  • By: Riki Noviana
  • Jumat, 29 April 2016
  • 5225 Views
  • 2 Likes
  • 0 Shares

Beberapa tahun belakangan, saya sering sekali mendengar orang bilang kalau musik Indonesia itu membosankan. Mereka juga nggak jarang menganggap band-band yang ada di era sekarang terlalu seragam. Saya rasa, itu bukan karena mereka lebih mendewakan musik Barat ketimbang musik Tanah Air. Tapi, karena mereka salah nonton TV. Meski nggak banyak, masih ada kok televisi yang sudi menyiarkan barisan band/musisi pengusung musik 'enak'. Ya, cuma sedikit sih... tapi seenggaknya ada.

Dulu, rasa gerah terhadap nasib para musisi yang hidup dari musik membuat hati penyiar radio senior Sys NS tergugah. Dia pun membuat wadah dalam sebuah acara bernama Radioshow yang ditayangkan salah satu televisi swasta berbasis berita setiap Senin-Jumat jam 23.00 WIB. Sejak pertama kali tayang, program yang mengimplementasikan konsep radio untuk televisi ini langsung menarik perhatian masyarakat khususnya kaum muda pemuja musik non mainstream.

Acara ini beda dengan kebanyakan acara musik lainnya. Selain menyajikan penampilan band-band besar legendaris seperti Slank, Edane, Power Metal, dan Voodoo, dan band-band indie semisal Besok Bubar, The Brandals, dan Efek Rumah Kaca, RadioShow juga menghadirkan komunitas-komunitas yang nggak biasa tampil di televisi. Selain itu, banyak juga video klip lawas dari band/musisi mancanegara seperti Nazareth, Collective Soul, Bad English dan lainnya yang ditampilkan dalam acara ini.

Di samping itu, dalam segmen talk show-nya pun banyak dijumpai pernyataan-pernyataan kritis dan nyeleneh baik dari para musisi maupun host-nya, drummer Pas Band Sandy Andarusman yang kadang ditemani Buluk 'Superglad' atau Jimi Multahzam 'The Upstairs'. Dengan segala kelebihannya (saat itu), nggak heran jika program yang digelar di kawasan Pasar Festival, Kuningan, Jakarta ini begitu menyegarkan mata meski ditayangkan tengah malam di saat para penontonnya mulai mengantuk.

Kendati begitu, bukan berarti perjalanan RadioShow berjalan mulus begitu saja. Sempat muncul gugatan penghentian acara ini setelah Amar, vokalis band grunge Besok Bubar, meneriakkan kata “bangsat!” saat membawakan lagu “Cuci Otak”. Bagi sebagian orang, penampilan Besok Bubar sangat nggak pantas ditayangkan di televisi nasional.

Kelangsungan hidup RadioShow pun sempat terancam sampai-sampai direktur pemberitaan televisi swasta tersebut angkat bicara melalui akun Twitter-nya. “Setelah membaca pro-kontra RadioShow; dengan segala maaf, saya setuju suara generasi muda. RadioShow akan jalan terus,” tegasnya. Keputusan ini diambil setelah dia menimbang berbagai opini dan tentu saja nggak ada hubungannya dengan selera musik dia.

Satu-satunya pertimbangan adalah penonton. Nggak ada untungnya membunuh siaran sebuah live show yang telah menyedot jutaan pasang mata. Tapi setelah 'kasus' Amar Besok Bubar tadi selesai, acara ini akhirnya benar-benar lenyap dan menampilkan episode terakhirnya pada 14 Oktober 2012. Alasannya? “RadioShow ditiadakan karena tayang di televisi berita, bukan di televisi hiburan,” ucap Sandy 'Pas Band' seperti dikutip dari berbagai media.  Hmm... Ironi.

Beruntung, sejak 1 Juni 2013, acara baru bernama Music Everywhere – sebuah program musik yang ditayangkan di televisi swasta yang saat itu juga masih baru - menjadi dewa penyelamat bagi para penggemar musik Tanah Air. Dengan durasi 1 jam, acara yang mengambil lokasi syuting di berbagai lokasi unik ini dikemas dengan apik dan menghadirkan barisan band/musisi inspiratif. Sebut saja Iwan Fals, Gigi, Slank, Nidji, Konspirasi hingga penyanyi mancanegara Toni Braxton dan Ciara.

[pagebreak]

Di TVRI, program musik hidup kemudian muncul. Namanya Taman Buaya Beat Club (TBBC) yang tayang setiap Senin hingga Kamis pukul 22.00 WIB. TBBC kerap menghadirkan band-band Tanah Air dari berbagai genre, yang memiliki keunikan dan karakter kuat. Edane, Raksasa, Poprock, Kelompok Penerbang Rocket (KPR), The Miracle, D'Masiv, The S.I.G.I.T., dan lainnya pernah ambil bagian di acara ini.

Dengan adanya Music Everywhere dan Taman Buaya Beat Club, dunia musik inspiratif seperti menggeliat kembali. Karena ada beberapa grup musik - bahkan komunitas musik yang begitu besar dengan berbagai genre yang nggak tertampung di acara musik televisi lain - kini bisa terpublikasi. Kendati demikian, proses seleksi band sepertinya harus tetap dilakukan karena khawatir orang akan cepat bosan. Dan yang nggak kalah penting, terlecut eksistensi dua program musik ini ada kabar yang menyebutkan bahwa RadioShow akan bangkit dari mati surinya. Ya, semoga saja benar. Dan pastinya, nggak disusupi unsur politis.

Pihak-pihak yang menganggap musik Indonesia membosankan dan seragam sepertinya harus membuka matanya lebar-lebar. Sejak jaman dulu, band/musisi Indonesia itu sudah sangat revolusioner. Kendati tetap berkiblat pada musik Barat, beberapa di antaranya punya ramuan khusus agar jenis musik yang dimainkannya memiliki ciri khas. Jika kita mundur jauh ke belakang, ke era '70-an dan '80-an, revolusi musik kerap terjadi. Pelakunya adalah God Bless, Rhoma Irama dan Karimata.

Saya sengaja menyebut tiga band/musisi dari tiga genre berbeda sebagai representasi dari dunia musik Indonesia itu sendiri. Dan buat kita yang nggak tahu apa yang pernah dilakukan ketiganya untuk dunia musik Indonesia, sebaiknya segera bertobat dan kembali ke jalan yang benar. Benar sekali! Banyak orang lupa, pada tahun 1979, jauh sebelum Dream Theater, band panutan anak metal sekarang lahir, God Bless telah melangkahi ruang dan waktu lewat rilisan album bertajuk "Cermin". Sebuah album megah berisi rumusan rock kompleks namun tertata apik dan dinamis yang terbungkus dalam komposisi progresif berkualitas bintang lima. Nomor-nomor semisal “Musisi” dan “Anak Adam” merupakan ukiran penuh visi yang menggambarkan totalitas berkarya Achmad Albar cs di dalam salah satu album rock terbaik Indonesia yang pernah lahir. Sayang, master rekaman "Cermin" hilang ditelan bumi sehingga album ini nggak akan pernah dirilis ulang. Akibatnya, nyaris terlupakan.

Di era yang sama, musik dangdut yang berasal dari pakem musik Melayu di tangan Rhoma Irama menjadi musik baru. Dangdut nggak lagi didominasi suara tabla (instrumen khas India), tetapi raungan gitar ala gitaris Deep Purple, Ritchie Blackmore. Yang nggak terbantahkan menjadi sebuah genre musik baru. Rhoma Irama menampilkan cita rasa gitar rock distorsif di nomor-nomor semisal ”Begadang 2”, ”Takwa”, ”Judi” dan ”Kiamat” dimana sound gitar rock-nya sejak itu menjadi unsur wajib dalam dangdut. Pengaruh solo gitar Ritchie Blackmore atau lengkingan khas vokalis Ian Gillan terpampang dalam karya-karya Rhoma Irama di paruh '70-an.

Berbeda dengan Rhoma Irama yang mengaliri musiknya dengan DNA rock, salah satu pahlawan jazz Indonesia, Karimata sebaliknya mencoba melabrak dominasi rock dengan sentuhan etnis lewat kibaran salah satu sub-genre jazz, fusion. Dari lima album yang ditelurkan Chandra Darusman dkk, ada tiga album yang layak dianggap sebagai ikon generasi muda kala itu. Yakni "Pasti" (1985), "Lima" (1987), dan "Biting" (1989) yang mengukuhkan posisi fusion di takhta terhormat blantika musik Tanah Air.

Itulah tiga nama besar produk lokal yang patut dibanggakan. Dan bagi yang menganggap para revolusioner di atas 'ketuaan', masih banyak kok band-band angkatan baru yang akar sejati musiknya berasal dari mereka. Tanpa harus menyebut nama, beberapa di antaranya bahkan pernah tampil di tiga acara televisi yang saya sebutkan di atas. Yang jadi pertanyaan, sampai kapan dua stasiun televisi ini mau memertahankan eksistensi mereka dalam upaya memberi ruang kepada barisan revolusioner muda untuk tampil di sana? Layaknya supir bajaj, hanya mereka dan Tuhan yang tahu.

0 COMMENTS

Info Terkait

supernoize
859 views
supernoize
859 views
supernoize
859 views
supernoize
859 views
supernoize
859 views
supernoize
3094 views

Saat Venue Musik Gugur Perlahan