REKTIVIANTO YOEWONO: Pelanggaran Hak Cipta Musik di Indonesia, Siapa biang kerok nya?

Pada artikel sebelumnya, saya menyinggung isu pembajakan musik, dari tukang CD di pinggir jalan sampai tukang jaga warnet sempat menjadi kambing hitam biang kerok di awal ramainya perdebatan mengenai isu tersebut.

Padahal kalau dipikir-pikir kasihan juga tukang CD pinggir jalan yang jualan CD Rp 5000 atau Rp 10.000 harganya. Sehari paling bisa kejual 20 juga udah syukur. Mereka harus bisa jual jutaan keping dulu baru bisa jadi kaya. Si tukang jaga Warnet juga sebenarnya telah membantu banyak band indie menjadi dikenal secara tidak langsung karena MP3 dan Video Youtube yang mereka upload diunduh dan ditonton ribuan orang.

Makanya agak kurang tepat juga kalau menyalahkan mereka-mereka ini dalam permasalah pembajakan. Tapi ya sudahlah isu ini sudah mulai memudar juga belakang ini.

Ada satu isu lagi yang menyangkut dipikiran saya sebenarnya. Masih sedikit berhubungan dengan pembajakan musik. Bukan apa yang dilakukan oleh tukang CD di pinggir jalan atau tukang jaga warnet yang suka upload lagu. Isu yang satu ini menyangkut pelaku industri hiburan yang notabene nya adalah orang-orang yang mengerti kebutuhan para musisi dan seniman, dan menghargai karya mereka.

Sebelum membahas lebih jauh mengenai para pelaku industri tersebut. Ada baiknya saya singgung sedikit soal hukum yang mengatur hak cipta, sbb:

Hak Cipta di Indonesia dilindungi secara hukum melalui Hak Kekayaan Intelektual. Dalam bidang musik, hak eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa mengurangi pembatasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Yang dianggap sebagai Pencipta, yaitu Orang yang namanya:

a.    disebut dalam Ciptaan;

b.    dinyatakan sebagai Pencipta pada suatu Ciptaan;

c.    disebutkan dalam surat pencatatan Ciptaan; dan/atau 

d.    tercantum dalam daftar umum Ciptaan sebagai Pencipta.

Dengan kata lain, kalau band dengan nama A merilis album dan menuliskan lagu-lagu mereka sebagai hasil ciptaan mereka di dalam cover albumnya, maka siapapun yang akan menggunakan lagu-lagu si band A, harus minta izin sama Perusahaan Penerbut Musik, Label Rekaman atau minimal sama band nya (kalau ga punya label atau penerbit musik).

Singkatnya sih, kalau mau pake barang punya orang, atau buatan orang, minta izin dulu sama yang empunya.

Saya pernah punya pengalaman cukup unik. Suatu pagi handphone saya berdering dari no yang tidak dikenal. Setelah saya angkat, terdengar suara seorang wanita yang langsung menyapa dengan bahasa sunda.

“Halo Kang Rekti, kumaha damang?” sahutnya

“Pangestu, sareng saha ieu?” tanya saya

“Ini Nia Dinata” jawabnya. Saya cukup kaget mendengar nama tersebut.

“Oh, teh Nia…” jawab saya sedikit canggung. Isi kepala saya langsung membayangkan film-film yang pernah disutradarai olehnya. Pikiran saya secara kilat sedikit menghayal mungkin saya akan diajak bermain peran dalam film beliau….

“Ada apa teh?” tanya saya sedikit ragu.

“Gini Rekti, saya mau rilis sebuah film, ga komersil sih, project idealis lah. Nah mau pake lagu nya The Sigit untuk salah satu soundtrack nya. Kira-kira bersedia ga?” jawabnya dengan cepat.

“Waduh mau banget dong!”

Kemudian kami berbincang singkat mengenai tema film dan mengapa lagu The Sigit yang ingin beliau pakai pada adegan-adegan tertentu. Kemudian obrolan berlanjut kepada detil siapa pencipta lagu, diambil dari album apa, dirilis oleh siapa, dan harus mengurus perizinan penggunaan lagu ke siapa.

Pengalaman tersebut membuat saya bahagia karena ternyata lagu-lagu saya diperhatikan dan diapresiasi oleh pelaku seni lain, dan yang terpenting adalah orang tersebut masih ‘ngewaro’ keberadaan kami sebagai band dengan menghubungi kami dan meminta izin.

Mungkin semua ini terjadi karena mbak Nia Dinata sudah berpengalaman setelah sekian lama membuat film dan mengurus tek-tek bengek perizinan dan hak cipta musik. Tapi, sebenarnya sikap mbak Nia yang someah tersebut pastinya didasari oleh logika sederhana : kalau mau pake barang punya orang, atau buatan orang, minta izin dulu sama yang empunya, itu tadi.

Namun pada kenyataan nya logika se-sederhana ini masih belum diterapkan oleh banyak orang. Contoh yang paling sering saya amati adalah penggunaan musik oleh pelaku bidang hiburan seperti televisi.

Dalam siaran berita olah-raga misalnya, sering kali saya temukan lagu-lagu band teman-teman saya (dan band saya juga) digunakan sebagai musik latar. Tentu nya tanpa ada komunikasi dan minta izin terlebih dahulu sama si band yang punya lagu terlebih dahulu. Seringkali nama band dan judul lagu juga tidak disebutkan dalam tayangan tersebut.

Sekali waktu teman saya yang punya band tersebut pernah menegur sebuah tim stasion TV soal penggunaan lagu-lagu mereka. Konon jawaban yang teman saya dapatkan adalah:

“Udah untung loe gua masukin lagunya ke TV. Kan bagus buat promosi.”

Mungkin ada benarnya juga sih.

Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah kalau nama Band dan Judul Lagu nya ga disebut, promisi dari sebelah mana nya ya? Orang yang nonton kan belum tentu tahu siapa band yang jadi musik latarnya. Lagipula kalau si penonton udah tau band nya sih bukan promosi juga namanya.

Kalau pelaku industri hiburan besar seperti TV saja masih luput dalam menghargai karya musisi, seperti dalam bentuk sikap yang saya ceritakan tadi, mungkin mengedukasi pemirsa dan penikmat musik dalam hak cipta musik di Indonesia masih panjang jalan nya.

Foto: theconversation.com, open.edu, nme.com

2 COMMENTS
  • achmadfiqih

    Betulllll

  • Rikoyuditio

    setuju mas hehe