Penulis: Pekerjaan Alternatif Bagi Musisi?

Penulis: Pekerjaan Alternatif Bagi Musisi

  • By: Eka Annash
  • Senin, 18 March 2019
  • 569 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Kompetensi seorang musisi (terutama vokalis) dalam menulis lirik pasti sudah banyak yang diakui penggemar dan publik. Penulisan lirik ibarat menulis puisi pendek untuk dikawinkan dengan instrumental/lagu. Penulis lirik hanya mempunyai jendela kesempatan untuk merangkum cerita atau subyek utama selama 3 sampai 5 menit.

Perlu bakat menulis unik untuk bisa mencuri perhatian pembacanya. Lewat tulisan-tulisannya ini, secara tidak langsung musisi membangun imaji band atau dirinya. Citra dan cerita yang disampaikan akan terkoneksi dengan pembaca/ penggemarnya. Lewat koneksi ini akan terbangun ikatan fanatisme.

Tapi dari kemampuan menulis ini juga jadi pembuka kesempatan untuk para musisi untuk membuka opsi karier di bidang literatur. Kompetensi dalam merangkai kata-kata bisa disajikan dalam format novel, puisi, jurnal, artikel atau yang paling umum, otobiografi. Kalo kamu kebetulan punya tugas yang menulis lirik di band, coba pertajam lagi kemampuan menulisnya. Karena tidak menutup kemungkinan nanti opsi kariermu bisa diperlebar ke bidang lain. Apalagi di era informasi teknologi seperi sekarang ini, kemampuan multi-tasking sudah merupakan setting default untuk seorang individu membuka pintu karier.

Sudah ada banyak contoh musisi baik lokal maupun internasional yang berhasil membuka kompetensi menulisnya ke jalur lain. Ayo kita simak opsi bidang karier apa saja yang bisa kamu terjuni selain menulis lirik di musik.

Penulis Buku Fiksi/ Non-Fiksi

Untuk membelokkan karier menjadi penulis buat seorang lyricist, sepertinya menjadi manuver natural. Di dunia musik kotemporer tercatat ada John Lennon yang merilis buku berjudul In His Own Words di tahun 1964. Berisi kumpulan prosa, puisi, cerita pendek dan visual coretan tangannya, buku ini kuat dengan aura surealis, penuh dengan refleksi isi kepala Lennon yang random dan abstrak. Setahun kemudian dirilis lagi buku keduanya berjudul A Spanniard In The Work yang isinya tidak jauh berbeda dengan yang pertama.

Tidak lama setelah Lennon, Bob Dylan merilis buku serupa berjudul Tarantula di tahun 1966. Lalu Dylan juga melepas buku memoar otobiografinya berjudul Chronicles di tahun 2004. Ia juga menjadi satu-satunya musisi yang diberi penghargaan Nobel Prize di tahun 2016 di bidang literatur atas jasanya menciptakan gerakan ekspresi puisi baru dalam tradisi lagu Amerika. Tulisan lirik Bob Dylan memang sudah diangkat ke level pengkultusan oleh penggemarnya karena mempunyai resonansi, relevansi dan familliaritas terhadap aspek keseharian hidup mereka dalam balutan metafora yang puitis.

Tapi sebelum Lennon & Dylan, ada satu lagi musisi legendaris yang juga sudah menorehkan karyanya dalam bentuk tulisan. Leonard Cohen, musisi asal Quebec, Kanada justru memulai kariernya sebagai penulis di akhir dekade 50-an. Ia merilis kumpulan puisi pertama berjudul Let Us Compare Mythologies di tahun 1957. Lalu diikuti koleksi puisi lain berjudul The Spice-Box Earth (1961) dan Flowers for Hitler (1967).

Sepanjang dekade 60-an, Cohen menulis novel berjudul The Favorite Game (1963) dan Beautiful Losers (1966) sebelum akhirnya konsentrasi di musik mulai tahun 1967. Hampir semua hasil tulisannya–baik literatur maupun lirik-mencapai kesuksesan. Membawa tema kematian, misteri, seksual, relijius dan terkadang humor gelap, tulisan Cohen banyak dijadikan referensi serta mengangkat dirinya ke status legendaris sampai wafat di tahun 2016.

Di generasi berikutnya ada sederet nama seperti Nick Cave yang berhasil menulis beberapa buku novel fiksi sepanjang dekade 80-90-an hingga sekarang seperti And The Ass Saw the Angel (1989), The Death of Bunny Munro (2009), dan The Sick Bag Song (2015) yang dipenuhi tema balas dendam, kematian, erotisme dan kristiani. Lalu ada Henry Rollins yang tidak hanya sukses merilis novel tulisannya seperti Black Coffee Blues, Now Watch Him Die, Smile, Eye Scream dll, tapi juga berhasil mendirikan perusahaan publikasi bernama 2.23.61 yang juga merilis buku dari sesama musisi seperti Iggy Pop, Exene Cervenka (X), Nick Cave, Michael Gira (Swans) dan lainnya.

Selain nama-nama di atas, sudah tidak terhitung musisi yang juga membuka pintu kariernya menjadi penulis novel atau otobiografi hidupnya. Mulai Morrissey, Pete Wentz (Fall Out Boy), Madonna, Alice Cooper, Jewel, Ryan Adams, Kim Gordon (Sonic Youth), John Lydon (Sex Pistols), Dave Mustaine (Megadeth), Slash (GnR), Patti Smith dan masih banyak lagi.

Di dalam negeri sendiri ada nama seperti Dewi Lestari yang sukses menjadi penulis setelah bernyanyi bersama Rida Sita Dewi. Novel karya-nya seperti seri Supernova, Rectoverso, Madre, Perahu Kertas dan Filosofi Kopi berhasil menjadi best seller dan diadaptasi menjadi film. Lalu ada Risa Saraswati eks vokalis Homogenic yang bersolo karier dan merilis sederet novel yang kuat dengan tema horor dan mistis seperti Danur, Maddah, Sunyaruri, Catatan Hitam dan lainnya. Belakangan tercatat ada Morgue Vanguard, atau lebih dikenal dengan nama Ucok ‘Homicide’ yang merilis buku Setelah Boombox Usai Menyalak (2016) dan Flip Da Skrip: Kumpulan Catatan Rap Nerd dalam Satu Dekade Agustus 2018 lalu. Juga Edo Wallad, vokalis The Safari yang merilis kumpulan puisi nya berjudul Pesta Di Neraka.

Jurnalis

Profesi jurnalis juga banyak dijalani musisi sebagai medium untuk ekspresi tulisan yang lebih akademis. Cara penulisan jurnalis tentunya berbeda dengan rutinitas menulis lirik atau puisi/novel. Penulisan jurnalisme membutuhkan proses yang lebih detail, faktual dan penelitian yang mendalam tentang subjek/tema-nya. Tidak sedikit juga juga jurnalis yang lantas menjadi musisi. Jadi memang ada hubungan resiprokal dari kedua bidang.

Contoh paling dekat mungkin bassis Duff McKagan (GnR) yang menulis kolum finansial secara rutin untuk majalah Playboy dan Seattle Weekly tahun 2008. Duff berhasil menyabet gelar Sarjana Keuangan setelah keluar dari GnR dan menjadi konsultan keuangan untuk banyak musisi sebelum diberi porsi menulis secara rutin di media publikasi tadi. Plus ia juga berhasil merilis otobiografi dan buku tentang manajemen keuangan.

Awal sampai pertengahan dekade 70-an di Inggris dan Amerika, saat punk rock mulai menyebarkan virusnya, ada banyak musisi yang membuat media fanzine (fan magazine). Media publikasi independen yang ditulis mandiri dan diedarkan dalam komunitas. Kebanyakan memuat konten tentang scene musik lokal serta membahas isu-isu sosial dan politik. Hampir mirip propaganda. Produksinya hanya menggunakan teknik kolase dan diperbanyak dengan mesin fotokopi, kental dengan etos DIY.

Di London ada fanzine Sniffin’ Glue, diprakarsai oleh Mark Perry yang juga membentuk band Alternative TV di tahun 1976, lalu jejaknya diikuti oleh puluhan fanzine lain dan menyebar ke seantero Eropa. Sementara nama jurnalis legendaris seperti Nick Kent sempat menjadi gitaris Sex Pistols dalam reinkarnasi awalnya. Lalu ada Paul Morley personel band asal Inggris Art of Noise yang juga menjadi wartawan tabloid musik New Musical Express (NME).

Di Amerika ada fanzine seperti Slash dari Los Angeles, di mana para penulisnya terdiri dari musisi lokal kayak Jeffrey Lee Pierce (vokalis The Gun Club) dan Chris D (vokalis Flesh Eaters). Lalu ada Touch & Go dari Michigan yang dimotori Tesco Vee, frontman The Meatman. Touch & Go berkembang menjadi record label, seperti halnya Slash yang merilis album-album band punk lokal. Banyak label independen yang lahir dari aktivitas produksi fanzine atau sebaliknya: fanzine yang dirilis oleh sebuah label.

Gerakan fanzine menyebar seperti jamur ke seluruh penjuru dunia. Tiap negara yang mempunyai latar belakang demokrasi sehat menjadi titik pertumbuhan fanzine lokal, menjalin korespondensi dengan penulis fanzine di belahan dunia lain yang mayoritas juga musisi. Memasuki era internet, independensi dan otorita media terpecah menjadi fragmen-fragmen individu yang bebas membuat media independen lewat blog dan website. Tak terkecuali di Indonesia.

Memasuki era 2000-an bermunculan blog dan portal berita musik serta subkultur yang diinisiasi oleh musisi lokal. Ada Deathrockstar di mana Marcel Thee (vokalis Sajama Cut) pernah menjadi kontributor. Vokalis/ gitaris Jirapah, Ken Jenie juga menjadi editor di Whiteboardjurnal.com. Atau yang paling baru ada Pophariini.com yang diprakarsai personel band Maliq & D’essentials, di mana di situ ada Wahyu Acum (vokalis Bangku Taman) dan Anto Arief (vokalis/gitaris 70s OC) bergabung sebagai penulis.   

Sementara media cetak, walaupun sekarang nyaris punah, tapi di awal sampai medio 2000-an sempat meledak oplahnya lewat sistem licensing seperti majalah Rolling Stone di mana ada Ricky Siahaan (gitaris Seringai) menjadi editor, dan vokalisnya Arian Arifin yang sempat menjabat reporter majalah MTV Trax di tahun 2002 hingga 2003. Pernah ada majalah Ripple asal Bandung yang sempat menjadi pedoman subkultur anak muda, diprakarsai Satrio NB (vokalis Pure Saturday) tapi sayangnya harus gulung tikar di tahun 2008 karena keterbatasan dana.

Movie Scriptwriter

Kemampuan seorang musisi menulis lirik cerita dalam 3-5 menit dalam sebuah lagu bisa diperpanjang sampai 100-120 menit untuk sebuah naskah film. Membutuhkan waktu dan proses pastinya, tapi mekanismenya tidak jauh berbeda. Dibutuhkan imajinasi, kreativitas, fokus dan kerja keras untuk bisa memproduksi naskah sebuah film.

Di Hollywood sebagai pusat industri sinema dunia, ada ribuan naskah film per hari yang berseliweran untuk diproduksi. Tapi naskah tulisan musisi biasanya mempunyai nilai tersendiri karena mempunyai faktor keunikan yang menjual nama besar si musisi. Sebutlah nama seperti Rob Zombie, walaupun film-film yang diproduksi berdasarkan naskah tulisannya hanya masuk dalam kategori Horror B-grade, tapi ia terus bisa konsisten produksi dari tahun 2003 sampai sekarang.

Prince mendapat popularitas global lewat film Purple Rain dan album soundtrack-nya di tahun 1984 yang merupakan hasil tulisan narasi semi-otobiografi hidupnya. Dilanjutkan dengan Under The Cherry Moon (1986) dan Graffitti Bridge (1990) yang merupakan sekuel dari Purple Rain. Lalu ada Ice Cube yang sukses, walaupun sukses sebagai rapper hip-hop serius, tapi berhasil menulis skrip film komedi Next Friday, All About The Benjamins, dan The Players Club. Sampai akhirnya ia mendirikan perusahaan film Cube Vision yang memproduseri film biopik Straight Outta Compton.

Sutradara film cult David Lynch memulai kariernya sebagai musisi sebelum banting setir menjadi sutradara di dekade 80an. Tapi dorongan musiknya tetap ia salurkan dengan menulis komposisi musik scoring untuk film-film besutannya seperti Wild at Heart, Twin Peaks: Fire Walk with Me, Mulholland Drive dan Rabbits.

Di industri sinema lokal sepertinya masih terhitung jarang musisi yang mendalami seni penulisan naskah film. Ada Anggun Priambodo yang awalnya adalah vokalis band Bandempo asal IKJ (di mana ia kuliah). Anggun berhasil merilis film pertama yang ditulis dan disutradarai dirinya sendiri berjudul Rocket Rain di tahun 2014.

Sumber foto

Lalu ada Rudi Soedjarwo yang mengawali kariernya menjadi gitaris di band Sic Mynded di awal dekade 90-an. Band Metal eksperimental ini bahkan pernah merilis album di Amerika. Tapi di tahun 2000, ia sukses menulis dan menyutradarai film Bintang Jatuh. Dari titik ini ia berhasil membawa film-film seperti Ada Apa Dengan Cinta, Mengejar Matahari dan 9 Naga kepada publik sebagai sutradara. Yang paling terakhir juga ada Pidi Baiq, vokalis band The Panas Dalam asal Bandung yang tidak hanya sukses melepas novel seri bersambung Dilan, tapi juga meledak setelah dibuat versi layar peraknya.

Admin Media Sosial

Untuk pintu karier yang satu ini sepertinya masih belum eksplorasi secara total dan maksimal oleh para musisi. Walaupun sebenarnya dengan menjadi admin akun medsos band serta dirinya sendiri secara tidak sadar sudah menjadi arena pelatihan untuk menjadi admin dalam skala yang lebih besar.

Kebutuhan banyak brand produk serta perusahaan korporat untuk menjaga digital presence pastinya memerlukan sumber tenaga manusia yang bisa memproduksi konten secara rutin dan konstan. Tidak hanya membuat konten, tapi juga memerlukan pemikiran strategis untuk membuat rencana komunikasi, tentang bagaimana mentranslasikan nilai produk atau korporasinya di lansekap digital.

Karena itu, kompetensi musisi (terutama dari generasi milenials dan xenials) yang secara natural paham tentang bagaimana mempertahankan eksistensi di ranah media sosial dan digital akan sangat diperlukan tenaga dan keahliannya saat ini dan ke depannya nanti. Ini adalah pintu kesempatan emas yang belum tergali secara maksimal dan berpotensi menjadi peluang besar untuk berkarier selain musik.

0 COMMENTS

Info Terkait

supernoize
1199 views
superbuzz
970 views
superbuzz
1313 views
superbuzz
1485 views
superbuzz
928 views