Riki Noviana: Panggung, Gerbang Kesuksesan Sekaligus Alarm Batas Kemampuan Seorang Artis

  • By: Riki Noviana
  • Kamis, 11 February 2016
  • 10277 Views
  • 1 Likes
  • 0 Shares

Panggung merupakan media khusus yang menjembatani langsung penggemar dengan artis pujaannya. Di atas panggung, enggak jarang lahir keajaiban dan juga misteri yang tanpa diduga menjadi muara sekaligus gerbang menuju jalan panjang kesuksesan si artis. Tapi jangan kaget, ternyata panggung jugalah yang memaksa si artis harus menyadari batas kemampuannya.

Beberapa artis nasional maupun internasional kerap menampilkan sesuatu yang berani dan unik saat tampil di atas panggung. Keberanian yang lantas menjadi trademark mereka dan biasanya menjadi stigma khusus yang melekat erat. Sebut saja Otong, vokalis Koil, yang terbiasa membanting gitar di setiap penampilan panggungnya.  

Meskipun Otong dan kawan-kawan pernah mengaku di hadapan media bahwa gitar yang mereka banting di setiap konsernya tersebut adalah gitar yang sama yang mereka lem lagi sepulang pertunjukan, tapi tetap saja aksi panggung tersebut menjadi sangat khas buat mereka. Kendati begitu, Otong pernah pula mengalami gagal banting gitar saat Koil beraksi di perhelatan Hammersonic Festival 2014 di Lapangan D, Senayan Jakarta. Tampil molor dari jadwal yang telah ditentukan akibat hujan deras yang sempat mengguyur Jakarta, band rock industrial asal Bandung ini tetap tampil total dengan aksi banting gitarnya. Sayang, gitarnya nggak hancur. "Wah nggak ada patah-patahnya nih, kurang seru yah," ujar Otong, kala itu, yang disambut senyuman simpul para metalhead.

Di panggung Hammersonic dua tahun sebelumnya (2012), saya dan beberapa teman wartawan yang berada di media pit bahkan bukan hanya menjadi saksi aksi banting gitar yang dilakukan seorang Otong, tetapi juga nyaris menjadi korban pecahan kayu gitar yang dirusaknya tersebut. Untungnya kami punya refleks yang bagus, sehingga terhindar dari tragedi ‘final destination’ itu dan masih bisa menyaksikan konser-konser Koil berikutnya termasuk di panggung “Kukar Rockin’ Fest 2015”. Kalau saja saat itu saya terpentok atau tertusuk pecahan kayu gitar Otong, mungkin saya nggak akan lagi-lagi nonton konser Koil dari jarak dekat.

Untuk urusan banting gitar ini, Otong Koil memang bukan yang pertama. Di luar negeri sana sudah banyak yang lebih dulu melakukan aksi destruktif semacam ini. Di pertengahan 1960-an misalnya, gitaris The Who, Pete Townshend mungkin bisa disebut sebagai gitaris pertama dalam sejarah musik rock yang suka membanting-banting gitar. Menurut seorang seniman dan aktivis politik kelahiran Jerman, Gustav Metzger, momen pembantingan gitar Pete Townshend ini termasuk dalam kategori seni ‘auto-destructive’.

Bukan hanya Pete Thownsend, master blues Jimi Hendrix juga pernah menghancurkan beberapa gitar dan amplifier-nya di atas panggung. Momen yang paling fenomenal adalah ketika ia membakar gitarnya di Monterey Pop Festival pada tahun 1967 setelah sebelumnya gitar tersebut dilumuri dengan cairan yang mudah terbakar. Di era 90-an, kemudian muncul nama-nama seperti Kurt Cobain (Nirvana), Billie Joe Armstrong (Green Day), dan Matt Bellamy (Muse) sebagai penganut paham 'auto destructive'.

Lain Otong Koil, lain pula Armand Maulana. Selain ditunjang kualitas vokal yang bagus, aksi panggung yang disuguhkan vokalis band GIGI ini juga selalu memukau. Jingkrak sana jingkrak sini, lompat sana lompat sini, bahkan nggak jarang berlari-lari kecil di atas panggung. Di satu kesempatan Armand pernah berujar bahwa aksi panggung sangat penting baginya. Karena kalau ia diam, penonton malah bertanya-tanya, “Ada apa dengan Armand?” Tapi ia menegaskan, aksi panggung tersebut nggak pernah dikonsep atau bahkan dibuat-buat. "Saya bergerak karena ada interaksi dengan musik," ucapnya dalam satu wawancara.

Memang ada tipe penyanyi ‘diam’. Tapi diamnya mereka itu mampu memukau penonton melalui kharisma dan suaranya. Di Indonesia mungkin ada nama Chrisye dan Fadli (Padi, Musikimia), sedangkan di mancanegara ada seorang Bono, vokalis U2. Meski hanya jalan-jalan santai di atas panggung, ketiga vokalis ini tidak kehilangan pesonanya. Panggung sebesar apapun selalu disesaki penggemarnya. Lighting yang fantastis dan ribuan watt sound system yang ada seakan nggak berpengaruh jika dibandingkan bahasa universal mereka yang justru lebih bercahaya dan lebih menggelegar.

Sekarang kita mundur selama beberapa dekade. Ucok Harahap, eks vokalis AKA, termasuk satu dari banyak musisi yang amat memahami panggung sebagai hakekat seni pertunjukan. Karenanya ia memberi porsi visual jauh lebih besar dibandingkan porsi audio. Dari beberapa sumber yang saya baca, Ucok pernah mengangkut sejumlah peralatan ke atas panggung. Sebut saja peti mati, tengkorak, cambuk sampai tiang gantungan. Kemudian Ucok dimasukan ke dalam peti mati itu, digantung, dan dicambuk. Namun sayang, nggak semua aksinya berjalan mulus. 

[pagebreak]

Saat tampil di Stadion Siliwangi, Bandung, tali yang menggantung dirinya terputus. Ucok pun meluncur dengan kepala ‘mencium’ lantai. Namun ia mengaku enggak kapok. Pernah pula dalam suatu pertunjukan, Ucok melepas satu per satu pakaiannya hingga yang tersisa cuma celana dalam. Bahkan ketika berduet dengan lady rocker Rose Kusumadewi, Ucok memeragakan adegan senggama. Gokil!

Aksi panggung Ucok tadi bisa dibilang terinspirasi oleh vokalis Black Sabbath, Ozzy Osbourne. Maklum saja, kebanyakan musisi Indonesia memang berkiblat kepada musisi luar negeri. Dan di awal karirnya, AKA termasuk band yang sering membawakan lagu-lagu milik Black Sabbath, salah satunya adalah “Iron Man”. Ozzy Osbourne sendiri dikenal sering melakukan aksi panggung satanik yang fenomenal demi merebut hati penggemarnya. Mulai dari menggigit kelelawar dan merpati, minum darah hingga mengusung peti mati. Meski belakangan terkuak bahwa yang digigit “Prince of Darkness” (julukan Ozzy) hanyalah kelelawar bohongan, namun tetap saja di satu waktu vokalis Black Sabbath ini secara nggak sengaja pernah benar-benar menggigit kelelawar asli.

Satu dedengkot rock/metal lainnya, Alice Cooper juga punya ciri khas. Ia identik dengan shock rock-nya, dan sering membawa benda-benda aneh ke atas panggung sebagai pendukung lagu-lagu yang dibawakannya. Di lagu “Brutal Planet” misalnya, Alice biasanya membawa pedang yang kemudian diacung-acungkan ke arah penonton. Saat membawakan “I’m Eighteen”, rocker ini sering membawa tongkat yang digunakan orang disabilitas. Sedangkan di lagu “It’s So Hot”, vokalis yang juga seorang aktor ini pasti membuka pakaiannya, ber-acting kepanasan. Itu juga belum termasuk dekorasi panggung yang diset seperti pertunjukan teater. Nggak hanya itu, mesin pemotong kepala dan kursi listrik pun nggak lupa diangkut vokalis yang pernah menggelar konser di Hard Rock Cafe, Jakarta beberapa tahun lalu ini ke atas panggung.

Sedikit berbeda dengan para seniornya di atas, Axl Rose - di masa mudanya - justru nggak perlu membawa benda-benda aneh ke atas panggung untuk membuat seisi venue bergemuruh. Cukup dengan celana pendek ketat plus bandana andalannya, dan tentunya dibarengi lengkingan vokal yang khas serta berlari menjelajahi setiap sudut panggung, vokalis Guns N’ Roses ini bisa membuat semua penggemar yang hadir histeris, bahkan menangis.

Untuk urusan teatrikal. Gitaris Indonesia berjuluk “The Magic Finger” I Wayan Balawan juga pernah mengemas sebuah pertunjukan dalam suasana unik. Ditemani violinis muda, Sigit Arditya (biasa disapa Didiet), di Teater Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan pada Januari 2013, Balawan nggak cuma menghidangkan kolaborasi musikal yang memadukan konsep musik modern dan tradisional, tetapi juga menyelipkan unsur teatrikal yang dihiasi banyolan-banyolan segar.

Di sembilan lagu pertama, panggung pertunjukan ditata layaknya sebuah ruang tamu dan kamar tidur dimana di dalamnya terpampang sebuah sofa, keranjang bayi, lemari dan dipan plus bebunyian suasana rumah semacam tangisan bayi dan lainnya. Ampli dan efek juga tegeletak di ruang tamu buatan itu, sementara secarik kertas daftar lagu, gitar beserta pick-nya dibiarkan berserakan di atas meja. 

Menjelang dua lagu terakhir, lampu seisi venue akhirnya dipadamkan dan suasana rumah seketika disulap menjadi sebuah panggung minimalis demi memberikan ending yang klimaks lewat konsep full band. Bersama band pengiringnya, Balawan benar-benar sukses menghidangkan sebuah pertunjukan  yang lengkap baik dari sisi musikalitas, tata suara, tata cahaya maupun kemasan. Ya, pertunjukan musik bertema “Minimum for Maximum: Music from Guitar & Violin” benar-benar bikin penonton orgasme.

Namun demikian, Elton John mungkin yang paling beda di antara para musisi di atas. Meskipun dulu dibilang seperti bapak-bapak, ia malah merasa senang dengan pilihannya menyanyi di balik piano. Buktinya, saat sekarang berada di atas panggung dia lebih tentram berinteraksi dengan penggemarnya dibandingkan Ozzy Osbourne atau Alice Cooper yang harus prima raganya di usia renta.

Itulah panggung, yang di dalamnya menyimpan 1001 enigma yang luar biasa. Tapi sehebat apapun enigma panggung, ia nggak mungkin memberi 1000 kali hembusan nafas lebih banyak saat si artis harus lari tunggang langgang, loncat-loncat dan bergoyang di atasnya. Karena bagaimanapun, kemegahan yang diagung-agungkan seorang artis pada akhirnya akan meleleh di saat hukum alam nggak bisa diajak kompromi.

Foto: Kapanlagi / People / Viva / Rolling Stone / Kompas Muda / Digital Spy

1 COMMENTS
  • indradjoha

    Wow

Info Terkait