REKTIVIANTO YOEWONO: Beli Ayam Goreng, Dapet Bonus CD?

Beberapa minggu yang lalu saya membaca sebuah berita yang cukup memperihatinkan, yaitu berita mengenai gulung tikarnya toko-toko CD dan kaset ritel besar di Indonesia. Pada awalnya saya tidak begitu ngeh karena hanya membaca secara sekilas. Tetapi setelah mencoba mengunjungi sebuah toko CD di pusat perbelanjaan ternama di Bandung, ternyata toko tersebut sudah tidak ada!?

Lantas saya merasa sedikit panik. Bukan saja karena saya tidak bisa lagi membeli CD atau kaset pita kosong akibat tutupnya toko tersebut. Melainkan karena saya langsung terbersit mengenai pikiran akan nasib band saya yang memang sempat merasakan dampak yang baik dengan adanya toko-toko CD besar yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia. Bagaimana saya bisa mencapai cita-cita ingin untuk bisa memperluas musik band saya jikalau jaringan ritel besar bertumbangan seperti yang terjadi saat ini.

Kemudian pikiran saya ini merembet menuju hal lain. Bagaimana dengan musisi dan band yang sangat mengandalkan penjualan fisik melalui toko dan ritel besar? Band-band besar dan label-label besar tentunya memiliki hubungan erat dengan jaringan ritel yang besar untuk menyebar-luaskan produk mereka. Jika jaringan ritel tersebut tumbang, apa langkah selanjutnya yang kira-kira akan diambil oleh mereka?

Saya langsung mengambil smartphone dan membuka Google, untuk mencari tahu contoh kasus. Dari beberapa hasil pencarian, saya mendapatkan kesimpulan bahwa penurunan penjualan fisik dalam industri musik membuat para raksasa industri mengalihkan sumber pengasilan nya di dunia digital, seperti iTunes, Spotify dan Youtube. Langkah ini juga sudah diambil oleh pelaku industri di Indonesia. Saya perhatikan eksistensi band besar dan label besar di Youtube sangat kuat. Memiliki banyak subscriber dan video-nya banyak ditonton. Begitu juga di iTunes, penyanyi pop wanita yang ngetop memang tampil di halaman utama iTunes Indonesia.

Lalu akan sirna begitu saja kah penjualan fisik akibat bertumbangan nya toko musik?

Saya rasa tidak.

Band seperti kami dan band-band lain nya yang senasib, tidak akan begitu merasakan dampak buruk dari fenomena gulung tikar masal ini. Karena kebanyakan dari kami mendapati penjualan yang signifikan melalui distribusi kecil-kecilan melalui distro dan toko musik kecil dan merchandise booth saat manggung. Langkah ini juga sudah di mulai oleh beberapa musisi besar, dengan menggelar dagangan saat konser dan lain sebagainya.

Jadi pada akhirnya tidak ada yang banyak berubah. Hilang satu lahan berdagang, beramai-ramai pindah ke lahan berdagang lain yang sama. Yang laku tetap laku, dan sebaliknya.

Kecuali satu.

Ada satu lahan dagangan yang tidak akan pernah disentuh kalangan musisi tertentu. Bisa saya katakan satu lahan ini yang akan menjadi standarisasi pengelompokan musik di Indonesia di masa yang akan datang. Layaknya istilah pengelompokan musik Major dan Indie, yang sebenarnya sudah kurang relevan.

Lahan tersebut adalah restoran cepat saji.

Sebenarnya lahan ini bukan hal baru. Seingat saya sudah dimulai sekitar tahun 2010-an. Dan sebenarnya ide yang cukup cemerlang. Bayangkan berapa  restoran cabang yang tersebar luas di Indonesia dan berapa orang yang datang mengunjungi restoran tersebut dalam satu hari.  Bisa jadi lahan ini jauh lebih menguntungkan daripada toko CD. Atau mungkin karena fenomena penjualan CD di restoran yang membuat toko CD bangkrut.

Tetapi kenapa saya dan beberapa band tidak mau ikut dalam scenario menggiurkan ini?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya akan berikan beberapa contoh kasus.

[pagebreak]

Suatu hari saya mendatangi sebuah restoran cepat saji sekedar untuk mengganjal perut yang lapar dalam perjalanan. Saya pun mengantre selama 15 menit sambil memutuskan menu apa yang akan saya pesan. Kemudian giliran saya untuk memesan pun tiba.

“Selamat siang Pak, bisa dibantu dengan pesanannya”, tanya si pelayan resto.

“Paket XX satu ya mas, dibungkus”, ucap saya dengan cepat, selain karena sudah lapar, juga karena saya ingin cepat-cepat pergi karena perjalanan yang masih jauh.

“Ada tambahan lain nya Pak?” tanya si pelayan lagi.

“Udah itu aja, berapa mas?” ucap saya dengan tergesa-gesa.

“Barangkali mau membeli CD nya XXXXXX?” tanya si pelayan tanpa menjawab pertanyaan saya.

“Enggak mas, jadi berapa ya?” ucap saya lagi.

“Atau mungkin CD nya XXXXXX?” tanya si pelayan lagi, kali ini dengan memperlihatkan beberapa CD yang diambil dari bawah kasir.

“Enggak, mas, saya cuma mau makan aja. Boleh cepetan enggak?” jawab saya dengan ketus.

Kemudian si pelayan langsung menyebutkan ulang pesanan saya dan menyebutkan totalnya. Saya pun membayar dengan uang pas dan makanan pun siap setelah sekitar 10 menit.

Ada satu kejadian lain di restoran cepat saji yang sama. Kali itu saya memesan makanan dalam jumlah yang cukup banyak karena membelikan makanan untuk teman-teman saya yang sedang berkumpul, sekitar 20 orang. Seperti biasa saya mengantri sambil melihat pesanan teman-teman saya yang macam-macam. Saat giliran saya tiba, saya pun menyebutkan satu per satu pesanan-pesanan dengan hati-hati supaya tidak salah.

Anehnya si mas pelayan tidak menawarkan CD sama sekali. Tapi ya sudahlah saya juga tidak tertarik untuk membeli nya. Lagipula saya masih punya PR besar untuk memeriksa pesanan agar tidak ada yang kurang.

Setelah sekitar 15 menit, saya pun dipanggil untuk mengambil 10 bungkus plastik besar berisi makanan dan minuman untuk teman-teman saya. Untung saya ditemani 2 orang teman, jadi saya bisa meminta bantuan untuk membawa sebagian bungkusan tersebut.

Saat saya berhasil menenteng sekitar 4 bungkus makanan dengan kedua tangan saya, sanga pelayan menyodorkan tumpukan benda yang sudah jelas tidak akan muat dalam kedua tangan saya.

“Ini CD nya gratis dari kami karena pembelanjaan nya lebih dari xxxx mas” ucap si pelayan.

Saya pun spontan memasukan CD-CD tersebut ke dalam kantung yang ternyata isi nya minuman. Sesampai nya di tempat teman saya, CD-CD tersebut sudah basah terguyur tumpahan minuman.

Jujur, saya sendiri merasa agak iba dengan musisi yang karyanya dijual di restoran cepat saji. Bayangkan berapa orang yang sudah menolak CD mereka di kasir, dan berapa orang yang menolak pemberian CD bonus dan gratis. Atau merusak CD gratisan tersebut tanpa sengaja karena tercampur minuman. Atau lebih parah lagi langsung membuang CD gratisan tersebut.

Permasalahan yang saya lihat bukan soal di mana dijualnya, atau digratiskannya. Melainkan perlakuan restoran terhadap karya si musisi nya. CD-CD tersebut direndengkan dengan makanan. Cara menawarkan CD nya pun terasa agak memaksa.

Bagi sebagian orang ini bukan masalah yang serius. Tapi perlu diingat bahwa seharusnya orang datang ke restoran untuk makan, bukan untuk dijajali penawaran yang belum tentu menarik dan menyenangkan bagi si pembeli. Apa lagi kalau proses pelayanan nya jadi lama karena adanya prosedur yang mengharuskan pelayan untuk “Jual Dedet” sebuah produk yang tidak ada sangkut paut nya dengan makanan. Itu sudah menyalahi esensi “Cepat Saji”.

Bicara esensi, maukah band dan karya kamu menjadi barang gratisan yang diberikan kepada orang yang sama sekali tidak tertarik dengan musik? Tercampur di dalam kantung makanan, dan menjadi basah karena ketumpahan minuman. Maukah hasil kerja keras menulis lagu dan merekam lagu selama berbulan-bulan disetarakan dengan saos sambal?

[bacajuga]

Walaupun saya sempat bilang kalau ide berjualan semacam ini cukup cemerlang, rasanya saya tidak akan pernah mau karya saya diperlakukan setara dengan sambel atau saos barbeque yang bisa didapatkan gratis kalau beli ayam. Yang saya inginkan adalah menjual karya kepada mereka yang ingin mendengarkan, mengapresiasi, mengkritik, dan memperlakukan karya dengan selayaknya.

Pendapat saya mungkin akan berubah jikalau perlakuan restoran tersebut terhadap karya musisi nya diubah. Mereka bisa saja bikin bagian khusus yang terpisah untuk musik di pojok restoran. Atau bisa saja membuat program menarik seperti kupon diskon belanja CD dengan membeli paket XX, atau kupon gratis CD sekalipun tidak jadi masalah. Yang pasti memisahkan urusan makan dengan musik.

Foto: thesigit.com, dsmu6.com, absolutepunk.net, nationstates.net, healthyceleb.com, dailymail.co.uk, warestaurant.org

1 COMMENTS
  • Mipox

    Menarik... http://mipox.heck.in/category/rock/1.xhtml