Hellfest 2019

‘Naik Haji’ Metal: Catatan dari Hellfest 2019

  • By: Yulio Onta
  • Kamis, 4 July 2019
  • 1568 Views
  • 11 Likes
  • 13 Shares

Panas matahari menyengat dengan tegas di sekitar kawasan Roissy, Prancis. Pagi itu sekitar pukul 9, saya berjalan keluar gerbang bandara internasional kebanggaan publik Les Bleus, Charles de Gaulle, sambil celingak-celinguk di mana letak stasiun kereta yang akan menuju pusat kota.

Sebelumnya, saat melewati pintu imigrasi, para petugas terlihat sering memberikan salam devil horn kepada para turis yang datang. Pemandangan yang tidak biasa memang. Petugas imigrasi selalu dikenal kaku dan tanpa basa-basi, tapi khusus akhir pekan ini adalah pengecualian.

Mereka akan menyambut ratusan ribu metalhead yang menyerbu Prancis dari berbagai macam penjuru. Karena pada tanggal 21-23 Juni 2019, hari besar umat metal sedunia dirayakan dengan meriah di sini, di kota Clisson tepatnya, sisi barat daya Prancis yang bersinggungan langsung dengan Samudera Atlantik.

Selamat datang di Prancis. Jangan sampai dehidrasi, Clisson sedang panas-panasnya minggu ini. Dan pastikan anda kembali lagi ke Hellfest tahun depan,” ujar petugas blasteran Maroko, saya menebak karena namanya Hamdaoui, setelah melihat paspor dan tiket Hellfest terusan 3 hari milik saya.

Di perjalanan ini,  saya menumpang salah satu maskapai asal Timur Tengah yang lepas landas dengan sempurna dari Cengkareng. Terbang gagah selama 14 jam dan dibagi menjadi dua bagian, Jakarta – Abu Dhabi, Abu Dhabi – Paris.

Seorang pria latin bertubuh mungil, Yuri dari Mannaus (Brazil), dan om-om metal usia 45 tahun, Brian asal Boston (USA), datang menghampiri saya di depan pintu stasiun. Kami memang sudah membuat janji dari jauh hari untuk berangkat bersama dari Paris menuju Clisson.

Suasana riuh di kereta pecah seketika saat gerbong mulai berjalan. Speaker memainkan “Raining Blood”, “The Trooper” hingga “God Give Rock N Roll To You” keras-keras. Serentak dan tanpa aba-aba, dari depan hingga belakang, semua bernyanyi lantang membangun euforia sebelum tiba di Clisson. Kereta tiba 3,5 jam kemudian.

Perjalanan belum selesai. Keluar stasiun Clisson, kami masih harus menumpang shuttle bus menuju Loire-Atlantique, tempat di mana Hellfest 2019 akan diselenggarakan. Di jalan, ponsel kami terus berdering karena sebagian besar rombongan sudah tiba lebih dahulu sejak pagi, kamilah kloter terakhir.

Saya, Yuri dan Brian, akan menyusul sekitar 20 orang lainnya. Ada yang dari Meksiko, Chili, Jerman, Belanda, Bahrain, sampai Afrika Selatan. Kami semua adalah orang-orang yang pergi seorang diri ke Hellfest dari negara masing-masing dan memutuskan untuk membuat grup baru. Pertama kalinya kami bertemu, setelah hampir 8 bulan hanya bercengkrama di aplikasi chat di ponsel. Karena pikir kami, merayakan hari raya tentu akan lebih nikmat jika dilaksanakan bersama-sama.

Sampai di depan gerbang Hellfest, kami langsung menuju area kemah agar segera menyusul yang lain. Entah berapa hektar area yang digunakan oleh organizer ini, karena sependengaran saya, tiket Hellfest 2019 sebanyak 150.000 lembar berhasil ludes dalam hitungan jam, yang artinya jumlah tersebut akan memadati ladang raksasa ini.

Hari pertama ini, Kamis 20 Juni, kami habiskan dengan membeli perbekalan di supermarket sebelah. Kursi kemah, chips n cheese, roti, berbotol-botol air mineral, dan kebutuhan pokok lainnya kami dapatkan di sana. Malamnya kami putuskan untuk tidur tidak terlalu larut setelah menandaskan roasted marshmallow bakar dan beberapa kaleng bir. Merebahkan diri agar cukup beristirahat sebelum digempur distorsi habis-habisan selama tiga hari ke depan.

DAY 1 

Tenda yang sudah bau bir pagi itu, rasanya ingin lekas ditinggalkan. Mandi adalah ide paling baik, mengingat suhu di Clisson mencapai 25 derajat celcius pada pukul 7, extreme weather for extreme people.

Kami, rombongan Solo Traveler - Hellfest 2019, sudah siap masuk ke arena tepat pukul 10. Antrian mengular luar biasa panjang. Di depan terpampang tegas gerbang kastil dengan tulisan HELLFEST besar-besar.

Sesampainya di dalam, kami terbagi menjadi tiga grup besar. Satu yang ingin bersantai-santai dahulu karena band yang ingin ditonton masih tampil sore hari, satu yang sudah merapat ke bibir panggung, dan satu lagi yang masih sibuk mencari “asupan” agar menonton jadi lebih nikmat, haha! 

Hellfest 2019 menyediakan total 6 panggung untuk gemuruhnya. Ada Valley Stage yang dihuni band-band Sabbathian; stoner/doom/post metal, Warzone untuk punk rockers dan hardcore kids, Altar Stage tempat bagi death metal tulen, Temple Stage yang menjadi tempat pemujaan bagi band-band black metal, dan dua Mainstage besar untuk para penampil utama.

Saya pribadi, memilih untuk bersantai-santai sambil berkeliling. Ada Cat, wanita keturunan Inggris-Afrika Selatan, Nasser dari Bahrain yang tidak banyak bicara, Richard si bocah kampung Oregon, Amerika Serikat yang tengik bukan main, dan Manon, warga lokal Nantes, yang ikut bersama saya.

Ada banyak “wahana” kami putari pagi itu. Dari Extreme Market, tentu saja, yang menjual banyak hal tentang heavy metal, stand-stand bir, naik bianglala besar yang ternyata murah, sampai antri merchandise official Hellfest yang ternyata memakan waktu hampir 2 jam! sial! titipan teman pula, merepotkan.

Band pertama yang masuk daftar wajib tonton di hari pertama adalah Conan. Trio doom metal purba dari Inggris ini tampil bengis menghajar Valley Stage tepat pukul 2 siang. Kemudian dilanjut menyaksikan Power Trip di Altar Stage yang bermain gila-gila tanpa jeda, Swing of the Axe! salah satu penampilan terbaik di Hellfest 2019.

Musim panas membuat pukul 6 sore masih sungguh panas dan matahari belum juga meredup. Satu pint besar kembali saya pesan, kali ini bersama tachos, sambil melihat band punk cover paling lawak sejagat Bumi, Me First and Gimme Gimmes. Pentolan utama mereka, Fat Mike, absen untuk tur Eropa kali ini, peranannya diambil alih bassist macho milik Bad Religion, Jay Bentley.

Yang paling menyebalkan dari festival besar macam Hellfest adalah saat ada dua band favorit tampil bersamaan di panggung yang jaraknya ujung ke ujung. Semisal Valley Stage ke Warzone, ditempuh selama 15 menit dengan berjalan kaki santai atau sekitar 1 kilometer.

Graveyard, grup hard rock Swedia tampil bersamaan dengan Kvelertak, black metal rock n roll dari Norwegia. Setelah berpikir keras, akhirnya saya memilih Kvelertak di Altar Stage. Sayang memang melewatkan Graveyard, tapi lawannya Kvelertak. Meski bukan kali pertama saya menonton Kvelertak, tapi rasa penasaran ini besar, bagaimana mereka tampil dengan vokalis baru sepeninggal Erlend Hjelvik, ternyata makin garang.

Kemudian ada Hank von Hell, mantan vokalis band rock Turbonegro yang album solonya, Egomania, menjadi album favorit saya tahun lalu, tampil bersamaan dengan Dropkick Murphys, berandalan Massachusets sang duta pilsner yang sangat tidak boleh dilewatkan penampilannya. Keputusan akhir adalah menonton Hank von Hell sekitar 4 lagu, lalu lanjut Dropkick Murphys dari spot yang tidak terlalu bagus.

Setelah puas dihibur Dropkick Murphys dan berpogo riang gembira di lagu favorit “Johnny I Hardly Knew Ya”, saya berpindah ke Valley Stage. Untung saja jadwal Uncle Acid and the Deadbeats tidak bertabrakan dengan yang lain. Dengan khusyuk menyimak penampilan mereka yang keren betul, hampir satu set penuh mereka memainkan lagu-lagu dari album terbaru, Wasteland.

Kami lalu memutuskan makan malam sebentar. Agar tidak tumbang, kadar bir dan shot-shot lain harus ditimpa Argentinian Steak. Ini pilihan cerdas, karena porsi besar, enak, dan yang paling penting, harganya bersahabat. 

Kondisi tubuh bugar lagi dan siap untuk Descendents. Milo Ackerman ternyata sudah kempot memainkan repertoir panjangnya dan cukup keteteran. Tapi tak apa, ini Descendents. 

Dari Warzone merapat ke Altar Stage karena Carcass sudah siap naik panggung. Total ini kali ketiga saya menonton Carcass, dan Bill Steer beserta kolega masih tampil sangat membius, gore grind yang bluesy mentok.

Hari pertama memasuki penghujung. Tidak ada cara paling tepat untuk menutupnya selain dengan Gojira. Kalau Brazil punya sepak bola, Australia punya kanguru, Russia punya vodka, Prancis punya Gojira! Duplantier Brothers, Chris Andreau dan Jean Michael Labaddie tampil kesetanan, heavy metal sejati, berat dan meledak-ledak. 

Circle pit dan wall of death terjadi berkali-kali di depan panggung merayakan suksesnya Hellfest hari pertama. Maaf King Diamond, semoga lain kali bisa menonton!

Yang terlewat di hari pertamaGraveyard, Venom Inc, Possessed, Hellhammer, King Diamond, Fu Manchu

DAY 2

Di hari kedua, saya mengambil antrian mandi lebih cepat dari kemarin, agar bisa lebih cepat masuk ke venue dan tidak terlambat karena Coilguns, dark hardcore favorit saya belakangan ini, tampil membuka kegaduhan di Valley Stage tepat pukul 10.30 pagi.

Selain itu, tak lama setelahnya, DOOL juga bermain di Temple Stage pukul 1 siang. Band post-punk paling gaul di Belanda ini bermain dengan sangat rapat dan rapih, klimaks sekali. Geser sedikit ke Valley Stage, ada Mantar yang bersiap tampil. Duo hardcore/sludge yang satu ini memang menjadi salah satu nama yang wajib saya tonton saat membeli tiket Hellfest 2019. Benar saja, Mantar memberedel penonton dengan sound dan aksi panggung brutal.

Hari ini lebih padat dari kemarin. Pergerakan juga harus lebih sigap, mengingat jadwal ketat dan jarak antara panggung ke panggung bisa mencapai 1,5 kilometer. Dan satu yang paling penting, jangan sampai dehidrasi. Bir atau air putih, harus pas asupannya, kalau tidak, bisa loyo dibuatnya. Matahari di Clisson menusuk langsung setiap kepala.

Deadland Ritual, tipikal band rock yang tidak saya suka, musiknya tanggung. Kencang ya sedang, heavy juga begitu saja. Tapi band ini penting, saya mengambil tempat di front row untuk melihat Geezer Butler bermain bass di sini. Menyaksikan Geezer dari jarak sangat dekat, sureal. Mereka juga sempat memainkan nomor klasik milik Black Sabbath, “War pigs”.

Sekarang giliran bentrok Cave In dan Eagles of Death Metal. Pilihan berat. Cave In yang dahsyat, Stephen Brodsky - Adam McGrath, mengundang Nate Newton (Converge) pada bass, yang sementara waktu menggantikan almarhum Caleb Scofield. Sedangkan Eagles of Death Metal, meski di tur ini tanpa Dave Catching dan Matt McJunkins, ada nama Jennie Vee dan Josh Jove di sana, tidak memudarkan kadar ke-macho-an EODM sama sekali. Akhirnya pilihan jatuh ke 5 lagu awal Cave In di Valley Stage, dan berlari sekencang mungkin ke Mainstage 2 untuk sisa set Eagles of Death Metal. Adil.

Selesai dari panggung EODM, saya dan teman-teman setuju untuk bersantai di rumput sambil minum bir. Beberapa pitcher kami habiskan, di traktir Nasser si juragan minyak dari Bahrain. Lumayan panjang waktu istirahat kami, dari jam 6 sore menjelang 10 malam yang masih menyala, karena ini festival musim panas.

Penampil pamungkas malam ini, KISS. Paul Stanley, Gene Simmons, Tommy Thayer dan Eric Singer adalah penyulut pesta sejati. Meski ini bukan formasi orisinil KISS, tapi tak apa, masih sangat menghibur. Lagu-lagu favorit pribadi pun dimainkan dengan tampilan set panggung yang megah, salah satunya seperti “God of Thunder”, Gene Simmons bernyanyi di atas piring terbang di ketinggian sekitar 10 meter dari panggung. Gila. 

Yang terlewat di hari keduaSumac, The Ocean, Sham69, Envy, Cult of Luna, The Adicts, ZZ Top, Sisters of Mercy.

DAY 3

Hari terakhir. Seluruh rombongan Hellfest Solo Traveler sepakat akan habis-habisan di sini, tak terkecuali Cat dan Tugba, dua wanita dari Afrika Selatan dan Turki di grup kami.

Sejak pagi kami sudah selesai sarapan, mandi, dan menyeruput wine sebelum menuju arena konser agar tidak terlambat. 

Karena Alien Weaponry, trio groove metal dari Selandia Baru yang sedang ramai dibicarakan, sudah menghajar panggung sejak pagi hari tepat pukul 10. Tapi kami sudah siapkan fisik khusus hari ini, jadi lebih tahan banting.

Setelahnya berturut-turut ada Insanity Alert dan Municipal Waste yang naik panggung. Total thrash! Insanity Alert memainkan musik yang sama persis seperti Municipal Waste, sama serunya dan sama bodohnya. Kami ramai-ramai terjun ke circle pit yang sangat menyenangkan itu, berputar tak henti-henti merayakan Thrash Sunday di Hellfest 2019.

Pada jam makan siang, kami semua setuju untuk menyantap spaghetti gorgonzola yang lokasinya berada di bibir panggung Warzone. Pojok sekali, dijaga empat wanita italia yang manisnya bukan main.

Dari sana, merapat sebentar ke Valley Stage untuk YOB. Mike Scheidt cs menggetarkan seisi tenda, benar-benar bergetar, sound ultra berat ciri khas doom metal sejati. Kemudian kembali menuju Main Stage, kali ini untuk Clutch. Band blues rock brengsek yang nafasnya bau bir murah dikepuli asap bunga rasa tanah. Berjoget di suhu ekstrem 38 derajat celcius bersama Clutch, panas, satu-satu dari kami mulai kemerahan seperti lobster bakar.

Selesai dari Clutch, tidak ada jeda yang terlalu lama, hanya sekitar 10 menit di panggung sebelah, Anthrax sudah bersiap. Joey Belladonna menjadi yang pertama masuk panggung, diiringi Frank Bello, Jonathan Donais si gitaris baru, dan dua jagoan, Charlie Benante dan Scott Ian. Tak lama, Belladonna memberi aba-aba untuk war dance kepada para penonton sambil menuntaskan setlist super seru, dengan “Caught In A Mosh”, “Got The Time”, “N.F.L”, “I Am The Law” sampai “Indians” di dalamnya.

Ini hari terakhir, tidak ada nafas untuk mereka yang lemah. Setelah Anthrax turun panggung, kini Lamb of God yang akan mengambil alih pentas. Randhy Blythe masuk pertama menyapa penonton yang sudah kadung brutal sore itu, kemudian diikuti John Campbell, Mark Morton dan Willie Adler yang kali ini tak berdampingan dengan kakaknya, Chris Adler, si drummer mesin yang mengalami cedera berat di lengan karena kecelakaan motor sehingga harus absen sejak September tahun lalu. Peran Chris diisi oleh Art Cruz dari Prong dan Winds of Plague.

Para cowboy Amerika satu ini memang tahu benar bagaimana cara membakar panggung. Dari “Ruin”, “Walk With Me In Hell” sampai “512” dibawakan untuk menggetarkan panggung utama Hellfest 2019.

Malam makin larut, suasana makin gila. Sisa dua penampil di jadwal, Slayer si putra-putra neraka, dan TOOL, kelompok alien yang sengaja turun ke bumi Prancis untuk bermain musik.

Ketika Slayer masuk panggung dan memainkan “Repentless”, di situ kiamat kecil di Prancis dimulai. Moshpit sungguh membara, circle pit berputar terus-menerus tak berhenti, semua yang ada di sana merayakan bersama-sama penampilan terakhir Slayer di Prancis. Benar-benar yang terakhir, karena ini tur penutup karier mereka.

Araya, King, Bostaph dan Holt adalah empat kegelapan yang menyanyikan syair siksa neraka dengan lantang. Merah, tak ada warna lain itu panggung Slayer malam itu. Hujan darah dan beragam ilustrasi tengkorak menambah kengerian Slayer di panggung, 75 menit set mereka terasa sungguh mendebarkan.

Yang terakhir malam itu, penutup rangkaian tiga hari tiga malam penuh distorsi. TOOL, band yang tidak akan pernah bisa ditiru komposisinya, oleh siapapun, mendapat mandat untuk menyudahi pesta.

Maynard James Keenan dan kolega membuat seisi Hellfest ternganga-nganga heran. Mereka membius penonton pelan-pelan, alurnya lambat menuju klimaks, dimainkan naik dan turun. Lagu dan visual panggung kawin dengan elegan.

Terlebih saat lagu-lagu andalam macam “The Pot”, “Schism”, “Jambi” atau “Parabola” dimainkan, saya semakin yakin mereka tidak datang dari alam yang sama dengan kita. 

Petualangan gegap gempita di Hellfest resmi berakhir saat TOOL mengakhirinya dengan “Vicarious” dan “Stinkfist” secara berurutan. 

Terima kasih Hellfest, akan kembali lagi di tahun 2020. Festival yang seru, well organized, tapi sungguh melelahkan, salut!

*Seluruh foto oleh penulis

1 COMMENTS
  • dephythreehandoko

    ibadahnya para umat metal dunia

Info Terkait

superbuzz
1173 views
superbuzz
319 views
superbuzz
732 views
supershow
445 views
superbuzz
411 views