REMAKE-REMODEL: Pentingnya Mengubah 'Image' Dalam Bermusik

  • By: Eka Annash
  • Jumat, 13 January 2017
  • 7609 Views
  • 2 Likes
  • 0 Shares

Euforia dan optimisme tahun baru masih terasa gaung nya, terlebih setelah dunia musik kehilangan beberapa nama legendaris tahun lalu baik dari dalam dan luar negeri. Mulai dari David Bowie, Prince, Sharon Jones, January Christie, dan Krisna J. Sadrach diantaranya. Ada ruang hampa yang sulit untuk digantikan oleh regenerasi musisi muda karena beberapa nama di atas merupakan seniman yang mampu beradaptasi dengan perubahan lintas zaman. Modus operandi nya adalah untuk selalu ber-transformasi dengan mulus dari satu fase ke fase lainnya, mulai dari departemen musik sekaligus juga keseluruhan paket image. Tidak hanya dipermukaan tapi reinvensi total, menawarkan terobosan kreasi terbaru yang tidak hanya unik tapi juga orisinil dan revolusioner.

Untuk mampu mempertahankan relevansi-nya pasti ngga gampang. Butuh research serta observasi pasar, industri dan trend. Tapi faktor terbesar yang menentukan keberhasilan eksekusi transformasi image bergantung pada insting artistik dari si musisi. Faktor ‘X’ ini adalah elemen yang tidak bisa diprediksi atau dikalkulasi, murni bergantung pada kreatifitas musisi sebagai seniman yang menghasilkan karya dan merombak penampilan-nya. Musisi yang punya konseptual kuat dan referensi luas, akan menghasilkan output. Image yang dihasilkan biasanya berupa persilangan antara referensi musikal, (sub) kultur, fashion dll yang diakumulasi menjadi mutasi image baru.

Kalo mau diambil contoh musisi dengan pergantian image paling mulus dan berhasil mungkin nama yang pertama muncul adalah David Bowie. Pergantian image dari album ke album (terutama di dekade 70an) di eksekusi dengan ketajaman artistik tinggi sehingga setiap album kita seperti diperkenalkan pada sosok image kreasi terbaru-nya. Mulai dari Mods, Hippie, Ziggy Stardust, The Gouster, The Dame sampai The Thin White Duke. Tidak asal berganti image, tapi sebelum di eksekusi dilakukan research dari berbagai aspek. Mulai dari musik, kultur, historikal, fashion sampai science. Semua hasil diakumulasi jadi output image otentik dan baru walaupun sebenarnya hasil daur ulang berbagai referensi.

Madonna mungkin bisa disebut sebagai sosok seniman/ musisi lain dengan image signifikan. Dari album ke album selalu merepresentasikan image sesuai dengan konsep album. Kita masih ingat dimana Madonna memulai karir nya dengan pengaruh image Punk. Lalu siapa yang bisa lupa dengan kostum rancangan Jean Paul Gaultier dengan bustier runcing di bagian dada dalam Blonde Ambition Tour 1990. Di album Erotica (1992) ia muncul sebagai Sex Goddess yang tidak kenal tabu, sekaligus merilis buku SEX sebagai pendukung promo. Setelah menjadi ibu, ia menemukan kekuatan spiritual dan ditumpahkan dalam album Ray of Light (1998) lengkap dengan image nya sebagai pemeluk Kabbalah. Semua fase dilalui dengan transformasi total meyakinkan, cukup untuk membuat publik dan pengggemar terus membeli setiap album dan mengikuti langkah karir-nya.

 

Tapi berganti image saja tidak cukup. Perlu di-injeksi faktor ‘X’ yang membuat musisi (juga sebagai seniman) untuk relevan dengan perkembangan zaman. Kalau perlu tetap berada di depan sebagai trend-setter. Faktor ‘X’ ini melibatkan insting dan intuisi yang hanya dimiliki setiap individu unik dan kreatif. Penambahan sentuhan personal dalam image juga akan membuat image si musisi standout. Prince dan Michael Jackson di dekade 80an melesat menjadi musisi dengan image dan musik visionaris tidak tertandingkan. Keduanya berhasil mendaur ulang pengaruh musisi generasi sebelum mereka (James Brown, Sly Stone, Marvin Gaye, dll) dipadukan dengan percikan ide kreatif dan jenius dari masing-masing individu. Menjadikan mereka musisi legendaris yang bertahan selama hampir 4 dekade.

Image yang ditampilkan juga tidak selamanya diterima publik dan penggemar dengan respon positif. Masih kita ingat di di tahun 1996 saat Metallica merilis album Load yang sedikit berbelok ke arah Alternative Rock serta tampil dengan image glamour dan dandy. Kontan musik dan tampilan baru ini langsung menuai pro-kontra. The Clash sempat mengalami fase ‘salah kostum’ di akhir karirnya tahun 1985. Tampil formasi berlima dengan kembali ke image Punk Rock (rambut cepak, jaket kulit, celana ketat) yang dianggap usang. Belum lagi album Cut the Crap yang dirilis mengalami penurunan kualitas. Setelah dicerca jurnalis dan diprotes keras fans, akhirnya The Clash membubarkan diri.

Image memang masih memegang peranan vital dalam industri musik. Terlebih lagi untuk musisi yang ingin terus bertahan dan produktif. Perlu diadakan rejuvenasi dan reinvensi ulang dari apa yang ditampilkan secara holistik/ keseluruhan. Kalau dieksekusi dengan cermat dan tepat, maka akan memperpanjang umur eksistensi. Tapi kalau dari strategi sudah salah, maka hasilnya bisa merontokkan karir musisi tersebut. Tapi bagian yang paling menyenangkan adalah proses brainstorming dan membuat formula kreatif dari image barunya. Karena di bagian ini kreatifitas dan insting artistik kita yang akan menentukan hasilnya. 

32 COMMENTS
  • Singkat

    Singkat mantab band dr bandung yg aktif di asia afrika..mempunyai daya tarik tersendiri..tidak sedikit dari kalangan cewe abg maupun ibu ibu mendokumentasikan aksi dari SINGKAT..cukup dikenal di kalangan komunitas musik dibandung...good luck

  • Amalia22

  • Gustian017

    Jangan terhenti disini... Cayoo semangat '45

  • adjie7

    Berusaha lah untuk menjadi yg terbaik !! Maju terus musik indonesi

  • Ekorahayu

    Bagus keren.... Kreatif

  • Oxx08

    Terimakasih djarumsuperid sudah membuka pintu band rock indonesia kembali. ????????

  • maris

    Wooow

  • Nalendra

    Tetap semangat!! Buktikan kebumen bisa.. Band Kebumen keren!! Salam KMK \m/

  • suryaadii

  • pandawa5

    top

Info Terkait

supernoize
643 views
superbuzz
1078 views
superbuzz
1371 views
superbuzz
1545 views
supernoize
4078 views