Octavia 'Heals': Terbius dengan Alunan Bising Nan Manis dari Ride

Tanggal 24 November 2018 kemarin, El Dorado Dome di Jalan Dr. Setiabudhi Bandung menjadi wadah penampung juga saksi euforia para pencinta subgenre musik alternatif, yaitu shoegaze. Bagaimana tidak senang, malam itu Ride, grup legendaris asal Inggris akhirnya tampil secara langsung untuk pertama kalinya di Indonesia, di Bandung pula! Mungkin sebagian besar dari kita tidak pernah membayangkan akan menonton penampilan mereka. Berkat Super Generation, 3HUNDRED, FFWD Records dan Oz Radio Bandung kita semua bisa berkesempatan melihat penampilan mereka.

Serunya, Ride tidak datang sendiri. Mereka bermain bersama dengan rekan turnya di tahun 2015 lalu, yaitu DIIV (baca: “Dive”) yang merupakan salah satu roster dari Captured Tracks, label rekaman asal New York, AS.

Saat mendapatkan kabar mereka akan bermain di kota kelahiranku, tentu ada kegembiraan tersendiri. Selain dekat dari rumah, ada kebanggaan tersendiri melihat bahwa Bandung punya kesempatan jadi tuan rumah konser salah satu band favoritku--yang juga mungkin salah satu terbaik sepanjang sejarah musik alternatif. Tentu saja, yang senang tidak hanya aku, tapi banyak penggemar mereka lainnya. Mulai dari anak muda hingga orang yang usianya jauh di atasku.

Buktinya, banyak teman di media sosial yang tak ragu untuk mengunggah poster acara bahkan membagikan posting-an bahwa mereka sedang mendengarkan lagu, baik dari Ride maupun DIIV, setelah mengetahui kabar bahwa dua band tersebut akan tampil. Gila, bahkan sudah ada yang menunggu hingga 26 tahun lamanya lho buat nonton Ride!

Aksi Ride di El Dorado Dome, Bandung

Terbentuk sejak tahun 1988 di Oxford, Inggris, sampai sekarang Ride tidak pernah mengubah formasi mereka. Masih tetap digawangi oleh duo gitaris/vokalis Andy Bell dan Mark Gardener, Steve Queralt pada Bass dan drum oleh Loz Colbert. Walau sempat bubar di tahun 1996 setelah merilis 3 album, mereka kembali reuni dengan formasi yang sama pada tahun 2014 lalu.

Lewat album Nowhere yang rilis pada 1990 silam, mereka telah memberikan salah satu album shoegaze terbaik dan berpengaruh sepanjang masa. Selain mendapat banyak respons positif dari sejumlah media-media musik ternama di dunia, entah sudah berapa banyak band lokal yang kutonton dan tak ragu membawakan ulang lagu hits mereka “Vapour Trail”. Tentunya, hal tersebut menjadi bukti kecil yang nyata betapa berpengaruhnya mereka di kancah musik lokal.

Dua band bandung berkesempatan untuk membuka konser ini. Kebetulan, masing-masing dari mereka baru saja merilis karya. September lalu, pentolan post-rock dari label rekaman Bandung Monsterstress, yakni Under The Big Bright Yellow Sun baru saja merilisnya album ketiga mereka berjudul Brightlight. Begitu pula Rock N Roll Mafia, dua hari sebelumnya mereka baru saja menggelar pesta rilis EP terbaru Unison di Jakarta. Dengan materi segar, tata panggung juga visual yang terkonsep, mereka membuka konser ini dengan sangat apik.

Tiba giliran DIIV memulai setnya. Walaupun banyak yang berkomentar tentang sound yang kurang maksimal setelah pertunjukan, entah apa yang terjadi, aku tidak terlalu terganggu akan hal itu. Malah sebaliknya, aku sangat menikmati performa mereka. Mulai lagu-lagu dari album pertama hingga materi-materi yang belum pernah dirilis pun spesial mereka sajikan. Perpaduan nuansa dream pop, shoegaze, post-punk hingga krautrock terasa dalam set mereka.

Aku bukan pemerhati mereka, tapi rasanya ingin ikutan stage diving bersama teman-teman saat mereka membawakan “Doused” yang merupakan hits dari album pertamanya, Oshin. Sayangnya, saat itu aku sedang bertugas menjadi fotografer amatir yang mau tidak mau harus menahan keinginan itu karena tanggung jawab membawa kamera.

Andrew Bailey, DIIV

Tak terasa ternyata sudah lagu terakhir, penampilan DIIV pun selesai. Jelang beberapa menit, tibalah saat yang paling kutunggu-tunggu. Masih terasa seperti mimpi, aku jalan bergegas ke depan panggung bersama teman-teman dari media lain. Sedikit cerita, tahun 2015 lalu aku terpaksa harus melewatkan kesempatan untuk menonton penampilan mereka di Neon Lights Singapura dan berpikir sepertinya tidak akan ada kesempatan lagi. Ternyata, ketika melihat mereka naik ke panggung, ini benar-benar nyata!

Tanpa basa-basi mereka membuka setnya dengan “Lannoy Point” dan “Charm Assault” dari album mereka Weather Diaries yang dirilis tahun lalu. Aku langsung berhenti memotret dan dibuat terdiam ketika mereka memulai intro lagu ketiga. Mengacuhkan tertawaan teman-teman yang melihatku menangis sambil berjalan kodok mencoba ke tengah panggung. Rasanya masih belum bisa percaya ketika melihat mereka membawakan “Seagull”. Lagu dengan intro bassnya yang khas pembuka album Nowhere itu.

Ketika lagu ketiga usai, itu tandanya aku harus sudah kembali ke barisan penonton. Bukan di bibir panggung atau dalam barikade, bukan sebagai fotografer, melainkan sebagai fans yang menonton di kerumunan. Buru-buru berlari, aku langsung ke posisi tengah di dekat FOH. Kondisinya saat itu sedang intro "Weather Diaries" yang sudah dimainkan separuh jalan.

Hanya satu yang ada di benakku saat itu: sound mereka sangat luar biasa bagus! Dengan umur mereka yang sudah tidak muda lagi, mereka tampil sangat prima. Jika harus memberikan nilai 1 sampai 10, sepertinya aku tidak ragu untuk memberikan 10! Aku lebih suka sound yang dihasilkan ketika pertunjukan live. Mereka benar-benar terdengar lebih bagus dari versi audionya di album. Entah bagaimana peran tim produksi juga persiapan mereka. Belum lagi lighting juga type mark mereka yang terpampang tegas dan gagah melengkapi kebutuhan visual kami para penonton.

Mereka membawakan “Pulsar”, “Unfamiliar”, “Lateral Alice”, “Dreams Burn Down”, hingga “Twisterella”, salah satu lagu favoritku dari album Going Blank Again. Satu hal menarik yang aku ingat, sebelum memulai lagunya, terdengar Mark Gardener berbicara “Let’s dedicated this song to Helvi!” langsung direspons oleh teriakan beberapa orang, yang sepertinya adalah teman-temannya Helvi. Sedikit intermezzo, Helvi Sjarifuddin ini adalah orang dibalik 3HUNDRED juga FFWD records. Ketika konferensi pers beberapa jam sebelum acara, Mark sempat bercerita bahwa ia sudah saling berbalas e-mail dengan Helvi sejak bertahun-tahun yang lalu.

Andy Bell dan Mark Gardener dari Ride

Lagu-lagu di set mereka selanjutnya adalah “Leave Them All Behind”, “All I Want”, “OX4” dan lagu favoritku “Taste”. Entah seberapa kerasnya aku bernyanyi sambil melompat-lompat di lagu ini. Keringat dan tenggorokan kering seakan bukan menjadi penghalang hingga lagu ini selesai.

Sedikit jeda, terdengar alunan gitar yang sangat ditunggu-tunggu oleh semua orang malam itu. Ya, mereka memainkan “Vapour Trail”! Semua orang menyanyi begitu lantangnya hingga suara vokal Andy Bell tidak begitu kentara. Suara gemuruh nyanyian para penonton terdengar dari awal lagu hingga diakhiri oleh tepuk tangan serta teriakan yang meriah. Kami semua sangat menikmati momen tersebut.

Pasca lagu kebangsaan "Vapour Trail", empat personel Ride menuju ke belakang panggung sejenak sebelum memulai encore. "Drive Blind" adalah lagu pertama dimainkan sebagai encore. Sedih sih, karena ini jadi penanda bahwa set mereka akan segera berakhir. Di pertengahan lagu, Ride memberi suguhan "holocaust session" versi mereka. Memang tidak selama dan seberisik My Bloody Valentine, tapi tetap saja membuat semua yang di sana terpana.

Setlist

Akhirnya, “Chelsea Girl” menutup konser ini dengan sangat manis. Enam belas lagu dengan tata suara juga visual yang mumpuni, konser Ride malam itu berhasil meninggalkan bekas yang tidak terlupakan. Harmoni dan melodi suara yang selalu mengalun manis di setiap kebisingan yang disajikan di set mereka sangat membuatku terpana sekaligus terbius. Setelah menonton Ride secara langsung, aku jadi makin menyukai band ini, lebih dari sebelumnya.

Pengalaman tidak terlupakan malam itu ditambah juga dengan pertemuanku dengan Andy Bell sebelum konser. "That's the best picture of him. Nice T-shirt!" ucapnya sambil menunjuk ke kaus David Bowie yang saat itu kupakai. Kalau ada yang bertanya aku bagaimana saat itu, aku hanya meresponsnya dengan tertawa kaku karena bingung.

Bersama Andy Bell dari Ride

Sampai sekarang aku masih terus menonton video yang kurekam malam itu berulang-ulang. Mungkin sebutannya “post concert blues” ya? Entahlah. Intinya, Sabtu malam kemarin aku benar-benar sangat senang!

*Semua foto oleh penulis

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
416 views
superbuzz
375 views
supershow
2044 views
superbuzz
543 views
superbuzz
841 views