Musisi jadi Influencer

Pohon Duit Bagi Musisi di Luar Musik

  • By: Che Cupumanik
  • Selasa, 16 July 2019
  • 1320 Views
  • 8 Likes
  • 293 Shares

Tulisan ini mungkin cocok untuk musisi usia dewasa, yang sudah mulai punya kebutuhan terhadap uang. Dan juga pas untuk anak band yang pede, bahwa musisi punya kesempatan yang sama untuk maju. Tulisan ini buat anak band yang percaya, mereka bisa menemukan cara untuk menciptakan kecukupan pendapatan, karena semua mahluk hidup memiliki hak penuh untuk berkembang sampai batas tertinggi. Artikel ini juga mungkin relevan untuk musisi yang merasa punya hak untuk berkembang naik level. Saya bikin tulisan ini, buat musisi yang sudah merasa bosan memiliki sedikit uang.

Tapi jangan takut, artikel ini sama sekali bukan ajakan biar musisi menumpuk kekayaan dan harus punya keberlimpahan harta. Saya juga tidak dalam kondisi seperti itu kok. Kita realistis saja, musisi juga toh hidup dengan berbagai tagihan dan kebutuhan. Coba hitung biaya yang harus dikeluarkan untuk satu lagu saja. Kita harus membayar studio rekaman, membayar operator, membayar produser, membayar proses mixing dan mastering. Setelah lagu jadi, kita harus memikirkan biaya membuat artwork cover, pendanaan untuk produksi video lirik dan video klip. Itu semua pengeluaran yang nyata bagi musisi. Ternyata anak band harus punya sumber daya kan? Bahkan dalam urusan mengembangkan bakat dan belanja peralatan musik, itu butuh duit. Buat saya, jadi musisi yang punya modal dan sumber daya, termasuk hal yang penting.

Dan sialnya, jadi musisi yang punya cukup uang tuh nggak ada hubungannya dengan lingkungan. Jangan aneh, kita sering melihat kenyataan bahwa musisi mapan secara finansial dan musisi yang masih jauh dari kondisi aman secara finansial, mereka hidup berdampingan dalam satu kota. Musisi yang punya cukup uang juga tak ada hubungan dengan bakat bermusik, banyak musisi berbakat hebat tapi tetap mengkhawatirkan secara ekonomi. Kenyataannya orang bodoh bisa menjadi kaya, orang berbakat belum tentu tajir, orang cerdas bisa berkecukupan, yang tak berbakat dan sakit-sakitan juga bisa punya banyak uang. 

Saya meyakini, musisi yang hidupnya punya kenyamanan finansial, itu karena mereka mengerjakan cara-cara tertentu. Yang utama dimulai dari pembentukan pola pikir, yakni memusatkan pikiran pada perbaikan dan kemajuan. Upaya krusial yang lain yakni, mengupayakan punya karya yang bagus, lalu menyadari peluang, memanfaatkan kesempatan, senang bersilaturahmi membuat jejaring pertemanan. Selalu produktif setiap hari, mengerjakan hal kecil yang berguna. Jadi mari kita bahas lebih dalam.

Bulan puasa kemarin, saat acara buka puasa bersama dengan teman lama, salah satu dari mereka, ada yang cerita tentang anaknya. Seorang teman bilang seperti ini: “Eh Che, anak gue udah mulai suka nyanyi, katanya lebih baik gue masukin kursus piano dulu ya? Atau langsung les vokal?”, lalu obrolan berkembang, dan sampailah pada pertanyaan inti yang lahir dari keresahan orang tua: “Che, kalau anak gue memutuskan ingin jadi musisi, apakah itu menjanjikan?”

Saya jawab dengan bersemangat. “Lo tau nggak, musisi itu dapet rezeki dari dua hal. Yang pertama dari musik, dan yang kedua dapet pemasukan dari luar musik. Rezeki yang dari musik, dia dapet duit dari royalti (hak cipta karya), antara lain dari seberapa banyak lagunya diputar di semua platform musik digital, dari penjualan CD fisik, dari penjualan merchandise, dari manggung, dari bikin lagu untuk musisi lain, dari bikinin lirik untuk musisi lain dan dari semua keahlian musikal dia. Tapi nih, musisi juga punya kesempatan dapat rezeki dari hal di luar musik. Internet jadi pembuka rezeki bagi musisi, itu diperoleh karena jadi model iklan, membuat jingle iklan, mendapat kepercayaan menjadi brand ambassador atau duta merek produk/jasa tertentu, menjadi influencer, menjadi buzzer dan menjadi YouTuber. Musisi berpotensi jadi figur publik karena dikenal dan itu menjadi sasaran dari para pemasar produk”. Sepertinya jawaban saya itu jenis kabar gembira bagi masa depan anaknya, itu terlihat dari respons wajahnya yang penasaran, menyimak dengan serius pendapat saya.

Usai lebaran Idul Fitri, saya melakukan silaturahmi Halalbihalal dengan beberapa teman yang berbeda. Salah satu teman saya seorang petinggi strategi pemasaran dari sebuah media besar ternama, dia memaparkan analisa bisnisnya: “Che, media tuh sekarang bukan mendapatkan perolehan iklan sebagai income yang utama, aset terbesar media tuh balik lagi seperti dulu, yakni pembaca dan pelanggan setia. Karena salah satu sebabnya, iklan sudah menyasar orang-orang seperti lo, mendekati para influencer, memakai jasa mereka dalam kerja memasarkan produk,” Ini sebuah bukti, bahwa keran rezeki bagi musisi kian terbuka dan beraneka ragam, sekaligus ini adalah kenyataan zaman. Dilansir dari Reuters, menyatakan bahwa belanja iklan global di media sosial akan mencapai 20 persen dari seluruh iklan internet pada 2019, itu mencapai US$50 miliar dan hanya satu persen di bawah iklan surat kabar. Iklan media sosial diperkirakan akan menyalip koran pada 2020 mendatang. Jangan-jangan memang sudah terjadi.

Dengan maraknya penggunaan media sosial dan perkembangan teknologi digital, strategi pemasaran jadi ikut mengalami perubahan. Pasar digital terutama media sosial, menyulut hadirnya pola industri baru. Kini merek-merek besar tak hanya belanja iklan di media konvensional. Mereka mulai melirik media sosial dengan menggaet sejumlah influencer, karena pengaruhnya pun lebih besar. Tawaran untuk mempromosikan merek kepada para influencer tidak hanya merek-merek kelas menengah atau brand baru, tapi berbagai merek mapan dan besar. Influencer memang menjadi sasaran menarik bagi para pemasar, karena mereka mampu mempromosikan produk secara otentik dan lebih personal. Mereka sanggup memberikan kesan bahwa sebuah produk itu bagus, karena mereka terbiasa membangun kepercayaan dengan followers.

Coba kita simak fakta menarik mengenai Instagram. Menurut WeAreSocial.net dan Hootsuite, Instagram merupakan salah satu platform media sosial dengan jumlah pengguna terbanyak di dunia. Selain sebagai jejaring sosial untuk berbagi foto, Instagram digunakan untuk memasarkan produk bisnis. Total pengguna Instagram di dunia mencapai angka 1 miliar akun aktif. Dikutip dari Statista, Indonesia memiliki jumlah pengguna aktif di Instagram sekitar 62 juta orang. Ini fakta menggiurkan bagi para pemasar produk. 

Dan coba cermati, laporan dengan judul "The State of Influencer Marketing 2018 in Indonesia: Kupas Tuntas Tren Pemasaran Endorse" yang dirilis Sociobuzz.com.  Dilaporkan bahwa tingkat engagement antara influencer dan followers menjadi salah satu yang paling berpengaruh. Alasan kedua, tingkat kesadaran terhadap produk lebih tinggi jika dikenalkan oleh influencer. Ketiga, seperti status yang disandangnya, para influencer memang berpengaruh terhadap gaya hidup pengikutnya. Follower biasanya akan mencontoh sang influencer hingga pada produk yang dipakainya.  Nah, Musisi saat ini sebagai figur publik yang berpotensi menjadi influencer, memang harus punya rate card untuk menentukan tarif endorse

Beberapa kali saya sering ditanya melalui direct message Instagram, mereka bertanya berapa tarif endorse saya? Awalnya saya cuek, namun akhirnya saya harus menentukan dan membuat daftar harga, karena seringkali gagap saat ditanya. Itu akan memudahkan negosiasi jika ada tawaran iklan. Para marketer biasanya akan membandingkan jumlah followers dan engagement (ikatan/kedekatan yang dibangun) influencer yang bersangkutan. Lantas muncul pertanyaan, apa yang sebenarnya harus musisi lakukan dalam mengelola aplikasi media sosial mereka?. Karena mereka akan tetap jalan di tempat jika masih melakukan hal yang sama.

Daya pikat musisi hingga menciptakan gelombang penggemar, itu semua kembali pada fitrah awal, yakni karya musiknya. Mereka yang berhasil menciptakan musik atau lagu yang bisa diterima, diapresiasi, enak didengar, lirik yang mewakili perasaan pendengar, syair lagu yang sanggup mengubah sikap seseorang, karya yang mewakili selera seseorang, penampilan panggung yang memukau, itu semua yang akan menciptakan magnet besar musisi, sehingga publik mau menguntit akun media sosial mereka. 

Puluhan, ratusan hingga jutaan followers, bisa perlahan pergi atau bisa jadi pengikut setia. Kita harus membuat ikatan, jadi ikat followers dengan konten postingan yang menarik, memikat, segar, berbeda dan menghibur. Itu terlihat saat musisi memikirkan kualitas foto yang bagus, mengajak followers untuk terlibat dalam obrolan dan tanya jawab,  meminta saran dan pendapat dari mereka. Praktek itu akan membangun hubungan yang bertahan lama. Dan belajar menjadi musisi yang pandai merangkai narasi atau membuat caption yang memberi kesan mendalam. Ini yang perlu diasah, kemampuan bercerita akan mengikatmu secara emosional. Jangan sibuk bertanya bagaimana caranya kamu menjadi sosok yang penting di mata followers, karena sesuatu yang pertama harus kamu pikirkan adalah jadilah sosok yang berguna lebih dulu, setelah itu kamu akan menjadi penting. 

Musisi yang berhasil menjadi influencer, mereka menyadari bahwa aset mereka bukan cuma produk karya musik, mereka menyadari betul bahwa akun media sosialnya kini adalah papan reklame promosi potensial, yang bisa menjual citra dan menciptakan pengaruh mereka. Musisi yang sukses menjadi influencer, mereka menyadari betul bahwa dirinya sendiri kini sudah menjadi figur, citra dirinya kini menjadi aset besar. Mungkin kalian sudah sering kali membaca artikel atau buku, mengenai bagaimana meningkatkan pengaruh di media sosial. Jika harus disimpulkan, saya kira hukum terbaik menciptakan pengaruh di media sosial adalah menjadi otentik, perlihatkanlah “keaslian” diri kalian.

Membangun atau menguatkan citra diri di media sosial dengan keaslian sangat penting, karena followers bisa mengenali kepalsuan. Menjadi otentik itu, melakukan apa yang ditulis, melakukan apa yang dijanjikan, melakukan apa yang kita percayai, orang akan menerima pesan itu. “Melakukan” akan menjadi alat ukur yang berguna untuk menimbang keaslian kita.Jika followers melihat ketidakcocokan antara hal yang kita katakan  dengan apa yang kita lakukan, itu bukti ketidakaslian. Dan jangan berharap kita bisa membangun kepercayaan dengan para followers.

Agar bisa terdengar dan mencuri perhatian di media sosial yang bising, ramai dan berisik, kita perlu memelihara keotentikan dalam jangka waktu lama. Dengan secara konsisten memberikan nilai berupa pencerahan atau inspirasi. Dengan secara konsisten memberikan hiburan atau humor, itu akan membangun ikatan kuat dengan para pengikut. Menjadi asli/otentik di media sosial mensyaratkan komitmen yang kuat. Keaslian menjadi hal yang mahal, kita dapat didengar ditengah kebisingan. Ketika kita membangun hubungan berdasarkan kejujuran dan keaslian, para followers akan mudah tertarik menguntit akun media sosial kita, dan itu bisa memancing daya pikat para marketer untuk meminang kita menjadi influencer dan berkesempatan mempromosikan produk mereka.

Industri iklan online semakin berkembang, lalu muncul para pihak yang menawarkan kolaborasi. Kita menjadi akrab dengan istilah Multi Channel Network (MCN). Pada prinsipnya, MCN ini berfungsi selayaknya sebuah manajemen bakat yang mengelola kegiatan endorsement atau aktivitas lain yang terkait pengembangan sejumlah akun media sosial. Ada juga beberapa layanan yang muncul, yang tugasnya menghubungkan para influencer dengan pihak pengiklan. Mereka bisa kita temukan dalam sebuah situs online marketplace untuk mencari dan memesan berbagai jasa kreatif, seperti: jasa endorse melalui selebgram, blogger, buzzer, dan YouTuber. 

Peluang dan kesempatan baru ini terbuka lebar, keran rezeki bagi musisi di luar musik sangat besar sebenarnya, karena musisi adalah figur publik, musisi sangat potensial menjadi influencer. Kita sekarang bisa menyaksikan deretan musisi yang sukses secara finansial karena berhasil memanfaatkan kesempatan ini. Menjadi influencer, menjadi YouTuber, menjadi pembicara, menjadi juri festival, menjadi penulis, membuat jingle iklan, menjadi model iklan, atau menjadi brand ambassador.

Ingin menjadi musisi yang memperoleh keamanan finansial, merupakan bagian dari kebutuhan terhadap kemajuan, ini merupakan hasrat normal. Keinginan memperoleh peningkatan pendapatan bukanlah sesuatu yang jahat atau tercela. Selamat untuk para musisi yang telah menikmati rezeki dari yang saya ceritakan di atas. Saya kan ikut bangga juga, bahwa menjadi musisi memang semakin menawarkan masa depan cerah. Menjadi musisi merupakan profesi idaman.

*Semua foto ilustrasi diambil dari Unsplash

0 COMMENTS

Info Terkait

supernoize
811 views
supernoize
3282 views
supernoize
7094 views