Reney 'Scaller': Those Early Days (Part 2)

  • By: Reney Karamoy
  • Senin, 22 January 2018
  • 1342 Views
  • 11 Likes
  • 14 Shares

Lanjutan dari bagian pertama ...

Perlahan saya berusaha memotivasi diri untuk kembali lagi rutin latihan, mencari referensi musik baru dan pendekatan yang berbeda terhadap instrumen gitar itu sendiri, sampai tiba saatnya Stella mengajak saya membuat band. Kali ini saya lebih banyak bermain gitar akustik.

Saat itu saya dan Stella bukan teman baru. Setahun sebelumnya kami bahkan sempat berada di kegiatan Grup Vokal sekolah yang sama. Yang saya tidak tahu adalah, ternyata dia memiliki kegelisahan yang kurang lebih sama dengan saya. Pada semester terakhir sebelum lulus SMA, kami mulai latihan cukup intens dan mengumpulkan banyak lagu untuk dimainkan. Tentu saja segala jenis panggung mulai dari festival sekolah sampai acara kumpul-kumpul warga kompleks kami jabani. Tujuannya hanya ingin bermusik dan didengar.

Lulus dari sekolah, kami pun semakin giat mencari panggung. Bermain musik dengan orang yang berbeda-beda dan di setiap skenario, personel yang tersisa selalu saya dan Stella, tetapi di titik ini semangat kami tidak layu. Sampai pada suatu masa di mana kami rutin menjadi home-band di berbagai macam cafe dan bar yang menyuguhkan live music dengan membawakan cover dari lagu musisi lain. Selama kurang lebih empat tahun roda itu berputar. Ternyata terlalu sering membawakan lagu orang lain berdampak negatif bagi kami, mental kami menjadi tidak terlatih untuk memainkan lagu orisinal. Kami tidak memiliki kepercayaan diri tersebut. Di sinilah kami mengalami krisis.

Setelah melalui diskusi yang panjang, saya dan Stella memutuskan untuk berhenti menjadi band reguler. Kami berdua mengamini bahwa kontribusi dalam musik wajib didefinisikan melalui karya orisinal. Beberapa bulan kami absen manggung demi memfokuskan diri dalam pembuatan lagu, menyatukan visi. Sebagian besar waktu dihabiskan untuk workshop guna mematangkan materi.

Di masa ini kata SCALLER dipilih untuk menjadi nama band. Kadang terbesit di benak kami untuk merekam demo di studio profesional, tetapi saat itu kami tidak memiliki kemewahan tersebut. Pada akhirnya kami memanfaatkan alat rekam yang yang kami punya sendiri untuk menyelesaikan demo, sembari mengumpulkan dana untuk merekam ulang demo tersebut di studio profesional. Materi-materi tersebut terangkum dalam mini album SCALLER yang bertajuk 1991.

Langkah Kecil Menuju Tujuan

Mini album tersebut sudah rampung dan dapat kami genggam sebagai suatu bentuk fisik. Momen itu cukup mampu membuat kami bernafas lega (untuk sesaat). Petualangan yang sesungguhnya pun dimulai. Suatu perjalanan membangun karier bermusik dari nol. Tahun 2012 ke 2014 adalah masa yang penuh tantangan bagi SCALLER. Sulitnya mencari platform yang tepat dan seringnya ditolak sebagai band submission, menjadi makanan bagi saya dan Stella. Partner bermain musik pun datang dan pergi, karena band ini tidak dianggap sebagai lahan yang menjanjikan. Namun bagi saya dan Stella saat itu adalah lakukan sepenuhnya atau tidak sama sekali. Dengan semangat yang belum runtuh, di awal tahun 2014 kami merekam sebuah single yang berjudul “The Youth” dan merilisnya melalui platform digital Soundcloud yang dapat didengar secara gratis.

Pasca rilisnya “The Youth” menjadi titik balik bagi SCALLER. Pendengar kami pun mulai bertumbuh dari mulut ke mulut dan jejaring media sosial. Mulai ada yang menawari kami bermain di acara-acara berbasis komunitas kecil dan perlahan merambat ke panggung yang lebih besar sampai bisa bertemu dengan band-band pendahulu yang kami hormati. Semuanya melebihi ekspektasi selama tiga tahun belakangan ini. Sangat disyukuri, terutama ketika mendengar kisah kawan-kawan musisi yang lain, yang juga memiliki struggle berbeda. Tentunya dengan perjalanan karir yang masih berusia muda, masih banyak hal-hal yang harus dicapai oleh SCALLER.

Kembali lagi ke 12 tahun silam, mungkin Hukum Atraksi berlaku dalam kehidupan saya melalui skenario tentang masa depan yang saya ciptakan ketika menjawab pertanyaan ibu saya melalui kalimat, “Ingin menjadi Musisi”. Atau mungkin juga jawabannya adalah suatu kata umum yang sering kita jumpai: konsistensi

*Foto: Irvan Suta, dokumentasi SuperMusic.ID

1 COMMENTS
  • yukeren

    Mantaapp

Info Terkait