Andy 'Memet' Zulfan: PERAN GANDA PLAYER SEBAGAI MANAJER

Rasa bosan selama belasan tahun, mengurusi layaknya seorang bapak dengan anak banyak dan masing-masing kepribadiannya  yang idealis  serta passion yang sudah luntur, membuat saya memutuskan untuk mengakhiri peran saya yang bertahun-tahun berkutat sebagai orang di balik layar. Namun akhir-akhir ini saya diusikkan oleh perkembangan band-band yang tidak punya manajer (pihak kedua), bukan untuk kembali lagi mengambil peran yang dulu, tapi mencoba mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang sesak di otak saya, mencari informasi atas rasa kagum saya, bagaimana mereka berproses hingga eksistensi terjaga dan berkembang sampai saat ini.

Dasar fungsi manajer adalah mengembangkan sumber daya yang ada, sebagai perencana, penggerak, pengawas. Kesuksesan sebuah band tidak hanya dari bagusnya karya-karya musik yang diciptakan namun bagaimana fungsi juga peran manajer yang mampu dengan jeli melihat potensi internal dan eksternal. Jangan dikira manajer hanya terima telpon untuk job manggung sana-sini, terkadang pemain band lupa atau melupakan akan masa lalu dari  sekian banyak proses yang sudah dilampaui, hingga apa yang diharapkan bisa tergapai. Dalam hal internal seorang manajer harus mampu melihat potensi dan konflik antar player. Dengan bijak harus mampu mengambil keputusan yang fair dan demokratis.  Ulung dalam bernegosiasi dengan pihak ketiga baik itu perusahaan rekaman maupun even organisasi. 

Tidak sengaja mendobrak tatanan struktur industri musik yang sudah ada dimana posisi dan masing-masing deskripsi kerjaan sudah jelas. Contoh, sebagai event organizer untuk  booking sebuah band, tidak bisa langsung kontak manajemen artis, namun harus berhadapan dengan booking agent yang ditunjuk secara official dari sebuah band, hal ini sangat jarang terjadi di lingkungan industri musik kita, Indonesia. Ketidaksengajaan ini terjadi pada Sheila On 7 (So7), Shaggydog, juga Endank Soekamti. Dikarenakan kedekatan dan pengalaman pribadi dengan mereka, saya mengambil contoh tiga band tersebut.

Ketidaksengajaan ini dari pengalaman masing-masing band tersebut, yang memang sewaktu awal merangkak selaksa bayi berumur sembilan bulan, hingga mampu berjalan dan berlari. Didampingi seorang manajer (yang kompeten) mereka mampu tumbuh dan berkembang. Seiring waktu berjalan… beberapa konflik-pun tak mampu terselesaikan, membuahkan perceraian dengan manajer. Buah pahit ini memberi pelajaran, bagaimana player harus belajar banyak  supaya rasa manis-pun kembali terkecap.

[pagebreak]

Semangat dan konsistensi sebagai musisi untuk terus dapat mempersembahkan cipta karyanya, karena musisi harus menunjukkan perfomance-nya, hal ini yang membuat mereka tetap bertahan meski tanpa manajer, menurut Adam So7. Sejak Anton Kurniawan tidak lagi menjadi manajer, Adam-lah yang memegang kontak untuk boking So7. Dari tahun 2010 Adam-lah yang mengurusi untuk terima job. Tidak ada kesulitan sebagai player merangkap terima job. Sedangkan Duta yang menangani persoalan internal. "Hal ini justru malah mempererat komunikasi antar player," ungkap Adam. Dan sejauh ini mereka memang memutuskan untuk tidak merekrut pihak kedua untuk dijadikan manajer.

Selisih setahun dengan So7… Bandizt (bassist) Shaggydog  yang juga sebagai booking kontak, beberapa kali mencoba mencari kandidat untuk mencari manajer, akan tetapi diantara kandidat yang ada, semua belum memenuhi standart yang Shaggydog inginkan. Mereka lebih memilih merekrut orang-orang yang berkompetensi di bidangnya untuk per-projek yang akan mereka jalani, seperti untuk album baru mereka yang sebentar lagi akan dirilis. Untuk pengembangan band, Heru dan Yoyo yang ambil peran.

Lain halnya So7 dan Shaggydog, Endank Soekamti sudah berkali-berkali berganti manajer. Erix Soekamti yang melaju dengan kecepatan penuh, merasa sebelum-sebelumnya tidak menemukan sosok manajer yang bisa mengikuti pesat lajunya. Dari pengalaman ini, mereka lebih memilih mencari sosok yang bisa memimpin dan  memahami secara personal. Dipilihlah Ferry “Ulog” yang sebelumnya sebagai road manager untuk ditempatkan sebagai sosok “bapak”. Erix berpendapat “Mungkin ketiga band ini tidak begitu pintar”. Secara general…ujung-ujungnya band itu sendiri yang harus mempunyai gerakan-gerakan merevolusi industri musik”.

Dari ketidakpintaran ketiga band tersebut, atau beberapa dari mereka merasa lebih pintar? Saya justru melihat mereka banyak belajar berdasarkan pengalaman-pengalaman masing-masing band. Terbukti eksistensi dan derasnya undangan perfomance yang ada. Entah..saya kurang begitu tahu dan paham bagaimana mereka menyelesaikan kecemburuan antar personil. Namun personil yang memiliki waktu, tenaga dan ide lebih, jelas mendapatkan hak (pendapatan) atas ekstra kemampuan yang mereka kontribusikan untuk band-nya.

Referensi ini tidak saya sarankan untuk band yang  dalam berproses belum terlalu banyak merasakan pahit, manis bahkan getir sekalipun. 

Foto: dok. pribadi

0 COMMENTS

Info Terkait

supernoize
845 views
supernoize
845 views
supernoize
845 views
supernoize
845 views
supernoize
845 views
supernoize
3083 views

Saat Venue Musik Gugur Perlahan