Novan ‘Captain Jack’: Menolak Mati dan Dimatikan

Membangun kembali sebuah rumah yang tinggal puing bukanlah perkara gampang. Sama halnya dengan membangun sebuah band yang sudah belasan tahun dan hampir saja menjadi puing.

***

Akhir 2015, Ismeth meminta izin untuk pulang ke Kalimantan, dan pertengahan 2016 ia mengundurkan diri dari band karena kesehatan orangtuanya yang memburuk. Banyak yang mengira hengkangnya Ismeth sama dengan hengkangnya dua personel yang lain. Padahal tidak.

Awal 2016 band ini pecah kongsi berikut seluruh tim manajemen, merchandise, dan tim produksi. Yang tersisa dari Captain Jack hanya saya dan Andi Babon, serta mereka yang menamakan diri mereka Jackers, Jackerslady, MonsterJackers, juga Monsterlady dan pelbagai sebutan lain.

Perpecahan ini bukanlah hal yang mudah diterima. Mereka (Jackers) marah di laman media sosial. Saling menyalahkan dan berasumsi sendiri. Begitu banyak ruah di dalam dada mereka. Saya dan Andi pun sebenarnya sama. Tapi saat itu kami memilih untuk diam dan hanya menjawab seperlunya pertanyaan yang masuk. Mengapa band ini pecah, bukanlah hal yang menarik untuk diumbar.

Ada yang menyimpulkan karena hijrahnya saya mendalami ilmu agama, ada juga yang menyimpulkan karena kesibukan Andi yang dari dulu adalah seorang drum player session. Bahkan banyak yang menuduh kami berkhianat. Memang aneh terdengar, kami yang ditinggal, tapi kami yang menjadi tertuduh. 

Pada akhirnya caci maki dan tuduhan tanpa dasar sudah terbiasa kami terima. Setelah kejadian tersebut, kami mulai bekerja rangkap, mulai dari admin media sosial, admin merchandise, juga sebagai player yang melayani interview dari media yang menanyakan perihal keluarnya sebagian besar personel CaptainJack.

Pernah ada, dalam keadaan stuck yang luar biasa dengan kondisi band yang berantakan membuat saya sempat ingin berhenti bermusik secara total. Hingga pada suatu malam, di teras rumah saya di pinggiran selatan Surabaya. Setengah melamun, ingatan saya berputar menuju momen saat saya ada di atas panggung, dan beradu mata dengan Jackers. Rasanya saya seperti menyelam ke bola mata mereka, saya merasakan apa yang mereka rasakan saat mereka ada di bawah panggung dan menyaksikan penampilan kami. Sebuah rasa yang sebenarnya tidak pernah saya tahu rasanya, karena pada kenyataannya saya di atas panggung bukan di bawah.

Tidak terhitung berapa kali mata saya beradu dengan mereka, dan kali ini rasanya berbeda. Saya merasakan yang mereka rasakan, semangatnya, mimpinya, harapannya untuk kami. Dan saat itu semuanya terasa begitu nyata. Seketika saya tepis perasaan ingin menghentikan aktivitas bermusik. Dan yang muncul sekarang adalah sebuah pertanyaan besar yang menuntut saya untuk meneruskan nama band ini: Seberapa besar tanggung jawab saya kepada mereka?

Saya hubungi Babon dan mengatakan band ini harus diteruskan. CaptainJack bukan tidak bisa dibubarkan, tapi tidak boleh. Saya ceritakan apa yang saya rasakan, ajaibnya Babon pun merasakan hal yang sama. Ada hal besar yang lalu kami sadari. Hengkangnya sebagian besar personel menyisakan sebuah pertanggungjawaban besar atas karya CaptainJack terdahulu yang sarat dengan provokasi. Dan perkara ini adalah perkara besar untuk saya.

Sempat berhembus berita  “CaptainJack bubar.” Kami lalu menilai hal ini pasti karena statement pribadi dari salah seorang personel yang keluar. “Satu keluar band bubar” (dari CaptainJack Rockumentary). Ini yang menurut kami adalah masalah terberat yang harus kami hadapi dan luruskan karena Jackers menjadi semakin ribut di media sosial, bahkan terjadi  pertengkaran  dan perpecahan antara mereka. Manajemen lalu membuat siaran pers untuk dibagikan: “CAPTAINJACK TIDAK BUBAR.”

Berbekal dengan apa yang kami berdua punya, saya dan Babon mulai mengatur strategi. Pertama yang kami sepakati adalah hijrah ke Jakarta. Bukan dengan niat meninggalkan Jackers yang memang bermarkas besar di Yogyakarta, tapi dengan hijrah ke Jakarta, kami merasa bisa lebih explore untuk banyak hal baru, bertemu dengan teman-teman baru, bertukar pikiran dan lain sebagainya.

Kami memulai kembali CaptainJack dengan konsep kolaborasi. Dengan hanya bermodalkan kenekatan, kami tulis daftar nama vokalis dari skena tertentu yang bisa membantu kami dalam project ini. 

Setelah terkumpul beberapa nama, Saya mulai membuat lagu dengan mempelajari karakter vokal mereka melalui YouTube dan mencoba membuat beberapa lagu yang saya anggap sesuai dengan karakter vokal mereka.

Kami bergeser dari musik CaptainJack terdahulu yang bernuansa rock cenderung metal, ke akar bermusik kami, yaitu rock alternatif. Dan kami sepakat untuk menuliskan lirik dengan konten motivasi yang lebih positif. Tujuan utamanya adalah untuk motivasi diri kami. Harapannya energi positif yang kami hembuskan bisa membawa efek positif untuk Jackers. Ya, sebegitu pedulinya kami dengan mereka. Alasan utama kami tetap ada adalah karena mereka.

Berbekal lagu dan nekat, kami hijrah ke Jakarta. Kami hubungi beberapa teman yang bisa menjadi penghubung ke beberapa nama vokalis yang ada dalam daftar kami. Beberapa ada yang berhasil kami temui, ada juga yang tidak. Ada satu nama yang sebenarnya tidak termasuk dalam daftar kolaborasi di project tapi ternyata ada lagu kami yang cocok sekali dengan karakter vokalnya, meskipun ia dibesarkan dengan genre musik yang bertolak belakang dengan musik kami. Dia adalah Umaru Takaeda, eks vokalis Drive setelah Anji.

Takaeda sumbang suara di lagu “Indonesia (Tetap) Raya”, sebuah lagu untuk negara tercinta ini yang kami keluarkan di akun official YouTube kami dalam rangka memeringati Hari Pahlawan di tahun 2016. Ini adalah lagu pertama CaptainJack yang published setelah drama perpecahan kemarin. Lagi-lagi Jackers bergejolak, banyak yang bilang lagu ini gak “nge-rock”. Kami biarkan mereka membanding-bandingkan Takaeda dengan vokalis yang keluar. Mereka harus belajar membaca caption, ini project kolaborasi, CaptainJack belum menentukan siapa yang akan menduduki posisi frontman.

Pertemuan berikutnya adalah dengan Luks/Buluk, frontman dari Superglad di kawasan Jakarta Selatan. Setelah atur janji workshop, jadilah lagu "BraderJackers". Lirik sudah saya tulis sebelumnya, hanya karena saya terbiasa menulis lagu berprogresi minor, akhirnya lalu disesuaikan dengan Buluk yang terbiasa bernyanyi dengan progresi mayor. Dalam pengerjaan mini album ini kami kami dibantu Benny Mihing menempati posisi gitar. Agustus 2016, Buluk sempat satu kali menjadi vokal tamu di panggung CaptainJack setelah beberapa bulan band ini istirahat dari panggung karena pecah kongsi.

Che Cupumanik. Nama ini masuk list pertama dalam daftar project ini. Alhamdulillah kami dapat akses bertemu Che dari Goesti (Godless Symptoms) dan Fanani (Duo Maia dan Astrid), dan tak mengira mendapat sambutan sangat baik dari Che. Gayung bersambut, saya langsung kirim versi mentah dua lagu untuk dipilih. Che memilih lagu berjudul “Nyanyian Pengembara”. Lagu ini menjadi semakin kuat karena teriakan distorsi suara Che.

Yang terakhir adalah Dendy Mike’s. Kami tahu nama besar Dendy saat ia masih di band Kunci. Dulu saat CaptainJack rilis album kedua, Kunci merilis album pertamanya. Sambil ngopi santai di coffeeshop di kawasan Tebet, Dendy memilih lagu “Fighters Song”. Penjiwaan dan karakter vokal Dendy sangat menyatu di lagu ini.

Masalah yang kami hadapi berikutnya adalah masalah paling klasik dari anak band, yaitu masalah pendanaan. Dana kas band yang tersisa ternyata kurang untuk rilisan. Saya bahkan sempat menjadi driver taxi online di Surabaya untuk menutupi kekurangan produksi master dari EP CaptainJack yang bertajuk #17 ini. Andi juga harus ngamen sana-sini untuk memberikan solusi pendanaan rilisan. Setelah dana cukup, saya bertolak lagi ke Jakarta untuk menyelesaikan mastering dan kami pun mulai menjual CD kami secara pre-order melalui media sosial CaptainJack.

Perjuangan dan perjalanan berat ini tidak akan mungkin dan sanggup kami lakukan hanya berdua saja. Kami mendapat dukungan penuh dan pengorbanan besar dari istri saya, Shandra Syailendra, yang lalu mengambil alih manajemen CaptainJack berdua dengan Irwan Gembok. Band ini kami benahi. Mulai dari manajemen hingga merchandise. Kami dibantu Gopal Kurniawan dan Reza menghidupkan kembali CJ Merchandise. Master album akhirmya selesai, kami mendapat support penuh dari Goesti (Godless Symptoms) untuk menyebarkan materi lagu kami ke radio. Istri saya bertugas menyebarkan siaran pers ke media-media online. And here we are. We are ready to fight. We are ready to back!

Meminjam kalimat yang diucapkan Che saat pesta rilisan single di acara The Rock Campus by Ezra Simanjutak tanggal 10 November 2017 kemarin: “Menolak Mati dan Dimatikan.”

*Foto: dokumentasi pribadi penulis

3 COMMENTS
  • dephythreehandoko

    MONSTER JACKER

  • juangpratama

    Gaskeun...

  • Damascus29

    JOSS ...

Info Terkait

superbuzz
52 views

5 Band Pop Keren Asal Jogja

superbuzz
35 views
superbuzz
309 views