Octavia ‘Heals’: Musik Ekstrem Jadi Pengantar Baik dalam Bermusik

Di tulisan ini, saya akan menceritakan bagaimana masa-masa remaja saya yang cukup dekat dengan musik ekstrem. Karena 10-13 tahun ke belakang ketika saya masih di tingkat akhir SMP, Bandung sedang ramai dilanda oleh budaya musik ekstrem (jenis musik yang dimaksud ialah, metal, hardcore, punk, experimental, dan berbagai subgenre-nya).

Bicara tentang budaya musik ekstrem, Bandung memang sudah dilanda oleh fenomena tersebut jauh dari tahun saya teracuni, tepatnya dimulai dari awal tahun 90-an. Sudah jelas saya tidak mengalaminya karena itu tahun di mana saya baru lahir, haha. 

Poster dok. Ken Terror (Kontrasosial)

Beruntungnya saya mendapatkan cerita-cerita dari kakak-kakak yang memang mengalaminya. Katanya, fenomena ini diprakarsai oleh pelaku-pelaku yang berasal dari satu tongkrongan kecil, kemudian berkoalisi dengan tongkrongan lainnya hingga menjadi satu komunitas untuk membuat satu acara musik yang mewakili band-band di era itu. Karena saat itu tidak ada wadah dan cara lain untuk mengekspresikan musikalitas, mereka selain membuat acara sendiri. Tentunya, mengorbankan usaha yang tidak sedikit, secara tenaga dan finansial. Hingga akhirnya lahirlah kultur musik Saparua yang membuahkan banyak fenomena di dalamnya. Tentunya, ini menjadi salah satu acara musik besar yang pernah terjadi di kota Bandung.

Seiring dengan berjalannya waktu, acara tersebut tidak hanya diurus dan diselenggarakan oleh komunitas, tapi juga oleh event organizer dan pihak lainnya seperti kampus atau komunitas lainnya. Sayangnya, Saparua hanya bisa bertahan selama kurang lebih satu dekade menghiasi kota Bandung dengan warna yang baru, hingga akhirnya mengalami peralihan tempat yang menyebabkan setiap komunitas membuat acaranya masing-masing, mulai di bar, studio show hingga tempat-tempat yang tidak biasa disulap menjadi acara musik secara DIY. Acara-acara tersebut terus berlangsung hingga saya remaja. (*Sumber: Ken Terror (Kontrasosial) & Alvin Yunata (Teenage Death Star))

Bukanlah hal yang aneh jika melihat selebaran poster acara musik besar hingga studio show yang tertempel di tembok-tembok kota Bandung dengan font sangat khas. Biasanya pengisi acaranya bisa berjumlah lebih dari 10 band. Acaranya pun memiliki komposisi yang unik, tidak hanya menampilkan band-band dari satu jenis musik, namun juga menggabungkan beberapa jenis musik.

Poster dok. Yusuf Yadi Surya (Caravan of Anaconda)

Dalam tulisan ini saya tidak akan mengulas satu jenis musik secara spesifik. Karena, saat itu saya memang mendengarkan beragam berdasarkan band-band yang saya tonton hingga bisa tahu jenis musik yang mereka mainkan itu apa. Jenis musik tersebut memang mempunyai keunikan dan sudah jelas tidak semua orang bisa menikmatinya. Selain musik yang mengganggu telinga, lirik tanpa sensor, vokal yang teriak/menggeram dan tentunya mempunyai banyak kerumitan di setiap bagian masing-masing instrumennya. Dan sudah pasti akan memancing sinis bahkan lelucon bagi sebagian orang yang tidak menyukainya. Tapi, entah mengapa untuk saya malah sebaliknya. Ketika mendengarkan lagu dari band tertentu, saya selalu berpikir dan bertanya-tanya bagaimana cara memainkan gitar hingga bisa menghasilkan part tersebut? Ini mulainya dari mana sih? Bagaimana masing-masing personil bisa menerjemahkan part rumit yang diberikan si pembuat lagu hingga menjadi sebuah komposisi?

Mungkin karena saat itu saya hanya ada di tahap "menikmati" musik tersebut tanpa menelusuri lebih dalam. Namun, karena sering mendengarkan, akhirnya saya malah merasa penasaran hingga ingin bisa memainkan lagu-lagu yang saya dengarkan. Senangnya, di saat sedang penasaran-penasarannya, saya bertemu dengan teman-teman yang tergabung dalam band-band berjenis musik tersebut, termasuk teman satu band saya sekarang. Mereka cukup banyak memberikan saya referensi musik. Selain menjadi penggemar musik ekstrem, mereka pun masing-masing ada di dalam band seperti Caravan of Anaconda, Hellbeyond, Dazecortica, Garpitus yang kini menjadi Fix Me Icarus dan Deranged Pervesion yang lumayan sering menghiasi acara-acara musik bawah tanah di kota Bandung saat itu.

Caravan of Anaconda, 2008. Photo dok. Yusuf Yadi Surya

Selain diberikan referensi, saya yang hanya bisa memainkan gitar seperti menjadi adik yang diajari oleh banyak kakak. Mulai dari riff-riff gitar yang dihasilkan oleh band teman-teman, hingga lagu dari band-band luar yang saya suka. Itu pun kalau memang bisa saya kuasai dan juga kalau ada yang mau mengajarkan bagaimana cara memainkannya. Serunya lagi, memainkannya hanya menggunakan gitar kopong di tempat tongkrongan! Haha.

Family Show Vol. 1, Soffa Music Studio 2, Desember 2007. SheraSuperSweet. Photo dok. Roma Maleakhi

Bisa dibilang saat itu saya ada di tahap terbawa arus oleh lingkungan di sekitar saya. Tak munafik, ketika melihat orang yang saya anggap keren mendengarkan salah satu band tertentu, saya pun ikut mendengarkannya. Mungkin juga bisa dibilang hanya sekadar anak remaja yang sedang asik oleh ketertarikannya terhadap sesuatu karena sedang ramai atau paling sadis sih bisa disebut poser

Bicara tentang poser, mungkin saya adalah salah satunya. Tapi, saat-saat itu malah sangat menyenangkan menurut saya. Karena total ketertarikannya sudah jelas lebih besar melampaui rasa malu disebut sok tahu/poser oleh orang-orang yang mungkin sudah lebih tua, lama, paham atau memang ada di dalamnya. Tapi menurut saya, di titik menikmati, semua orang pasti akan dihadapkan oleh banyak pilihan dan tentunya, akan mencoba semuanya karena masing-masing mempunyai kewenangan dalam memilih apapun yang mau ditelan, hingga bisa memilah lalu mengunyahnya dengan baik.

Yah... Kalau membahas ini pasti akan membuahkan perdebatan panjang yang tidak ada akhirnya, jadi saya akan memilih untuk tidak peduli dan menggemarinya saja. Karena faktanya, jenis musik ini berperan cukup besar. Pertama kali memainkan gitar menggunakan pick ketika diajari lagu-lagu death metal oleh seorang teman hingga disuruh fingering setiap hari. Jari-jari pun jadi lumayan terbiasa dengan part-part bertempo cepat, chord aneh atau ketukan yang ganjil. Memang sih, bukan menjadi benar-benar ber-skill, namun bisa terlatih dengan cara yang seru dan gratis. Tentunya, hal itu terbawa hingga sekarang dan sangat membantu saya ketika sedang melakukan proses kreatif bersama Heals.

ALICE, IBC Burangrang, 2009. Photo dok. Andika Surya (ALICE, COLLAPSE)

Sambil menulis artikel ini, saya pun membuat sebuah playlist yang berisikan band-band yang saya dengarkan saat itu, yang juga digabungan dengan beberapa referensi baru yang saya dapatkan. Selamat mendengarkan!

*Foto Octavia oleh @donatooo_

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
352 views
supernoize
503 views
superbuzz
781 views
superbuzz
702 views
supernoize
1361 views