Peran Indie Label Dalam Industri Musik

Peran Indie Label Dalam Industri Musik

INDIE RECORDS LABEL DAN BAND/ MUSISI INDIE DALAM INDUSTRI MUSIK

DAN EKSISTENSI NYA

DITENGAH GEMPURAN DIGITAL..

Sering kali kita mendengar sebuah kata indie label! Seperti apakah indie label itu?

Definisi dari label rekaman independen (atau label indie) adalah sebuah perusahaan mandiri yang memproduksi dan mendistribusikan rekaman musik dari band/artis dan genre musik tertentu.

Kebanyakan label indie dijalankan secara perseorangan atau kurang dari 5 orang. 

APA YANG MENDORONG LAHIRNYA SEBUAH LABEL INDIE?

Sesuai dengan nama nya yaitu indie yang berarti INDEPENDENT atau juga mandiri dan berdiri sendiri, baik secara permodalan atau juga idealisme dalam dunia musik yang disenangi oleh owner atau pendiri label indie tersebut.

Ide awal dari pendirian sebuah label indie sendiri, adalah ada nya nilai kebebasan dalam merilis genre musik tertentu (terutama dalam scene punk, underground). Nilai kebebasan dalam memuntahkan karya album dan idealisme musik non mainstream tersebut menjadi sebuah gairah tersendiri. Genre musik non mainstream dari band punk, metal bahkan pop yang tidak sejalan atau tidak mendapat tempat di label mayor semakin mendorong lahirnya sebuah label indie.

Dunia pelabelan indie awalnya kebanyakan dimulai dari kamar atau ruangan yang sempit dengan perangkat seadanya, serta bermodalkan kepercayaan dari band yang terlahir dari scene musik agar karya lagunya dapat dirilis dalam bentuk album fisik kaset atau cd. 

Kehadiran sebuah label indie di skena sangat membantu band dalam hal produksi album dan juga promosi, terkadang tidak jarang dikarenakan keterbatasan biaya, antara label dan band urunan dalam mewujudkan album tadi. Sebuah semangat untuk besar bersama, yang tentu tidak akan ditemukan atau jarang sekali terjadi di dunia mayor label.

QUALITY & QUANTITY

Di awal – awal kemunculan label indie tentunya sangat terbatas dalam hal perangkat produksi dikarenakan minimnya modal yang dimiliki oleh sebuah label, namun itu tidak menyurutkan semangat untuk terus berbuat dan berkarya. Terkadang sebuah label indie masih mencetak cd audio dari hasil burningan dan menggunakan stiker label yang di print lalu pudar warnanya 3 bulan kemudian.

Atau juga mencetak kaset pita dengan mesin duplikasi hasil rakitan dikarenakan belum mampu membeli mesin duplikasi dengan kualitas standar. 

Rata-rata produksi cd atau kaset pita dari sebuah label indie hanya dalam jumlah terbatas, hanya 100 pcs bahkan ada yg cuma 50 pcs. Namun disitulah kadang nilai-nilai eksklusif dan pride dari sebuah dunia indie. 

Tentunya teman-teman di label indie sangat menginginkan hasil produksi yang tidak asal-asalan dan memiliki nilai jual yang bagus, namun sebagai gambaran angka rata-rata untuk memproduksi sebuah album fisik. Kita ambil contoh cd pro yang produksinya dilakukan di pabrikan dengan minimal cetak 1000 pcs saja. Seminimnya dibutuhkan biaya kurang lebih Rp 10 juta, biaya akan membengkak jika jumlah cover inside nya lebih dari 6 halaman booklet.. itu belum termasuk biaya recording,mixing dan mastering untuk full length album. Dengan harga jual Rp 50.000 sebuah album berisi 10 track jika dibagi 10 maka per lagu nya hanya dijual 5 ribu rupiah. Bayangkan biaya yang harus dikeluarkan oleh sebuah band untuk membuat satu lagu saja yang menurut hasil riset ala kami, setidaknya band harus keluar minimal Rp 500.000 untuk menghasilkan satu lagu. Band, musisi, dan label tentunya akan sangat terbantu dengan setiap album yang dibeli oleh para peminatnya.

DIGITAL ALBUM VS PHYSICAL ALBUM

Dalam 10 tahun terakhir gempuran digitalisasi telah masuk ke semua lini kehidupan. Tidak terlepas dunia musik yang saat ini dengan mudahnya orang bisa mengakses album tertentu dari band yang berasal dari dunia antah berantah sekalipun. Hal ini tentunya bisa menjadi angin segar bagi band atau musisi untuk bisa lebih leluasa mempromosikan karya nya karna akses sudah terbuka luas dan tidak lagi ada sekat, tinggal band atau musisi tersebut memanfaatkan dengan baik era digital ini. 

Lalu apa dampaknya terhadap album fisik? Tidak bisa kita pungkiri imbasnya adalah turunnya penjualan album fisik dari band atau musisi yang selama ini menggantungkan hidup dari penjualan album(selain fee manggung dan merch). Antara 15 -20 tahun dulu band, artis atau label bisa mencicipi manisnya penjualan album fisik baik kaset, cd.

 Bahkan ada yang terjual jutaan copy. Namun untuk masa sekarang bisa menembus 100 ribu copy album fisik terasa sangat impossible, bahkan 10 ribu copy terasa sangat berat..bahkan ada band atau label yang merilis hanya 1000 copy butuh waktu 2 tahun!!! Agar terjual habis.

Beberapa band mungkin saat ini bisa terselamatkan dengan kreativitasnya dalam membuat konten digital di kanal masing-masing (tentunya band yang telah memiliki follower diatas ribuan bisa menikmati monetize) bagaimana nasib band yang tidak bisa dikatakan jelek namun tidak memiliki follower sebanyak itu? Apakah keran era digital ini memberikan dampak signifikan terhadap perkembangan band atau musisi tersebut? Bisa ya, bisa tidak.

Lalu bagaimana dengan penjualan album digital sendiri,apakah signifikan bagi band atau musisi? Bagi artis atau musisi yang telah memiliki nama besar atau fanbase yang besar tentunya mereka sudah bisa merasakan manisnya hasil penjualan album digital yang dibayarkan per 3 bulan lewat agregator musik..namun harus diingat hal tersebut juga tidak mudah untuk dicapai karena dibutuhkan ribuan bahkan puluhan ribu kali streaming untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah.

Lantas bagaimana dengan hasil yang didapatkan oleh artis/musisi dari penjualan album fisik? Sebenarnya angka atau share profit atau royalti dari album fisik sangat signifikan buat band dengan perhitungan sebagai berikut. Dari harga jual cd rata-rata 50.000 band mendapatkan 10-15 ribu rupiah per albumnya (tergantung bargaining value dari band itu sendiri).

 Skema royalty sendiri bermacam-macam, ada yang full dibayar dimuka atau 50 % diawal.. di label indie sendiri bahkan ada pembayaran dengan album fisik itu sendiri, dari produksi per 1000 pcs cd biasanya band/artis mendapatkan 250 pcs. Tergantung kontrak dan kesepakatan antara band dan label.

INDIE = INDEPENDENT (bukan genre ya) ☺ 

Indie sendiri artinya adalah kemandirian dalam berbuat tanpa harus didikte atau disetir oleh kepentingan pasar.. begitu juga halnya band-band indie yang lahir dari scene musik yang tidak sejalan dengan arus mainstream.

Namun di dunia indie band-band tersebut juga memiliki fanbase yang cukup loyal dan selalu menunggu karya-karya terbaru dari band idola nya. Terkadang terbesit di pikiran kaum indie persetan dengan famous absurd yang terkadang menggoda keinginan untuk menjadi tenar dan bisa tampil di panggung besar yang akhirnya tidak kunjung kesampaian, hal-hal tersebut juga mendorong pergerakan indie dalam membuat pagelaran panggung secara swadaya dan berbekal alat panggung seadanya dan dihadiri 30-50 crowd.

Begitu juga dengan label indie yang lahir dari scene indie kemudian menggarap band local hero di daerah masing-masing, mencoba menbangun koneksi terhadap band lintas daerah serta mulai mempromosikan band dari daerah asal ke daerah lain nya. Membuka lapakan dagangan merchandise di setiap event-event musik.. dan hal itu dijalani bertahun tahun tanpa ada rasa jenuh.

Spirit dari indie itu sendiri adalah menjaga dan mempertahankan kultur atau budaya yang ada di arus minoritas agar tidak tergerus arus mainstream yang selalu berubah dan berganti seiring kemauan pasar... keep spirit .

TAGS:
0 COMMENTS